Menaiki Trans-Jogja ini, rasanya hampir sama dengan naik angkot. Tempat duduk yang mengelilingi tepian bus, dan sepasang pintu geser di sebelah kiri. Hanya saja ini versi busnya. Lebih besar dan murah. Andai di Jember ada fasilitas seperti ini. Ah, andai di Jawa Timur ada Trans. Sepertinya aku belum pernah tahu ada Trans Surabaya atau Trans Malang.
Sedari mendengar jika ada opsi naik Trans di Jogja, semangatku bertambah. Membayangkan menunggu di halte dan duduk seperti orang-orang sibuk yang masih tetap memilih menggunakan transportasi umum. Bertemu dan mengobrol dengan orang-orang baru. Ah...
Hal yang ada di bayanganku itu tidak sepenuhnya salah. Hanya saja duduk menghadap ke samping membuat perutku tiba-tiba mual. Padahal ketika naik angkot, biasanya tidak begini. Atau karena telat sarapan dan baru selesai makan langsung masuk bus? Aku mencoba mengendalikan diri. Tidak lucu jika aku mabuk sekarang.
Bus yang kutumpangi ini tidak semua kursinya penuh. Pun, tidak juga lenggang. Untuk urusan bercakap dengan orang baru, sepertinya itu hal yang sulit dilakukan saat ini. Jika tak benar-benar perlu, tak ada cakap karena mulut dan hidung kami sama-sama tertutup masker.
Di tengah pikiranku yang berjalan-jalan riang dengan imajinasi, suara musik yang mengalun menarik perhatian. Suara khas Ebit selalu menarik memoriku ke masa lalu. Saat bapak menyetel kaset pita di tape bobrok sambil mengikuti tiap melodi. Aku yang memang suka lagu-lagu balada tentu jatuh pada nada dan lirik lagu Ebit. Dulu aku tak begitu tahu ini lagu yang mana, judulnya apa, karena bagiku semua lagu Ebit sama. Tapi sekarang aku tahu betul ini lagu yang mana.
Coba engkau katakan padaku
Apa yang seharusnya aku lakukan?
Bila larut tiba wajahmu terbayang
Kerinduan ini semakin dalam
Nyanyian Rindu. Ah, aku tak ingin banjir air mata. Pun tak ingin bersedih hati di perjalanan ini. Tidak. Tidak. Jangan. Cukup malam-malam di kamar kos yang membuatku sesak. Cukup waktu aku sendiri. Tidak di tempat umum begini. Jangan lagi, jangan. Tisu di tasku sudah habis.
Kapan
lagi kita akan bertemu?
Meski hanya sekilas kau tersenyum
Kapan lagi kita nyanyi bersama?
Tatapanmu membasuh luka
“Dururu, dudururu...” Aku mengikuti alunan lirik itu sambil memejamkan mata. Tidak hanya menahan air mata, tapi perut yang masih bergejolak. Ah, kata bapak, anak sopir pantang mabuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar