Jumat, 19 Agustus 2022

Mencoba Bersyukur dan Terus Bersyukur.

Dari kemarin, Redmi 5A-ku, benda yang paling kusayangi selain laptop, baterainya eror. Ya, kalau sudah tidak sehat sih dari lama. Cuma nggak pernah tiba-tiba mati pas masih 30-an persen. Tapi, ya nggak apa-apa. Aku mencoba sabar karena hal-hal macam itu sering terjadi. Tinggal di-charge saja kan?

Masalah lain muncul karena tombol powernya nggak begitu berfungsi. Biasanya memang aku harus mengeluarkan segenak tenaga dan teknik tertentu agar bisa menyala. Tapi, kali itu tidak. Kuku jempol yang bahkan harus kupotong dulu untuk menekannya, sampai sakit sekali. Akhirnya aku menyerah. Mencari hack lain yang ternyata ada. Bisa. Mujur. Meski tombol volume juga oglak-aglik, namun yang bagian atas masih sedikit bisa. Akhirnya hapeku bisa menyala.

Aku harus menunggu berjam-jam agar penuh karena chargernya juga busuk. Kalian mungkin pernah lihat kabel charger yang bagian atas, kepala, dan bagian dekat tembaganya, ekor, hampir patah. Tapi, pernah tidak lihat bagian tengah-tengahnya hampir serupa begitu? Nah, punyaku begitu. Padahal aku sangat memperhatikan barang-barangku. Bukannya yang enggak peduli. Tapi, ya sudah lah. Terima saja. 

Aku sedikit membatin. Meski panik, tapi aku tidak begitu frustrasi. Ya, kesal sih sampai-sampai mengurungkan banyak hal. Lebih tepatnya, melakukan tapi tidak progres. Lagi. Alias, pikiranku sudah terpenuhi banyak hal. Sebelum kejadian itu pun, laptopku sempat hang saat awal membukanya. Tools bar tidak muncul. Bukan pertama kali sih. Tapi, sempat agak panik karena lama sekali. Pada akhirnya semua kembali normal. Aku pun berpikir jika hapeku nanti akan normal. 

Sebelumnya, aku memforsir hapeku untuk memindahkan beberapa file ke drive, juga menghapus file-file lain yang sudah kupindahkan ke laptop. Mungkin dia kelelahan ya. Tapi, setelah istirahat lama pun, paginya, tadi pagi agak subuh, pas aku bangun tiba-tiba hapeku mati lagi. Padahal masih 40an persen. Aku mencoba sabar dan berpikir positif. Apa susahnya nge-charge dan nyalain lagi? Ya, emang susah sih nyalainnya. Tapi, yasudah lah. Aku menunggu baterai sedikit terisi sekitar satu setengah jam sambil melanjutkan tidur. Udah nih, udah bangun lagi dan udah agak kesisi, hack tombol up volume nggak nyala. Berkali-kali dicoba sampai kukuku sakit semua, akhirnya bisa. Oke, moral value jangan nyerah. 

Pas nyala dong... Ruang penyimpanannya lega banget. Satu giga lebih. Aku nggak lagi takut kalo ada data yang ilang karena pernah kek gini. Entah gimana, tapi penyimpanan yang lega itu berkebalikan sama perfoma yang jadi lemot. Ya, sebelumnya lemot juga sih. Jadi, bisa bayangin kan, seberapa lemotnya. Aku nggak mungkin membiarkan itu. Cara untuk memperbaikinya adalah dengan menonaktifkannya lagi. Artinya mematikan lagi. Itu sudah beberapa kali kulakukan. Masalahnya, biasanya itu, aku kesulitan saat mematikannya karena tombol power tadi. Kalau untuk menyalakan sih pasrah sama alarm yang kusetting di waktu tertentu agar otomatis bangun. Jadi, gimana dong?

Okay, aku menunggu sampai hapeku mati sendiri saja. Cuma terisi 40 persen. Dan di belasan persen benar mati. Kutunggu lagi sampai bangun sendiri sambil di-charge karena sudah kuset alarm sebelumnya. Berhasil. Bloopnya lamaaaa sekali. Tapi, akhirnya balik normal. Aku masih takut tiba-tiba bermasalah lagi. Tapi, ya sudah. Belajar bersyukur. Untung nyala. Untung balik lagi. 

Sebenarnya, aku sudah tidak sering berinterkasi denga hape itu karena performanya yang demikian membuatku lebih nyaman sama laptop. Masalahnya, aku perlu dia untuk memesan gojek. Aku takut tiba-tiba mati saat akan memesan sedang aku harus buru-buru ke stasiun. Apalagi, mengingat jika kemungkinan dapat tiket berdiri karena biasanya pun, meski membeli lewat KAI Access, sudah kehabisan tiket. Tapi, ternyata semua berjalan lancar. Meski agak gupuh karena tamu bukos buanyak banget di depan sedang aku kudu sepatuan dan ditunggu gojek, dan... hey helm. Aku ingat helmku saat Mas Gojek ngasih helm kepadaku. Alhamdullilah. Btw, nama lengkap Mas Gojeknya mengingatkanku sama seseorang. Inisalnya, MAR. Aku pengen banget nyebutin nama, tapi takut kena UU ITE. Eh, bisa dipidanakan nggak sih nyebut nama orang lain, literally orang lain, di blog begini?

Cukup bahas gojeknya. Di stasiun, aku dapet tiket dong. Dan banyak orang lain di belakangku dapet. Aku bahkan masih di gerbong 1 alias banyak yang kosong pasti. Pikiran semacam, 'tau gitu berangkat agak belakangan biar nggak nunggu lama begini,' ya aku berangkat satu jam lebih sebelum keberangkatan, seperti biasa. Tapi, aku buru-buru menepis pikiran itu. Bersyukur aja, dapet tiket. Dan menunggu kali itu, aku bener-bener nggak ngapa-ngapain. Nggak buka laptop atau hape. Nggak ngobrol sama orang juga, kayak tempo hari. Itu berlanjut sampai di stasiun pemberhentian. 

Dan kelanjutannya adalah ketika masku muncul di detik-detik saat mataku berair itu. Rasanya lega. Ya, meski agak cemas kalo Masku bertingkah dengan mengajak ngobrol pembahasan yang memuakan--atau menyedihkan. Namun, dia malah membahas tentang ketidakadilan yang dirasakan petani. Dia kecewa karena pupuk subsidi terbatas dan hanya di tempat-tempat tertentu. Dia juga membahas kasus Sambo. Membicarakan banyak hal tentang hukum dan pemerintahan. Tidak biasanya. Tidak menyenangkan pula. Tapi, tidak apa-apa. Setidaknya tidak menyinggung hal-hal tentang diriku, atau tentang dirinya. Itu cukup. 

Mas juga memintaku memilih, nasi goreng atau mie ayam. Kubilang tidak bawa uang. Dia bilang dia yang bayar. Sebenarnya, aku lebih ke capek pengen langsung pulang. Tapi, aku menurut dan bilang terserah. Dia bilang kalau nasgor ya di nasgor seafood dekat pertigaan. Tempat langganan almarhumah mbak sepupu kami. Aku iya iya saja. Tapi, mas malah muter-muter nyari trabasan yang berakhir kami balik ke SMANSA lagi. Jadi, kami lewat jalan utama. Dan kekhawatiran mas terjawab saat nasgor seafood itu tutup. Aku agak sedih juga sih, gagal bernostalgia dengan kenangan mbak. 

Selanjutnya mie ayam langganan mas di perliman Jajag. Meski belum makan siang, jujur saja aku tidak sangat lapar. Lebih ke lelah. Aku berdoa dalam hati, semoga tutup. Maghrib sudah terdengar saat kami mengobrolkan tentang Sambo memasuki Jajag. Kalaupun dibungkus, pasti menunggunya lama sekali. Mie ayam kan lama emang. Apalagi tempat itu ramai. Sebelum sampai di tempat Mie Ayam, aku sempat menyebut nasgor langganan mas yang tendanya kami lewati dan terlihat lenggang. Ya siapa tahu berubah pikiran dan beli di situ saja. Setidaknya, tidak antri. Tapi, Mas bilang rasanya sudah beda. Ah, aku tidak peka terhadap perbedaan cita rasa begitu. Dan ternyata saat masku mau menyeberag ke warung Mie Ayam langganannya itu, di sana juga tidak buka. Asa! Sebelum dia membelokkan arah kembali ke area kota, aku bilang tidak usah nyari yang lain. Keburu habis Maghir. 

Akhirnya motor lurus menyeberang. Tidak, tidak langsung pulang ke rumah. Dia masuk pasar sore. Mau beli Kentaki katanya. Ya Tuhan. Biasanya dia selalu mampir ke pasar saat menjemputku, untuk beli cilok. Dia juga sudah hapal seluk pasar karena sering berbelanja dan kadang menjual hasil kebunnya di sana. Tapi, dia lurus terus sampai bakul-bakul itu habis dan ia berhenti di rombong warung yang kosong. Tak ada Kentaki. Dia kecewa. 

Aku yakin Mas nggak lapar. Mungkin karena kasihan melihatku menunggu dia begitu lama. Aku sudah lama tidak diperlakukan seperti itu. Aku kangen dimanja. Aku tidak hanya kangen Bapak. Aku sering kangen masa-masa seperti ini bersama Mas. Aku punya Ibuk yang selalu mensuportku, tapi tidak ke hal-hal romatis seperti itu. Ya, kuanggap itu romantis. Sehaus ini aku pada rasa kasih sayang yang demikian. Memang ya, rindu ke sosok yang masih hidup itu tidak lantas tidak lebih menyakitkan dari rindu pada sosok yang sudah tiada. Aku sangat mengapresiasi sebuah niat baik. 

Setelah kubilang keburu Maghrib, mas melajukan motornya kencang. Aku agak ragu untuk memegang switernya. Sudah lama sekali aku tidak memeluk erat pinggang seseorang. Selain mas-masku saat mereka mengebut, ya bapak. Aku sangat ingin dibonceng dengan motor bapak. Dan setelah bapak pergi, kemungkinan hal itu terjadi sangat sedikit. Aku tidak minder kemana-mana naik motor jadul bapak. Tapi, rasanya memang lebih nyaman kalau bersama bapak. 

Sial jadi nangis. Duh, kan niatku bersyukur.

Melewati nasgor langganan yang dekat rumah, Mas bilang kalau nanti tidak ada makanan kita beli saja di sana. Aku mengelak seperti sebelumnya kalau hari ini ibuk rewangan dan pasti banyak makanan. Tapi, ya sudahlah kuiyakan saja. Dan ternyata sampai rumah benar banyak makanan dan jajan. Tidak hanya hari ini, kemarin-kemarin juga ada saja yang punya hajat. Jadi ya banyak makanan. 

Aku lega sampai rumah. Aku bersyukur melewati hari dengan penuh rasa syukur. Kembali mengingat hal remeh. Andai aku tadi berangkat pup di lantai bawah lebih dikit, pasti nggak nyaman karena ada tamu-tamu baru pak kos. Andai aku mandi terlebih dahulu sebelum Jumatan dimulai, pasti aku merasa tidak aman di kamar mandi karena rombongan anak-anak baru juga... mas kos yang menunjukkan kamar di lantai 3 karena bukos pergi. Ah, jangan lupa promo gojek yang dapat diskon 10k kalau pakai gopay. Sisa saldoku ngepas banget sama biayanya. Untung banget. 

Banyak kok hal-hal yang bisa disyukuri hari ini. Meski Nasi Jinggo yang nggak lebih enak dalam banyak aspek dari Nasi Jagung, atau chat mengecewakan dari seorang temen, dan hal-hal menyebalkan yang untungnya tidak kuingat-ingat lagi, ada banyak hal yang sangat bisa disyukuri. Pun, kejadian-kejadian buruk di masa lampau, pasti bisa dicari sisi baiknya. Meski itu kadang terkesan seakan mencari pembenaran saja. Tapi, jika bisa membuat diri ini lebih baik, sepertinya tidak apa. 

Ya sudah, sudah hampir tengah malam. Aku harus istirahat.


Selasa, 16 Agustus 2022

Walk or Talk with me-jusseyo~

Semoga singkat, aku akan memberi waktu tiga puluh menit. Selesai nggak selesai, kudu selesai wkwk. 

Udah lama sejak aku nulis tentang jalan kaki nyari makan itu ya. Keseharian yang nggak jadi hal spesial. Salah satu yang nggak spesial pun yang baru aja terjadi. Cuma pengen aja ngeshare cerita ini. Aku mau keluar nyari makan. Tapi, jalanan ke arah tempat beli-beli, Kalimantan ditutup karena pengajian. Mau muter lewat Jawa males. Aku udah lapar banget dan kalo beli-beli di Jawa nyebrangnya susah. Satu-satunya jalan lewar gang sempit arah langgar sebelah tempat pengajian. Tumben aku meluangkan waktu dan memilih lewat gang langgar itu. Kalo biasanya sih aku udah milih muter lewat Jawa.

Aku tahu gang itu saat beli sayur pagi-pagi dan jalan gang ada tenda hajatan. Itu udah lama banget sih, pas aku masih ada temen jalan. Oke, sambil jalan, sambil mikir beli apa. Aku punya nasi di kos. Mau beli lauk, tapi nyeberang. Kalo nggak ya ke Sutarjo. Aku tetep jalan sambil mikir bahkan pas gerobak bakul lalapan di seberang jalan kelewat. Tapi, aku memutuskan berhenti dan nyeberang. Biasanya kelewat dikit aku bablas. Aku pengen makan yang berprotein. Niatnya sih tadi ayam goreng. Tapi, ayam krispinya lebih menggoda. Nggak gedhe banget kayak bakul-bakul lainnya, jadi gas aja. 

Sambil nunggu sambil mikir. Beli-beli apa ya? Ngintipin tukang keripik di depan Bursa masih ga kelihatan. Mataku agak buram sih kalo malem. Mau beli cilok di DPR kok ya kemaruk udah makan banyak. Pertimbangan lain yang muncul, aku kan nantti lewat gang terabasan. Kalo aku beli cilok DPR nyeberangnya lebih deket bunderan dan aku bakal kesulitan. Tapi, beli keripik pun kayaknya nggak karena bakulnya nggak kelihatan. Pas pesenanku kelar, aku kaget karena cuma habis 5k. Kukira ya 6-7k sih. Soalnya ati segitu, dan kemaren jamur 5k. Okelah, berarti budget buat jajan nambah. 

Pas turun dari trotoar tempat si pedagang jualan, ada ibu-ibu nyeberang. Sontak aku buru-buru ngikut. Jalanan agak rame, tapi adalah sela. Cuma nih, kerudung blusuk tipisku malik pas ada angin lewat. Mukaku ketutup semua pas aku di tengah jalan. Untung kendaraan yang lewat ga banyak dan nggak laju banget. Sesampainya di seberang jalan, kakiku ngeyel jalan ke tukang keripik. Dan beneran dong, nggak ada. Biasanya aku bakal tetep jalan alih-alih balik kalo yang kucari ga ada, dan tadi pun demikian wkwk. Aku mengubah rencana dengan beli telor gulung. Sebenernya di seberang Pujas ada. Tapi, aku milih yang agak jauh tapi nggak nyeberang. Ndilalah sampe sana ga ada. Aku udah mau bablas ke molen aja. Tapi, bakul pentil telur yang nggak pernah kulihat ada di seberang sana bikin aku nyeberang. Padahal pas itu rame banget.

Aku nanya pentil telur apa dan ibu yang jualan ngejelasin. Sebenernya aku tahu sih, cuma ya gamau sok tahu. Ibunya juga belum ibu-ibu banget. Belio sama anaknya yang mungkin masih kelas 3 atau 4 SD. Pas lagi ngocok telur, isian kotak-kotak di dalem kotak jatuh dong. Numplek karena rombongnya nggak seimbang. Aku buru-buru ke sebelah buat ngambilin. Dan itu udah kececer di tanah banyak. Ya Allah, kesian banget. Aku jadi merasa bersalah beli. Kalau tadi nggak bikinin pesenanku itu nggak bakal jatoh. Kayaknya yg jatuh juga lebih banyak dari yang kubeli. Pas pesenanku hampir selesai, aku lihat ada dua perempuan jalan searah sama aku nantinya. Setelah bayar dan jalan balik, aku masih lihat dua perempuan itu. (weit, udah 30 menit) 

Oke kulanjut ekekek. Niatku mau ngikut mereka kalo nyeberang. Di depan telur gulung depan pujas, mereka berhenti. Nih, pasti nyeberang. Dan bener aja. Tapi, belum sempet aku mengejar ketertinggalan, ternyata mereka penyeberang yang ngawur. Ngawur banget. Aku ikut kesel lihat ekspresi pengendara motor yang pada berhenti ndadak. Setelah mereka, aku nyeberang dengan 'slay'. Melewati jalanan yang kulewati sebelumnya. Dan u know what, pak bakul keripik buka. Baru buka. Aku seneng dong. Tapi, pas aku berhenti dan basa-basi gerimis jatuh lagi. Kayak pas aku di bakul lalapan. Gerimis yang hampir bikin aku batal beli-beli. Udah panik yak, nunggu bapaknya ngelayanin sama buka-bukain tosanya. Hamdalah sih, meski sampe kos juga gerimis, tapi nggak ngefek apa-apa alias aku nggak kebasahan karena cuma gerimis. 

Sampai kos... sampai kos aku pengen nulis. Pengen aja. Sebenernya banyak detail-detail kecil yang masih kuinget dan nggak ketulis. Tumben loh aku inget kan. Tapi, yaudahlah. Udah lewat tenggat juga tulisan ini. 

Sebenernya juga, hari ini agak kesel sama diriku sendiri. Yap, tentang siiiiapa ya? Gatau namanya wkwk. *pura-pura gatau. 

Aku udah gatel banget pengen sambat masalah ini. Tapi, aku masih nggak berani. Nggak tau ya, kek merasa nggak secure sama internet. Apa ya, bukan masalah tulisan ini bakal dibaca sama siapa-siapanya, karena aku yakin hampir-hampir nggak ada yang peduli juga kan? Lebih ke ketakutan kalo ternyata... ih, bingung ngejelasin. Analoginya, kalo kominfo bisa baca chat wasap kalian, aku takut ada seseorang yang bisa nyimak fafifuku dan jadi merasa nggak aman. Paham nggak sih? Wkwk. Aku rasa enggak. Intinya, aku merasa nggak aman karena dia, dan kayaknya dia juga merasa nggak aman karena aku. Hahaha. Ini cuma pemikiran manusia lelah macam aku. Berlebihan ya? Hmm, aku cuma takut. Waspada. Kayak Budiman. EH, gamau deh. Gamau kayak Budiman. Udah-udah. Mau ongoing dulu. Thx.

Jumat, 12 Agustus 2022

Anomali

Aku nangis sedetik setelah senyum-senyum makan sate. Nangisnya cuma bentar, tiga detikan. Terus muka serius dan nulis ini. Beneran aneh. Aneh banget. Nggak ada korelasinya sama sekali. Aku nggak tahu kudu apa, padahal sudah jelas harus apa. Aku bingung mau ngapain, padahal jawabannya udah tahu. Aku bener-bener kayak orang tolol yang menyia-nyiakan waktu. Bodoh. Padahal sebelum ini, aku mati-matian menekannya. Menekan diri dan waktu agar mau berkomitmen. Tapi akhirnya, semua ketakutan akan kesia-siaan itu muncul. Terus menerus berlaku. 

Minggu ketiga aku di kos. Satu minggu ke belakang aku nggak ngapa-ngapain sama sekali. Nggak baca, nggak nulis, nggak ngetik, nggak ngeblog, dan nggak yang lain-lain, pokoknya nggak produktif sama sekali. Pikiranku kacau, padahal nggak ada masalah selain konflik di pembahasan. Awalnya nyesel, kenapa dulu tiap kerja kelompok aku selalu minta ngerjain judul? Mentang-mentang paling mudah. Sekarang, skripsiku yang nggak pake analisis judul, jadi mangkrak. Belum berlanjut. Postpone, kayak konser Suju di Filipina. 

Timeline-timeline yang kubuat, selalu lewat. Timeline yang nggak saklek sih. Cuma ya selalu aja begitu. Kalo nih misal, aku nandain, hari Minggu kudu kelar. Terus ternyata hari Minggu lewat dan aku belum apa-apa, kalo kayak gitu nggak apa-apa. Aku selalu memaklumi diriku. Tapi,... tapi kalo timelineku ada di tanggal-tanggal tertentu, rasanya kayak mengkhianati diri sendiri. Mengkhianati kepercayaanku pada diri sendiri. Aku roboh. Aku gagal. Aku nggak bisa mikir jernih lagi. Aku pecundang. 

Aku pernah berjanji pada diri sendiri, pengen ngasih kado sempro di hari ulang tahunku, Maret. Iya sih, tanggal segitu aku sudah acc, tapi tetep jadinya aku sempro bulan depannya. Aku nggak mau muluk-muluk kudu cepet, setidaknya di tanggal-tanggal tertentu kelar. Bab 2-ku yang nggak kelar-kelar berbulan-bulan setelah sempro, aku nggak kesel-kesel banget. Tapi, pas aku udah bikin planing selesaiin struktural sebelum ulang tahun bapak dan kenyataannya gagal, aku sedih banget. Efeknya, bukan lagi nangis atau bersedih-sedihan. Tapi balik lagi ke procrastination. Aku merasa useless dan cuntel. Otakku tiba-tiba kosong melompong. Aku menyalahkan itu. Aku menyalahkan hal-hal yang bersentuhan dengan itu. Segala aspek kuperhitungkan. Hasilnya, aku tak berhasil. Hanya tambah pusing dan pusing. Aku menyalahkan mereka yang datang di waktu itu, sekaligus mereka yang tak datang di waktu itu. Aku kesal pada aku yang marah pada aku yang lain yang sangat ganjil, seperti novel yang sedang kuanalisis. 

Jujur saja, novel ini sangat susah. Bodohnya, aku sadar dari dulu. Tapi, tetap saja ngeyel. Sok banget. Apa lagi, aku nggak punya siapa-siapa untuk mengobrolkan kesulitan-kesulitanku. Ini masih struktural loh. Teori dasar banget di karya sastra. Tapi, aku sudah kewalahan. Pengen mutung. HAHAHAHA. Bagaimana bisa aku bertahan di teori-teori lain yang kupakai, yang bahkan belum pernah ada yang makai alias... bunuh diri kamu Alit. 

Aku mencoba bertahan, bersabar. Melakukan hal-hal secara normal, senormal mungkin. Makan, tidur, nonton, masak, mandi, ibadah, kegiatan ternormal yang kutahu. Aku mengurangi mengobrol dengan diriku sendiri. Kembali melakukan interaksi sosial meski sebatas online. Dan semua hanya membawaku pada pikiran-pikiran bodoh yang tak ada habisnya. Arus informasi yang muncul tak bisa kubendung. Semua terserap begitu saja. Otakku terlalu penuh dengan perkara-perkara yang tak ada hubungannya dengan diriku. Aku kesal dengan diriku yang begitu. Aku tidak mau jadi Budiman. Kecewa dengan pemerintah, kecewa dengan kampus, kecewa dengan situasi yang ada dan menjadi 'sakit'. Aku takut jadi demikian. Aku tidak begitu mampu mengendalikan diri. Aku sangat lemah melawan nafsu, seperti... 

“Sesungguhnya semua hal adalah informasi. Tapi sebagian dari kita tidak punya cara dan kesiapan untuk menerimanya.”

Pesan itu muncul ketika aku baru saja usai menyemprotkan parfum di bajuku. Kemudian muncul pesan lagi lewat gawaiku, “Aku pikir nanti ada banyak informasi yang akan kamu dapatkan. Seraplah sebaik mungkin. Dan yang paling penting adalah mengerjakannya. Percuma kita bisa menyerap dan mencerna informasi, tapi malas mengerjakannya. Sebagian dari kita memang teramat malas mengerjakan tugas-tugas kehidupan. Malas mengerjakan panggilan-panggilan nurani. Hanya rajin kalau yang memangil nafsu. Seakan hanya itu saja penggerak hidup ini.” (SLYKDR:45) 

Sepertinya kutipan itu yang bisa membuatku bertahan beberapa hari itu. Dan ya... sebatas sampai kutipan itu. Otakku tak lagi dipenuhi perkara yang terjadi di sana. Alih-alih aku merasa menjadi Budiman. Kasus-kasus yang tak ada habisnya. Aku ingin langsung ke chapter akhir di hidupku. Entah akan menyedihkan seperti Budiman, atau mungkin bahagia seperti dia (jika ada yang menganggap itu bahagia). Aku sangat suka cerita itu. Tak semuluk novel-novel tiran Tere Liye, dan setelah kucari-cari memang segala kasus yang ada di sana benar ada. Aku suka dengan anomali yang diberikan penulis. Memberi hal-hal ganjil yang aku yakin tidak ganjil bagi sebagian orang. Aku sangat suka. Seakan, aku bisa memahaminya hanya dalam sekali baca. Namun, nyatanya, setelah berkali-kali, aku makin bingung. Aku makin tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku menyesali keputusanku berganti-ganti teori, karena sepertinya teori awal yang kupakai sudah sangat tepat. Namun, aku tetap harus menjalani ini. Aku... aku tidak tahu kudu apa. Apalagi...

Apalagi ternyata... anomali yang kuyakini jadi nilai jual itu, berganti. Aku tidak tahu harus bagaimana. Sudah sedemikian bingungnya, aku malah berlaku seakan tak ada apa-apa. Ya memang tak ada apa-apa sih. Harusnya, bukan aku seorang yang mengalami kerumitan saat mengerjakan skripsi. Ya, memang sih, kesialanku sudah banyak. Tapi, ini bukan hal yang bisa diprediksi. Aku... mencoba menjalaninya. 

Namun, seperti yang kubilang, otakku penuh memikirkan hal lain. Ini sangat menyiksa. Aku kudu ini dan itu, tapi aku malah ini dan itu. Hal seperti ini terjadi di diriku sebelumnya. Saat sebelumnya berada di Jember, saat aku harusnya fokus mengerjakan skripsi, otakku malah tertuju pada berita-berita. Gila, itu benar-benar bodoh dan aku nggak bisa menahan itu. Sumpah, aku ingin tidak tertarik pada kejadian di luar lingkupku. Bukan karena apatis, aku hanya tidak mau terbelenggu di sana. Ini sangat menyiksa. 

Di kejadian yang sebelumnya itu, aku berhasil mengentaskan diri saat temanku mengabari jika dirinya akan lamaran di akhir pekan. Saat itu masih awal pekan, aku langsung menggenjot tenaga untuk menuntaskan target yang harusnya selesai berbulan-bulan sebelumnya. Bagus nggak bagus, aku sudah nggak peduli. Yang penting kelar. Dan ya... sudah. Setidaknya, aku bisa mengirim progres itu ke dosen, meski sampai saat ini belum ada kepastian. Namun, hal-hal semacam itu, anomali itu, bisa dan sering terjadi padaku. Tapi rasanya... kali ini berbeda. 

Aku sangat kesal saat kemarin lusa temanku yang lain, mengabari jika dia akan lamaran di akhir pekan ini. Besok. Dia mengabariku hari Kamis, saat aku tidur pagi sampai sore. Benar-benar minggu ini hanya kuhabiskan untuk tidur. Andai temanku mengabari lebih awal, aku bisa memutuskan dengan cepat. Menghentikan kebingunganku dan melenggang ke sana, atau menyelesaikan ini dengan ajaib entah bagaimana. Namun, itu hanya elakanku untuk kesedihan ini. Aku tak tergerak pergi. Aku kesal berada di sini. Tapi, aku tak mau bertambah beban jika kembali pulang. Seperti tak ada pilihan. Aku tidak punya target lagi. Sangat tidak mungkin untuk menembus timelineku selanjutnya; semhas di ulang tahun Ibuk. Ini sangat tidak mungkin. Aku tidak menyerah, namun aku sudah kalah. 

Sedih dan kesal. Aku seperti terlalu menghayati novel yang kujadikan objek, sampai-sampai mengilhaminya dalam hidup. Mengasingkan diri sebagai anomali. Melakukan obrolan batin yang aneh. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu. 

Aku sudah mencoba banyak hal untuk mengalihkan pikiran. Namun, tetap saja. Aku kesal. Aku lelah. Aku capek. Aku ingin istirahat. Namun, ketidakngapa-ngapainku seminggu ini, seperti tidak ada gunanya. Aku tidak ngapa-ngapain, tapi aku sangat capek. Aku tidak membuka drafku, tapi rasanya otakku sudah lelah. Aku bingung. Aku linglung. 


 


Sabtu, 06 Agustus 2022

Kenapa?

Kenapa sekarang hari Sabtu?

Kenapa sekarang bulan Agustus?

Kenapa sekarang aku nggak punya bapak?

 

Minggu, 31 Juli 2022

Mimpi Tipu-Tipu

Tidur sepuluh jam. Awalnya mimpi hantu-hantuan. Aku dan teman-teman yang entah siapa aja lagi jalan-jalan--ngapain--entah di mana, pokoknya di kos-kosan atau apa gitu. Kami lagi nyari tempat nginep kayaknya. Tapi, salah satu tempat yang kami sewa nyeremin. Kata orang-orang emang berhantu dan kami nggak apa-apa karena di mimpi itu udah biasa dan sering berurusan sama hal kayak gitu. Tapi, di tempat itu tuh nyereminnya banget-banget karena kami lihat secara langsung sepatu obrok (Boots) jalan-jalan sendiri. Behh, takut ga karuan. Tapi, pas aku kebangun dan sadar kalo itu mimpi, nggak kebawa takut di kehidupan nyata ini. Malah bersyukur dan bisa lanjut tidur.

Pas lanjut tidur nih ada mimpi lagi, tapi aku lupa mimpi apa aja. Pokoknya panjang juga. Seingetku langsung ke yang sama ibuk ya. Aku tinggal berdua sama ibuk di rumah kayak rumah Mak e jaman dulu. Di mimpi itu, kami sering cek cok. Suatu hari aku kesel sama ibuk. Hari itu juga ada tamu, temennya bapak. Mereka turun dari mobil dan ternyata di sambut langsung sama sosok laki-laki yg dari belakang kayak Bapak. Aku tercengang lihat itu. Tapi, si tamu tadi nggak menghiraukan sosok itu seakan nggak ngelihat. Alih-alih ibuk keluar dan nemuin mereka. Jadi posisinya itu kayak bapak sama ibuk ngobrol sama tamu di pelataran. Aku dari tempatku berdiri nangis nyaksiin hal itu. Setelah ngobrol bentar si tamu langsung pergi. Ibuk juga langsung masuk karena nggak bisa lihat sosok yg kulihat tadi.

Setelah tamunya pergi aku langsung lari ke sosok itu. Bener aja, itu bapak. aku langsung meluk beliau. Wajahnya seger kayak masih muda. Bapak pake baju warna putih yg biasa kupake dan celana abu-abu. Rasanya nyata banget. Aku nangis misek-misek. Bapak nggak nangis sama sekali. Malah ngasih tahu aku banyak hal. Rasanya kayak pas ketemu bapak di mimpi saat 40 harinya beliau itu. Bapak ngomong sesuatu yg kali ini kuinget, nggak kayak 40 hari itu. Bapak bilang… duh apa ya? Bapak bilang, intinya aku nggak boleh terlalu kangen sama beliau. Kayak negesin, kalo beliau sekarang udah ga ada. Kalo aku terus mikirin beliau, beliau jadi nggak tenang di sana. Aku nggak jawab apa-apa cuma nangis. Nangis aja sambil muas-muasin meluk beliau. Bapak juga bilang kalo selama ini dia ada di sebelahku karena aku belum bisa lepas beliau. Padahal harusnya nggak gitu kan? Aku sadar kalo ini cuma imajinasiku karena sering nonton fantasi. Tapi, rasanya tetep sedih. Aku merasa bersalah. Tapi, aku juga nggak bisa gitu aja ikhlas. Aku kelihatan bisa hidup dan bertahan tanpa bapak, tapi… dalam hati yang terdalam selalu ada sesal. Di tengah lelucon tentang bapak, selalu ada harap kalo ini cuma mimpi. Kalo aku akan segera bangun dari mimpi buruk ini.

Aku nggak inget akhir dari pertemuanku dengan bapak itu. Entah bapak yang tiba-tiba hilang atau aku yang udah ikhlas saja ninggalin beliau. Tapi, aku udah mengerti dan janji nggak akan memberatkan Bapak. Tapi, aku tetep nggak bisa ngelepas beliau, setidaknya di waktu itu. Aku masih mau pertemuan yang lebih panjang sama Bapak. Aku masih mau ngomong banyak hal sama bapak. Tapi, di kesempatan itu, aku cuma dengerin beliau tanpa ngomong sepatah kata pun. Seakan menerapkan prinsip beliau kalo lagi ngomelin kami dulu, bener salah meneng. Aku cuma nangis aja kayak sekarang ini. Sampai pas bapak udah nggak ada lagi, aku ngomong ke ibuk. Aku cerita ke ibuk kalo baru aja ketemu bapak. Kukira cuma bayangan, tapi bisa kupeluk dan kupegang. Aku cerita detail pakaian dan apa aja yang disampakan bapak ke aku. Aku lupa gimana reaksi ibuk. Tapi, pas kebangun, aku nggak nangis sama sekali. Aku inget mimpi apa, tapi nggak misek-misek kayak sekarang ini.

Mimpi Tipu-Tipu. Aku selalu suka bermimpi, dan hidup di dalam mimpi. Tapi, itu semua tipuan. Sepercaya apapun aku pada mimpiku, impianku, dan perkara di luar nalar yang tak bisa dinalar, aku nggak boleh terus-terusan ada di sana. Nggak tahu apa yang harus kulakukan di hidupku yang udah gersang ini, nggak lantas jadiin hidup di mimpi sebagai solusi. Aku nggak tahu bakal ngapain dan bakal kayak apa hidupku. Aku juga nggak tahu pengennya kayak apa. Tapi, ya sudahlah. Mau gimanapun, bapak udah nggak ada dan hidupku harus tetep lanjut. Kun fayakun kan?

Kamis, 23 Juni 2022

Kisah Cinta Orang-Orang Manis-Manis Ya?

Sudah sekian hari draf ini sampai pada judul saja. Dan keinginan malam ini untuk menjadi Bandung Bondowoso akan kulaimpiaskan di sini. 

Kisah cinta orang-orang manis-manis. Ya, begitulah pandangan dari seseorang yang belum begitu ingin menjalani hubungan--pun tak ada kesempatan. Kelihatannya manis, aslinya pasti lebih manis. Pahit dan kegoblokan yang ada lebur dengan sebuah rasa. Harusnya sih namanya cinta, tapi akhir-akhir ini diksi itu tampaknya tabu. 

Cinta? Aku hampir-hampir tak pernah mendengar teman-teman yang sedang kasmaran menyebut itu. Alih-alih, aku selalu menegaskan ke mereka, "Tapi, kamu cinta kan?" kebanyakan dari mereka enggan menjawab. Tidak mengiyakan dan hanya tersenyum kebingungan. 

Mungkin bahasa lain dari 'cinta' terdengar lebih romantis. Love. I love you whatever it is. Salah satu kalimat manis yang terngiang. Aku menertawakan diriku yang lebur pada kisah cinta orang-orang. Si perempuan merasa senang karena dicinta dan si laki-laki lega karena terlah mengatakannya. Sangat manis, sangat. Kutipan berbahasa Inggris itu hanya secuil yang kuingat. Lainnya jauh lebih membikin hati buncah. Dan tentu saja bukan hatiku. 

Kisah manis, kupu-kupu di perut yang bikin mual, atau kembang api yang meledakkan pikiran, kesemua itu muncul bergantian. Namun, kebingungan yang muncul itu menjadikan hatimu penuh. Hangat sekaligus dingin. Tak menentu. Yang jelas ada 'rasa' di sana. Tinggal menunggu, bagaimana kelanjutannya? Apa degup akan terus muncul bersamaan dengan kebahagiaan? Atau justru kecemasan yang menimbulkan luka tak kasat mata? Kenapa lirik 'rasa yang tepat di waktu yang salah' selalu muncul di kepalaku? Padahal ini juga bukan kisah tentangku.

Orang-orang punya lagu temanya sendiri untuk kisah mereka. Aku juga. Punya lagu tema untuk kisahku. Dan karena ini hanya ada di kepalaku, aku juga memilihkan lagu tema untuk mereka. Meski mereka pun sudah memilih. Iya, lagu berlirik 'rasa yang tepat di waktu yang salah' itu akan kutitipkan ke temanku itu. Mungkin rasa mereka tepat, namun waktunya salah. Sangat salah.

Sebenarnya, meski waktu mereka tepat pun aku tak mendukung hubungan mereka. Tidak juga mendukung, jangan salah paham. Namun, setidaknya teman perempuanku itu bisa merasakan cinta yang sesungguhnya. Ungkapan-ungkapan dan afeksi yang tak semua laki-laki bisa melakukannya. Setidaknya, dia bahagia. Setidaknya, mereka bahagia. Dan ketika rasa itu tiba di waktu yang salah sehingga menanggalkan ujung mereka, apa kabar hati? Pasti dia luka. Pasti keduanya terluka. 

Tak benar-benar pernah, tapi sepertinya aku bisa memahami apa yang dirasakan si laki-laki. Betapa ia mencintai dan betapa ia menanti waktu yang tepat itu... namun lantas, waktu yang ia anggap tepat adalah sesalah-salahnya waktu. Ia terlambat, ia menyesal. Laki-laki itu terlihat tegar. Namun, aku yakin. Sesalnya akan terlegenda dalam kisah hidupnya. Ah, kenapa aku selalu terlibat pada kisah orang-orang? Oh iya, aku yang secara tidak sengaja mengenalkan mereka. Aku yang membuat lelucon bodoh atas keduanya. Aku yang haha hihi menertawai kedekatan mereka. Sampai aku sendiri yang ikut patah hati atas ketidakbersamaan mereka. Teman-teman. 

Merupakan sebuah rasa, manis pun beragam bentuknya. Manis yang identik dengan romantis itu, hanya ada di hati masing-masing orang. Bagaimana tahu gula itu manis jika tidak dirasakan? Bagaimana tahu kisah mereka manis jika aku tak pernah merasakannya? Pengetahuan. Tanpa pernah makan buah maja, aku tahu buah maja pahit. Begitupun hubungan. Namun, ini bukan pembenaran untuk segala presumsiku. Aku sadar, kita tak akan pernah benar-benar paham tanpa merasakan. Dalam hal percintaan, aku mungkin pernah jatuh cinta, dan aku pernah pula patah hati, namun aku tak pernah merasakan manis itu. Jadi sepertinya, manis yang kutaksir pada mereka ini, semacam pengetahuan yang kudapat selayaknya buah maja. Maja. Tahu kan?

Ah, perpisahan termanis. Pertanyaanku, "Tapi kamu cinta kan?" konteksnya tidak untuk kedua teman laki-laki dan perempuan tadi. Tapi, untuk mereka-mereka yang hubungannya sudah benar-benar serius. Setidaknya komitmen manjadi pasangan. Bagaimana mereka yakin untuk melangkah ke hal-hal sakral jika tak mampu mengaku kepadaku? Iya, cinta dan pernikahan adalah dua hal yang berbeda. Jika bisa menikahi orang yang dicinta adalah keberuntungan, maka kenapa tidak mengusahakan itu dulu? Maksudku, ya kenapa kalian melibatkan aku pada kisah kalian jika kalian saja tak yakin kutanyai begitu? 

Aku tak meragukan ketulusan kalian, hanya saja.. aku takut saja orang-orang tersayangku melabuh ke hati yang salah. Bahkan saat aku juga mengenal pasangan-pasangan mereka. Entah kenapa, duniaku sesempit daun kelor. Dan karena itulah, aku benci siklus ini. Mau berandai lagi. Andai bapak masih ada, aku bisa menerbangkan egoku bersama keberadaan beliau yang kujadikan sayap. Sayangnya, aku masih terlibat di dunia sempit ini. Di sesak ini. Mengubur mimpi yang sesekali bangkit dan menyisakan sakit. Tak apa, tak apa. Masih banyak yang bisa disyukuri. 

Jadi, apa poinnya? Tidak ada. Aku hanya menuliskan sedikit kisah yang kuanggap manis. Hanya satu dari beberapa temanku. Padahal, teman yang tak seberapa itu, yang entah sedang kasmaran, atau berjuang itu, punya kisah manisnya masing-masing, aku yakin. Aku pun punya, in my dream. Serius.

Mimpi kan adalah jalan pintasku menuju bahagia. Sedikit banyak yang kutulis jadi cerita itu, sepertinya sebagian lainnya akan menjadi kenyataan. Ah, aku sulit menjelaskan. Tak berharap, pun tak ingin membuat skenario macam-macam karena itu sudah pernah kulakukan di lembar kerja office word. Hanya melepaskan diri dari jerat pikiran dan bayang-bayang rasa sedih yang tak jelas. Aku tak boleh lama-lama menyakiti hatiku sendiri. Ingin bersenang-senang bersama setumpuk beban di kepala ini. Tuhan, semoga semua berjalan lancar. Semoga, kita senantiasa berumur panjang. Amin.


Senin, 20 Juni 2022

WALK WITH ME OR TALK TO ME?

Beberapa teman yang bukan pedestrian dan kebetulan sempat menemaniku berjalan kebanyakan mengatakan hal yang sama. 

"Enak ya jalan kaki." Atau, "Uh, pengen deh jalan kaki." Ya silakan teman-teman. Nggak ada yang melarang, pun nggak ada yang memaksa kalian buat begitu. 

Sebagai pedestrian yang menggunakan kaki sebagai transportasi utama saat di perantauan ini, aku mengiyakan segala rasionalisasi yang mereka sampaikan. Benar, nggak macet. Benar, nggak bingung parkir. Benar, bisa memaksimalkan fungsi mata buat melihat hal-hal asing. Tapi, itu berlaku cuma ketika tujuan kalian jalan bukan ke suatu tempat atau hal tertentu.

Selama ini, aku memikirkan itu semua. Privilege-privilege kecil yang sebenarnya hanya elakan dari fakta jika aku tidak berdaya. Aku tak punya pilihan sehingga mencari validasi atas pikiran positif yang tentu tak luput dari bayang-bayang pikiran negatif. Pikiranku bekerja terlalu keras hingga hatiku kosong. Terabaikan oleh paham yang kian hari kian melebar dan melupakan tujuan awal. 

Aku lelah menghadapi segala hal yang tak ada habisnya ini. Lelah tercebur urusan orang lain. Lelah peduli dengan orang lain. Lelah terlibat pada hal-hal yang hanya berakhir omong kosong. Aku mengakui diriku memang patut disuka. Membuat orang lain nyaman bercerita. Pun, aku yang melempar cerita. Aku suka. Namun, sampai kapan aku berkutat pada hal-hal ini? Aku lelah.

Lima tahun sudah aku ada di tempat asing. Sering aku kesepian, namun lebih sering aku ingin sepi. Aku rindu bertukar pikiran dengan diriku sendiri. Rindu mengomentari mimpi yang terjadi di tiap malam. Rindu mencari jalan keluar untuk masalah yang ditimbulkan seseorang di pikiranku. Rindu mengorganisir data pribadi yang bisa jadi referensi suatu saat nanti. Suatu saat nanti itu kapan?

Kurasa, aku terlalu peduli, meski bersikap tidak demikian. Kurasa, sulit bagiku untuk mementingkan diriku sendiri. Ribuan kali aku berniat egois dengan tak larut selain pada diriku sendiri. Tak terhitung kali aku menyesali pilihanku yang berakhir tidak untuk diriku. Selalu mendapati pilihan tanpa bisa memilih. Setiap saat aku meratapi waktu-waktuku yang hilang tanpa diriku bersamanya. Entah apa sebutannya, meski kesal dan penuh sesal, kurasa aku tetap pada pilihan yang sama jika dihadapkan pada pilihan-pilihan itu. Aku, si paling tak suka diganggu, menyayangi teman-temanku melebihi diriku sendiri. Bodoh. Kami orang-orang terluka yang sama-sama bodoh.

Menjelang maghrib suasana hatiku turut meredup. Pasangan suami istri depan kosan yang biasanya menggelar lapak Jumat berkah, sepertinya baru membongkar dagangannya. Aku baru tahu kalau mereka juga jualan rujak dan asinan dari papan tulisan yang mereka bawa. Seorang bapak-bapak di rumah sampingnya berusaha mengeluarkan motor. Gerbang rumahnya tak sesempit gerbang rumah kosku, namun sepertinya tidak mudah. Ah, semua orang punya kesulitannya masing-masing. Semua orang punya tujuannya masing-masing. Bahkan bapak-bapak pemotor yang baru masuk gang itu, pasti punya masalah. Mas-mas gojek di warung kopi sudut gang, dan seluruh orang yang berlalu lalang di jalan raya, pasti juga punya masalah.

Saat berjalan, tak biasanya aku mengmati sekeliling. Selain karena bukan tujuan, rasanya tak etis menatap manusia lain atau tempat-tempat asing milik orang lain. Aku bahkan hampir tak pernah benar mengamati ruang tamu bukos karena merasa tidak etis. Tapi, sepertinya kali ini aku melanggar prinsip itu. Sedikit. 

Mbak-mbak penjual Teh Poci yang duduk di atas trotoar depan gerai aksesoris ponsel terlihat lesu. Biasanya nggak ceria juga sih. Atau mungkin pikiranku saja yang keruh sehingga berpikir begitu? Tukang parkir paruh baya di depan Roti O sudah pulang. Orang-orang di gerai ponsel, kosmetik, dan warung-warung makan sibuk dengan urusannya. Aku melempar pandang lebih jauh. Tak ada tanda-tanda bakul keripik di depan Bursa Mahasiswa. Apa mungkin karena masih menjelang Maghrib? 

Aku terus berjalan.Tak habis kesalku pada fasilitas publik yang macam tai. Syukurnya, lubang dalam sebelum bakul keripik alias seberang Jawa Tresna, sudah ditambal. Setidaknya tak membuatku was-was jatuh ke lubang menyeramkan. Setidaknya, tak menambah skenario buruk tentang kesialan yang selalu menghantuiku. Aku terus berjalan. Satu-satunya makhluk yang terlihat santai di depan mataku hanya kucing liar di atas trotoar bekas lubang tadi. Awalnya, kukira dia tidak punya mata. Sampai dua tiga meter lebih melewatinya, pandanganku tak lepas dari kucing itu. Dia tidur. Ya Tuhan, andai aku kucing. 

Leherku sakit dan akan terlihat aneh jika aku tak melepaskan pandang dari kucing itu. Apalagi trotoar akan melewati area pujas yang membuatku harus turun ke bahu jalan yang itupun dipakai untuk parkir. Dan hey, aku baru menyadari jika mobil-mobil yang kulewati hampir kesemuanya berwarna putih. Di depan toko aksesoris dan sparepart ponsel--setelah Bursa Mahasiswa--dua mobil Innova putih dengan P berjajar rapi di halaman toko. Aku bahkan ingat jika plat kedua mobil itu berawalan angka 13-- dan 19-- yang seperti tahun. Tumben. Dua mobil putih lain di depan gym. Mobil Jazz di bahu jalan, dan Yaris di halaman gym. Ya Tuhan, tumben sekali aku ingat dan membaca tipe mobil itu. Dan hey, mobil di bahu jalan depan bursa tadi juga putih, Dan oh, mobil yang lewat juga putih. Hmm menarik. 

Hatiku sedikit hangat. Manusia, manusia, dan manusia. Parkir pujas ramai seperti biasanya. Dengan sabar aku menunggu mbak-mbak yang akan masuk dan keluar di depanku. Ada beberapa dan ngawur. Tapi, ya sudahlah. Mas-mas gojek di depan stand kebab (yang ada di trotoar) tidak begitu banyak. Tapi, motor-motor mereka di bahu jalan membuat aku was-was tertabrak motor dan mobil yang semakin padat. Aku tak ingin berakhir di UGD meski mungkin ada sosok macam Kim Sabu yang mengobati. Aku tak mau. Tiba-tiba saja aku kesal pada motor dan mobil yang membuat aku was-was. Tapi setelah kupikir lagi, harusnya aku kesal ke motor-motor yang parkir di bahu jalan. Eh, kesal ke warung dan stan-stan makanan di trotoar juga ga sih? Atau pemerintah?

Aku berdoa semoga baik-baik saja dan melanjutkan perjalanan melewati trotoar depan KPPN yang sangat-sangat ramai ojol. Dalam hati aku bersyukur karena memutuskan mencari makan saat matahati masih sedikit memancarkan cahayanya. Kalau malam aku tak akan bisa jalan selambat ini. Setelah kantor KPPN yang memiliki ATM BRI, aku bisa naik ke trotoar. Tak ada penghalang sampai nanti di depan kantor cabang partai atau apa ya? Lupa. Masih terhitung sore. Pedagang kaki lima yang biasa mangkal di sana belum ada. Namun, beberapa langkah kemudian aku harus turun. Pedagang molen mini dan ayam goreng sudah menggelar lapak. Rombong mereka masih kosong, tapi wajan sudah penuh. Aku yakin saat kembali lewat sini nanti, jualan mereka ada yang sudah matang. 

Aku kembali berjalan. Pedagang mie lidi di sebelahnya lagi tidak banyak seperti biasa. Pernah ketika aku lewat sana dengan salah satu temanku, ada oknum yang melempar cat calling. Menjijikkan. Aku berjalan. Melewati salah satu gerbang gedung Sutarjo yang sangat fenomenal itu. Melewati pedagang tisu yang baru kutahu jika jualan barang receh seperti itu juga didata dan punya atasan. Ada mas-mas berpakaian agak rapi yang mengecek barang satu-satu dengan membawa map berisi kolom-kolom entah apa. Sedang mas-mas satunya di belakang tempat ia biasa berjualan. Bakaran Sutarjo sudah kelihatan. Untung kali ini tidak tutup. Tapi, sepertinya akan sangat ramai. Seperti biasa.

Semakin dekat dengan tujuan, aku menyadari ada mas-mas berpakaian nyentrik serba putih--yang ada sedikit campuran merah--dengan celana pendek selutut berjalan searah denganku di seberang jalan. Tadi, entah di titik mana, sepertinya dia masih jauh di belakang. Mas-mas berbadan gempal itu berjalan cepat--eh, aku saja yang lambat. Karena tak ada lagi yang bisa kuperhatikan selain gedung Sutarjo yang tiba-tiba menyebalkan, mataku mengikuti langkah mas-mas itu. Dia berhenti di tempat yang tak kuduga, namun kusuka. Cilok. Andai tak menyeberang, aku bakal sering jajan ke sana. 

Akhirnya aku mengantri. Jauh dan banyak. Di belakang mas-mas berbadan besar. Saat-saat seperti itu, harusnya aku bisa mencuri tempat karena badanku lebih kecil. Namun, aku memilih untuk tidak. Menunggu dan mengamati orang-orang yang bergerak. Namun, gerak itu hanya di jalan dan tempat-tempat lain selain orang-orang dalam tenda. Mas-mas di depanku tak ada yang gerak, padahal di dalam ada sedikit ruang. Pada tahap ini aku berpikir. Inikah privelege-ku sebagai perempuan? Bisa mencari celah tanpa takut dituduh melakukan pelecehan jika tak sengaja besinggungan dengan orang lain. 

Satu dua langkah membawaku pada baris kedua. Mas-mas di depanku ada jauh di belakang. Tanganku yang sedari tadi di kantung jaket dan akan kukeluarkan untuk mengecek uang, tak sengaja menyentuh mbak-mbak di depanku. Nah ini, kalau aku tadi cowo mungkin ekspresi mbaknya bakal lebih garang. Sepersekian detik kemudian, pikiran lain muncul. Lupakan gender, sebagai manusia, kalau aku nanti dituduh mencuri bagaimana? Mengingat tasnya tepat di depanku dan penampilan gembelku. Ah, mana mbaknya lama lagi pesennya. Nggak profesional banget.

Sampai mas-mas di depanku tadi--dan mas-mas lain yang kulihat baru turun dari motor saat aku mengnatri--telah mendapatkan makanannya aku belum. Suaraku yang sebenarnya nggak lemah gemulai ini tetap kalah dengan para laki-laki itu. Pun masker yang sekarang beralih fungsi jadi pelindung muka buruk rupa menghalangi. Sial. Privilege jadi perempuan cuma sesaat doang. 

Tumis ati, tumis labu siam, dan dua tusuk tahu pentol kudapat dengan membayang Rp.6000,00 saja. Iya, murah. Aku pun sudah yakin dan percaya dengan rasanya. Jadi, kesabaran ini setimpal dengan harga dan rasa yang kudapat. Adzan Maghrib berkumandang saat aku mengantri. Dan sekarang aku harus berjalan cepat jika tak ingin kehabisan waktu solat karena belum mandi sore juga. Namun, pikiranku masih berkecamuk. Aku lelah. Namun, baliho toko kaos polos sedikit menghiburku. Aku tak ingat kapan terakhir membaca baliho dan memaknai artinya. Biasanya sekedar baca. Sekedar.

Aku meneruskan langkah. Dugaanku benar. Rombong ayam goreng dan molen sudah terisi. Aku membeli molen isi pisang Rp. 3000,00 untuk teman menikmati kesendirian nanti malam. Bakul kripik tak bisa di-jagakne. Berjalan dan terus berjalan. Kantor bea cukai di sebelah KPPN selalu mengingatkanku pada dua temanku yang sudah bekerja di sana. Bukan kantor itu, tapi kantor-kantor di kota lain. Menyebalkan. Kami dulu sama, sekarang... ah. Memuakkan. Dan oh, para gojek tak lagi menjamur--meski masih ada banyak motor di depan kebab tadi.

Berjalan dan berjalan lagi. Aku berpapasan dengan ibuk-ibuk berjilbab besar. Ah, ibuk-ibuk yang bisa disebut nenek dengan punuk besar sekali di kepalanya. Aku ingat bertemu dia di warung soto depan PKM. Waktu itu beliau melemparkan permisi padaku dan teman-teman yang duduk lesehan. Entah apa yang dibicarakannya terhadap akul lampu lentera sebelumnya. Namun, setelah mereka mengobrol dan si ibuk memesan ayam goreng paha ke penjual soto, bapak-bapak penjual lampu lentera pergi. Si ibuk berpunuk besar tadi duduk di kursi plastik depan kami. Masih melempar permisi dan berkata jika memesan ayam goreng bagian paha. Kami mengiyakan. Aku ganti melempar tanya asal si ibu. Beliau menjawab dari sana, menyebutkan nama toko yang aku tak tahu. Tapi, sepertinya jauh. Aku tak mencoba memperpanjang obrolan karena beliau seperti terburu. Berbanyak kali si ibu meminta pesanannya. Tumben sekali aku mengingat kejadian itu? Bagaimana bisa?

Di pertemuan kedua itu, aku tak sempat menyapanya. Sudah terlewat saat aku menyadari itu beliau. Pun, maghrib. Aku berjalan lebih cepat. Cepat, cepat, cepat. Menatap jauh ke depan ke ruko yang salah satunya terpampang logo pakaian bermerk. Satu tahun setengah tinggal di lingkungan ini, aku baru sadar ada patung di atas ruko tengah beberapa waktu belakangan saat berjalan bersama seorang teman. Memang aku kurang menikmati keseruan dunia luar. Bagaimana aku bisa jadi penulis jika menutup mata pada hal-hal sosial. Hal-hal nyata yang benar ada, bukan cuma mimpi.

Memang, melakukan tak semudah mengatakan. Aku. Misalpun memang berjalan untuk menikmati perjalanan, tak akan bisa kulakukan jika aku tak sendiri. Aku akan terus menimpali setiap omong kosong dengan omong kosong. Tak akan habis topik di kepala ini. Pun, misal pun habis, sepanjang jalan, sepanjang mata memandang, aku bisa menjadikannya obrolan. Setidaknya, aku bisa menjadikannya jokes receh pemecah hening. 

Kucing yang tadi tidur di trotoar kusadari keberadaanya yang berjalan masuk ke toko pakaian adat. Meski demikian aku yakin dia kucing liar. Mbak-mbak teh poci tak terlihat di tempatnya. Alih-alih aku mendapati pemandangan yang jarang terjadi. Seorang mbak-mbak makan mie bebek sendirian. Ia memilih meja terdepan yang menghadap jalan. Ah, aku jadi ingat pernah melihat banyak mas-mas makan di tempat umum bertemankan Youtube. Menurutku, mbak ini jauh lebih keren. 

Gang kosanku sudah terlhat. Pun bundaran DPR juga terlihat lenggang. Bundaran yang menyimpan banyak cerita. Bukan, aku tak begitu mengabadikan momen aksi di sana. Ingatan yang terkunci di kepala adalah saat pertama kali naik Lin D dan ngetem di dekat tukang tambal ban saat tes SBM, serta teriakan-teriakan bodoh di atas sana. Ya, sekitar jam yang sama. Senja-senja tai kucing. Difrosir untuk melakukan hal bodoh yang benar-benar tak berguna. Berteriak seperti orang gila. Bernyanyi seakan besok kami tak punya suara. Berjoget macam manusia tak tahu agama. Maghrib goblok! Aku tak alim, tapi aku tak akan menggiring teman-temanku untuk sesat. Ingatan menyakitkan. Semenyakitkan gedung Sutarjo. 

Dua tukang gojek di warung pojokan, sempat-sempatnya melempar obrolan menganggu telinga. Aku yakin jika aku tak fokus pada bundaran DPR dan sedikit saja menoleh ke arah mereka, obrolan menyebalkan itu bisa lebih frontal. Rumah kosku sudah terlihat. Televisi kecil di atas pintu bagian dalam menyala. Sepertinya masih ada orang di sana. Sandal Pak Kos terlihat. Ah, beliau belum naik atau sudah turun? Mau beli koyok sih. Punggungku manja. Setelah nyuci langsung sakit. Tapi, nanti saja ah. Saat ada Bu Kos saja, lebih sat set.

Aku menaiki lantai dengan lemah. Tak ada tanda-tanda suara Mas Kos yang sedang solat di ruang tengah. Jadi, aku tak perlu mengatur suara supaya tidak menganggu--meski demikian juga aku nggak mengeluarkan suara. Setelah melepas jaket dan atribut nyari makan lainnya, aku langsung ke kamar mandi menyalakan air. Tumben, tidak macet. Sambil menunggu, aku mengecek chatku ke ibuk yang kukirim sebelumnya. Bocil menjawab, ibuk sedang solat sedangkan dia sudah, dengan vn. Vn kedua, dia menuduhku bermain hape mentang-mentang ia membaca chatku saat maghrib. Padahal chat itu sudah lama. 

Aku mandi dan melakukan ritual biasa. Masih murung dan ragu. Setelah memastikan ibuk baik-baik saja di sana harusnya aku bisa leluasa menonaktifkan wasap. Namun, tetap saja was-was. Nanti kalo si A chat, nanti kalo si B chat, nanti kalo C butuh sesuatu, nanti kalo D mau nanya sesuatu, nanti kalo E perlu, nanti... ah aku menanggalkan pikiran itu. Melanjutkan nonton drama sambil menunggu nasiku dingin. Setengah jam kemudian, aku merubah posisi dari rebahan di kasur ke meja kecil dekat karpet. Lauk pauk dari Sutarjo belum pernah mengecewakan--eh, pernah tapi karena besoknya sakit aja sih. Berniat melanjutkan separuh episode lanjutan sambil makan. Namun, sial. Kenapa selalu pas adegan bedah-bedah perut? Beberapa hari ini aku makan ditemani gamabr mengerikan. Akhirnya kuputuskan menonton Stand Up yang sudah beberapa hari ini kulewatkan. 

Belum selesai seorang komedian kawakan bercerocos, aku selesai makan. Perutku kenyang karena sampai nambah nasi saking banyaknya lauk. Mau digado pun bumbunya kerasa banget. Kudu pake nasi. Haha. Baru saja piring kusisihkan dari depan mataku, ponsel berdering. Padahal aku sudah off. Aku mengangkat panggilan biasa itu dan telah menduga apa yang ingin dia sampaikan. Sudah kuduga begini. Padahal tadi sore aku sudah bertanya apa dia akan kemari dan jawabannya besok. Kenapa... kenapa sekarang? Aku ingin sendirian. Aku ingin bertemu diriku. Aku ingin mengatakan banyak hal padanya. Di waktu yang baik, di laku yang tak menyakitkan begini.

Katakanlah sekarang aku aleman. Katakanlah aku memanjakan diri dengan memberi toleransi berlebih pada tiap tindakan keliruku. Misal mengerjakan skripsi alih-alih begadang berjam-jam untuk menulis narasi tak penting begini. Namun, ini semua terjadi karena aku ingin lepas dari beban itu. Pikiran-pikiran yang berkecamuk tentang ini dan itu. Mataku terbuka dari subuh hingga akan subuh. Namun, aku tetap saja jadi orang yang kurang. Kasihan diri ini. Kasihan kisah ini. 

Jadi, aku mau memberi judul tulisan ini apa? AH... WALKING WITH ALIT? WALKING WITH ME? Aku ingat pernah berceletuk, "Kalo di Youtube ada konten #NEBENGBOY atau talk show yang muter-muter pake mobil, aku mau bikin acara sendiri aja. Walking with Alit. Walking with me. Kita bisa bikin obrolan bagus sepanjang jalan yang jelek ini."