Selasa, 25 Februari 2020

SPLASH



Halo!

Hmm, aku masih tersenyum saja menghadapi semua. Padahal rasanya sakit sekali. Di setiap waktu, saat momen itu terlintas, rasanya sesak. Kenyataan membawa pada rasa sakit yang tak ada obatnya. Sedangkan aku selalu ada pada ruang yang sama. Mempertahankan tanggung jawab sebagai satu-satunya wasiat yang paling menyebalkan. Sesal. Penyesalan. Menyesal. Sial. Tak tahu sampai kapan keterpurukan ini hilang.

Mungkin saat aku benar-benar tak bernapas, kala itu semua sakit juga lepas.



Selasa, 31 Desember 2019

AKU DAN BAPAK

1.3 31 Desember 2019

Malam tahun baru, akhir dari bulan Desember, bulan yang baru-bari ini sangat kubenci. Ya, aku masih dendam dengan kesialan yang bertubi-tubi ini. Asal tahu saja, hidupku belakangan benar-benar berat. Sungguh.

Sebelumnya, aku pernah bertanya-tanya, kenapa rasanya hidupku berjalan mulus. Maksudnya, masalah apapun yang aku alami saat itu, selalu bisa kuatasi. Apapun masalahnya dan bagaimanapun caranya, semua terlewati begitu saja. Memang, alasan ingin kuliah dan tinggal jauh dari zona nyamanku dulu adalah ingin dapat masalah dan mengatasinya. Namun, akhir-akhir itu, masalah seakan benar-benar kompleks. Mulai dari jatuh cinta hingga perkara remeh tugas aku sangat sial. Sebuah usaha aku lakukan, dan pada akhirnya semua jadi sampah di pikiran. Lalu, sedikit banyak drama bermunculan. Bangsat! Aku masuk di dalamnya pula. Lalu kemanakah cita? Masa bodoh.

Di tengah-tengah itu, aku masih tulus mengerjakan tanggung jawab di lain hal. Tapi lagi-lagi, sakit hati ini ketika itu tidak dihargai. Aku hanya bisa tertawa di tengah lelucon bodohku. Tak tahu saja, getir hati ini mengingat saat itu. Semuanya, seperti ada dan tiada. Kekecewaan tak pernah benar kusebutkan. Tapi, aku kasihan hatiku. Karena dia terus menerus sok kuat, akhirnya sakit juga. Ya, menular ke otak dan jadilah bodoh.

Haha, lucu sekali. Jika tahun ini kembali kuingat,—lewat ingatan pendekku yang tidak begitu detail—setahun ini mungkin adalah gambar hidup bapak. Awal tahun, dengan takut-takut dan berbagai rasa baru yang ada, aku menghadapi tanggung jawab baru. Anggap itu sebuah hubungan. Aku sangat cinta. Aku melakukan segala hal untuknya. Aku, tak kenal egois untuk itu. Ya, meski dari sudut pandangku sendiri. Tapi tetap saja, sebuah hubungan pasti ada masalah. Terlepas siapa yang salah. Sambil meraba-raba aku tetap berjalan.

Setelah melewati pemanasan yang cukup panas, di pertengahan tahun, aku mulai jatuh lagi. Sulit kuakui, tapi menurut analisis orang-orang pada umumnya, itu namanya cinta. Biar sudah, aku ingin fokus pada cintaku yang sebelumnya. Baru saja aku mampu berdiri, keadaan menyuruhku lari. Semua terasa semakin berat.

Dan kuliah? Aman. Meski aku kesal karena ketidakadilan yang kualami selama proses belajar mengajar terhadap nilai yang muncul, tapi itu sudah cukup. Aku tak mau menambah pikiran. Ternyata, kaki yang sibuk berlari itu, tidak juga lelah. Sedikit demi sedikit masalah terselesaikan—dengan berbagai konsekuensi dan sakit hati.

Sibuk. Satu kata itu yang bisa menggambarkan situasinya. Aku lupa ada aspek keluarga di dunia ini. Hal yang sangat-sangat aku sesali. Pada akhirnya, memang penyesalan selalu berada di akhir. Kenyataan bahwa bapak telah pergi, adalah pukulan telak bagiku—bagi seluruh keluargaku, tentunya. Kuliahku berantakan. Harapanku hilang.

Pikirku saat itu, di hari akhirnya pun, bapak menyebalkan. Kenapa bapak tidak memberi firasat? Apa aku saja yang tidak menangkapnya? Foto terakhir yang sering di post para kakak itu, kenapa aku tidak merasa? Kenapa aku tidak berpikir dan masih saja memikirkan hal-hal tidak penting? Sial sial sial. Sial sekali. Aku sama sekali tidak diberi kesempatan berada di sebelahnya saat banyak selang rumah sakit berada di tubuh bapak. Kebaikan hati bapak yang melarang aku untuk tahu, adalah hal tersakit. Keputusan bapak selalu berlawanan denganku. Kami tidak pernah sepakat.

Bapak selalu melarang jika aku berkata akan potong rambut, beliau tidak tahu saja rambutku sudah kupotong pendek. Tentang aku yang belajar menjadi perempuan karena peran, bapak pasti senang. Beliau tidak tahu itu. Aku belum bercerita juga jika aku yang gendut menjadi lebih kurus. Berita baik untukku, tapi entah untuk bapak.

Aku belum siap, benar benar belum siap. Kalo saja aku anak laki-laki, pasti aku tidak sesedih ini. Kodrat seorang anak perempuan ya begini, akan selalu butuh bapak. Aku iri pada kakak-kakak, bapak menyaksikan mereka tumbuh sampai usia mereka sekarang. Sedangkan aku? Aku baru 21 tahun. Benar, itu usia cukup untuk disebut dewasa tapi tetap saja aku iri. Sangat iri. Bapak sempat menimang dan menyayangi anak-anak mereka, sedangkan aku? Aku dulu masih sempat melihat wajah kakek, ayah bapak, sedangkan anakku kelak? Aku jauh dari tipikal orang yang ingin cepat-cepat berumah tangga memang. Aku ingin bermain, mencari pengalaman dan berpergian. Tapi, jika jadinya seperti ini maka aku menagih segala perspektif masyarakat yang harusnya aku alami juga. Aku masih ingin dimarahi bapak yang sangat cerewet dan baik hati.

Tiba-tiba saja aku teringat, aku tidak pernah tahu wajah ayah dari ibu, kakek. Hahaha, anakku kelak mungkin akan menjadi seperti itu. Hanya kisah-kisah masa lalu, kebaikan hati bapak dan segala leluconnya mungkin akan menemani lewat bayangan. Semoga saja, kisah yang terulang-ulang itu tidak benar-benar sama. Ibu, orang yang lebih patah hatinya daripada aku, harus hidup lebih lama dari nenek. Ibu, orang yang benar-benar kehilangan, harus lebih kuat terlepas dengan segala hal di hidupnya yang mau tidak mau berubah atas meninggalnya bapak. Ibu, orang tua satu-satunya yang kumiliki saat ini, harus bahagia.

Prihal hidup bapak yang hampir sama dengan setahunku ini, itu karena sepertinya hidup bapak tidak pernah mudah. Saat kugali rekam jejaknya, itu sungguh berat. Tapi dengan tawanya, kelucuannya, keikhlasan dan kebaikan hatinya, semua terlewati. Segala sakit hati yang kualami, mungkin bentuk hukuman dari Tuhan karena aku sering menyakiti hati bapak. Bapak, segala janji-janjiku belum satu pun terlaksana. Rencana masa depan kami, pupus. Tidak ada lagi asa. Tidak ada motivasi. Ibu cukup kuat untuk sejenak aku lupakan. Kecerdasan ibu menutup segala kesedihan sehingga aku takabur. Aku masih punya seseorang. Tidak utuh. Hatiku juga. Tapi, kata ibu, bapak pasti tidak mau aku kalah begitu.

Akhirnya aku bisa melihat wajah tenang bapak bersama para kakak dan juga adik-kakak beliau sebelum pemakaman dilanjutkan. Bapak bukan orang yang begitu hebat, tapi tanpa bapak rasa percaya diriku hilang. Sekarang, aku harus tersenyum di akhir tahun ini. 

Selasa, 24 Desember 2019

AKU DAN BAPAK


1.2 Jember 25 Desember
Berkali-kali aku membayangkan, bagaimana jika aku mati sebelum pementasan? Apakah teman-teman akan sedih? Apa pementasan itu akan gagal? Sepertinya tidak. Atau, bagaimana jika ada sanak keluarga yang meninggal? Apa tetap tidak ada pilihan untuk pulang? 

Saat itu, aku benar-benar ingin menghilang. Pergi dari duniaku yang sudah carut marut. Membayar semua kekesalan dengan stok cerita berbulan-bulan kepada orang-orang rumah. Suatu siang yang lelah, ketika dosen tak kunjung masuk, aku mengirim pesan teks kepada ibu. “Gak kangen aku to, Buk?” sebelumnya, aku tak pernah mengirim pesan semacam itu. Balasannya bukan kata “rindu”, tapi sebuah narasi singkat yang kurang lebih menyatakan, “Ya mau gimana lagi?” ibu tentu rindu. Setelahnya aku sering mengirim foto diri. Tidak seperti biasanya, aku benar-benar sering berfoto. Aku ingin menghilang.

Aku memikirkan skenario untuk lenyap selain mati. Tapi rasanya, apa yang kulakukan dan terlintas dipikiran ya mati. Entah tertabrak saat menyebrang, keracunan makanan bahkan kelaparan atau kekenyangan menjadi alibi bodoh untuk mati. Lalu, kebingungan lain muncul. Bagaimana orang-orang akan mengurus kematianku nanti? Apa aku akan dibiarkan saja? Apa mereka akan menggunjing? Apa mereka akan mengobrak-abrik kamarku yang sudah berantakan? Apa mereka akan menghubungi keluargaku? Ah, orang tua. Seketika, aku tak ingin mati. 

Aku ingin bertemu mereka dan mengatakan semua kenakalanku, apa-apa yang selama ini terjadi di hidupku. Tentang betapa sulitnya bertahan di tengah-tengah kesakitan yang datang dari berbagai arah. Aku ingin bercerita banyak, sangat banyak. Hal yang benar-benar terbersit di benak adalah, aku ingin memeluk bapak. Bapak saja. Entah, mungkin kisah salah seorang dosen yang ditinggal mati bapak ketika semester lima serta oedius complex-nya membuat aku kepikiran bapak. Tidak terlalu, hanya saja rasanya ingin memeluk beliau. Tidak juga terbersit dipikiran jika aku mungkin saja mengalami hal itu, tidak. Cuma ingin bertemu, menebus rindu. Aku pulang, atau bapak ke mari, keduanya sangat aku inginkan. 

Suatu malam, ada panggilan masuk. Bapak. Aku bilang aku di luar. Bapak bertanya sebelah mana. Aku menjawab. Beliau bertanya lagi posisi pastinya. Aku menjelaskan. Lalu saat aku tanya apakah beliau di sini, bapak menjawab iya. Senang bukan kepalang. Apalagi mendengar ada suara ibu di sebelah, membuat aku semakin semangat bertanya posisi mereka. Saat ponsel beralih ke ibu, bapak tertawa terbahak-bahak. Seketika aku sadar, bapak bohong. Ya, lelucon biasa yang tidak lucu. Betapa aku sangat rindu mereka. 

Sebenarnya aku lupa kapan pastinya obrolan terakhirku dengan bapak. Entah, saat beliau bertanya apa saldo pulsaku sudah masuk, atau  saat membikin lelucon itu, atau juga saat bertanya kenapa aku tidak pernah menghubunginya, yang jelas panggilan terakhirnya selalu kutolak. Beberapa kali dan itu sebulan yang lalu. Lucu sekali.

Pikiranku selalu menjawab, “Sebentar lagi pulang, sebentar lagi pulang, tahan tahan tahan.”
Banyak sekali yang ingin kupamerkan. Tentang perjalanan ke Semarang serta kota Surabaya yang penuh kenangan; tempat bertemu bapak dan ibu dulu. Juga aku ingin memamerkan beberapa hal lain yang sudah kucapai. Pun banyak hal lain yang ingin kutanyakan. Semua itu, tak mampu ditembus dan ditebus oleh waktu. 

Terakhir kali aku pulang ke rumah, tidak banyak waktu yang ada untuk bisa menatap wajah bapak. Untung sekali aku terjaga saat bapak pulang dari luar kota. Tidak banyak mengobrol hanya saling... ah aku bahkan lupa apa yang terjadi waktu itu, yang jelas besok paginya aku balik ke sini lagi. Sangat singkat.

Pertemuan terakhir itu sangat sangat singkat. Setelahnya penuh dengan sesal---

Kamis, 12 Desember 2019

AKU DAN BAPAK


Here we go.

SEBUAH PENYESALAN
1.1 Kamis, 12 Desember 2019
Tujuh hari setelah bapak berpulang. Aku pikir, kematian harusnya tidaklah mengejutkan toh setiap manusia akan mati. Tapi sampai sekarang, aku masih saja berpikir jika ini mimpi. Lucu sekali. Sudah satu minggu dan aku masih belum bangun. Bahkan, jika pun ini memang benar-benar mimpi, itu pasti adalah mimpi yang paling menyakitkan.
 
Sungguh. Akhir bulan kemarin aku ingin sekali menulis blog ini. Banyak hal terjadi. Pundak dan hatiku hampir-hampir tak kuat atas bebannya. Satu dua kata tertulis di warung kopi. Kemudian berhenti. Waktuku tak pernah cukup. Waktuku tak pernah ada untuk diriku sendiri, menulis. Ah, juga keluarga. 

Ingat sekali, masih di tempat yang sama, saat aku mengeluh tentang keluarga, seorang teman berkata, “Ya, itu juga tanggung jawabmu.” Ya, selayaknya organisasi atau tetek mbengek mata kuliah terkutuk itu harusnya pilihanku jatuh pada keluarga. 

“Kalo aku sih milih egois.” Kata temanku yang lain sore tadi.

“Maksudnya?” aku bingung.

“Aku lebih milih egois dan pulang.” Ah, begitu rupanya. Ya, dan aku menyesal tidak menggunakan egoku untuk berbuat demikian. Aku menyesal memilih tanggung  jawab yang benar-benar menjungkirbalikkan hidupku ini, yang benar-benar membuat dadaku sangat sesak bahkan untuk sekedar berbicara dan tertawa. 

Aku bertingkah sangat sibuk. Entah latihan, entah syuting, entah rapat, entah nugas atau sekedar diskusi di warung kopi, aku bilang aku sibuk. Saat senggang dan berniat menghubungi keluarga, ada saja kendala. Tidak diangkat, tidak ada sinyal, sudah tidur dan masih tidur, atau kesibukanku yang ‘tidak dianggap’ lainnya, dapur beban. 

Suatu pagi, panggilan masuk dari nomor yang tidak kusimpan. Bapak. Setelah bertanya sudah bangun atau belum, sudah makan atau belum, mau apa hari ini dan hal-hal template seperti biasanya, bapak menambahkan, “Sampean kok nggak tau ngehubungi Bapak to, Nduk?” 

Deg. Iya. Aku menjawab jika aku mengirim pesan ke ibu.

“Yo iku kan Ibumu, Bapak yo nggak eroh to.”

Sudah.

Setelahnya masih biasa saja. Aku tidak berniat pulang. Jadwal yang padat dan mulut-mulut gatal tak memungkinkan untuk aku bersekongkol dengan waktu merencanakan pelampiasan rindu. Ah, memalukan disebut rindu. Mungkin itu hanya sebuah rasa saja. Entah apa namanya, aku ingin pulang. Tidak untuk alasan rebahan, menulis, bermain piano atau sekedar ketemu orang tertentu, tidak. Hanya ingin. Tidak yang benar-benar ingin, hanya saja, ada rasa yang kuat.

Hari-hari itu, aku menonton beberapa drama Korea. Tidak sampai benar-benar mengikuti, hanya sekedar untuk teman makan atau membunuh waktu di kampus yang kadang mempermainkanku. Seperti biasanya, sedikit banyak cerita kehidupan boleh jadi pandangan dunia baru. Saat itu juga imanku sedang goyah-goyahnya. Lagi-lagi dalil kesibukan jadi alasan. Juga jadwal haid yang maju mundur membikin semakin stres saja. Lagi-lagi, aku meninggalkan jalanku. Bukan kali pertama, tapi saat dunia masih berjalan dengan manusia-manusia ‘beragama’, kenapa aku tidak demikian? Selanjutnya, rasa bersalah yang dulu sering kurasakan tidak lagi mengikuti. Sebagai gantinya, seakan ada gumpalan hitam tersimpan di hati, keras dan tajam. Aku berhasil lalai.

Hei, aku tidak sepenuhnya berbalik arah, apalagi murtad, TIDAK! Aku masih sadar sesadarsadarnya. Aku memilih karena tahu konsekuensi. Aku bertanya, berdiskusi dan bercerita pada beberapa teman dari latar belakang yang jauh berbeda. Tak ada ketetapan hati. Bahkan, saat aku tanya ke kakak, aku tidak mendapatkan pegangan. Sekeras itukah hatiku?

Masalah tidak hanya datang dari diriku. Lingkar kehidupan kampus yang tidak sehat serta drama bangsat yang terus menerus semakin rumit tiap harinya membuat aku sakit kepala. Bagaimana tidak, masalah seorang teman yang tidak sengaja kudengar saja bisa bikin aku tidak bisa tidur semalaman, apalagi hal yang mau tidak mau aku terlibat di dalamnya. Aku benci pikiranku!

Singkat cerita, drama itu hampir mencapai klimaks. Tinggal hitungan jari kupikir semua akan selesai. Aku akan bebas dari jerat tanggung jawab dan ikatan-ikatan palsu itu. Dalam hati, kutenangkan batin yang semakin berteriak. Sebentar lagi pulang, tahan-tahan. Aku mulai berbenah. Berdamai dengan logika dan mencoba menjadi aku yang aku. Tak benar-benar terjawab, tapi paling tidak aku menahan sedikit emosi dan apa-apa yang ingin aku keluarkan—bahkan sampai saat ini.

Dan taraaa, aku pulang---

Selasa, 29 Oktober 2019

AKU DAN KISAHKU: Sebuah Satu

Telah kukaji berkali-kali tulisan itu. Satu, dua, tiga dan seterusnya, semua bisa dikaca. Asa yang ditiup, berteman sepi dan rindu. Tapi, bagaimana jika tak ada yang dikenang? Atau, kenangannya terlalu buruk dan sakit?

Ditarik aku ke sebuah mimpi. Di sana aku berteman dengan sepi lagi. Dia datang. Dia datang. Dia datang. Aku teriak dalam sepi yang menjadi sepi. Rona bahagia kupancarkan pada diri sendiri. Tak ada yang tahu, tak ada yang mau tahu. Sampai sebuah sudut menjadikannya terlihat berbeda. Pandanganku sepertinya tak pernah sama dengan manusia lain.

Aku tak bisa bangun. Titik itu menyadarkanku tentang satu hal. Ini bukan mimpi. Jika itu sakit maka sakitlah hati. Jika itu suka, maka berlarilah duka. Ceriaku kuharap jadi ceriamu. Dan sakitmu, bagilah padaku. Kuterima itu dengan senyum, dengan tawa, dengan aliran dari mata.

Tak ada yg bisa bersaksi. Toh, orang terdekatku tak pernah tahu rasanya jadi aku. Pun, orang terdekatmu yg tak pernah jadi kamu. Ya, kita dekat. Kita sering sok kuat. Maka, biarlah sebuah perjalanan jadi cerita. Tentang kebodohan yg selalu diulang, tentang kata yg tak bisa dikata. Tentang hidup dan kehidupan.

Kukatakan di sini sajakah? Baiklah. Aku tak bisa menghentikan batuk, seperti halnya tak bisa menghentikan laju kereta ini.

Sebuah asa dan rasa bercampur aduk dalam pikiran. Setan iblis yang selalu menghantui hari haruku, kisah masa lalu dan ploting masa depan, kukira, kekhawatiran itu memang sebuah bom. Aku mencoba pelit air mata. Tapi, kenapa jadinya malah cuma-cuma? Duh, aku takut mati tiba-tiba.

Sebuah satu untukmu. Dua, tiga dan seterusnya, nanti kan kutulis juga.


Sabtu, 28 September 2019

Aku dan Kisahku

3.48 WIB

Halo, hehe...
Selamat pagi mata. Sambatan biarlah sebatas dengung lagu. Irama balada dengan lirik delik.

Tidak ada hal spesial untuk kisah kali ini. Hanya ingin. Baru saja ingatan berjalan ke masa lalu. Bukan sebatas membaca atau mengenang saja. De javu yang tersengaja. Ah, bangsat sekali hidup ini. Bodohnya ya aku tetap memasang senyum. Iya senyum. Bodoh.

Baiklah, mari berbicara masa lalu yang berhubungan dengan mimpi dahulu. Ya mimpi secara istilah, harfiah atau apapun itulah. Pada dasarnya, kecintaanku pada Korea memang terikat oleh waktu. Rindu playlist lama yang itu-itu saja membawa pada bincang panjang perjalanan remaja. Ngerekam soundtrack drama Korea yang tayang pake hape Nokia 6300 tanpa kartu memori. Terus didengerin deh suara kemeresek itu pas mau tidur. Kedenger tuh suara ibuk pas teriak-teriak bilang jangan nonton TV terus.

Sampai beberapa waktu kemudian suara itu dirindukan. Saat mengingat masa dulu, padatnya aktivitas rumah (memasak, mencuci dan lainnya), tugas dan tanggungan belajar, masih sempat-sempatnya ya nontonin drama Korea sekalian nulis lirik yang tidak jelas itu. Dan dari rekaman menumpuk itu, yang dirindukan tidak hanya lagu, instrumen atau feelnya saja, tapi omelan ibuk. Jika aku sudah terbiasa ditinggal ke luar kota oleh bapak, maka saat itu aku benar-benar merasakan bagaimana rasanya hidup jauh dengan ibuk.

Saat itu SMP, jamannya City Hunter, 49 Days, Secret Garden, Dong Yi, Bread Love and Dream, The Moon, dan buanyak lainnya. Ga bisa kesebut satu-satu dong. Dan, saat terlewat saja satu segmen atau beberapa detik saja, hancur sudah hariku. Apalagi jika pas sore ada pertandingan bola, bisa sehari aku bakal monyong di depan bapak. Lampu mati itu mimpi buruk. Ah, di tengah-tengah itu semua aku masih ngerjain semua tugas rumah, belajar, bikin-bikin kerajinan tangan aneh-aneh kayak di TV, nulis catatan harian, baca novel, bikin puisi, berimajinasi dan nangis. Sekarang ma apa aku? Bisanya cuma mikirin hal ga penting, hehe.

Masa SMP itu tuh masa paling berkesan. Sekaligus masa-masa yang nggak ingin banget aku alami lagi. Bahkan, jika beneran ada time treveller ngajakin jalan-jalan gratis ke masa lalu, aku tidak ingin!

Bisa lulus dengan nilai empat besar tertinggi pararel dan pernah memenangkan beberapa lomba di kondisi saat itu bener-bener survive rasanya. Tapi, kebanggaanku pada diriku masa itu lebur karena pikiran bodoh yang terus muncul. Ah, bangsat. Kenapa dulu aku tidak berpikir jika orang baik tidak selalu baik?

Jadi, saat kelas VIII, aku masuk ke kelas eee eksklusiflah~ banyak dong murid pinter. Tapi, banyak juga sih yang bacod. Eh, tapi setelah persami, waktu itu, tiba-tiba saja.... ah... bodoh ah... bodo amat dah!

Intinya, selama kelas VIII aku kena buli gegara omongan ga bener anak-anak. Ada yang bilang aku suka sama seorang temen di kelas yang pada kenyataannya sama sekali enggak. Kalaupun iya, ya kenapa juga gitu? Pokoknya kejadian itu bener-bener bikin aku jadi mundur dari pergaulan. Bangsat memang! Dan parahnya lagi, dengar-dengar isu itu muncul dari temen pendiem yang tidak pernah kuduga. Kemudian jatuh pada lambe-lambe julit yang ke sekolah buat nampang doang. Astaghfirullah... hehehe.

Sejak saat itu, aku menghindar dari temen laki-laki. Bahkan, temen-temen deket laki-laki kelas VII dulu kuhindari juga. Aku juga tidak saling sapa dengan teman laki-laki yang sangat dekat sejak kecil di sekolah. Efeknya besar sekali buatku. Gila saja, omongan-omongan goblok itu tersebar ke seluruh angkatan, bangsat. Padahal itu cowok yang dibilang anak-anak tidak begitu mengangumkan. Sampai lulus, hanya beberapa nama yang kuingat menjadi nama baik. Lainnya, hanya tokoh antagonis dan pengikut-pengikutnya.

Jangan dikira SMA beda. Beberapa dedengkot dan bahkan tokoh-tokoh kontroversial dalam masalah itu sialnya satu almamater lagi. Tak ada bahasan mendalam tentang itu. Klarifikasi-klarifikasi hanya untuk orang-orang yang mau berpikir saja. Sisanya ya sama asumsi masing-masing. Gerakku nggak bebas.Mata-mata mereka seakan masih menyorot tajam seperti di kelas dulu. O iya, ada yang satu ekskul pula. Mendebarkannya hidupku.

Untung saja aku bertemu dengan RYFAR, Almh. Ristin, Yesi, Fikoh, Aku dan Rima. Kekanakan memang, tapi dengan mereka aku benar-benar bahagia. Terserah mau bilang kami introver atau apa, toh kenyamanan orang beda-beda. Sampai detik ini sepertinya mereka sendiri tak tahu jika mereka obatku. Cerita kelam yang tidak pernah kuumbar-umbar tentunya. Ah, rindu mereka. Mereka yang tak lagi bersama.

Alasan lain mengapa aku dulu tidak ingin kuliah di universitas negeri terdekat adalah kemungkinan bertemu orang-orang itu. Dan saat takdir membawaku pada masa lain dan dengan orang-orang asing, aku bersyukur. Meski takdir membawa pada tempat yang sama, masa kami berbeda. Itu lebih baik.

Aku ya tetap aku. Dari dulu ya emang begini. Khususnya pas SMA, palingan pas ngereceh gitu diledek dan ditinggal pergi. Siapapun itu, temen yang mana saja. Cuma ya gitu, pas ada ledekan yang bener-bener ga bener. Apapun itu, kadang suka gedek. Setelah kelam-kelam SMP itu sih aku mencoba berpikir positif. SEMUA OMONGAN GA BENER ADALAH GUYON. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran yang berlebih. Nyali  ilang. Seingatku, baru ada satu orang yang pernah kuceritakan kisah ini. Dua, dengan adik sepupu deng. Jelas, ini menyakitkan. Peduli amat misinformasi atau disinformasi, mereka aja ga peduli kok itu info bener nggaknya. Dan, saat aku berani menulis di sini, aku belajar lagi. Tidak, bukan untuk memaafkan, karena maafku murah, mudah. Hanya obat. Saat aku berstatus pasien, Tuhan mengambil obatku. Jadi, saat aku sehat begini (semoga), semoga sakit itu bisa hilang.

Selamat pagi. Adzan Subuh sudah berkumandang 40 menit yang lalu. Ah, lagi-lagi antusias menulis datang saat banyak tugas. Ah... Ah... Ah.... Ya sudah sih. Emang pertolongan pertama pada rasa sakit hati kayaknya menulis deh. Semoga hari yang 'seperti' hari ini tidak menyakitkan lagi. Semoga.

Sabtu, 10 Agustus 2019

Aku dan Kisahku

Halo, kali ini aku nulis sambil berdiri di bus jalur Jember-Banyuwangi. Biasanya sih kalo naik bus  seringnya teler. Enggak pun hape disimpan. Selain takut ilang juga gampang pusing kalo main hape di bus. 

Ini kali ketiga naik bus dapat berdiri. Pertama, pas daftar ulang PTN. Inget banget waktu itu berdua doang sama sepupu. Belum biasa naek bis. Eh malah dapat berdiri. Di tengah perjalanan, baru dapet satu tempat dan kongsi sama sepupu. 
Kali kedua ya hampir sama kayak sekarang. Pas malam takbiran. Buh, itu bus udah penuh banget! Apalagi waktu itu malam kan. Aku berdua sama temen. Mujur nasib dia. Di tengah perjalanan ada yg turun di sebelahnya dan dia duduk di situ. Sambil merasa kasian sesekali dia noleh ke aku yang terus berdiri sampe terminal terakhir. Hiksss.

Nah, untuk sekarang ini aku mengantisipasi agar tidak penuh macam dulu. Jadi berangkat pas matahari masih nampak. Heladalah, ternyata sama saja. Sat! Tapi nggak tahu kenapa, meski dapat berdiri aku santai. Nggak sebel-sebel banget kayak dulu. Apalagi lihat banyak orang berkumpul dengan berbagai kepentingan dan latar belakang. Malah bisa main hape begini. Sesekali mainin Candy Crush juga. Seneng aja gitu bisa survive. Lebay ah! 

Aku nih sebenernya pemabuk (bukan minol loh ya). Nggak pernah naek kendaraan umum tanpa orang tua. Dari kecil tiap mudik ke Jombang tiada pernah tak mabuk. Bahkan sekedar wisata religi ke kota aja teler--untung waktu itu didampingi kakak. 
Awal berpergian tanpa ortu dan mengharuskan mandiri adalah ke Jogja. Waktu itu masih SD. Yah, seperti perjalanan pada umumnya sih. Dan tidak mabuk adalah hal yg lebih menyenangkan dari berwisata. Bayangan mabuk perjalanan saat berwisata adalah sesuatu yang pak-puk. Kadang diri malah merugi rasanya.

Selanjutnya ya study tour lagi. Ke Jogja lagi. Pas SMP. Anehnya aku tidak apa-apa lho. Sama sekali nggak mabuk. Padahal sebelum ke Jogja yang kedua itu, aku ke Bali sama bapak, ke Surabaya sama Bapak dan kedua-duanya mabuk parah.

Ketika masuk SMA, beberapa kali ke luar kota untuk lomba marching band. Pertama ke Probolinggo, duh itu perjalanan paling bermasalah selama ini. Gegara makan snack jagung mabuk disepanjang perjalanan. Bahkan, di Probolinggo sana selama tiga hari nggak bisa makan apa-apa karena mual. Untung waktu itu cuma jadi tim hore. Selanjutnya lomba kejurprov di Madiun. Its okay. Aku baik-baik saja. Begitupun saat lagi-lagi study tour ke Jogja. 

Haish, ini tadi sudah turun bis. Sudah nggak berdiri, sudah sampai di rumah dan sudah jadi besok. Sekarang bukan kemarin. Oiya, kemarin di perjalanan ketemu sama mbak-mbak sekret tetangga. Kebetulan dia kakak kelas SMAku. Tapi kita nggak pernah kenal sebelumnya. Dan mujur, mbak itu langsung dapat duduk gitu. Meski di depan deket pak sopir paling nggak untunglah ya. Nggak apa-apa sih. Nanti kalo mbaknya ikutan berdiri dan ternyata noob malah kesian.

Gitu aja kali ya, curahan hati kali ini. Aku nggak sempet cerita tentang bapak asongan atau pengamen yg saking seringnya aku naik bis jadi hafal wajahnya. Enggak juga tentang dilema angkot K yg kayak korek api--pas dibutuhkan ilang, pas ga dibutuhin nongol terus. Juga tarif perjalanan PP yg setara tiket bioskop sama doi. Dan masih banyak lagi potongan cerita-cerita di dalam bus. Mungkin di lain kesempatan. Mungkin.

Eh iya, sebenernya ada hal lain yang ingin banget aku tulis. Hal yang sulit untuk diceritakan ke siapapun. Sebuah fakta kalo di lingkar pertemanan banyak hal yang bias. Hal yang membuat seakan-akan diri menjadi bodoh dan bilang "oh", sambil misuh-misuh. Dan kalo salah pilih teman diskusi bisa malah nyakitin hati. Tapi karena belum sempat dan kebetulan kemarin nulis ini di bus, ya ini dulu. Juga, kemarin di perjalanan kepikiran tentang konsentrasi kuliah. Kalo aku bisa nyelesaiin bacotan ini, maka aku bakal stay di sastra. Dan kalo enggaaaa... tetep usaha buat nyelesaiin sih. Hehe. Ini buktinya. Emang terkesan asal-asalan, tapi yaudahlayaa. Hehe.