Rabu, 25 Mei 2022

Ini Sangat Panjang dan Sepenuh Hati. Serius!

Pernahkan sakit sampai merasa akan mati?

Beberapa hari ini, kepalaku sering pusing. Awalnya hari Sabtu kemarin. Ibu ke luar kota bersama keponakan yang biasanya tidur di rumah, serta beberapa kerabat dekat lain. Aku di rumah sendiri. Harusnya tidak apa-apa. Dulu, dulu sekali saat rumah kami masih terasa menyenangkan, aku sering bermalam di rumah sendirian--sepertinya. Dulu, saat usiaku belasan dan atmosfer lingkungan yang harusnya sedikit lebih mengerikan.

Tidak ingin begadang karena hari Minggu-nya berencana ke Jember, aku tidur lebih awal. Sekitar jam setengah sepuluh, setelah kenyang makan, ngemil, menonton drama, dan bercuit di media sosial. Mas juga datang sebentar. Ada perlu dengan Lek di sebelah rumah. Tapi, karena tahu aku sendiri, ia menawariku ikut ke rumahnya. Aku enggan, selain karena sangat jauh, malas sekali di sana. Aku kan suka sendirian. Lagi mendambakan privasi.

Dini hari jam satu lewat, kepalaku sakit sekali. Seperti ada jarum yang menusuk entah di sebelah mana. Sangat sangat sakit. Aku tidak habis mengonsumsi sesuatu yang membuat darah rendahku kumat. Beberapa hari ke belakang, aku tidak juga begadang (Ah aku baru ingat malam sebelumnya begadang. Tidak terlalu malam dan malam-malam sebelumnya selalu tidur dengan jam normal). Ya, aku anggap begadang itu bukan masalah. Alih-alih, aku menyalahkan cuaca yang membuatku menyalakan kipas non stop. Apalagi karena sendirian, tak ada yang mengingatkan untuk mengurangi kencangnya agar tak masuk angin. Ya, mungkin karena itu. 

Aku tak tahan dengan rasa sakit itu. Ponsel yang ku-charge sebelumnya sudah penuh. Butuh usaha lebih untuk melepasnya dari catu daya. Sangat. Padahal tanganku sangat bisa menjangkau. Ibuk dan teman yang akan berangkat ke Jember keesokan harinya yang kuhubungi pertama kali. Tentu tak ada jawaban dari keduanya, mengingat waktu yang demikian. Aku bingung harus bagaimana. Kepalaku semakin sakit. Aku mencoba memampatkan pening dengan menekan kepala dengan bantal. Meringkuk lebih lingkar. Menggenggam bantal lain lebih erat. Kipas sudah kumatikan dengan kesusahan. Aku kebingungan mencari kata-kata yang tepat untuk mengirim pesan pada Mas. Takut mengganggu jika dia panik dan langsung ke rumahku, namun di lain sisi aku perlu seseorang untuk menetralisir sakit itu. 

Sebuah pesan lugas tentang sakitnya kepalaku terkirim. Lagi-lagi tak ada jawaban. Mas sudah tidur. Aku mulai menghubungi teman-temanku lain yang mungkin masih bangun. Kali itu, aku ingin menguatkan diri ke kamar mandi. Berharap kencing atau berak bisa meredakan sakit yang entah kenapa tiba-tiba begitu. Sialnya, dari sekian banyak pesan yang kusebar, tak satu pun terjawab. Iya, ada rasa takut juga sama setan atau manusia jahat. Aku beralih ke media sosial yang lebih mirip diary, Twitter. Berkeluh tentang sakit yang tak tahu sebab dan penangkalnya. 

Sambil masih menahan pening, seorang teman membalas pesan. Syukurlah. Aku sangat senang sampai-sampai ingin menangis. Kebiasaannya begadang benar-benar menjadi harapanku malam itu. Entah, padahal hanya keberadaannya di dunia maya. Namun, aku merasa tak sendiri. Alih-alih membalas pertanyaannya, aku segera menuntaskan keperluanku di kamar mandi. Rasanya agak lega, namun pusing di kepala tak serta merta pergi. Masih merasa berputar dan ada sesuatu yang mengganjal di perut. Namun, setidaknya tak semenusuk tadi. Ya, sesekali masih muncul. Sesekali. Lainnya hanya pening yang membuatku tetap harus menggenggam sesuatu dan menekan kepala dengan sekuat tenaga. Sakit. 

Dengan lemah, aku membalas pesan temanku tadi. Membalas beberapa hal dan sesekali mendiamkannya karena pening menusuk yang lagi-lagi muncul. Sesekali pula, aku kembali membuka beranda Twitter yang sering menampilkan muka-muka Korea. Masih pusing. Namun, setidaknya ada senyum di wajah melihat penampakan mereka. 

Aku mulai berpikir lagii tentang alasanku tiba-tiba sakit begitu. Apa karena spaneng mengerjakan skripsi? Ah, enggak. Aku bahkan tak berprogres apa-apa selama kembali ke rumah. Atau jangan-jangan karena tidak progres itu ya? Mungkin karena parno pada hal-hal ganjil yang mungkin terjadi saat di rumah sendiri. Atau mungkin juga karena merasa nggak biasanya balik ke kosan tanpa berpamitan langsung dengan Ibuk. Mungkin juga kangen Bapak, seperti biasanya. Ah, Bapak. Belio yang menurunkan penyakit ini pasti. Suka tiba-tiba sakit kepala.

Dulu aku benci sekali jika Bapak sambat ngelu. Serius. Apalagi saat-saat beliau ada job ke luar kota. Itu nyebelin banget. Bapak sudah kuanggap malas gara-gara pekerjaannya sebagai sopir travel yang suka melek malam dan membayar tidur-tidurnya di pagi hari, alih-alih olahraga atau membantu kerjaan rumah. Dan saat tidak mau bekerja begitu (apapun alasannya), aku masih saja menganggap Bapak tidak baik. Penyakit ngelu-nya itu juga sering kumat kala aku minta uang untuk keperluan sekolah. Obrolan tentang uang, benar-benar efektif membuat bapak mengikat kepalanya dengan handuk dan bersarang di kamarnya untuk beberapa waktu. Aku juga benci itu. Bukannya memang kewajiban orang tua mencukupi kebutuhan anaknya ya?

Sejak sebal melihat Bapak yang demikian, aku mengubah caraku meminta uang. Saat kami sedang ceria, cerita, dan mereceh bersama menertawakan patung polisi yang tak mau berteduh saat panas dan hujan, aku berseloroh tentang buku-buku paket yang mahalnya minta ampun. Saat sedang diminta bikin sambel terasi beserta lauk-lauknya, dan beliau membantu sekedar mencucikan beras dan menanaknya di magic com, lalu berlanjut menyenandungkan lagu kendang kempul favoritnya sambil sesekali mereceh, aku mengutarakan hal yang kutahan seperti, "Pak, bulan depan, DSB tampil di Madiun. Seragamnya baru lagi. Ganti baru. Ada dua setel. Satunya dari sekolah, satunya beli sendiri." Di tengah bernyanyi, bagaimana Bapak menginterupsi kan? Apalagi aku lagi tandang gawe. "Seragam yang sekarang nih lebih murah dari yang merah dulu. Nggak suruh kudu buru-buru bayar sih. Tapi, karena nantinya dimiliki pribadi, nggak dibalikin ke sekolah, jadi akhir-akhirnya ya ganti." Selalu ada pembanding yang seakan berkata, 'uang segitu tuh nggak ada apa-apanya'. 

Aku masih sering membumbui dengan, "Biaya makan yang ke Madiun besok separuh aja yang ditanggung sekolah, nggak kayak dulu di Probolinggo yang full sama transport. Ya untung sih, transport masih gratis. Gara-gara sampean sih, nyuruh doa biar Pak R (kenalan Bapak) jadi kepsek di sekolahku. Jadi dana buat marching seret." Kalau sudah disalahkan begitu, Bapak pasti menjawab, "Ya, setidaknya kan Pak R tahu kondisi keluarga kita." Aku tak mau kalah. "Kalau tahu, terus kenapa?" (FYI, belio, Pak R, meninggal setahun setelah Bapak, saat jadi kepsek SMANSA alias sekolah terfavorit sekabupaten. Terakhir kabar yang kudapat saat belio menjabat di sekolahku, adalah fotonya di koran yang terlibat korupsi.)

Aku masih terus memberikan serangan seperti, "Tenang, kalau sampean nggak punya uang, aku masih ada simpenan kok. Buat transport, makan, dan jajan masih bisa aja. Tapi, nggak ada jaga-jaga buat SPP bulan-bulan depan." Dengan begitu, kalau kubilang jauh sebelum-sebelumnya, Bapak jadi giat kerja. Menyisihkan uangnya. Bapak sangat boros, asal tahu saja. Kalau habis dapat uang, aku selalu merampoknya dengan berbagai muslihat. Jadi, di hari-hari tertentu, uangku lebih banyak dari Bapak. Jika orderan sepi dan tak memegang uang, aku tak lantas tak bisa jajan. Bisa, selalu bisa. Hanya kadang memilih tidak atau membatasi diri. Selain itu, aku sangat perincian. Jika tak dapat saku di hari-hari Bapak tak ada uang, aku menagihnya saat Bapak banyak uang. Itulah sumber danaku saat memiliki Bapak yang boros. 

Aku sering bercerita hal-hal tak penting untuk Bapak seperti, "Harga trompet ini mahal loh Pak." Menyebutkan nominal sambil menunjukkan trompet berwarna kuning emas yang kukeluarkan dari case saat harus berlatih sendiri di rumah. Menerangkan betapa mahal ekstra yang kuikuti dan bagaimana kami bertahan di saat-saat sulit. Aku juga memamerkan kemampuanku meniup alat musik itu, seperti halnya saat aku memamerkan kemampuan bermain pit (marching bell/cellophone mini) yang juga kubawa pulang untuk berlatih sendiri saat SD. Saat punya piano kecil yang kubeli diam-diam dari uang THR lebaran, bapak diam-diam pula mendengarkanku memainkannya. Kalau sedang iseng lagu asing, bapak hanya diam. Tapi kalau sudah lagu banyuwangen atau lagu lain yang bapak tahu, beliau pasti berteriak menyahut. Entah request atau ikut nyanyi. Ah, kenapa jadi ngomongin Bapak?

Ya, Bapak memang bukan orang yang sempurna. Bahkan sangat punya banyak cacat sebagai seorang Bapak. Namun, aku tidak sedang menjelekkan beliau, karena aku sangat yakin beliau tahu dan sangat tahu itu. Bapak juga pasti akan berkata hal yang sama untuk dunia jika disuruh mengenalkan dirinya sebagai seorang bapak. Aku merasa sangat tidak adil jika selama ini, di blog ini, hanya bercerita tentang baik-baik beliau. Meski ya dia benar-benar baik. Selain emosional dan sakit kepala ini, sakit kepala yang tanpa sebab--pun ada sebab juga nggak masuk akal, semoga aku bisa berumur panjang. Setidaknya, aku tidak ingin buru-buru mati. Serius.

Sebenarnya, aku enggan menulis. Alasannya sekedar takut ini jadi tulisan terakhir kalau aku mati. (Fak! Kenapa playlistnya nyetel Sampai Menutup Mata? Sebelumnya malah Perpisahan Termanis lagi.) Ya, aku takut mati. Setelah pening di kepala dini hari itu, kepalaku tak benar-benar bisa leluasa melakukan fungsinya. Aku tak sempat bertemu Ibuk karena berangkat pagi dan Ibuk menambah hari di tempatnya menginap. Rumah lenggang kosong. Perutku mual. Awalnya aku sudah memutuskan untuk tidak berangkat. Tapi, Mas yang menelpon pagi-pagi sekali menyarankanku meminum salah satu merk obat yang belum pernah kucoba. Dengan penuh keyakinan aku beli dan minum obat itu. Berkata pada teman yang akan berangkat bersama jika aku siap. Meski tidak lanjut tidur setelah terbangun di malam itu, aku seperti baik-baik saja. Seperti. 

Ini sudah jadi hal yang sangat aku tahu. Aku selalu terlihat baik-baik saja saat bersama orang lain. Tetap melemparkan banyak guyon yang terkadang bisa membuat temanku terbahak atau sekedar mengerutkan dahi. Dan saat itu, sepanjang perjalanan berangkat itu aku tetap melakukannya. Dengan badan yang jujur saja belum fit, kami dan puluhan orang di sana mendapat tiket berdiri. Pertama kali di kondisi tubuh yang begitu? Padahal kami sudah datang sangat-sangat-sangat pagi. Aku ingin mengumpat. Tapi sayang ucapanku kan. Mending effort itu untuk mereceh saja. 

Di perjalanan, syukur aku dapat kursi kosong. Banyak yang lain berdiri di tengah jalan dan di pinggir gerbong. Pemandangan itu, baru pertama kutemui di kereta. Kalau di bis, aku sudah biasa. Banyak kali aku berdiri dari Jember ke Banyuwangi. Ya, tulisan pertamaku di sini tentang itu juga kan? Sepertinya. Seorang perempuan di seberang dudukku, membaca sebuah buku yang judulnya familiar. Filosofi Teras. Saat itu, aku lupa dimana mendengar judul itu. Kukira itu novel. Tapi, ternyata kemarin saat kucoba cari di internet, itu buku filsafat. Ah, aku ingat dimana mendengar judul itu. Pikiran-pikiran yang kutanamkan ke perempuan yang membaca buku itu, tiba-tiba berganti. Kukira novel loh, ternyata buku filsafat. Bukannya apa-apa. Aku hanya kagum betapa tinggi niat baca perempuan itu bahkan saat kondisi kereta tidak nyaman begitu. 

Kembali ke kos, hari-hari berjalan seperti biasa. Aku masih minum obat saran dari Mas. Tapi, tak terlihat efeknya. Aku masih sering pusing. Padahal sudah makan banyak, bergizi (harusnya), dan teratur. Jadilah aku berganti ke merk yanag biasanya sangat manjur untukku. Namun, itu juga tak berefek sekali. Aku tak melanjutkan minum obat lagi karena takut ketergantungan seperti Bapak yang selalu menyetok banyak obat-obatan di rumah yang cepat habis dan selalu mengganggu waktuku dengan menyuruh membelinya lagi dan lagi. Aku tak mau begitu. Kuputuskan berhenti. (Oh ya, sempet minum Tolak Angin juga sih, tujuannya biar pinter aja, hehe.) Melakukan hal-hal yang kusukai dan berakhir sama. Meringkuk di kasur dan menyaksikan hiruk pikuk manusia-manusia melalui media. Melakukan hal menyenangkan yang malah jadi menyesakkan, Aku menolak ajakan keluar beberapa teman. Bukan karena sakit kepala sebenarnya, karena aku akan senang hati meredakan kesakitan itu dengan bertemu mereka. Hanya, aku malas. Malas dengan diriku.

Aku menahan diri sekuat mungkin. Menahan sakit yang kadang membuatku sambat di dunia maya serta pada satu-satunya teman yang sedang bersamaku. Sebenarnya aku muak dengan diriku sendiri yang saat tak kuasa, melenguh, "Uh, ngelu!" Sumpah, aku kesal dengan diriku yang itu. Aku tahu rasanya mendengar keluh yang tak ada habisnya itu dari Bapak, dan temanku itu sangat sial mendengar keluh-keluh itu.

Hari ini temanku itu sidang, ujian akhir. Aku masih harus ikut pusing perkara teknis dan tetek bengeknya. Tapi, tak apa. Aku senang-senang saja. Sayangnya kepalaku menganggu. Ingin aku meletakkan saja di suatu tempat. Tapi, bagaimana? Bagaimana bisa? Bagaimana kelanjutannya? Sepertinya berlebihan jika mendramatisir sakit kepala ini jadi alasan mati, tapi serius, aku takut mati.

Lirik Sampai Menutup Mata, seperti mengingatkanku jika aku harus berdoa dan memohon. Aku jauh dari-Nya dan tak pantas meminta. Terakhir aku ingin mati, bapakku yang meninggal. Kali ini aku tak ingin mati, aku tak ingin kehilangan siapapun. Diri sendiri, keluarga, teman-teman, kenalan, dan bahkan orang-orang yang kubenci. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Aku tak ingin duka kehilangan Bapak, kakak, dan teman, muncul lagi. Pun, tak ingin orang lain merasakan perasaan serupa jika aku mati. Aku masih sangat pecundang untuk benar-benar pulang. Gol-golku masih sangat-sangat banyak. Aku bahkan kesulitan mengorganisir hal-hal sederhana yang sayangnya kuantitasnya banyak. Apalagi, aku masih punya keluarga yang harus kutemani. Aku tak bisa janji atau melemparkan pernyataan untuk hidup sampai kapan atau sampai apa, tapi aku ingin hidup. 

Obrolanku akhir-akhir ini benar-benar menakutkan. Benar, aku sering berceletuk tentang kematian dengan banyak orang. Tapi, serius. Ada rasa aneh akhir-akhir ini saat aku berceletuk hal jelek itu. Rezeki, jodoh, dan mati. Tak ada yang tahu itu kan, selain yang di sana? 'Kata-kata adalah doa' adalah kata-kata yang sangat menakutkan. Ya Tuhan, Ya Allah, aku tak ingin kata-kataku yang 'itu' terkabul. Itu guyon Tuhan. Agar orang-orang di sekitarku tertawa. Menertawakan diriku, bukan kematianku. Aku ingin hidup. Pikiran-pikiran buruk dan reka adegan tak baik ini, mohon jauhkan dari hamba. Dulu, dulu saat skenario terburuk hamba reka, engkau memberi hamba skenario yang jauh lebih buruk. Mohon untuk tidak demikian lagi. Hamba lelah. Sangat lelah. Namun, demikian, hamba tak ingin mati pasrah. Jangan cabut nyawa ini. Hamba mohon, jangan.

Oh ya. Nggak apa-apa aku masih harus berbagi tempat privat untuk lebih lama. Semoga, aku baik-baik saja. Semoga kalian baik-baik saja. Semoga mereka-mereka yang tersayang baik-baik saja. Semoga dan selalu. Selamat berganti hari.

Senin, 23 Mei 2022

Bukan Jam Setengan Enam Pagi

Bosan. Capek. Dua kata yang menggambarkan hari ini, sekaligus mengingatkanku pada sebuah puisi yang diteaterkan bertahun-tahun lalu.

Aku baru saja membaca ulang tulisan sebelumnya, OSPEK. Tak ada alasan tertentu. Hanya bosan dan capek. Ingin menulis tak tahu menulis apa. Mengerjakan skripsi pun pada tahap bosan dan capek. Kebetulan aku sedang mencari-cari kata bosan hari ini, jadinya capek. Begitu kira-kira penjelasan tentang bosan dan capek hari ini. 

Sebelumnya aku menonton drama My Liberation Notes. Aku nggak akan membahas drama itu dalam-dalam karena terlampau banyak yang musti kujelaskan. Nanti saja di kesempatan lain. Di waktu lain yang khusus drama itu. 

Awalnya aku berpikir jika tulisan OSPEK dan My Liberation Notes memiliki sebuah hubungan yang baru kusadar. Mimpi yang terjadi di OSPEK seakan wujud dari imajiku atas My Liberation Notes. Di sana, mereka-mereka tinggal sampai dewasa bersama orang tuanya. Kukira demikian. Kukira mimpi itu muncul dari sana. Namun ternyata tidak. Aku jatuh pada drama itu mungkin saja karena mimpi itu. Mimpi yang berupa andai. Pengandaian yang hanya bisa muncul pada cerita; drama Korea. Ah, drama ini nggak hanya relate, alih-alih jadi dunia kedua seperti layaknya mimpi. 

My Liberation Notes episode yang kutonton hari ini benar-benar bikin mata bengkak. Sudah lama isakan di depan sebuah film tak kualami. Terakhir drama tentang seorang sahabat yang meninggal di usia muda. Nangis di sana berlangsung di seluruh episode. Ada bagian-bagian yang sangat sakit sampai-sampai kenanganku bersama Ristin turut memukul tengkukku. Memang drama itu bergenre air mata. Aku sudah sangat mempersiapkan diri. Namun, drama yang kutonton kali ini benar-benar berbeda. Aku tidak siap dengan lompatan cerita yang sayangnya bukan sebuah lompatan. Itu sebuah alur yang mau tak mau harus dilewati. Benar-benar memukul. 

Aku hampir-hampir tak berhenti menangis di episode berikutnya. Sepuluh menit pertama air mata tak mau berhenti. Aku capek sesenggukkan. Berhenti, aku mencoba melakukan beberapa  aktivitas lain yang sama tak bergunanya. Kemudian lanjut. Kukira di titik berikutnya, aku jadi biasa. Ternyata tidak. Perihnya makin menjadi. Alurnya yang lambat membuat kesengsaraan terlihat semakin jelas. Pelan, sangat pelan. Luka-luka mereka terlihat semua. Menyesakkan. Di tiga puluh menit kemudian, aku berhenti. Keluar dari jendela Nteflix. 

Temanku pulang. Keluarga Ibu Kos sedang melakukan entah apa itu pokoknya ramai sekali. Perutku lapar. Tak ada makanan, pun malas keluar.  Tidak bisa berpikir untuk melanjutkan yang bosan dan capek tadi. Akhirnya aku menulis. Harusnya, beberapa hari belakangan ini banyak yang kusalurkan. Namun, urung. Aku memilih tidak. Akan memakan waktu lama. Besok saja, saat itu semakin  jelas.

Eh, saat itu kapan? Hari ini ada pesan dari hal yang ingin kusampaikan itu. Namun, aku malah mengabaikannya. Bersyukur karena read WhatsApp mati. Tidak jahat. Aku juga berpikir apa jawabannya. Aku bingung harus menjawab apa. Aku takut tak bisa berkomitmen jika mencoba-coba saja. Dan yang lebih membuatku seakan enggan membalas, keegoisan seorang teman yang membuatku tetap begini-gini saja. Sayangnya, dia tak sadar. Tak pernah sadar.


Sabtu, 14 Mei 2022

OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kehidupan)

Mungkin tiga bulan yang lalu, obrolan biasa sebelum tidur bersama Ibuk, berujung pada pembahasan panjang yang menyesakkan. Hal-hal tentang mereka yang telah meninggalkan kami dibahas. Aku harus menyalakan rekaman di ponsel karena takut lupa apa saja yang kami obrolkan. Berjam-jam lamanya. Untuk kesekian kalinya, ada hal-hal yang baru kutahui. Tapi, yasudahlah. Tak boleh ada kata andai muncul.

Belum hilang quote tentang, "mending yasudahlah, daripada andai," merasuki otakku, aku kembali berandai. Tak sedang sesak atau menderita atas rasa rindu yang tak akan pernah terbalas selain pada mimpi. Namun, mimpi itu menjadi bahaya dengan tidak mempertemukanku dengannya secara imaji saja. Melainkan, membawa pada cerita lain yang membuatku berandai. 

Aku ada bersama mereka. Mereka yang sudah pergi meninggalkan dunia, dan mereka yang pergi meninggalkan kehidupannya bersamaku. Aku kembali tinggal dengan keluarga kecilku. Bapak, Ibuk, Mas, dan aku. Tidak, ini bukan kisah tentang masa lalu, melainkan tentang andai. Andai Bapak masih hidup, andai Masku belum menikah dan masih seperti ia yang dahulu. 

Kami tinggal di rumah sederhana yang jauh lebih baik dengan rumahku saat ini. Poin pentingnya, di sana bapak terlihat bahagia. Aku dan yang lainnya pun demikian. Apalagi, kami tidak tinggal di kota kami sekarang. Melainkan di kampung halaman bapak. Meski demikian, kami tidak serta merta mapan secara ekonomi. Bapak tetap bekerja setiap harinya. Aku dan Mas berbisnis bersama di pasar. Berjualan entah apa, yang jelas kami punya truck modern yang digemari banyak orang. Mas tetap menjadi dirinya yang bekerja keras dan enggan meninggikan ilmunya secara akademik. Dan aku, tetap menjadi aku yang tengah berjuang di tugas akhir. Bagiku, di mimpi itu juga berat. Namun, ada keluargaku di sana. 

Mimpi semakin melebar ke hal-hal acak. Pernikahan sepupu, aku yang masuk tim detektif dan kemudian disandra penjahat lalu diperlakukan seperti sedang ospek, jalan-jalan bersama Mas di aspal pesawahan yang berlandskap indah, makan-makanan enak khas perayaan, bertemu keluarga besar, berlarian di kota kabur dari penjahat, punya banyak teman kompak di tim entah apa yang kesemuanya sudah sangat kukenal di mimpi itu. Ah, pengandaian yang berbahaya. Andai, mimpiku hanya sebatas Bapak yang memarahi atau menyemangatiku perkara skripsi, aku tak larut dalam kisah yang tak mungkin terjadi itu. 

Hal-hal terkait Bapak, sudah tak mungkin bisa kuwujudkan. Bahkan menjadi satu-satunya anaknya yang sarjana, seakan tak berguna tanpa senyum Bapak. Omong kosongku bersama Bapak, menjadi bohong semata. Dari kecil, hidup Bapak tak mudah. Meski dia selalu tertawa di depan orang-orang, suka melawak, mengabaikan masalah yang sebenarnya ia alami, kehidupannya cukup sulit. Hanya Bapak yang berperilaku demikian. Tawa dan segala macam dirinya. Fase-fase tertentu yang membuat pikirannya kaku, menjadikan dirinya tak mau gerak dan meratapi nasib dalam mimpi. Ya, seperti aku. Tidur. Itulah persamaan kami, gampang drop jika kebanyakan pikiran. 

Obrolanku bersama Ibuk tiga bulan yang lalu lebih kompleks dari obrolan kami mengenai Bapak atau hal-hal lain biasanya. Aku mulai mengandai dan menyalahkan takdir kenapa membawa kisah kami pada hal buruk begini. Aku punya banyak janji pada Bapak yang satupun belum kuwujudkan. Aku tak pernah bersikap baik pada Bapak, seperti membelikan hadiah pada Ibuk dengan gaji pertamaku dulu. Aku meminta Bapak mengerti aku sedangkan aku yang berkata selalu mengerti Bapak hanya ada di pikiranku saja. Bapak orang baik. Bapak selalu jadi hebat di mataku, meski tak semua yang dilakukannya dinilai baik di mata orang lain. Bapak orang baik, meski hidupnya buruk.

Pengandaian tentang aku yang menginginkan hidup bapak pun baik, hanya akan jadi bunga tidur untuk selamanya. Andai diriku menjadi lebih baik dari saat ini pun, hanya aku seorang yang mengecap rasa yang harusnya manis itu. Bagaimana pun kelak, pahit akan selalu menemani aku yang menyesali kehidupan ini, meski bukan aku yang membuat begini, meski bukan aku yang ingin begini. Ibuk? Ibuk pasti akan bangga padaku. Tentu saja. Namun, Ibuk ya Ibuk, Bapak ya Bapak. Mereka punya indikatornya sendiri. Ibuk, hanya ingin hidup seperti saat ini. Kami tak pernah berandai punya ini itu, dan ketika kutanyai Ibuk tak pernah ingin. Ibuk ingin aku sukses meraih apapun yang kuinginkan, namun Ibuk tak ingin apapun selain itu. Beliau sudah merasa sangat kecukupan di titik ini. Aku ya aku, Ibuk ya Ibuk. 

Ah... Lagi-lagi menghabiskan waktu untuk berceloteh. Lelah karena tidak melakukan apa-apa, benar adanya. Aku lelah sekali. Berlari ke manapun, akhirnya ya ke sini lagi. Melompat ke manapun, jatuhnya ke sini lagi. Ke titik yang masih tak seberapa ini, aku sudah sangat lelah. Menjadi pribadi yang bisa dibilang lebih baik dari sebelumnya di beberapa hal. Pun, menjadi pribadi yang sangat bisa dibilang lebih buruk dari sebelumnya di beberapa hal lainnya. Aku benci diriku, tapi aku juga sangat menyayanginya. Mungkin sekarang, rasa sayangku kepada diriku lebih besar dari rasa sayangku kepada diriku dahulu. Namun sepertinya, rasa sayang itu belum sebesar rasa sayang bapak terhadapku. Masih ada benci di sebagian yang lain. Ah, mungkinkah kebencian selalu mengiringi rasa sayang? Cinta? 

Aku sedikit bisa bernapas. Entahlah. Aku tidak sedang kesal atau kenapa-kenapa. Hanya tiba-tiba air mata tak mau berhenti dari balik kaca mata. Padahal layar monitor laptop hanya menunjukan lagu Super Junior jedag jedug. Hahaha, sudah deh ya. Terima kasih telah menampung keluh kali ini. Sampai jumpa!

Jumat, 13 Mei 2022

Kayaknya Aku Kudu Nulis.

This is not for you, but for me.

Haha, nggak tahu deh. Pengen aja nulis. Padahal nggak ada sesuatu yang lagi mengganggu pikiran. Ya, tadinya sih ada sesuatu yang terpikirkan sampai-sampai pengen nulis. Tapi, bukan hal buruk. Bukan sesuatu yang bikin sedih. Nggak niat buat nulis. Cuma, karena kebetulan pengen nulis, ya apa lagi dong yang bisa dibahas, wkwk. 

Jadi, hari ini aku nggak ngapa-ngapain. Eh, ini kok konsepnya jadi kek diary. Nggak ngapa-ngapain, bahkan nggak bantuin kerjaan rumah. Nggak juga ngelakuin kerjaanku. Buka laptop baru ini buat nemenin makan. Hmm terus... apa? Nggak buka draft skripsi sama sekali, tapi sok-sokan pengen motivasi orang lain buat ngerjain. Eh, bukan, nggak. Kali ini, nggak mau bahas skripsi. Tapi, aku bingung mau ngawalin dari mana. Males mikir penyebutan atau apalah-apalah, tapi nggak mungkin blak-blakan. Iya sih, nggak bakal ada yang peduli. Kayaknya pun nggak ada yang bakal baca. Tapi, tetep aja nggak betul kalo tanpa aling-aling.

Oke, kumulai ya. 

Menjelang maghrib tadi, entah kenapa jariku mencet aplikasi Facebook. Nggak ada sesuatu yang mau kulakukan. Cuma asal buka aja. Tapi, di salah satu saran pertemanan ada sosok yang menarik perhatian. Iya, cukup menarik perhatian. Kalau masalah kenal, hampir semua yang lewat ya kenal. Cuma yaudah gitu. Nah, si satu orang ini beda. Bikin aku mengunjungi akunnya. Sedikit ragu menggulir takut kepencet karena sepertinya akunnya masih sangat aktif. 

Nggak banyak aku ngecek akunnya. Hanya dua tiga post terakhir yang itupun foto. Meski gitu, foto terakhir yang di-post-nya mengundang banyak komentar yang tentu saja bikin aku pengen baca. Ya, nggak jauh bedalah sama komentar-komentar yang muncul di Instagram dia yang juga selalu ramai. Masih dengan orang-orang yang sama di ig, pernyataan yang dikatakan netizen itu, dibenaran olehnya. Pernyataan tentang dia yang sedang sendiri alias single alias jomblo!

Aku sudah menduga hal itu sejak melihat komentar-komentar di kolom ig mantannya (sih mantan) yang nggak lagi nge-tag dia karena teman-teman perempuan itu sering melakukannya. Eh, wait, aku tahu bukan karena stalking ya. Kebetulan di sec akun ig, kami temenan. Dia yang follow dulu. Padahal akun itu jarang aktif. Sekalinya buka ig, postingan si perempuan lewat. Udah lama sih, itu. Dan ya, begitulah ceritaku menduganya. 

Dugaan itu terkonfirmasi benar berkat ketidaksengajaan membuka fb. Aku pernah tertarik dengan orang itu dan sedikit 'stalk' di berbagai sosmed termasuk fb. Namun, aku tak dapat banyak informasi. Justru hal-hal terkait dirinya, kuketahui secara langsung dari mulutnya karena suatu kebetulan yang sempat kuupayakan. Dari sana, aku tak berharap apa-apa selain dia yang menyadari keberadaanku. Setidaknya, ikuti balik akun instagramku yang sudah tiga kali follow-unfollow akunnya karena tidak di-notice sama sekali. 

Entah. Rasanya tidak adil saat aku yang menyadari betapa apiknya aktingnya di suatu pertunjukkan yang kusaksikan kali pertama menjadi mahasiswa, lalu mencari tahu sosoknya di dunia maya hingga mengikuti akun ig-nya, namun tak mendapat folbek. Sedangkan, teman-teman seangkatan, yang secara masal mengikuti akunnya setelah melihatnya di ospek kampus, semuanya mendapatkan folbek. Seperti kekanakan, namun hal itu benar mengganjal. Mungkin karena nama Instagramku yang aneh. Nokia Tune. Namun, harusnya bukan masalah jika dia sudah tahu siapa aku kan? Menyebalkan. Aku jadi ingat karena pernah menunjukkan diri sebagai seorang wartawan kampus yang sejurusan dan merupakan adik tingkatnya yang... ah terlalu jelas njirr.

Ya, akhirnya aku difolbek di akhir urusanku dengan dia dan seperangkat hal-hal yang terkait dengannya. Namun, sampai titik itu, dia seakan tak mengakuiku sebagai adik tingkat yang berproses kreatif bersamanya. Laser matanya yang garang, bilang, lo itu gak diajak. Alias, dia menganggapku wartawan kampus yang sedang bermain-main di tempatnya. Ya, tidak salah juga sih. Memang demikian. Namun, namanya proses ya proses. Meski tujuanku nggak murni karena suka hal itu, tetap saja aku melewati proses itu dengan sungguh-sungguh. 

Ngomong-ngomong, langkah mundurku terhadapnya semakin mantap kala proses yang kami lakukan itu sampai di penghujung acara. Si mantannya tadi, yang baru kutahu saat itu adalah kekasihnya, datang. Sebenarnya, aku sempat menduga hal itu karena selentingan bacot masyarakat kampus selokan belakang yang meledek dia yang coba-coba mendekati teman angkatanku. Namun, ya kukira sekedar ledekan. Tidak mungkin kan teman-teman dekatku yang tahu isi pikiran dan perasaanku saat itu tak bilang apa-apa, karena beberapa dari mereka juga mengenal dekat si perempuan. Sayangnya, hal itu benar. Kebenaran yang menamparku bukan sekedar kedekatan mereka berdua, namun fakta jika temanku sengaja tak bilang karena menjaga perasaanku. Halah, tetap saja itu membuatku sedih. Langkah yang kugunakan untuk sampai di titik itu terlampau banyak. Pintu untuk keluar, jalan untuk mundur, tersedia. Aku pun bersedia karena golku sekedar folbek, kan. Namun, luka yang ditorehkan temanku tadi, cukup sulit terlupa.

Ah, yasudahlah. Kenapa terlalu banyak membahas masa lalu? Iya, benar. Dia yang membuat aku bikin puluhan origami itu. Ya, begitulah. Jadi dia sudah putus dengan kekasihnya yang katanya telah dekat dari awal kuliah, namun baru pacaran saat aku jadi maba. Ah, entahlah. Sudah berlalu dan sudah tak penting buatku. Hanya saja, aku kadang masih takjub jika melihat sosok dia yang sekarang. Sangat sangat sangat jauh berbeda dengan sosoknya yang dulu. Kalau saja dia seperti sekarang dari dulu, mungkin temanku yang pernah berkata dia bukan sosok yang tepat untuk disukai, akan berkata sebaliknya. Mungkin. 

Now, what?

Now, aku mau cerita kalau tadi setelah mengetahui fakta putusnya mereka, sempet coba nyari Twitter dia. Aku inget dulu pernah nyari juga dan ada. Cuma nggak dipakai. Akun kosongan. Dan tadi, pas kulihat lagi, akunnya sempat dipake meski nggak lama. Sekitar dua tahun yang lalu dan nggak banyak aktivitas. Namun, dari sedikit hal itu, satu-satunya foto yang dipost adalah foto sebuah tempat ngopi langgananku dan teman-teman. Ingatanku langsung menjurus saat aku ketemu dia di sana dong. Bulan dan tahunnya sama. Angle fotonya persis seperti tempat duduknya waktu itu. Lebih lanjutnya, aku mencari tahu apakah di tanggal itu aku ngopi di sana bersama dua teman yang aku ingat saat itu ada di sebelahku. Dan benar, di tanggal yang sama aku di sana juga. 

Ini bukan sesuatu yang penting, apalagi spesial. Tidak. Bukan juga sesuatu yang memiliki motif atau kemungkinan sebuah kisah indah di masa depan, tidak. Aku hanya suka dengan hal-hal kebetulan yang kutahu semacam ini. Maka dari itu kan, aku juga mengidam-idamkan kisah romantis yang mengacu pada kebetulan--atau takdir. Ya, dua hal itu tipis sekali pembedanya. Aku nggak berharap apa-apa kok, dengan apa yang terjadi waktu itu atau sekarang. Hanya menyenangkan saja rasanya menemui hal ini.

Seperti halnya saat mendapat kabar baik di hari ulang tahun, atau berpapasan dengan takdir secara tidak sengaja. Ngomong-ngomong, meski suka hal-hal romantis, aku punya pemikiran jika hal romantis itu diketahui oleh tokoh atau mereka-mereka yang terlibat di dalamnya, namanya tidak jadi romantis. Ya, ini perlu penjabaran yang lebih njelimet lagi. Aku belum sempat membahasnya di manapun, selain pikiranku sendiri sejak berbulan-bulan yang lalu. 

Ah udah ya. Kayaknya udah cukup dulu deh. Entah kenapa, setelah nulis ini, aku jadi sadar jika sebenarnya ada yang sedang mengganggu pikiran. Remeh sih. Tapi, aku nggak mau bilang ah. Cuma ada hal lalin yang sempat kepikiran dari kemarin. Nulis kan nggak mudah ya. Rumit. Begitupun cinta, perasaan. Jadi, dari kedua itu, lebih rumit mana?

WADUH, PLAYLISTKU SAMPAI LAGU PUPUS. AH, PUPUS DEH.

Kamis, 12 Mei 2022

Coping Mechanism

Coping mechanism. 

Nggak perlu ya, kujabarkan tentang pengertian coping mechanism di sini. Selain karena blog ini bukan bertujuan untuk edukasi, aku nggak mau mengajak pembaca yang tidak seberapa ini sesat bersamaku. Semua-semua yang kubahas di sini tentang aku dan semua-semua yang bersentuhan denganku. Baik fisik, dan pikiran. Jadi, ya terserahku hahaha. 

Coping mechanism. 

Istilah itu harusnya nggak asing. Tapi, aku baru ngeh ada istilah itu belum lama ini. Hmm, tahun lalu sih, lebih tepatnya. Nggak baru-baru banget. Saat itu, di tengah obrolan privat kami, temanku menyebut coping mechanism. Meski itu pertama kali aku notice istilah itu, obrolan berjalan seakan aku telah biasa menggunakan istilah itu. Konteksnya paham. Temanku itu, bercerita tentang bagaimana ia bersikap saat pikiran-pikiran rancu menyerang. Aku mulai berpikir, bagaimana denganku?

Coping mechanism yang kulakukan ya begini ini. Menulis. Ya, enggak selalu menulis juga sebenarnya. Tapi, paling sering dan paling ampuh ya menulis. Karena menulis memerlukan waktu, alat, dan energi, menjalaninya tak bisa begitu saja. Pun, menggerakkan diri untuk memproses unek-unek dan pikiran-pikiran rancu jadi teks yang telah terfilter, atau penuh kode yang kupahami seorang diri, cukup menguras tenaga, pelik. 

Kalau dulu, menulis yang hanya lewat lembar buku, terkendala jika kertas kosong habis. Atau pena kesayangan yang entah hilang kemana. Apalagi karena tulisan tanganku sangat jelek di banyak saat, jadilah membuatku malas. Kadang pula, saat malam datang dan tiba-tiba ibu masuk kamar. Atau ketika aku menulis di waktu siang dan bapak mengetuk pintu untuk menyuruhku ini dan itu. Kendala tak terduga lain adalah saat kakak merecoki dengan banyak hal yang mengganggu pikiran. Meski demikian, aku telah menghabiskan beberapa buku tebal saat umurku belasan. 

Frustrasi, tekanan, masalah, dan kecemasan yang kualami di masa lalu, mungkin tak seberat hari ini. Meski kehidupanku masa itu jauh lebih buruk dari sekarang, tak banyak upaya yang bisa kulakukan. Menulis tak hanya bentuk coping mechanism yang kulakukan untuk beralih dari hari-hari menyedihkan. Menulis adalah bagian diriku yang membangkitkan imajinasi serta impian. Impian yang meski berangsur luntur, setidaknya karena itu aku pernah memberanikan diri dan menjadi diriku yang sekarang. Tak pantas membanggakan diri di situasiku yang sekarang. Namun, jika menengok ke belakang, aku senang dengan diriku yang sekarang.

Ah, coping mechanism. 

Masih tentang yang lalu, aku pernah lepas dengan buku dan pena. Tahun pertama di SMA, aku tak punya buku catatan harian. Alasannya sesederhana karena belum sempat beli buku baru. Jadi, meski setelahnya aku sudah membeli lagi, berwarna merah, tak banyak waktu yang kumiliki untuk menulis. Mungkin saat itu, aku tak banyak masalah. Punya teman-teman di sirkel kecil yang semuanya menyenangkan. Ada tempat berbagi cerita. Aku hampir-hampir tak pernah menutupi sesuatu dari semua teman-temanku. Jadi, aku sangat leluasa bercerita. Sampai, suatu saat di tahun kedua, aku rindu masa menyenangkan di tahun pertama. Tak ada tanda media tercetak. Tak ada lembar tertulis yang manis. Aku menyesal. Hanya sedikit gambar buram di galeri ponsel kami. Beberapa helai kertas binder kecil berwarnaku, menuliskan nama mereka, RYFAR. Namun, itu tak bisa melegakan rasa haus akan kenangan yang kumiliki. 

Aku jadi ragu, apakah coping mechanism-ku adalah menulis? Atau aku hanya suka menulis?

Selanjutnya, aku kembali menulis. Tidak rutin dan tidak banyak. Hanya saat ingat dan punya waktu. Ya, tahu sendiri padatnya jadwal murid SMA. Di tahun gap-ku juga demikian. Banyak keluh kesah yang kualami. Namun, aku hanya menulis saat sempat, dan selalu berusaha menyempatkan. Buku catatan harian coklat yang kubeli di tahun terakhir SMA, yang rencananya kugunakan saat kuliah, kusimpan di rak buku lain, jauh dari tumpukan buku catatan harian lama yang telah penuh. Aku tak bisa menulis di buku itu karena tak kuliah. Membeli buku catatan lain yang lagi-lagi berwarna merah. Banyak sekali yang kutulis di sana. Mimpi--bunga tidur--dan segala hal yang terjadi di benakku.

Lagi-lagi, apakah coping mechanism-ku adalah menulis?

Aku kembali berhenti menulis di semester-semester awal kuliah. Kegiatan dan seabrek tugas bahkan membuatku lupa jika punya buku coklat yang harusnya kuisi dengan kisah-kisahku di bangku kuliah. Dan lagi-lagi, aku punya teman-teman menyenangkan. Bahkan, tak hanya dari teman-teman dekat di sirkel kecil itu. Aku menjangkau banyak orang. Mengulurkan tangan dan menjalin banyak pertemanan. Ada teman bercerita. Namun, tidak berarti ada banyak tempat bercerita. Aku yang jadi lumbung keluh mereka. Tidak, aku tidak keberatan. Justru senang. Hanya saja, aku jadi berpikir, kenapa mereka mau menceritakan kelamnya mereka kepadaku? Ya, katakanlah aku juga menceritakan hal-hal mengenaskan tentangku. Namun, itu bukan rahasia. Aku memang suka memperdagangkan cerita hidupku ini. Beda dengan mereka. Mereka tidak demikian. 

Di titik itu, aku tak lagi memikirkan masalah-masalahku karena masalah-masalah orang lain yang kutampung, membiaskannya. Aku lebih fokus ke mereka daripada diriku sendiri. Bukannya ikut campur, hanya turut memikirkan bagaimana baiknya. Nggak selalu kubilang begini atau begitu, kadang kupendam tergantung manusianya seperti apa. Yang jelas, berpikir dan mengobrol adalah kegiatan yang sering kulakukan. 

Hingga suatu saat, hatiku bergejolak. Entah apa namanya, namun aku selalu resah. Sudah bercerita ke sana sini dan melakukan ini itu, namun tetap saja, aku resah. Seluruh teman dekatku, tahu apa yang kualami, tapi tak ada solusi yang bisa mereka berikan. Pun, memang pada kenyataannya tak ada solusi. Masalah yang kualami, hanya bisa diselesaikan oleh semesta dengan menekan diri untuk tak berpikir lebih banyak lagi tentang hal itu.

HEI! KENAPA PAS SEKALI PLASYLISTKU LAGU TIM DAN ASTRID SARANGHAEYO ALIAS I LOVE YOU!

Saat itu, tengah libur semester. Aku yang mulai masuk di salah satu organisasi kebetulan masih terikat di sebuah kepanitiaan. Di sana pula, aku menemui titik terang. Bukan, bukan pesan suara darinya yang kuterima di malam itu yang membuatku bangkit karena justru itu adalah bahan pikiran tambahan.

WEH SEKARANG LAGU 'DENGAN CARAKU'.

Aku membawa setumpuk kertas lipat bercorak cantik dan sayang jika hanya kugunakan untuk origami biasa. Akhirnya, entah mendapat ide darimana, aku membuat puluhan pita kecil yang kupasang berderet mengelilingi dua sisi tembok kamar kos. Tak hanya itu, beberapa bentuk love bersayap berbagai ukuran kubuat. Amplop-amplop sederhana yang berjajar ke atas yang tiap tahun bertambah yang isinya merupakan goal-goalku, berada di sisi sebelah kasurku. Kata teman-teman, kamarku seperti TK. Tapi, aku sangat senang melihatnya. Entah. Rasanya tiap menit waktu yang kuluangkan untuk membuat origami-origami itu di waktu luangku yang terbatas, sangat menyenangkan. Setidaknya aku tak memikirkan 'dia' lagi.

Aku jadi ingat, di masa lalunya lagi pernah membuat hal-hal demikian. Membuat perabotan dari lumpur (benar-benar lumpur), dari kertas koran, menempel origami kupu-kupu dan memberi pola tangan saat mengecet di tembok kamar, membuat wayang dari kertas dan biting, dan... hal-hal sok kreatif lainnya. Memang itu serupa dengan pita-pita di kamar kosan. Namun, rasanya berbeda. Kukira, membuat pita-pita itulah coping mechanism-ku saat itu. Di waktu itu, aku sangat jauh dari menulis.

Jadi, apakah menulis bukan coping mechanism-ku?

Waktu berlalu hingga di pertengahan masa kuliahku, hal serupa sebelumnya terjadi. Saat itu, bisa dibilang aku sudah benar-benar move on dari 'dia'. Sayangnya, muncul dia-dia yang lain. Ini lebih pelik. Jika nama 'dia' yang sebelumnya sudah sangat populer di telinga teman-teman, dia-dia yang lain ini akan sangat asing dan memalukan untuk kukatakan. Berkaitan dengan organisasi yang sedang kuupayakan juga, jadi aku tak bisa mendefinisikan apa yang kurasakan saat itu. Apalagi 'dia-dia' itu juga pernah (yang kuanggap sedang) menjalin romansa dengan teman dekatku. Jadi, aku tak punya jalan lain selain menulis. Buku merah yang kubeli sebelumnya, belum penuh meski bertahun-tahun telah berlalu. Dan di beberapa lembar terakhir itulah, aku menulis. Mengeluhkan tentang senja yang berangsur jadi merah. 

SUMPAH INI PLAYLISTNYA MENDUKUNG BANGET!!!

Aku rasa, waktu itu, selama kuliah di saat itu, aku tak begitu punya masalah selain percintaan. Itupun, tak pernah benar-benar kuakui bahkan sampai detik ini. Rasanya, seluruh masalah bisa langsung terselesaikan. Meski gaya hidupku cenderung pas-pasan, aku tak pernah benar-benar kekurangan uang. Tak pernah bingung membayar UKT atau kos. Meski sering sambat masalah uang dengan bapak, saldo rekening dan saldo pulsaku tak pernah kosong. Kuliah dan organisasi yang sangat-sangat tak mudah, bisa terlewat tanpa aku perlu melakukan coping mechanism tertentu. Saat itu, aku bahkan sangat-sangat jarang menonton drama Korea.

Hmm coping mechanism... Jadi, apa dong coping mechanism-ku?

Jawabannya mungkin ada di blog ini. Saat awal-awal menulis keluh kesah dengan berbagai simbol yang kupahami seorang diri, saat itulah aku mulai melakukan coping mechanism lagi. Saat dimana aku merasa tak ada yang bisa kulakukan lagi, aku menulis. Sampai, saat aku tak lagi mampu membangun kata-kata ambigu dan analogi-analogi lain, aku mulai kembali ke kertas. Rasanya berat sekali. Aku harus jujur pada diriku di sana, karena hanya aku yang bisa mengaksesnya. 

Akhirnya, di sana aku mengaku. Ya, mungkin karena tekanan dan stres yang dialami setiap orang berbeda, jadi penangannya juga berbeda. Aku yang selalu denial dengan apa yang kurasakan harus berdebat dengan diriku yang lain untuk ke sekian kalinya. Lewat teks, lewat tulisan, ada rekam jejak yang bisa jadi penguatan untuk argumen-argumen lainku nantinya. Seperti layaknya notulensi rapat. Di waktu itu, aku berjanji dengan diriku sendiri, akan menyelesaikan perasaan dan pikiranku di waktu tertentu. Ada timeline. Lagi-lagi seperti rapat. 

Namun, semua berakhir dengan sangat di luar dugaan. Bahkan, aku yang selalu memikirkan kemungkinan terbaik dan terburuk di segala hal, tak mengira hal itu. Agaknya, aku masih harus belajar lebih berpikir sangat buruk lagi karena segala rencanaku hancur tak tersisa. Meninggalnya Bapak, bukan jadi satu-satunya alasan. Semua semakin rumit, sangat.

SUMPAH, PLAYLISTNYA COCOK BANGET.

Aku semakin rajin menulis di blog ini. Ada atau tidak ada kaitannya dengan apa masalah yang kualami saat itu, pokoknya menulis. Hari-hariku saat itu, kalau tidak menulis ya menangis. Kadang, keduanya kulakukan bersamaan. Entah menulis disusul tangis, atau sebaliknya. Pokoknya, dua hal itu sudah jadi besty. Karena terlalu larut dalam tulisan, blog ini tak lagi mampu mencover seluruh pedih yang kualami. Aku tak bisa menelanjangi diri lebih vulgar lagi. Jadilah, aku lari ke tempat yang lebih privat. Tempat yang hanya aku sendiri yang bisa masuk. Meski demikian, untuk menuju ke sana, tidaklah mudah. Kuncinya hanya satu, mau bersakit-sakit kembali dengan mengingat dan meratapi segala yang udah terjadi.

Aku jadi rajin berlama-lama di depan layar ms word. Ratusan hingga puluhan ribu kata tersusun di sana. Aku bertelanjang diri di sana. Menulis segala hal yang terjadi setahun terakhir secara runtut dan sebenar-benarnya dari sudut pandangku. Tak ada sensor, tak ada filter. Siapa dan apa, semuanya tertulis jelas. Namun, itu berlangsung lama dan pelik. Aku tetap harus mengatur outline tulisan. Memilah cerita-cerita mana yang tak boleh sampai kulupa. Sampai-sampai, aku lupa dengan tugas utamaku. Saat teman-temanku sudah pada sempro, aku masih setia pada lembar digital itu.

OH SHIT! SEKARANG MEMORIESNYA MAROON 5!

Kegiatanku bercumbu dengan masa lalu masih terus berlangsung bahkan sampai teman-teman dekatku sudah pada lulus. Hal-hal sial lain yang kualami di tengah masa aku menulis itu, kulampiaskan di blog. Meski demikian, aku tak menghentikan kisahku di laman privat yang tadi. Tulisan masih bertambah. Pelan dan penuh pertimbangan. Bahkan, itu belum sampai separuh dari apa yang ingin kusampaikan. Aku membuka banyak jendela. Mengamati ke sana dan ke sini. Melihat setiap hal di masa lalu yang harus keletakkan sebenar-benarnya di tulisan itu.

Setahun berlalu, dan tulisan itu belum juga selesai. Saat itu, teman-teman yang lulus sudah banyak. Sedang yang sempro sudah tak terhitung lagi. Aku tak peduli, tak juga iri. Nothing to lose. Hidupku, seakan hanya untuk tulisan itu saja. Siang malam tak hengkang dari meja belajar. Kadang, saking inginnya hidup di tulisan itu, aku hanya menangis sambil membaca tulisan di layar. Berulang dengan masih bersama tangis yang sama. 

WTF! I WILL GO TO YOU LIKE THE FIRST SNOW. LAGUNYA PAS BANGET HAHAHA...ANJIR BELUM JUGA LANJUT NULIS UDAH LANJUT LAGU HANYA RINDU, GILA. SKIP AJA. LAGI GA MAU NANGIS. SHIT! I TOLD YOU. LAGU BAPAK BANGET. KALO SEKALI LAGI SKIP MASIH AJA BIKIN MAU JOGET (BACA:NANGIS) AKU MOVE KE YT MUSIK. OKE, CINTA TERBAIK.

Di tangis yang tak lenggang oleh waktu itu, tepatnya setahun lalu, aku pernah sangat amat kesal. Entah dengan diriku, atau lainnya. Saat itu, aku sudah mulai memikirkan skripsi. Ya, tidak secara inklusif. Setidaknya sudah punya objek karya dan telah membaca teori. Namun, fokusku kubagi dengan menulis itu tadi. Suatu saat, teman dekatku mulai berkomentar tentang kegiatanku di depan lapotop yang tidak kunjung mengerjakan skripsi. Aku menjawab saja, jika meski bukan skripsi, aku tetap harus merampungkannya. Aku sakit hati dengan kata-katanya. Bukan karena itu menyinggung, karena aku sudah kebal. Hanya saja, dia terlalu menghakimiku. Dia meremehkan coping mechanism-ku. Aku belum sembuh, kawan. Aku masih pasien. Aku harus terus menulis agar tetap waras.

Aku berkata, "Jika besok aku mati, aku akan sangat menyesal jika tulisan itu tidak selesai. Tak apa aku tak lulus, yang penting tulisan itu selesai."  Pikirku saat itu, aku masih bisa hidup meski tak jadi sarjana. Aku harus menulis agar waras, agar bisa melanjutkan hidup. Setelah berkata demikian, aku menangis. Namun, temanku itu tak ada pengertiannya sama sekali. Dia masih terus men-judge diriku dengan segala keburukan yang ia tahu. Menyalahkan teman-temanku yang lain yang sama lalainya, menyalahkan drama-drama kesayanganku, menyalahkan idolaku, padahal dia harusnya hanya menyalahkanku saja. Cukup. Ibuku tak luput dari ceramahnya terkait skripsi. "Kamu izin ke ibumu buat ngerjain skripsi kan? Bukan kayak gini?" Enggak, kawan. Ibukku tahu banget aku sedang menulis, apapun itu, dia mendukung. Apalagi, dia sangat tahu jika anaknya ini sedang tidak waras. 

Ya, ibukku memang selalu mendukung apa saja yang kulakukan. Entah organisasi atau pekerjaan yang kupilih. Bahkan, saat aku sempat menanggalkan skripsi secara sengaja untuk bekerja part time, ibukku tak apa. Namun, baru-baru ini aku semakin yakin jika ibu tahu keadaan mentalku. Lebaran tahun ini, lebaran pertama kita bisa silaturahmi dengan leluasa bukan? Tamu menyusut, tentu saja. Selain karena bapak sebagai tuan rumah dan pemilik koneksi terbesar di keluarga besar telah meninggal, orang-orang di luar sana yang harusnya jadi tamu juga telah banyak yang meninggal. Lainnya, tamu-tamu lainnya, tak banyak menanyakan keadaanku. Kubilang skripsi, kubilang semester akhir, cukup. Tak perlu repot-repot menjelaskan ke orang-orang yang tak akan paham karena yang harusnya paham saja susah paham. Ini memang sensitif. 

Entah di hari raya ke berapa, sebuah mobil masuk pekarangan rumah. Ibuk pikir mobil kerabat karena siapa lagi kan? Dulu sih, bos-bos bapak banyak yang bawa mobil begitu. Sekarang, beberapa dari mereka juga sudah meninggal. Namun, tamu tersebut adalah teman lama Ibuk. Aku ingat pasangan suami istri itu pernah ke rumah. Bukan saat lebaran dan masih ada bapak. Aku ingat juga Bapak dan Ibuk ke rumah mereka saat sedang mengunjungiku di GOR kota. Pasangan pengajar itu tinggal di sana. Si suami, teman kursus Ibuk, kepala sekolah di SMK di kota sana. Saat aku muncul, ibuk mengenalkanku, tentu saja. Sampai pada pembahasan kuliah. Okelah, ibuk sering bilang aku molor ke orang-orang. Tapi, ibuk tak pernah menjelaskan secara rinci karena apa. Hanya terkendala, begitu saja. Tapi, saat itu, dengan jelas ibuk bilang karena aku sempat stres karena ditinggal bapak.

Aku ingin protes dikatai stres begitu. Memangnya aku gila? Aku kan memang terkendala teknis. Pandemi, KKN, laptop rusak, covid, objek kajian, teori, dosen, dan banyak lainnya. Lantas, kenapa aku dikira stres karena bapak? Matkul yang kuulang pun karena aku ceroboh, bukan bapak... Hingga tulisan-tulisan itu menyadarkanku betapa aku terkesan membuang-buang waktu. Menulis di blog saja, yang tanpa rencana dan asal-asalan memerlukan waktu banyak. Ini saja, yg rencananya hanya setengah jam, sudah dua jam lebih. Ibuk memang yang paling tahu tentang aku. 

Beberapa waktu kemudian, aku mendengar Ibuk mengucapkan kata-kata serupa. Tentang aku yang stres ditinggal bapak. Ke gurunya dan kerabat lain yang bisa 'mengerti' itu. Jadi, aku benar-benar stres? Jadi, coping mechanism-ku nulis? Kayaknya nggak juga deh. Nggak terdefinisi karena nggak hanya satu. Mungkin, bercerita. Entah ke manusia atau media. Aku belum pernah coba ke hewan sih, dan kayaknya enggak akan. 

Hmm... udah banyak banget yg kutulis hari ini. Padahal 'cuma' sedih gegara buka tutup draft skripsi doang tanpa nulis apa-apa selama dua hari ini. Padahal juga, udah mencanangkan habis lebaran kelar bab 2, ealah, lebaran full makan, tidur, rebahan, dan ngegalau nggak jelas. 

Oh ya, satu lagi coping mechanism yang masih langgeng tanpa kusadar. Menambah masalah saat ada masalah. Seperti yang kubilang sebelumnya, untuk membiaskan masalahku sendiri. Tapi, itu efektif juga loh. Jadi nggak stres-stres amat sama masalah sendiri. Cuma ikutan stres sama masalah orang lain, wkwkwk.

Ah, apalagi ya? Hmm tentang lebaran? Ah, bukan waktunya. Ini kan lagi ngomongin coping mechanism. Tadi aja keknya udah melebar ini masak mau dilebarin lagi. Hmm, udah ngantuk. Mau close draft skripsi yang bahkan belum ku-scroll ke bawah. Yah, semoga aku ada kehendak dan tindakan buat garap lagi. Semoga juga otakku mampu. Semoga juga teman-teman yang sedang berjuang di masa sensitif ini, segera bangkit dan melewatinya. Pait memang, tapi, semangat! Dan karena nggak ada yang menyemangatiku, aku akan menyemangati diriku sendiri. Semangat, Alit!  

WOW, PAS BANGET PLAYLIST HABIS. BERAKHIR DI LANTAS JUICY APA ITU DAH.

Oke deh. Met malem. Bye~