Kamis, 12 Mei 2022

Coping Mechanism

Coping mechanism. 

Nggak perlu ya, kujabarkan tentang pengertian coping mechanism di sini. Selain karena blog ini bukan bertujuan untuk edukasi, aku nggak mau mengajak pembaca yang tidak seberapa ini sesat bersamaku. Semua-semua yang kubahas di sini tentang aku dan semua-semua yang bersentuhan denganku. Baik fisik, dan pikiran. Jadi, ya terserahku hahaha. 

Coping mechanism. 

Istilah itu harusnya nggak asing. Tapi, aku baru ngeh ada istilah itu belum lama ini. Hmm, tahun lalu sih, lebih tepatnya. Nggak baru-baru banget. Saat itu, di tengah obrolan privat kami, temanku menyebut coping mechanism. Meski itu pertama kali aku notice istilah itu, obrolan berjalan seakan aku telah biasa menggunakan istilah itu. Konteksnya paham. Temanku itu, bercerita tentang bagaimana ia bersikap saat pikiran-pikiran rancu menyerang. Aku mulai berpikir, bagaimana denganku?

Coping mechanism yang kulakukan ya begini ini. Menulis. Ya, enggak selalu menulis juga sebenarnya. Tapi, paling sering dan paling ampuh ya menulis. Karena menulis memerlukan waktu, alat, dan energi, menjalaninya tak bisa begitu saja. Pun, menggerakkan diri untuk memproses unek-unek dan pikiran-pikiran rancu jadi teks yang telah terfilter, atau penuh kode yang kupahami seorang diri, cukup menguras tenaga, pelik. 

Kalau dulu, menulis yang hanya lewat lembar buku, terkendala jika kertas kosong habis. Atau pena kesayangan yang entah hilang kemana. Apalagi karena tulisan tanganku sangat jelek di banyak saat, jadilah membuatku malas. Kadang pula, saat malam datang dan tiba-tiba ibu masuk kamar. Atau ketika aku menulis di waktu siang dan bapak mengetuk pintu untuk menyuruhku ini dan itu. Kendala tak terduga lain adalah saat kakak merecoki dengan banyak hal yang mengganggu pikiran. Meski demikian, aku telah menghabiskan beberapa buku tebal saat umurku belasan. 

Frustrasi, tekanan, masalah, dan kecemasan yang kualami di masa lalu, mungkin tak seberat hari ini. Meski kehidupanku masa itu jauh lebih buruk dari sekarang, tak banyak upaya yang bisa kulakukan. Menulis tak hanya bentuk coping mechanism yang kulakukan untuk beralih dari hari-hari menyedihkan. Menulis adalah bagian diriku yang membangkitkan imajinasi serta impian. Impian yang meski berangsur luntur, setidaknya karena itu aku pernah memberanikan diri dan menjadi diriku yang sekarang. Tak pantas membanggakan diri di situasiku yang sekarang. Namun, jika menengok ke belakang, aku senang dengan diriku yang sekarang.

Ah, coping mechanism. 

Masih tentang yang lalu, aku pernah lepas dengan buku dan pena. Tahun pertama di SMA, aku tak punya buku catatan harian. Alasannya sesederhana karena belum sempat beli buku baru. Jadi, meski setelahnya aku sudah membeli lagi, berwarna merah, tak banyak waktu yang kumiliki untuk menulis. Mungkin saat itu, aku tak banyak masalah. Punya teman-teman di sirkel kecil yang semuanya menyenangkan. Ada tempat berbagi cerita. Aku hampir-hampir tak pernah menutupi sesuatu dari semua teman-temanku. Jadi, aku sangat leluasa bercerita. Sampai, suatu saat di tahun kedua, aku rindu masa menyenangkan di tahun pertama. Tak ada tanda media tercetak. Tak ada lembar tertulis yang manis. Aku menyesal. Hanya sedikit gambar buram di galeri ponsel kami. Beberapa helai kertas binder kecil berwarnaku, menuliskan nama mereka, RYFAR. Namun, itu tak bisa melegakan rasa haus akan kenangan yang kumiliki. 

Aku jadi ragu, apakah coping mechanism-ku adalah menulis? Atau aku hanya suka menulis?

Selanjutnya, aku kembali menulis. Tidak rutin dan tidak banyak. Hanya saat ingat dan punya waktu. Ya, tahu sendiri padatnya jadwal murid SMA. Di tahun gap-ku juga demikian. Banyak keluh kesah yang kualami. Namun, aku hanya menulis saat sempat, dan selalu berusaha menyempatkan. Buku catatan harian coklat yang kubeli di tahun terakhir SMA, yang rencananya kugunakan saat kuliah, kusimpan di rak buku lain, jauh dari tumpukan buku catatan harian lama yang telah penuh. Aku tak bisa menulis di buku itu karena tak kuliah. Membeli buku catatan lain yang lagi-lagi berwarna merah. Banyak sekali yang kutulis di sana. Mimpi--bunga tidur--dan segala hal yang terjadi di benakku.

Lagi-lagi, apakah coping mechanism-ku adalah menulis?

Aku kembali berhenti menulis di semester-semester awal kuliah. Kegiatan dan seabrek tugas bahkan membuatku lupa jika punya buku coklat yang harusnya kuisi dengan kisah-kisahku di bangku kuliah. Dan lagi-lagi, aku punya teman-teman menyenangkan. Bahkan, tak hanya dari teman-teman dekat di sirkel kecil itu. Aku menjangkau banyak orang. Mengulurkan tangan dan menjalin banyak pertemanan. Ada teman bercerita. Namun, tidak berarti ada banyak tempat bercerita. Aku yang jadi lumbung keluh mereka. Tidak, aku tidak keberatan. Justru senang. Hanya saja, aku jadi berpikir, kenapa mereka mau menceritakan kelamnya mereka kepadaku? Ya, katakanlah aku juga menceritakan hal-hal mengenaskan tentangku. Namun, itu bukan rahasia. Aku memang suka memperdagangkan cerita hidupku ini. Beda dengan mereka. Mereka tidak demikian. 

Di titik itu, aku tak lagi memikirkan masalah-masalahku karena masalah-masalah orang lain yang kutampung, membiaskannya. Aku lebih fokus ke mereka daripada diriku sendiri. Bukannya ikut campur, hanya turut memikirkan bagaimana baiknya. Nggak selalu kubilang begini atau begitu, kadang kupendam tergantung manusianya seperti apa. Yang jelas, berpikir dan mengobrol adalah kegiatan yang sering kulakukan. 

Hingga suatu saat, hatiku bergejolak. Entah apa namanya, namun aku selalu resah. Sudah bercerita ke sana sini dan melakukan ini itu, namun tetap saja, aku resah. Seluruh teman dekatku, tahu apa yang kualami, tapi tak ada solusi yang bisa mereka berikan. Pun, memang pada kenyataannya tak ada solusi. Masalah yang kualami, hanya bisa diselesaikan oleh semesta dengan menekan diri untuk tak berpikir lebih banyak lagi tentang hal itu.

HEI! KENAPA PAS SEKALI PLASYLISTKU LAGU TIM DAN ASTRID SARANGHAEYO ALIAS I LOVE YOU!

Saat itu, tengah libur semester. Aku yang mulai masuk di salah satu organisasi kebetulan masih terikat di sebuah kepanitiaan. Di sana pula, aku menemui titik terang. Bukan, bukan pesan suara darinya yang kuterima di malam itu yang membuatku bangkit karena justru itu adalah bahan pikiran tambahan.

WEH SEKARANG LAGU 'DENGAN CARAKU'.

Aku membawa setumpuk kertas lipat bercorak cantik dan sayang jika hanya kugunakan untuk origami biasa. Akhirnya, entah mendapat ide darimana, aku membuat puluhan pita kecil yang kupasang berderet mengelilingi dua sisi tembok kamar kos. Tak hanya itu, beberapa bentuk love bersayap berbagai ukuran kubuat. Amplop-amplop sederhana yang berjajar ke atas yang tiap tahun bertambah yang isinya merupakan goal-goalku, berada di sisi sebelah kasurku. Kata teman-teman, kamarku seperti TK. Tapi, aku sangat senang melihatnya. Entah. Rasanya tiap menit waktu yang kuluangkan untuk membuat origami-origami itu di waktu luangku yang terbatas, sangat menyenangkan. Setidaknya aku tak memikirkan 'dia' lagi.

Aku jadi ingat, di masa lalunya lagi pernah membuat hal-hal demikian. Membuat perabotan dari lumpur (benar-benar lumpur), dari kertas koran, menempel origami kupu-kupu dan memberi pola tangan saat mengecet di tembok kamar, membuat wayang dari kertas dan biting, dan... hal-hal sok kreatif lainnya. Memang itu serupa dengan pita-pita di kamar kosan. Namun, rasanya berbeda. Kukira, membuat pita-pita itulah coping mechanism-ku saat itu. Di waktu itu, aku sangat jauh dari menulis.

Jadi, apakah menulis bukan coping mechanism-ku?

Waktu berlalu hingga di pertengahan masa kuliahku, hal serupa sebelumnya terjadi. Saat itu, bisa dibilang aku sudah benar-benar move on dari 'dia'. Sayangnya, muncul dia-dia yang lain. Ini lebih pelik. Jika nama 'dia' yang sebelumnya sudah sangat populer di telinga teman-teman, dia-dia yang lain ini akan sangat asing dan memalukan untuk kukatakan. Berkaitan dengan organisasi yang sedang kuupayakan juga, jadi aku tak bisa mendefinisikan apa yang kurasakan saat itu. Apalagi 'dia-dia' itu juga pernah (yang kuanggap sedang) menjalin romansa dengan teman dekatku. Jadi, aku tak punya jalan lain selain menulis. Buku merah yang kubeli sebelumnya, belum penuh meski bertahun-tahun telah berlalu. Dan di beberapa lembar terakhir itulah, aku menulis. Mengeluhkan tentang senja yang berangsur jadi merah. 

SUMPAH INI PLAYLISTNYA MENDUKUNG BANGET!!!

Aku rasa, waktu itu, selama kuliah di saat itu, aku tak begitu punya masalah selain percintaan. Itupun, tak pernah benar-benar kuakui bahkan sampai detik ini. Rasanya, seluruh masalah bisa langsung terselesaikan. Meski gaya hidupku cenderung pas-pasan, aku tak pernah benar-benar kekurangan uang. Tak pernah bingung membayar UKT atau kos. Meski sering sambat masalah uang dengan bapak, saldo rekening dan saldo pulsaku tak pernah kosong. Kuliah dan organisasi yang sangat-sangat tak mudah, bisa terlewat tanpa aku perlu melakukan coping mechanism tertentu. Saat itu, aku bahkan sangat-sangat jarang menonton drama Korea.

Hmm coping mechanism... Jadi, apa dong coping mechanism-ku?

Jawabannya mungkin ada di blog ini. Saat awal-awal menulis keluh kesah dengan berbagai simbol yang kupahami seorang diri, saat itulah aku mulai melakukan coping mechanism lagi. Saat dimana aku merasa tak ada yang bisa kulakukan lagi, aku menulis. Sampai, saat aku tak lagi mampu membangun kata-kata ambigu dan analogi-analogi lain, aku mulai kembali ke kertas. Rasanya berat sekali. Aku harus jujur pada diriku di sana, karena hanya aku yang bisa mengaksesnya. 

Akhirnya, di sana aku mengaku. Ya, mungkin karena tekanan dan stres yang dialami setiap orang berbeda, jadi penangannya juga berbeda. Aku yang selalu denial dengan apa yang kurasakan harus berdebat dengan diriku yang lain untuk ke sekian kalinya. Lewat teks, lewat tulisan, ada rekam jejak yang bisa jadi penguatan untuk argumen-argumen lainku nantinya. Seperti layaknya notulensi rapat. Di waktu itu, aku berjanji dengan diriku sendiri, akan menyelesaikan perasaan dan pikiranku di waktu tertentu. Ada timeline. Lagi-lagi seperti rapat. 

Namun, semua berakhir dengan sangat di luar dugaan. Bahkan, aku yang selalu memikirkan kemungkinan terbaik dan terburuk di segala hal, tak mengira hal itu. Agaknya, aku masih harus belajar lebih berpikir sangat buruk lagi karena segala rencanaku hancur tak tersisa. Meninggalnya Bapak, bukan jadi satu-satunya alasan. Semua semakin rumit, sangat.

SUMPAH, PLAYLISTNYA COCOK BANGET.

Aku semakin rajin menulis di blog ini. Ada atau tidak ada kaitannya dengan apa masalah yang kualami saat itu, pokoknya menulis. Hari-hariku saat itu, kalau tidak menulis ya menangis. Kadang, keduanya kulakukan bersamaan. Entah menulis disusul tangis, atau sebaliknya. Pokoknya, dua hal itu sudah jadi besty. Karena terlalu larut dalam tulisan, blog ini tak lagi mampu mencover seluruh pedih yang kualami. Aku tak bisa menelanjangi diri lebih vulgar lagi. Jadilah, aku lari ke tempat yang lebih privat. Tempat yang hanya aku sendiri yang bisa masuk. Meski demikian, untuk menuju ke sana, tidaklah mudah. Kuncinya hanya satu, mau bersakit-sakit kembali dengan mengingat dan meratapi segala yang udah terjadi.

Aku jadi rajin berlama-lama di depan layar ms word. Ratusan hingga puluhan ribu kata tersusun di sana. Aku bertelanjang diri di sana. Menulis segala hal yang terjadi setahun terakhir secara runtut dan sebenar-benarnya dari sudut pandangku. Tak ada sensor, tak ada filter. Siapa dan apa, semuanya tertulis jelas. Namun, itu berlangsung lama dan pelik. Aku tetap harus mengatur outline tulisan. Memilah cerita-cerita mana yang tak boleh sampai kulupa. Sampai-sampai, aku lupa dengan tugas utamaku. Saat teman-temanku sudah pada sempro, aku masih setia pada lembar digital itu.

OH SHIT! SEKARANG MEMORIESNYA MAROON 5!

Kegiatanku bercumbu dengan masa lalu masih terus berlangsung bahkan sampai teman-teman dekatku sudah pada lulus. Hal-hal sial lain yang kualami di tengah masa aku menulis itu, kulampiaskan di blog. Meski demikian, aku tak menghentikan kisahku di laman privat yang tadi. Tulisan masih bertambah. Pelan dan penuh pertimbangan. Bahkan, itu belum sampai separuh dari apa yang ingin kusampaikan. Aku membuka banyak jendela. Mengamati ke sana dan ke sini. Melihat setiap hal di masa lalu yang harus keletakkan sebenar-benarnya di tulisan itu.

Setahun berlalu, dan tulisan itu belum juga selesai. Saat itu, teman-teman yang lulus sudah banyak. Sedang yang sempro sudah tak terhitung lagi. Aku tak peduli, tak juga iri. Nothing to lose. Hidupku, seakan hanya untuk tulisan itu saja. Siang malam tak hengkang dari meja belajar. Kadang, saking inginnya hidup di tulisan itu, aku hanya menangis sambil membaca tulisan di layar. Berulang dengan masih bersama tangis yang sama. 

WTF! I WILL GO TO YOU LIKE THE FIRST SNOW. LAGUNYA PAS BANGET HAHAHA...ANJIR BELUM JUGA LANJUT NULIS UDAH LANJUT LAGU HANYA RINDU, GILA. SKIP AJA. LAGI GA MAU NANGIS. SHIT! I TOLD YOU. LAGU BAPAK BANGET. KALO SEKALI LAGI SKIP MASIH AJA BIKIN MAU JOGET (BACA:NANGIS) AKU MOVE KE YT MUSIK. OKE, CINTA TERBAIK.

Di tangis yang tak lenggang oleh waktu itu, tepatnya setahun lalu, aku pernah sangat amat kesal. Entah dengan diriku, atau lainnya. Saat itu, aku sudah mulai memikirkan skripsi. Ya, tidak secara inklusif. Setidaknya sudah punya objek karya dan telah membaca teori. Namun, fokusku kubagi dengan menulis itu tadi. Suatu saat, teman dekatku mulai berkomentar tentang kegiatanku di depan lapotop yang tidak kunjung mengerjakan skripsi. Aku menjawab saja, jika meski bukan skripsi, aku tetap harus merampungkannya. Aku sakit hati dengan kata-katanya. Bukan karena itu menyinggung, karena aku sudah kebal. Hanya saja, dia terlalu menghakimiku. Dia meremehkan coping mechanism-ku. Aku belum sembuh, kawan. Aku masih pasien. Aku harus terus menulis agar tetap waras.

Aku berkata, "Jika besok aku mati, aku akan sangat menyesal jika tulisan itu tidak selesai. Tak apa aku tak lulus, yang penting tulisan itu selesai."  Pikirku saat itu, aku masih bisa hidup meski tak jadi sarjana. Aku harus menulis agar waras, agar bisa melanjutkan hidup. Setelah berkata demikian, aku menangis. Namun, temanku itu tak ada pengertiannya sama sekali. Dia masih terus men-judge diriku dengan segala keburukan yang ia tahu. Menyalahkan teman-temanku yang lain yang sama lalainya, menyalahkan drama-drama kesayanganku, menyalahkan idolaku, padahal dia harusnya hanya menyalahkanku saja. Cukup. Ibuku tak luput dari ceramahnya terkait skripsi. "Kamu izin ke ibumu buat ngerjain skripsi kan? Bukan kayak gini?" Enggak, kawan. Ibukku tahu banget aku sedang menulis, apapun itu, dia mendukung. Apalagi, dia sangat tahu jika anaknya ini sedang tidak waras. 

Ya, ibukku memang selalu mendukung apa saja yang kulakukan. Entah organisasi atau pekerjaan yang kupilih. Bahkan, saat aku sempat menanggalkan skripsi secara sengaja untuk bekerja part time, ibukku tak apa. Namun, baru-baru ini aku semakin yakin jika ibu tahu keadaan mentalku. Lebaran tahun ini, lebaran pertama kita bisa silaturahmi dengan leluasa bukan? Tamu menyusut, tentu saja. Selain karena bapak sebagai tuan rumah dan pemilik koneksi terbesar di keluarga besar telah meninggal, orang-orang di luar sana yang harusnya jadi tamu juga telah banyak yang meninggal. Lainnya, tamu-tamu lainnya, tak banyak menanyakan keadaanku. Kubilang skripsi, kubilang semester akhir, cukup. Tak perlu repot-repot menjelaskan ke orang-orang yang tak akan paham karena yang harusnya paham saja susah paham. Ini memang sensitif. 

Entah di hari raya ke berapa, sebuah mobil masuk pekarangan rumah. Ibuk pikir mobil kerabat karena siapa lagi kan? Dulu sih, bos-bos bapak banyak yang bawa mobil begitu. Sekarang, beberapa dari mereka juga sudah meninggal. Namun, tamu tersebut adalah teman lama Ibuk. Aku ingat pasangan suami istri itu pernah ke rumah. Bukan saat lebaran dan masih ada bapak. Aku ingat juga Bapak dan Ibuk ke rumah mereka saat sedang mengunjungiku di GOR kota. Pasangan pengajar itu tinggal di sana. Si suami, teman kursus Ibuk, kepala sekolah di SMK di kota sana. Saat aku muncul, ibuk mengenalkanku, tentu saja. Sampai pada pembahasan kuliah. Okelah, ibuk sering bilang aku molor ke orang-orang. Tapi, ibuk tak pernah menjelaskan secara rinci karena apa. Hanya terkendala, begitu saja. Tapi, saat itu, dengan jelas ibuk bilang karena aku sempat stres karena ditinggal bapak.

Aku ingin protes dikatai stres begitu. Memangnya aku gila? Aku kan memang terkendala teknis. Pandemi, KKN, laptop rusak, covid, objek kajian, teori, dosen, dan banyak lainnya. Lantas, kenapa aku dikira stres karena bapak? Matkul yang kuulang pun karena aku ceroboh, bukan bapak... Hingga tulisan-tulisan itu menyadarkanku betapa aku terkesan membuang-buang waktu. Menulis di blog saja, yang tanpa rencana dan asal-asalan memerlukan waktu banyak. Ini saja, yg rencananya hanya setengah jam, sudah dua jam lebih. Ibuk memang yang paling tahu tentang aku. 

Beberapa waktu kemudian, aku mendengar Ibuk mengucapkan kata-kata serupa. Tentang aku yang stres ditinggal bapak. Ke gurunya dan kerabat lain yang bisa 'mengerti' itu. Jadi, aku benar-benar stres? Jadi, coping mechanism-ku nulis? Kayaknya nggak juga deh. Nggak terdefinisi karena nggak hanya satu. Mungkin, bercerita. Entah ke manusia atau media. Aku belum pernah coba ke hewan sih, dan kayaknya enggak akan. 

Hmm... udah banyak banget yg kutulis hari ini. Padahal 'cuma' sedih gegara buka tutup draft skripsi doang tanpa nulis apa-apa selama dua hari ini. Padahal juga, udah mencanangkan habis lebaran kelar bab 2, ealah, lebaran full makan, tidur, rebahan, dan ngegalau nggak jelas. 

Oh ya, satu lagi coping mechanism yang masih langgeng tanpa kusadar. Menambah masalah saat ada masalah. Seperti yang kubilang sebelumnya, untuk membiaskan masalahku sendiri. Tapi, itu efektif juga loh. Jadi nggak stres-stres amat sama masalah sendiri. Cuma ikutan stres sama masalah orang lain, wkwkwk.

Ah, apalagi ya? Hmm tentang lebaran? Ah, bukan waktunya. Ini kan lagi ngomongin coping mechanism. Tadi aja keknya udah melebar ini masak mau dilebarin lagi. Hmm, udah ngantuk. Mau close draft skripsi yang bahkan belum ku-scroll ke bawah. Yah, semoga aku ada kehendak dan tindakan buat garap lagi. Semoga juga otakku mampu. Semoga juga teman-teman yang sedang berjuang di masa sensitif ini, segera bangkit dan melewatinya. Pait memang, tapi, semangat! Dan karena nggak ada yang menyemangatiku, aku akan menyemangati diriku sendiri. Semangat, Alit!  

WOW, PAS BANGET PLAYLIST HABIS. BERAKHIR DI LANTAS JUICY APA ITU DAH.

Oke deh. Met malem. Bye~


 




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar