Selasa, 12 Mei 2020

SEBAB AKIBAT



Malam. Hari ini hari yang melelahkan. Hmm tidak sepenuhnya sih. Separuh hari lebih tepatnya.
Siang tadi, aku merencanakan mengunjungi beberapa tempat dengan seorang teman. Kondisi dunia sedang tidak baik memang, tapi tempat yang kami kunjungi itu semoga aman. Dan keperluan ini mendesak. Kepentingan banyak orang. Sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan.

Singkat cerita, aku dapat masalah setelah menemui seseorang. Ingin rasanya pingsan di tempat. Kebingungan dan merasa bodoh. Sendirian. Hampir-hampir aku menangis di depan temanku yang menunggu di luar. Sangat malu.
Lalu kami melakukan beberapa hal lain. Pikirku, itu bisa mengurangi rasa sedih karena masalah sebelumnya. Namun, tidak. Aku masih saja kepikiran. Melakukan segala hal dengan bodoh. Menjadi linglung dan terus lunglai. Tertawa dan menangis. Tenaga terkuras habis. Lelah terus mengumpat dan sambat. Pikiranku kacau. Tak ada yang bisa diajak bicara mengenai penyelesaian tentang apa yang baru kualami itu.

Sore menjelang kami pulang. Sebenarnya ada satu hal lain yang belum kami berdua lakukan, tapi karena keadaan tidak memungkinkan lagi, kami melewati poin itu. Dengan sedikit bercanda, kami saling mempengaruhi untuk membatalkan puasa. Iya, membatalkan puasa. Kami biasa menyebut mokel.

Setelah wara wiri, dua jam sebelum waktu berbuka, seteguk minuman manis masuk mulut. Di kosku, kami mengobrol tentang apa yang baru saja terjadi dan beberapa hal lain. Rasa bersalah karena mokel dan obrolan seputar agama lainnya. Temanku itu mengaku beberapa hal. Salah satunya tentang keinginannya untuk mokel. Tapi, selama bulan puasa ini dia tinggal bersama orangtuanya sehingga susah bagi dirinya untuk menjadi nakal.

Obrolan berlanjut. Tentang teman, pertemanan, pasangan sampai masa depan. Sampai di titik itu aku sedikit lupa dengan masalah tadi. Serius. Mungkin tiga puluh menit. Haha selanjutnya kepikiran lagi. Temanku itu pamit pulang saat waktu berbuka hampir tiba. Baiklah. Aku juga sudah sangat lelah. Mengantuk dan sangat lelah. Otak dan badan.

Setelah kepergian orang itu, dugaanku benar. Aku kembali uring-uringan dengan diri sendiri. Melakukan beberapa hal di sosmed yang serba menakutkan. Bahkan, aku tidak berani sekedar sambat di Twiter seperti biasanya. Menulis di blog ini pun hampir-hampir tak kusebut apa masalahku kan? Iya, aku takut sekali. Dunia maya sangat menakutkan.

Sebelum maghrib tiba, aku memutuskan untuk memasak nasi. Magic com kecilku mengeluarkan suara "cetek" tepat saat adzan maghib berkumandang. Ah, aku sudah tidak puasa. Berat, aku bangun solat kilat dan tidur. Menyedihkan. Kemarinku tidak seperti ini padahal. Janjiku pada diri sendiri untuk konsisten terlukai lagi.

Sekitar setengah delapan aku bangun. Berencana makan dan melakukan hal-hal yang sempat tertunda tadi. Tapi, rasanya nasi sangat susah masuk mulut. Entah, sepertinya nasi terakhir yang masuk ke mulut ya ketika masih di rumah. Aku menyerah dengan nasi dan kembali ke ranjang. Istirahat lagi. Tapi, suara-suara bising dari kipas angin, nyamuk dan entah apa lagi sedikit menggangu. Sedikit mengejutkan ketika asingitu bersumber dari centong di atas magic com yang bergerak-gerak. Oh, Tuhan. Bergerak? Apalagi ini?

Aku megeceknya. Melihat apa ada yang salah. Dan tak ada yang aneh. Tak ada hewan seperti dugaanku. Aku kembali ke tempat tidur dan centong itu bergerak-gerak lagi. Oh Tuhan. Maaf. Iman saya lemah hari ini. Aku cek dan ya tidak ada apa-apa.

takut aku menghubungi beberapa teman. Sedikit bercerita tentang apa yang kualami. Aku masuk ke ruang obrolan Discord, berharap teman-teman masuk dan mencairkan suasana. Tidak lama berselang ada salah satu teman yang menghubungi lewat grup video call. Akhirnya suasana benar-benar cair. Bahkan, saat salah satu teman indihome membalas pesanku dengan sedikit menakuti, aku mencoba tidak takut. Aku juga telah lupa dengan sesal siang tadi. Jadi centong yang bergoyang bukan masalah. Tapi, saat satu per satu teman bergabung, obrolan mereka menjurus ke hal-hal mistis dan horor. Ah, dasar! Aku langsung keluar. Kembali mengobrol dengan teman lainnya di Discord.

Malam semakin larut dan aku belum menulis hari ini. Akhirnya kami menyudahi obrolan. Tapi, saat tengah menulis, iya barusan ini, perasaanku tidak enak. Aku memutuskan masuk Discord lagi. Memutar musik sambil berharap ada teman yang masih terjaga. Namun sial, koneksi yang dari tadi lancar jadi buruk. Lagu yang muncul tersendat-sendat. Bahkan saat ini, detik ini, lagunya terhenti. Tidak ada koneksi. Ahhhhhh.

Aku mencoba menghubungi ibu, bercerita tentang apa yang kualaim ini. Beliau memberi pikiran postif. Ya, semoga itu benar-benar cicak yang bersembunyi seperti apa yang dibilang ibu. Dan semoga malam ini terlewati dengan baik-baik saja.

12 Mei 2020

Ah, bener kan. Wifiku eror. Tinggal beberapa menit ganti hari. Aishhhh!!


Senin, 11 Mei 2020

Kos dan "Jancok"


Selamat malam~

Pernah tahu atau dengar 'jancok'? Harusnya sih iya. Kayaknya jancok sudah sangat populer di banyak kalangan. Dulu, buatku itu kata yang, aww, nggak deh. Fyi, aku mencatat baru 3 kali misuh atau berbicara kotor selama sebelum kuliah--awal kuliah juga engga sih.

Nah, dulu pertama kali masuk ke kos yang aku tempati sekarang, tulisan jancok menyambut kedatanganku dan bapak di pintu kulkas ruang tengah. Eng, agak sedikit nggak suka. Lebih tepatnya, takut. Orang-orang macam apa yang tinggal di sini? Dan waktu itu, bapak sudah srek dengan kosnya. Sepertinya beliau tidak menyadari ada kertas bertuliskan kata-kata itu. Aku lupa kalimat apa tepatnya, yang jelas umpatan itu muncul dengan himbauan utuk jangan mengambil makanan yang bukan milik.

Karena kata-kata itu, awal masuk kuliah aku tidak berani menaruh apapun di kulkas. Tidak juga mendekat ke ruang tengah untuk sekedar menonton TV. Teman-teman kos yang sudah di tahun akhir kuliah, sangat menakutkan. Mereka berlima teman sedari SMA, semacam squad gitu. Aku pernah sangat sebal ke mereka. Selain karena obrolan atau kegaduhan yang mengganggu, mereka suka menggunakan sabun-sabun dan barangku tanpa permisi. Apalagi, makenya keterlaluan. Pernah ya, penwangi pakaianku dipake tanpa ijin. Nah, pas aku lihat bekas makenya, itu satu timba penuh air masih warna biru. Tuhan, bisa-bisanya ya mbak-mbak gitu?

Hari-hari selanjutnya masih sama. Sabun cuci piring yang kutaruh botol selalunya hilang. Ya emang sebagian dipake temen-temen juga, tapi yang kumaksud hilang itu, hilang barangnya. Botolnya sekalian gitu. Belum lagi masalah perkakas yang dipake seenaknya. Teflon yang sampe gores dan lain-lain. Apalagi kalo habis make nggak dibersihkan, padahal pernah loh salah satu dari mereka ngasih tahu ke aku kalo habis make barang orang dibersihkan. Ahzzz. Dan yang paling epic sih hilangnya baju, sendal, perkakas masak dan barang-barang yang di luar kamar.

Lama-lama aku geram. Suatu hari kutulis peringatan di tempat cuci piring untuk memakai sabun secukupnya. Lalu, besoknya mbak-mbak saling tanya. Aku nggak ngaku karena ya mereka nggak tanya langsung ke aku. Kayaknya mereka juga nggak serta merta nuduh aku kok. Ada semacam 'respect' yang mereka beri ketika ketemu aku secara langsung. Saat itu sudah ada beberapa penghuni baru selain aku.

Satu per satu mbak-mbak kos lulus. Salah satu pindah dan hanya tersisa satu orang. Tapi, hal-hal buruk yang seperti kubilang sebelumnya masih terus terjadi. Padahal, aku tahu betul mbak yang tersisa itu nggak melakukannya. Dia jarang di kos. Sekalinya berkegiatan di kos juga pake barangnya sendiri. Jadi, apa mungkin mbak-mbak yang udah lulus pelakunya?

Beberapa waktu yang lalu, saat kos sudah sepi karena kondisi bumi yang sedang sakit, salah satu teman kos--iya kali ini beneran teman, mengeluh kehilangan ayam. Sebenarnya dia sering kehilangan makanan atau bahan masakan di kulkas. Aku sendiri, meski tulisan 'jancok' sudah tidak ada masih jarang menyimpan sesuatu di sana. Ya, untuk mengurangi resiko-resiko itu. Temanku itu curiga dengan bapak yang bersih-bersih. Itu karena saat ayamnya hilang, dia sedang sendirian di kos dan sebelum bapak itu datang, ayamnya masih utuh. Karena tidak mau ikut menuduh, aku tidak langsung membenarkan itu.

Sampai akhirnya hari ini. Aku mendapati sabun-sabun hilang. Bahkan rupa sabun mandi batangan yang aku ingat betul baru ambil yang baru sebelum  meninggalkan kos raib. Sabun cuci-cuci juga nggak ada sekalian botolnya. Salahku sih nggak mengamankannya dulu. Juga, botol sampo yang udah kosong. Apa-apaan sih kok pada ilang semua? Nggak ada orang di kos. Dan meski ada, aku satu-satunya yang menggunakan kamar mandi itu. Kamar lainnya punya kamar mandi dalam, sedang kamar sebelahku yang nggak berkamar mandi dalam sedang kosong. Jadi, pikiranku menjurus ke bapak-bapak itu.

Ah, jahat. Tapi aku hanya berpikir saja. Jangan-jangan dan jangan-jangan terus muncul di pikiran. Hmm, mungkin saja himbauan 'jancok' kala itu nggak ditujukan ke penghuni baru melainkan ke bapak itu. Ya gimana ya, saat aku masuk aku satu-satunya penghuni baru. Lainnya sudah pada deket itu. Masa iya buat 'squad'nya sendiri? Baju, panci, sabun-sabun di botol, apa ulah bapaknya? Entah dibuang, entah dipakai, apapun itu sangat merugikan orang lain.

Ah, jancok. Kos sangat sepi hari ini. Suara hujan yang menyebalkan di sore tadi sedikit membuat takut. Terakhir kali di kos, saat itu hujan lebat juga. Lampu mati-matian. Petir dan kilat bersahutan. Untung ada adik keponakan yang menemani. Aku tidak bisa membayangkan jika waktu itu sendiri. Ya seperti sekarang ini. Sendiri. Untungnya, senyapnya malam kali ini tidak semenakutkan sore tadi. Meski beberapa lampu luar yang biasanya otomatis menyala di malam hari tidak hidup, tapi paling tidak tidak ada hujan atau hal-hal yang mengganggu lain.

Tahulah, apa maksudku. Jadi ya begitu, iya  semacam itu. Tapi, aku yakin kosku aman saja. Hal-hal yang mengganjal tidak perlu kuceritakan dan mungkin memang tidak ada. Ah, anjir jadi kepikiran yawloh. Duh, kah hiks~

Aku dulu tidak sepenakut ini astaga. Dulu, awal tinggal, mbak-mbak belum di kos karena memang belum waktunya. Aku yang harus ospek dan mengurus berbagai tetek mbengek sudah stay duluan. Sendiri dan beradaptasi dengan keheningan dan kesepian. Melawan ketakutan tanpa merasakannya. Ah, saat itu saat semangat menuntut ilmu sedang menggebu.

Ya sudah, sudah cukupin saja dulu kisah kali ini. Lagi-lagi, sebentar lagi jam 00.00. Batas antara... Antara... Antara... Hari ini dan besok, artinya challenge hari ke 11 ditutup. Sudah ah, semoga malam ini semua baik-baik saja. Bye~


11 05 20
11 46 00

Minggu, 10 Mei 2020

Just About Love 1

Hujan yang menetes bergulir menggantikan peluh yang mulai surut. Ah, payung yang baru ku beli dua hari lalu sengaja ku tinggal pagi tadi. Ku pikir sore ini tak kan hujan tapi ternyata rintiknya telah menyapa bahkan saat seharusnya matahari masih tinggi.

Kosku masih setengah perjalanan dan apa yang terjadi nanti jika baju yang kukenakan ini sampai basah? Pasalnya, gara-gara musim hujan yang jatuh tidak pada waktunya, hampir seluruh pakaianku masih menggantung di jemuran. Sedangkan nanti malam aku masih memiliki satu kelas--kelas pengganti.

"Kamu nggak bawa payung?" Tanya temanku yang sedari tadi berjalan beriringan denganku. "Sudah kuduga! Kamu kan selalu begitu, tak pernah sedia payung sebelum hujan." Cecarnya saat melihat ekspresi gamangku. Dan yah, yang dimaksud temanku dengan 'sedia payung sebelum hujan' tentu bukan denotasi karena dimatanyaaku selau menjadi teman yang ceroboh, pelupa dan segala kekurangan lainnya. "Sini." Lanjutnya sambil mengeluarkan payung navy bermotif kotak-kotak serupa dengan milikku di kos. Yah, payung yang kami beli beberapa waktu lalu.

"Nggak muat Mala, bajuku bakal tetep basah." Rengekku dengan wajah penuh sesal. Dia juga tahu jika ini pakaian terakhirku yang kering--selain beberapa potong kaos oblong dan celana training yang tak mungkin kupakai kuliah. Setelah payung lipat itu terbuka sempurna, dengan cepat aku menyambar gagang dan merapatkan diri.

"Mangkanya, badan dikondisikan!" ledeknya sambil menowel lengan gembulku. Uh, sebal, tapi tak apa. Dia hanya bercanda. Lagipula bagaimana aku sakit hati diejek seperti itu jika badannya saja tak jauh beda denganku.

Akhirnya seperti yang aku bayangkan, bahu kiriku basah dan, oh, Mala lebih basah. Bisa-bisanya dia sedari tadi bilang jika dia baik-baik saja tapi ternyata kondisinya lebih parah dariku.

"Handuk, Me." Pintanya saat pintu kamarku terbuka. Segera aku meninggalkan dia dan naik menuju lantai tiga--tempat jemuran--untuk mengambil handuk yang biasa tersampir di sisi anak tangga. Dan, oh... aku lupa....

"Mala...." aku kembali ke kamar dengan tangan hampa. "Aku lupa tadi handukku ku jemur di atas."

Mala yang sedang menggigil duduk di lantai menatapku dengan sesal dan sejurus kemudian kilatan meremehkannya muncul.

***
Halo, hari ini tidak bisa bikin tulisan baru. Jadi, coba nyari draf tulisan lama dan nemu itu. Tulisan khusus yang kubikin buat seorang teman. Ya, rencana lama bikin cerita based on true story gitu. Hehe. Tapi, nggak tahu sampe sekarang dia sudah baca apa belum. Mungkin kalo dipost lagi, mungkin, dia baca. Sudah dan sekian. Dadah~

Sabtu, 09 Mei 2020

The World of The Married #01


Hahaha, hancam jinaseo alias after a long time, akhirnya aku bisa nonton drama Korean lagi. Hahaha~

Yuk, ngebahas drama yang lagi trending. Nggak biasanya sih aku nonton drama yang lagi anget begini. Istilahnya, on going. Apalagi dengan genre yang nggak aku banget. Nggak ada yang bikin aku tertarik ke drama ini kecuali euforianya.

Mulai dari poster sampe spoiler scene nggak ada yang bikin tertarik sama sekali. Tapi, itu drama bisa nyaingin Sky Castle yang sama-sama ditayangkan JTBC, stasiun TV Korea yang belum genap satu dekade mengudara. Beberapa drama di JTBC emang bergenre serupa, dan itu yang bikin aku engga tertarik. Masalah keluarga, rumah tangga, atau perselingkuhan yang itu jadi masalah utama. Seperti membosankan. Itu mungkin salah satu alasanku sampai sekarang belum nonton Sky Castle atau drama semacamnya. Berat cuy!

Tapi, nggak semua drama JTBC kayak gitu. Aku menamatkan Chocolate, cuma semalam kok. Ya emang, kisah cinta orang-orang dewasa juga, tapi paling nggak di drama itu ada aktor yang kusuka. Ada juga Flowers Crew: Joseon Marriage Agency yang penuh sama para Hyung ganteng wkwk. Ceritanya juga seru. Ada lagi Do Bong Soon, drama romance comedy sekaligus fantasi. Kayaknya ini drama tontonan terakhirku di notebook deh. Jangan lupa Waikiki 1 dan Waikiki 2. Dahlah, ketawa ngakak--dan bikin baper, at least buat aku. Lainnya, ada Be Melodramatic, The Beauty Inside, atau Clean it With Passion for Now yang kuyakin juga bagus. Sayang belum selesai nonton--tidak dalam mood untuk menonton drama itu.

Balik lagi ke World of The Married. Lima belas menit pertama seperti dugaanku, membosankan. Aku asing sama aktor-aktor di drama itu. Serius, entah main lead atau second lead, semua asing--nggak biasanya begitu. Alur yang dibawa lama banget--kayak Chocolate. Tapi, akting mereka mantap sih. Jadi bertahan gitu meski udah nggak selera. Lalu, sampailah di setengah jam pertama.

Wah, Dokter Ji Sun Wo overthinking ya, pikirku. Anxiety juga. Ah, suaminya yang bangsat atau cara komunikasi mereka yang kurang tepat?

Lalu menyimak dan menyimak lagi. Menunggu. Mana lagi ya yang keren. Ah, mana?

Sampe satu jam berlalu. 

Ealah aku belum nulis buat challenge Bang Wiro. Kok belum kelar juga sih. 

Tapi, saat menunggu-nunggu itu yang sebenarnya bikin menarik. Ya, ikut deg-degan gitu. Nunggu plot twist. Padahal, aslinya udah tahu bakal ada perselingkuhan kan. Cuma ya how to tell-nya yang bikin penasaran. Kayak, iya tahu habis adegan ini bakal ini, habis dialog ini bakal dialog ini, tapi entah kayak harus gitu ada plot twist.

Dan ya, bener aja. Setelah diayun-ayunkan ini pikiran, endingnya bikin kaget. Wtf, dude! Hey hooo! That's Korean drama. Nggak terkejut banget sih, cuma ya karena ekspektasi di awal yang udah underrate ke drama semacam itu, jadi, weh, emang drakor nggak pernah mengecawakan.

Episode satu selesai dengan aktor-aktor yang masih tidak familiar. Hmm, ada sih sebenernya. Cuma satu, ibunya si pelakor. Itu pun nggak inget--males nginget--di drama apa soalnya banyak. Sepanjang nonton, aku keinget drama Cunning Single Lady. Bercerita tentang rumah tangga juga, cerai. Tapi itu kayak kebalikan dari drama The World of The Married, sejauh episode satu. Salah paham di rumah tangga mereka udah di taraf, ini serius ceritanya begini? Bikin nangis. Ya, meski endingnya mereka bersatu lagi, tapi melewati masalah rumah tangga dan bertemu lagi sebagai orang asing lalu jatuh cinta lagi, ah rumit. 

The World of The Married lebih sederhana deh plotnya. Tapi, pake twist yang bikin, aww aww banget. Emang gitu ya, mau kayak gimana pun tetep penggarapan yang matang dari tim produksi mendukung banget. Setahuku, seorang penulis cerita--khususnya naskah drama--punya tim sendiri yang terdiri dari penulis-penulis. Nggak heran sih, pasti tiap adegan, tiap detail, dialog, pasti banyak pertimbangan.

Seperti ritual nonton drakor biasa, selanjutnya aku search asianwiki buat memastikan kalau aku asing dengan para aktor karena emang nggak pernah nonton dramanya, bukan karena lupa. Dan bener aja. Kim Hee Ae, alias Dokter Ji Sun Wo, meski dia banyak jadi tokoh utama, aku belum pernah sekalipun nonton dramanya. Kebanyakan genre keluarga gitu. Ada satu yang bikin aku tertarik, drama dia dengan Yoo Ah In. Drama tahun 2014. Beda usia mereka 20 tahunan. Yoo Ah In :(

Main Lead cowonya, Park Hae Joon alias Lee Tae Oh, juga asing. Bahkan aku nggak nemu drama yang dia jadi main lead selain The World of The Married ini. Satu drama yang kutahu, Doctor Stranger, di sana aku coba inget-inget saja nggak ketemu jadi tokoh siapa.

Untuk si pelakor dan lain-lain, aku belum klik-klik nama mereka. Mau cari tahu lebih detail nanti malah kebelinger. Asianwiki toxic sih. 

Udah gitu dulu cerita kali ini. Selain karena bentar lagi jam 00.00 waktu paling lambat kirim link, di Viu tadi episode selanjutnya kudu premium. Jadi, habis ini mau nyari alternatif lain deh. Hehe. Sampai ketemu besok, dadah~

Sabtu, 9 Mei 2020

Oh, malam Minggu ya.

Jumat, 08 Mei 2020

Tentang Love Korean


Ada yang tahu 'Love Korean'? Ada yang pernah baca? Ada yang lagi baca? Ada yang nunggu update-annya?

Haha gak jelas banget aku. 

Gini, cerita itu aku buat bertahun-tahun yang lalu saat laptop masih bau toko. Konsepnyas  ada cewek bernama Marissa Agatha yang 'suka' Korea dan hal itu mempengaruhi kesehariannya. Ia bercita-cita menjadi bagian dari dunia pertelevisian atau semacamnya. Fyi, aku demen banget sama nama dia karena bagus gitu, apalagi tercetus begitu saja dari otak polosku saat itu.
Nah, namanya general fiction pasti ada cinta-cintaannya, kan? Apalagi dari otak minim anak SMA.

Ketemu deh si Mari dengan kawan masa kecilnya yang dulu menghilang secara tiba-tiba. Alfa Fradenny, panggilannya Denny. Cukup dari situ konsep aku saat itu. Pokoknya sisi Korea harus mendominasi, pikirku saat itu.

Beberapa waktu berlalu aku lupa jika punya draf sepenting itu dan malah menggarap cerita lain--yang sampai sekarang belum pernah aku post dimana-mana tapi nama tokohnya udah aku jadiin akun di beberapa sosmed 'bayangan'ku. Akhir SMA aku menengok lagi Love Korean dan selama aku ditahun-tahun penantian--SBMPTN--aku mencoba telaten menggarap Love Korean.

Suatu waktu aku kenal Wattpad. Saat aku sudah punya akses ke media itu, dan setelah memperhitungkan konsekuensi yang mungkin akan kuterima, aku memutuskan memublikasikannya. Respon? Sabar dan usahalah intinya.

Aku buat banyak akun sosmed agar bisa share dan promo Love Korean, termasuk Instagram. Iseng saat itu aku ketik nama Marissa Agatha, dan ada. Lama setelah aku mengikuti dia, aku tahu Mbak Cantik itu--entah kerja atau kuliah--punya dunia yang sama dengan Marissa-ku: broadcast. Oke, sangat kebetulan.

Itu dulu saat aku baru mengenal dunia sosmed yang lebih luas. Suatu hari, saat aku masih menjadi follower dia, dan sesuatu mengagetkan terjadi lagi. Saat aku melihat postingannya dengan seorang pria, tag yang menandainya tertera dengan nama 'Denny'! What? Kebetulan lagi.
Aku memastikan dengan mengecek akun Mbak Marissa dan benar, nama 'Denny' tertulis di bio-nya juga. Wah, sesuatu yang sangat 'kebetulan' terjadi di ceritaku.

Well, Love Korean ngadat. Yah, seperti yang dulu-dulu, ya karena cerita baru. Juga waktu dan berbagai kegiatan rancu. Tapi yang lebih nyesek adalah karena peminat di Wattpad sedikit dan aku sendiri pengen Love Korean merenung lebih dalam agar muncul dengan sesuatu yang keren.

Teruntuk Mbak Marissa yang asli, suwer Mbak aku gak ada niatan untuk nyama-nyamain ceritaku sama kehidupan pribadi Mbak. Saat itu aku terlanjur jatuh hati sama nama itu dan iseng search. Nama lengkap mbaknya dan masnya juga nggak sama kok kayak nama tokoh fiksiku. Saya bukan penguntit loh, cuma penasaran aja.

Sekarang? Akunnya hilang. Entah aku diblok atau emang dia hapus akun tidak tahu--kalo tahu pun mungkin nggak akan aku jelasin juga akunnya yang mana, privasi hehe. Terakhir aku inget nama @-nya itu ganti kok. Oh ya, aku juga pernah nge-DM mbaknya untuk bilang jika sedang menulis novel yang 'kebetulan' sama dengan profil dia. Respon dari mbaknya sih santai. Welcome orangnya. Yah, meski waktu itu aku bilang ceritanya belum kelar--sampe sekarang, dia kayak ngasih semangat gitu.

Ya jadi begitu. Cerita tentang calon novel pertama yang kubuat sejak zaman SMA sampe sekarang 'harusnya' sudah lulus kuliah masih belum kelar. Padahal saat baru beberapa bab ku pos di Wattpad, ada penerbit online yang nawarin bantu nerbitin. Aku kenal udah lama sama akun-akun anon mereka di FB lewat grup kepenulisan, tapi baru ngeh kalo mereka itu sebuah kesatuan di publisher itu. Untuk abal-abal atau enggak, kurang paham. Tapi, grup kepenulisan itu hilang. Akun mereka nggak lagi update. Kangen aja sih ngobrol lewat kolom komen sama mereka.

Honestly, aku belajar banyak lewat grup itu. Di masa transisi dari dunia sekolahan ke dunia kerja yang keras, aku butuh pelampiasan untuk tetap menyalakan mimpi. Dari grup itu, aku dapat kenalan banyak orang. Ada dosen, ada anak kuliahan, ada anak sekolahan, orang-orang yang pekerja pada umumnya, teman-teman spesial berkebutuhan khusus yang rajin bikin karya dan segala macemnya. Tiap minggu, ada jadwal-jadwal tertentu untuk Senin sampai Jumat. Seru pokoknya. Sayang aku tidak pandai merawat hubungan. Jadi dari sekian banyak kenalan, hanya beberapa yang bertahan sampai sekarang. Lainnya masih berteman di Facebook. Aku memilih tidak terlibat dengan mereka. Ya beberapa ada yang karena mereka punya ketertarikan yang berbeda, beberapa yang lain karena sudah jadi penulis terkenal. Hehe, iya. Sampe temen kuliah ada yang heran kok bisa temenan sama dia di FB. Wkwk ya itu dulu anjir. Sekarang ga peduli dan cuma lewat-lewat TL doang.

Itu aja sih cerita tentang Love Korean. Kalo Beauty and The Beast kemarin aku share link Dreame, Love Korean enggak. Belum atau enggak bakal aku masukan ke sana hehe. Ahz kapan-kapan nulis tentang aplikasi itu yak. 

Kalo tertarik baca, coba cek Wattpad aku @Aramolla. Enggak, enggak bermaksud promo cuma nawarin aja serius. Sayang kalo nggak ada yang baca. Belum kelar sih. Tapi kalo ada yang minat bisa sih segera diselesaiin. Toh, di draf udah nambah beberapa bab. Cuma ya kayaknya yang awal-awal banyak revisi. Dulu awam banget sama teknis menulis. Aku lupa yang di Wattpad sudah diperbaiki atau belum typo jeleknya, yang jelas aku sudah notice hal itu kok. Dahlah gitu aja. Tanggal 8 Mei, alias hari ke delapan challenge Bang Wiro tinggal beberapa menit lagi. Dadah~

8 Mei 2020

Kamis, 07 Mei 2020

Puisi: Satu, Yang Tak Berjudul

Hai! Untuk pertama kalinya, aku persembahkan puisi di deret kisah-kisah abstrak ini.




Yang Tak Berjudul


Aku menyalahkan dunia, tentang bagaimana bapak pergi untuk selamanya.



Yellow_Orange

Rabu, 06 Mei 2020

Mencoba Ikut Tarawih Lagi



Halo, apa kabar? 

Malam ini, (iya malam, malam banget sudah) aku ikut solat tarawih. Hm, bukannya mengabaikan anjuran pemerintah sih, aku paham betul gimana kemungkinan efek atau dampak ketika kemungkinan terburuk dari pandemi Covid-19 ini terjadi, tapi aku sedang ingin. Toh, nggak ada sentuhan fisik sama orang lain. Musala juga diberi jarak tiap oang. Aku tetap waspada kok.

Sebenernya, aku santai aja enggak ke musala. Toh, banyak tugas dan hampir setiap hari ada kuliah online yang malam. Belum lagi mata yang lengket serta perut yang kenyang, membuat kata malas teralibi dengan physical distancing. Tapi, semalam saat nggak sengaja papasan sama kerabat yang baru balik dari masjid, beliau tanya kok nggak pernah kelihatan. Aku jawab lagi banyak tugas, jadi ga main ke rumahnya. Mbak itu bilang, maksudnya kok nggak ke musala. Aku cuma jawab dengan hehe. Nggak mau nyebut physical distancing lagi, toh mbak itu juga sama-sama tahu. Nanti malah dikira sok. Padahal ya emang masyarakat sekarang pada agak longgar sama intensitas menjaga diri. Aku sih contohnya, nah itu buktinya ke musala.

Sebenarnya rindu banget sama Ramadan. Tarawih dan tadarus, dua hal rutin yang nggak tahu kenapa seakan wajib. Padahal kalo kupikir, rukun Islam kan hanya lima, dan itu tidak termasuk. Ah, gamau banyak-banyak bahas agama. Takut. Ya mungkin aku dulu sangat rajin dan sekarang malas. Gitu aja, sederhananya.

Lalu, sekarang? Kenapa engga? Gara-gara corona?
Iya, corona. Kalo nggak ada pun aku punya seribu alasan untuk malas. Ah, buruk. But, people changes. Losing someone changes me a lot. I don't know how, but it's true. Apalagi, mataku yang minus ini. Iya engga parah. Tapi, aku belum benerin kacamatanya. Jadi, mau gabung darus malas. Wong baca sendiri suka keliru kalo pas ketemu bacaan yang asing. Terus bacanya juga mepet-mepet gitu lihatnya. Dan lagi di musala lampunya redup. Rada insecure juga sih sama anak-anak paud yang udah jago baca Quran.

Untuk hari ini, aku sudah berniat tarawih. Kalo tugas menulis aksara Sansekerta itu selesai aku tarawih. Dan ya, aku berangkat. Sampai musala, tidak sampai sepuluh orang jamaah perempuan di dalam. Menyusut hampir 50 persen dari terakhir aku ikut jamaah tarawih, seminggu yang lalu mungkin. Aku mengambil saf nomer tiga paling pinggir. Sebelahku hanya ada satu orang. Tetangga sekaligus kerabat. Canggung, beliau memulai obrolan.

"Libur berapa hari Mbak Alit?" tanyanya. 
"Bulanan, Budhe." Jawabku singkat.
"Libur, nggak solat yo?"
"Ha?" sesaat kemudian, aku baru ngeh kalo beliau mempertanyakan absennya aku saat tarawih. 

Selanjutnya aku menjelaskan dengan dengan bahasa krama yang awur-awuran karena malu dan bingung. Elah, aku jelasin tentang jadwal kuliah yang tetep kayak biasanya juga nggak peduli. Mau bilang physical distancing apalagi. Apa harus aku jawab malas? Haha itu hanya satu dari sekian orang yang suka mengabsen prihal ibadah orang lain. Padahal, budhe itu biasanya tidak begitu. Sepertinya tadi cuma iseng nanya, aku aja yang baper kali. Lainnya Budhe itu, masih banyak orang-orang yg julid asli. Untung karena physical distancing ini persebaran mereka tidak mendominasi seperti sebelum-sebelumnya.

Sudah ah, jari cape gegara ngetik terus kayak habis pitil roti cok. Apalagi pake hape gini. Mbenggang rasanya. Sampe scroll timeline aja ngilu wkwk.

Rabu, 6 Mei 2020