Selasa, 29 Maret 2022

Tiga Tiga

Part 2

Sepanjang ingatan yang masih tersisa di kepala, kali pertama aku menyaksikan akad nikah, air mata tak hentinya mengalir. Deras dan penuh isak. Aku yang duduk di pojok ruang belakang KUA, merasa sangat-sangat kehilangan. 

Februari 2017. Mataku sembab behari-hari. Peluh keringat berupa ponsel yang kubeli akhir bulan Desember tahun sebelumnya hilang. Ya, aku ceroboh dan sial. Mengantongkannya begitu saja di saku depan ransel biruku. Melanjutkan perjalanan dari warung bakso langganan saat SMP ke rumah teman yang sedang kubonceng, lalu ke rumahku. Di jalan, saat perjalanan ke rumah, aku meraba saku ranselku. Benda berbentuk kotak tipis dan lebar terasa. Ah, dia baik-baik saja. Sampai ketika aku menyadari jika itu adalah flashdisk mini yang... sudah terlambat. 

Aku dan kakak pertamaku yang kebetulan ada di rumah mencari sepanjang jalan yang kulewati. Aku berusaha menelpon, mengirim SMS, menghubungi lewat WhatsApp, Line, BBM, dan sosial media lain yang tertaut di sana. Namun, sampai petang datang, hasilnya nihil. Keponakanku yang mahfum denan dunia ponsel--dan yang mengantarku membeli ponsel itu, mengatakan jika lokasi terakhir ponsel itu ada di warung bakso tadi. Sial, saat aku ke sana untuk kedua kalinya orang-orang di sana tak ada yang mengaku. Firasatku berkata jika ponsel itu jatuh saat aku memasukkan ponsel ke saku ransel tanpa melepaskannya dari punggung. Sial. Aku juga merutuki kemalasanku pergi ke rumah keponakanku untuk mensetting pola sandi dan segala macam hal yang berhubungan dengan keamanan ponsel. Sial sial. 

Aku menangisinya selama berhari-hari. Menyalahkan kakakku yang menyarankan untuk membeli ponsel mahal itu. Pada tahun itu, harga ponsel itu memang tak lebih mahal dari tipe dan merk lain. Namun, itu hampir setara gaji tiga bulanku. Tujuan utamaku bekerja. Ponsel. Punya smartphone pribadi untuk menunjang wawasan serta jangkauanku ke dunia luar, terutama menulis. Dan yang lebih parah, aku sudah membayangkan mendokumentasi seluruh rangkaian acara pernikahan kakak yang digelar kecil-kecilan. Bayangan itu, hilang seketika. 

Bapak hanya membuka tutup pintu kamar, menenangkanku dengan berbagai kata manisnya yang tetap saja membuatku tak bisa berhenti berkabung. Ikhlas? Nggak bisa! Di sana, sedikit kenangan yang kami buat dua bulan terakhir tersimpan. Tulisan-tulisan pendek dan berbegai draft cerita yang kutulis saat istirahat bekerja terkubur di sana. Aku hampir-hampir gila. 

"Nduk, kalau kamu nangis terus Bapak yang sedih. Kenapa? Karena Bapak kasihan melihat kamu kerja keras buat beli hape terus hilang. Andai hape itu dibeli pakai uang Bapak, Bapak enggak sesedih ini. Karena itu payah kamu, bapak semakin sedih ngelihat kamu galau terus-terusan." 

Kalimat itu, tentu saja disampaikan bapak dengan bahasa Jawa. Suara menggelegarnya, bernada rendah semua. Dia tak mendekat ke diriku yang meringkuk di kasur. Hanya menatap dari balik pintu merah muda yang kululis bunga di sisi dalam. Maaf, Pak. Aku tak mampu menghindar dari rasa kehilangan. Terbelenggu sakit dan penyesalan. 

Keesokan harinya, giliran kakak pertamaku yang angkat bicara. Saat itu, aku sudah beranjak dari kasur ke meja belajar. Menyalakan lampu meja dan membuka notebook yang lama kutinggalkan karena sibuk dengan hape baru. Kutancapkan headphone ke lubang di sisi kanan dan menyetel lagu OST dari playlist. Menahan isak dan tangis yang hanyut pada melodi bahkan tanpa kuketahui artinya. Setidaknya, aku bisa bertatap muka dengan penyebab masalah. Saat kamera menyala, diriku di layar monitor terlihat mengerikan. Rambut acak dengan mata sembab. Saat kutatap mata yang merah itu, aliran air mengalir. Lagu beralih ke melodi lain yang terus menyayat. Sial, bagaimana aku bisa ikut menyanyi kalau sesenggukan begini?

Aku mulai bersuara. Merutuki dia yang sedang menangis di depan kamera. Berceloteh dengan bahasa Inggris campur Indonesia. Tentu aku tak peduli tatanan bahasa yang terucap. Hanya kesedihan yang... shit sakit untuk diingat. Aku berceloteh sambil sesekali mengikuti lirik yang kuhapal di luar kepala. Sial, beberapa lirik lagu yang kuhapal itu, telah kuubah ke bahasa Indonesia. Jadi, kutahu betul apa artinya. Tentang kehilangan. 

Hari demi hari, kulalui di kamar gelap dengan penerangan dari lampu meja saja. Hingga suatu saat, aku lupa mengunci pintu. Kakak pertamaku yang melihatku memegang notebook berkomentar. "Nah itu masih punya laptop. Nggak usah sedih lagi, mainan laptop aja." Aku hanya diam. Tak menjawab hanya memasang wajah dingin. Namun, air mata turun lagi. Aku lelah menangis, tapi kehilangan benar-benar menyengsarakan. 

Aku tak tahu apa yang dilakukan ibuk untuk menenangkanku. Aku tak peduli sekitar. Aku bahkan lupa ada adegan makan di saat-saat berkabung itu. Mungkin, ibuk hanya menyuruh ikhlas. Belum rejeki. Bakal ada gantinya. Cobaan. Mungkin, mungkin saja jika dugaanku tak salah. Hal-hal klise yang justru membuatku semakin marah. Seminggu sebelumnya, aku menemukan ponsel baru yang jauh lebih bagus dari milikku. Aku tak berniat mengambilnya sama sekali. Memanggil orang lain untuk menyaksikan secara bersama-sama jika hape itu sedang disembunyikan oleh si pencuri. Benar, salah seorang yang kehilangan mengklaim jika itu miliknya. Bukannya pamrih, aku hanya kesal dengan pemilik ponsel itu. Setidaknya jika tak bisa bilang terima kasih, jangan berlaku jahat kepadaku. Jadi, apakah kejadian yang menimpaku adalah sebuah cobaan?

"Ya. Ini cobaan." Kata kakak yang baru kulihat batang hidungnya setelah seminggu lebih aku meringkuk di kamar. Saat itu, dia sedang mempersiapkan pernikahannya di rumah calon istrinya. Aku menangis melihat kedatangannya. Ia tak masuk ke kamar dan mengelus kepalaku seperti kakak pertamaku. Hanya berbicara dari dekat pintu. Aku sudah mempersiapkan segala kata-kata kejam untuk membagi rasa sakit akibat ulahnya, karena ia menyarankan membeli yang termahal dari merk itu dulu. "Ini cobaan buat yang nemu hapemu. Kalau dia balikin hape itu, berarti dia bisa melewati cobaannya. Kayak kamu yang nemu hape itu. Kamu ngelewatin cobaan itu." Aku diam. Entah mengapa, orang yang tak pernah bisa serius seperti dia bisa memunculkan kalimat itu. 

Rasanya agak lega. Aku bisa bernapas meski masih ada sedikit sesak. Kembali menggunakan smartphone kakak yang nggak smart-smart amat. Meski masih berharap si penemu mau mengembalikan itu, aku tak berkutat pada nilainya lagi. Sedikit sedih jika ingat salah satu akun Wattpad-ku tertinggal di sana bersama draft-draft di dalamnya. Mencoba menguatkan pundak untuk meneruskan pekerjaan, karena aku harus mengumpukan uang UKT awal kuliah jika lolos SBM nanti. Rencana untuk daftar bimbel hilang. Tak ada waktu, tak ada uang. 

Aku yang duduk di pojok KUA masih menangis. Seluruh keluarga berbahagia. Adik keponakanku tadi, memfoto mempelai dari depan. Keluarga lainnya berduyun-duyun mendekat saat kakakku mulai berikrar. Aku tak minat menyaksikannya. Mendengarnya saja, hatiku sedih. Alibiku, mungkin sekedar tak punya hape yang proper untuk mengabadikan momen itu. Tapi kenyataan jika aku akan kehilangan sosok kakak, semakin dekat. 

Selama dia berpacaran dengan pacarnya itu, aku selalu jadi nomor dua. Kalau hal mendesak lainnya terjadi di keluarga perempuannya itu, aku bakal jadi nomor ke sekian bersama ibuk. Pacar pertama kakakku itu--sekaligus istrinya sekarang, merupakan anak pertama dan punya dua adik perempuan. Adik pertamanya teman SMPku. Dengan riwayat kisah SMP yang tidak menyenagkan, bisa dibayangkan bagaimana kecemburuan yang kurasakan? 

Rasa kehilangan sosok kakak, pendamping, cinta kedua, muncul lewat pernikahan. Saat-saat aku berpikir seperti itu, bapak menenangkan jika aku masih punya beliau. Kakak iparku seorang yatim sejak SD. Ditinggal ibunya kerja di luar negeri dan hanya tinggal bersama nenek yang baru meninggal. Bapak maklum dengan pilihan kakakku. Mau tak mau, aku juga. Saat itu, kakak pertamaku masih di rumah kami. Masih ada yang mengantar jemput kerja kalau aku sif malam dan bapak sedang di luar kota. Kamar kakak, juga dipakai kakak pertamaku. Namun, tetap saja. Kakak pertamaku itu, bukan kakak yang tumbuh bersamaku di sini. Meski aku lebih nyaman jalan-jalan keluar bersama bapak, namun kakakku itu serupa laki-laki yang bisa kuandalkan. Aku tak perlu dekat dengan laki-laki manapun karena aku punya dia. Dan yah... hari itu kebanggaanku pergi.

Panjang ya ceritanya? Hahaha aku tak menduga sepanjang ini. Memang saat berkisah masa lalu, narasi yang muncul selalu panjang. Dan apa hubungannya dengan tiga? Aku rasa tidak ada jika mengacu ke apa yang sudah kutulis. Namun, rencana awalku bukan hanya itu. Tiga. Sepanjang ingatanku tadi, ada tiga akad yang kusaksikan. 

Akad kedua yang kusaksikan berada di rumah, bukan KUA. Mempelai perempuannya kerabatku. Berumur setahun lebih tua--atau lebih, namun aku memanggilnya 'Bik' karena silsilah dalam keluarga kami. Dia seorang yatim sejak balita. Saat bapakku meninggal, dia mencoba menenangkanku dengan membandingkan dirinya dan diriku. Persetan! Aku turut berduka dengan keadaannya. Namun maaf, menandingkan kesengsaraan kami bukan hal yang benar. 

Kesedihanku tak berkurang sedikit pun. Justru tangisku pecah karena turut membanding-bandingkan diriku dan dirinya dalam hati. "Mending kehilangan Bapak saat kecil, saat balita, agar tak ada kenangan yang bisa dikenang." Namun, aku tahu itu salah. Sangat. Aku hanya diam memendam kesal dan sedih yang semakin dalam. 

Saat akad nikah kerabatku itu, tangis pecah di banyak orang, termasuk aku. Aku sendiri sudah berusaha sekuat mungkin menahan lelehan air dari mata. Namun, membayangkan jika diriku kelak sama dengan dirinya, tak ditemani bapak, membuatku tak bisa membendung kesedihan. Benar-benar sesak rasanya. Bikku itu bukan perempuan kalem atau yang dikenal berprilaku bagus. Justru sebaiknya. Sejak kecil dia dilabeli sebaliknya. Banyak orang tak suka dengan tingkahnya. Meski demikian, orang-orang bersimpati.

Peristiwa itu terjadi belum genap dua bulan setelah bapakku meninggal. Saat itu aku tak memikirkan siapa yang akan mendampingiku kelak sebagai wali. Apakah kakak pertamaku, atau kakak yang tinggal dan tumbuh bersamaku sejak kecil? Keduanya dan satu kakak laki-laki lainnya sama-sama anak kandung bapak. Namun, ibu kami berbeda. Ibukku tak sama dengan mereka bertiga. Aku tak tahu dan mencari tahu apakah mereka masih bisa menjadi waliku, dan mana yang lebih utama. Aku tak mampu mengandai saudara laki-laki bapak karena tinggal satu adik laki-lakinya yang masih hidup. 

Ah, aku jadi ingat ada akad lain dari tiga akad yang kuceritakan di sini. Aku tak benar-benar menyaksikan dari awal. Jadi, pantas jika sebelumnya tak terbersit di ingatan. Saat sepupuku menikah, harusnya bapak yang jadi wali karena dia anak tertua. Adiknya, ayah sepupuku itu, meninggal secara mendadak tiga tahun sebelumnya. Saat itu, dia dan aku sama-sama baru lulus SMA. Aku sedang menunggu pengumuman SBMPTN saat bertakziah ke rumahnya, sedangkan dia... berduka. 

Saat pernikahan sepupuku itu, ada kemungkinan bapak sengaja telat agar tak jadi wali. Entah, pikiran koyol yang terlintas begitu saja. Kami bersiap di rumah kakak pertama sejak subuh. Namun, rombongan keluargaku harus antri di satu kamar mandi. Belum lagi perjalanan yang lumayan jauh. Dari Jombang ke Kediri. Sampai di rumah sepupuku itu, adiknya yang masih SMP telah menemani kakaknya sebagai wali. Tangis pecah, namun aku hanya mendengarnya cerita itu dari tempat parkir bersama ketiga kakakku. Aku tidak membayangkan jika ketiga laki-laki itu kelak akan menggantikan posisi bapak. 

Haish, kenapa bercerita tentang itu? Kembali ke akad Bikku tadi. Dia pingsan setelah mempelai prianya berhasil menyuarakan akad. Semua orang berduyun-duyun menopang lalu bubar karena pengantin pindah ke kamarnya. Setengah siuman, ia terisak. Ia rindu bapaknya. Ia ingin bapaknya melihat dia menikah. Ia ingin bapaknya ada di sana. Aku menjauh dari sana. Tak ingin terbelenggu kesedihan yang bagai bom waktu ini. 

Berlanjut ke akad ketiga yang sangat jelas kusaksikan. Berlangsung beberapa hari yang lalu, di kediaman temanku. Rumah yang lebih dari sepuluh tahun tak kukunjungi. Seorang teman dari masa lalu, yang hidup di masa kemarin, dan memanggil di masa sekarang. Kisah lebih lanjutnya, bakal kulanjut di bagian selanjutnya saja ya. Sudah super-super panjang part ini. Sampai jumpa.









Sabtu, 26 Maret 2022

Tiga Tiga

Part 1

Klise jika mengatakan tiga adalah angka yang spesial. Dilihat dari sudut pandang manapun, angka tiga punya ceritanya sendiri, yang sama spesialnya dengan angka lain sehingga tiga tak begitu spesial lagi.

Jika kembali ke masa tanpa beban, tiga telah akrab denganku sebagai peringkat. Ranking. Akrab bukan berarti selalu bersama. Karena itulah, aku tak selalu ranking tiga. Ranking 1 dan dua selalu ditempati orang yang sama, dan angka tiga selalu bervarisai. Aku, Candra, dan Rizka. Karena ini dari sudut pandangku, akan kubilang akulah yang paling banyak menempati ranking tiga.

Tadinya, aku ingin men-skip masa SMP-ku yang rumit karena mencari angka tiga di sana, sama artinya dengan mengingat tiap detail kisahnya. Namun, seberkas ingatan tentang drama Korea siang yg habis di jam tiga sore memberiku sedikit semangat. Setiap jam tiga sore di masa itu, aku bergegas mengerjakan segala kegiatan rumah mumpung Indosiar masih menayangkan berita. Memasang alarm untuk jam setengah lima sore karena di waktu itu drama Korean lain akan tayang. Anehnya, tiap jam tiga sore, tanpa sengaja seseorang yang sangat amat kukenal sekaligus paling kuhindari selalu lewat depan rumah. Masih memakai seragam dan mengendarai motor Vixion hitamnya. Aku tidak ingat kapan tepatnya, tapi jika itu motor Vixion berarti sudah kelas tiga karena dulu saat kami sekelas di kelas dua, motornya belum itu. Dia siapa? Hmm dia alasan kenangan SMP-ku tumbuh menjadi trauma. Dia sesak yang selalu datang meski sekedar menyebut namanya. Aku tak sengaja melihat dia di jam tiga sore itu. Dan keesokan harinya, dia lewat lagi. Kutengok jam di atas pintu masuk rumah. Jam tiga sore! Aku tak bisa bilang dia setiap hari lewat sana, namun ketika sedang ingat, aku sesekali menunggu dia lewat di sekitaran jam tiga. Dan tak sampai lewat lima menit dari dentang jarum di angka tiga tepat, dia lewat.

Di masa SMA kenangan angka tiga sedikit apik--ya setidaknya tak menyakitkan. Saat memegang brass dan masuk section trompet kami diberi nomor diri untuk menandai chart display unjuk gelar. Penjelasan itu cukup panjang, yang jelas saat pelatih menata kami sesuai gambar, dia lebih sering memanggil nomor, alih-alih nama. Hal menyebalkan, adik kelas yang baru beberapa hari gabung dan sudah ditaruh di trompet, selalu memanggilku tiga. Tiap kutegur kalo tidak sopan, dia mengelak jika umurnya lebih tua. Ya memang, tapi itu menyebalkan. Meski aku sering marah, namun itu bukan sesuatu yang serius. Risih, tapi ya sudahlah. Saat itu aku sudah kelas tiga, tak perlulah mempermasalahkan hal seperti itu. Lagi pula, nomor case trompetku kebetulan tiga. Kebetulan sekali!

Angka tiga lainnya akan kulanjut nanti. 

Selasa, 01 Maret 2022

Aku dan Satu Nama

Dia, Orang Sakit.

Pagi ini, selepas mengantar dua bocil berangkat sekolah, aku mencium aroma segar yang sangat familiar. Rasanya menyenangkan. Seperti bernostalgia, tapi aku tak tahu apa yang dikenang. Sepertinya, aroma wangi itu bersumber dari pemotor yang muncul dari jalan setapak di kiri jalan. Jalanan berlumpur dengan batuan menyebalkan yang terhubung ke dusun sebelah.

Pemotor itu sudah berjarak beberapa meter di depanku. Aku tak tahu dia laki-laki atau perempuan karena jaket dan helm yang ia kenakan menjadikanku sulit menebak. Sepertinya dia akan berangkat kerja. Mungkin pekerjaannya berhubungan dengan kerja fisik melihat celana pendek yang dipakai. Ah, iya. Aroma yang tercium tadi berasal dari pabrik roti tempat kerjaku dulu. 

Harusnya aroma roti atau berbagai macam selai yang identik dengan pabrik roti. Bukan parfum dari orang-orang yang tentu beragam dan banyak sekali jumlahnya. Dari seluruh orang-orang di pabrik yang berhubungan denganku, aku tak ingat siapa yang punya parfum serupa si pemotor itu. Namun, ada satu sosok yang mengingatkanku pada atmosfer itu. Laki-laki yang hanya bisa kutemui di siang hari atau saat dia bergeser sif dengan temannya. 

Dia Orang Sakit. Namanya Orang Sakit dalam bahasa Indonesia. Aku tak akan menyebut namanya karena akan terasa aneh. Yang jelas, dulu saat aku mengartikan namanya ke bahasa Indonesia sebagai Orang Sakit, aku akan tertawa sendiri dalam hati. 

Orang Sakit selalu memakai kaos polos berwarna hitam. Celananya juga gelap, tapi aku tak yakin apa itu hitam juga atau tidak. Dia dan orang-orang yang bekerja di bagiannya selalu mengenakan topi. Ya, namanya juga bekerja di pabrik makanan, kehigienisan selalu dijaga (eaa). Jadi, karena mereka tak mengenakan ciput seperti kami, orang-orang dari tim mekanik itu selalu memakai topi. 

Di tiap sif ada dua orang mekanik yang bertugas--seingatku begitu. Mereka membantu para pekerja yang sedang mengalami masalah saat mengoperasikan mesinnya dari bagian forming di depan, sampai packing di belakang. Kadang, aku juga melihat mereka melakukan suatu hal di bagian ekspedisi di bagian belakang luar pabrik. 

Mengingat bayaranku sebagai buruh yang bisa dibilang lebih banyak dari Mas yang kerja di toko pertanian saat itu, aku selalu membayangkan dia bekerja di sana bersamaku, di bagian mekanik. Cocok sekali dengan latar belakang pendidikan Mas. Keuntungan lain selain bisa pulang pergi bersama jika di sif yang sama, aku akan merasa aman bekerja. Dari sekian banyak pekerja yang didominasi perempuan, satu dua orang laki-laki dari tim mekanik dan ekspedisi kadang membuat aku risih, Ya, setidaknyaman itu aku berada di dekat laki-laki dulu. 

Si Orang Sakit ini, agak beda. Ya, sama-sama bikin enggak nyaman sih, tapi setidaknya aku tak menaruh pikiran negatif pada orang itu. Aku melihatnya sejak hari pertama bekerja. Singkat. Saat itu aku yang bekerja mulai jam 8 harus sampai jam 4 sore agar dapat gaji penuh sehari. Dan di siang itu aku bertemu Orang Sakit. Ah, bukan bertemu, melainkan melihat. 

Ia berwajah kecil dan tidak asing. Seperti ramah dan murah senyum. Kadang tidak jelas apa yang sedang disenyuminya. Berbadan lebih kecil dari para mekanik yang lain. Aku memperkirakan umurnya tak jauh beda dariku. Setidaknya, lebih muda dari kakakku. Aku berandai-andai, apakah dia akan cocok jika berteman dengan Mas. Satu hal yang sepertinya sama dari keduanya. Mereka suka senyum alias cengengesan.

Senyum yang selalu terpancar dari wajah Orang Sakit kadang membuat aku sedikit dilema. Dia ini tersenyum kepadaku atas dasar apa? Menyapa? Kami tak cukup akrab untuk itu. Aku baru punya obrolan dengannya saat menjalankan mesin korin sendiri di bulan ke tiga atau empat. Dan senyum aneh itu sudah muncul di kali pertama mata kami bertemu. Saat-saat pergantian sif dari pagi ke siang atau siang ke malam. 

Seperti yang kubilang, dia selalu berada di sif siang yang biasa disebut sif bayangan. Jadwalnya tetap, jam dua siang sampai jam sepuluh malam. Sedangkan aku sif reguler A, seminggu pertama jam 6 pagi sampai jam 2 siang, lalu digilir seminggu selanjutnya jam 10 malam sampai jam 6 pagi. Karena 10 menit sebelum waktu kerja para pekerja harus berbaris dan melafalkan Visi-Misi perusahaan, kami bisa sejenak melihat mereka-mereka yang baru datang atau akan pulang. Di waktu singkat itu, jujur aku kerap curi pandang. 

Iyap, jujur curi pandang. Tapi sebenarnya bukan kepada si Orang Sakit tadi, Bukan juga ke para mekanik lain atau orang-orang ekspedisi karena ekspedisi hanya ada di malam hari. Melainkan ke sesama pekerja yang seragamnya serupa diriku. Hanya beda di warna celemek yang bukan merah muda, malainkan biru. Beda divisi karena hanya dia dan 3 lainnya laki-laki di pabrik ini--selain mekanik dan ekspedisi tentunya. Ah, aku tak bisa terlalu detail karena akan sangat kentara siapa dia. Dan, ini bukan terminnya. 

Saat kegaduhan di kepala semakin santer, aku mencoba menuliskan nama mereka di kolom pencarian Facebook. Awalnya si celemek biru. Nama depan dan belakangnya cenderung feminim, tapi di tengah ada Ahmadnya. Nama yang bagus. Dan entah darimana aku tahu nama lengkapnya. Mungkin dari absensi pagi? Karena divisi kami berbeda tak jarang kami ada di satu sif yang sama. Oh, mungkin dari saran pertemanan karena ada orang-orang yang kami kenal saling bertautan. Untuk si Orang Sakit, aku tak tahu nama lengkapnya. Hanya nama panggilan yang sekaligus jadi nama lengkapnya di Facebook. Dengan mudah aku menemukan akunnya. 

Tentu saja banyak hal mengejutkan yang kuketahui saat melihat profil keduanya dan kemudian menggulir ke bawah. Skip si celemek biru, ingat ini porsi si Orang Sakit. Umur orang sakit itu, jika kuhitung saat itu sudah di atas dua puluh enam tahun Jauh di atas Masku dan tentu sangat jauh di atasku. Ini sangat mengejutkan. Sangat. 

Aku jadi berpikir, apa jangan-jangan ia sudah berkeluarga? Karena di pabrik kebanyakan orang-orang di umur Mas saja sudah menikah. Tapi sependengaranku dari obrolan dan sindiran ibu-ibu di sana, dia satu-satunya mekanik yang masih single. Single? Aku berpikir lagi. Single bukan berarti tidak pernah menikah kan? Dan hey! Jika teringat wajahnya, dia sangat-sangat tidak cocok dengan umur itu. 

Tidak seperti di akun si celemek biru, di akun si Orang Sakit tak banyak kudapatkan hal penting selain foto SMA-nya yang membuatku bisa memperkirakan setidaknya dia berumur dua puluh enam tahun--itu kemungkinan paling muda sih. Dia tak banyak bercuap atau memposting gambar. Akun itu sepertinya juga bukan akun yang terbengkalai. Ya begitulan masalah Facebook. 

Sebelum membeli ponsel di tahun ketiga bekerja, aku tak memakai sosial media selain FB dan Line yang menumpang di akun kakak. Dan orang-orang pabrik kebanyakan bersosial media di FB dan BBM. Saat sudah punya ponsel sendiri, aku menginstall BBM juga. Namun di sana, tak kutemui Orang Sakit. Alih-alih ada celemek biru lain selain si Ahmad. Menyerah, aku tak bakat bersosial baik di media atau di dunia nyata.

Alasanku tertarik dengan kedua orang yang kusebutkan di atas (TERTARIK LOH YA) remeh sekali. Alasannya karena aku kerja di pabrik roti. Itu saja. Lagu Kyuhyun Hope is A Dream That Doesnt Sleep selalu terngingat. Bayang-bayang King Bakery Kim Tak Gu di drama Bread, Love, And Dream, selalu menyemangatiku saat badanku remuk bekerja setiap hari. Jadi, aku selalu berharap mendapatkan sesuatu yang setimpal untuk kerja kerasku selain uang. Di ribuan roti aku memupuk dan menekan mimpiku sekaligus. Aku hanya butuh cinta saat itu. Mimpiku sudah serupa imajinasi yang terus berapi-api. 

Akhirnya? Saat itu aku juga penasaran akhirnya seperti apa. 

Kalau dilihat dari sebelah sini, dari saat ini, jawabannya tentu sudah jelas. Tak ada cinta di sana. Tapi, jika kembali ke saat itu, aku benar-benar penasaran setengah mati. Bahkan, saat aku tiba-tiba berhenti tanpa berpamitan secara langsung ke teman-teman dekatku (kebanyakan ibu-ibu) dengan berbagai alasan, aku masih menduga-duga, apa yang dipikirkan Orang Sakit itu tentangku. Apa dia tertarik atau hanya iseng? Jika kuingat lagi, beberapa kali dia mencoba berinteraksi. Tapi di jam kerja dan aku yang suka sok cuek haha. Saat sudah menjalankan mesin korin sendiri, aku lebih sering memulai interaksi kala mesinku macet. Tapi, jika ada mekanik lain aku memilih memanggil mereka daripada dia. Entahlah. 

Aku keluar dari pabrik saat dipindah ke bagian kiyosi. Bagian tanpa divisi yang kerjanya tak seterikat menjalankan mesin suntik atau mesin korin. Hanya menyeleksi bun roti kering yang layak dan tidak (ini lucu karena aku bukan dari tim roti kering dan hanya menangani roti kering jika roti krimku habis). Pekerjaan yang tidak bisa dilakukan sembarang orang karena butuh ketelitian dan kemampuan tersendiri. Harusnya aku senang karena tak dikejar jerit mesin lagi. Namun, di sana sangat membuatku sedih. Seperti dibuang dan tanpa teman. Memang di sana aku bisa lebih dekat dengan tempat si celemek biru. Si Orang Sakit juga jadi sering muncul dari sela-sela box yang menggunung di atas troli. Tapi, rasanya menyedihkan.

Aku lebih suka bekerja dengan tim. Gila-gilaan menjalankan mesin suntik dengan Mbak Ningrum, Mbak Na, Mbak Asri, Mbak Ririn, Bu Sulis, Bu Yuni dan mbak-mbak suntik di sif lainnya yang tak kuingat semua. Saat Mbak --- (shit, aku lupa namanya dan punya kenangan tidak menyenagkan dengannya), Bu Pah, Bu Warda keteteran menjalankan korin karena roti-roti dari mesin suntik kami sudah menumpuk di bak mereka. Aku suka masa itu. Membayangkan sedang bermain game sambil mempercepat gerak karena loyang-loyang harus sambil ditata menjulang dengan rapi di atas troli yang rodanya harus merah. Ah, derit dan coblosan mesin suntik terdengar. Aroma selai durian yang menyengat mengalahkan roti-roti coklat yang baru matang. Aku rindu. Ini kenapa jadi nostalgia dan lepas dari sosok Orang Sakit sih?

Wah, panjang sekali ya. Sudah hampir satu jam. Tapi, tetap. Akan kulanjut. 

Karena masih penasaran, saat libur semester pertama kuliah aku mendaftar ke pabrik lagi. Kali itu, HRD-nya berganti. Dia tak menanyaiku sedang berkuliah apa tidak. Aku lolos dengan mudah karena sudah berpengalaman. Namun lama kerjaku sebelumnya tak menguntungkan selain tambah kesal. Aku sudah diminta menjalankan mesin korin yang harusnya dapat tunjangan ahli sekitar 10 ribu per harinya. Dan untuk roti coklat, harus ada yang memitilkan (ini pekerjaan pertamaku dan sangat susah). Namun, aku sudah diminta menjalankan mesin korin berisi roti coklat sendiri. Padahal bayaranku kembali ke awal. Tak ada tunjangan ahli, tak ada kenaikan tiap bulan. Menyebalkannya lagi, yang menyuruh-nyuruhku adalah seseorang yang dulunya kuajari cara mengoperasikan mesin-mesin. Yap, mereka sudah naik jabatan. Kalo dulu aku tetap di sana, mungkin aku lebih tinggi dari dia. Tapi, ya sudahlah. 

Saat itu, aku semakin sering meminta Orang Sakit membenahi mesin karena menjadi orang baru artinya berada di sif baru. Tapi, dia seperti orang yang berbeda. Senyumnya masih ada tapi tak seperti sebelumnya. Aku yang sudah tak begitu menutup diri seperti sebelum kuliah tak bisa menerka apa-apa. Dan rasa tertarikku pun seperti tak pernah ada. Aku kembali untuk membuktikan kepada orang-orang jahat jika aku masih hidup dan baik-baik saja. Tapi, orang jahat memang selalu beruntung. Orang-orang yang menjahatiku naik jabatan. Seseorang yang punya hubungan dengan si celemek biru. Dan yeah, si celemek biru tak lagi bercelemek. Dia naik jabatan.

Tak sampai seminggu aku resign. Alasannya lebih kompleks. Tak ada hubungannya dengan orang-orang pabrik atau statusku yang mahasiswa. Tapi, itu alasan jelas yang meski menyedihkan tapi sudah bisa kurelakan. Malam menyesakkan yang diselimuti hujan. Sial, aku rindu bapak.

Oh, ya tentang si Orang Sakit. Nama itu kudapat dari memisalkan namanya sebagai bahasa Inggris lalu diterjemahkn di bahasa Indonesia. Lantas, kalau aku memisalkan namanya sebagai bahasa Korea, aku bisa menerjemahkannya menjadi dua arti. Jika suku kata pertama dan kedua digabung, maka berarti sepuluh ribu. Dan jika suku kata pertama dan kedua dipisah, maka artinya hanya satu. Ah, entah. Suka banget mempersulit diri. Tapi, ya inilah sisi menyenangkannya. Setidaknya, aku menggerakkan jari lagi untuk mengetik--dan kembali menghidupkan perasaan.



 


Sabtu, 19 Februari 2022

Bisakah Kamu Mengukur Cinta?

Sebagai orang yang masih belum paham tentang jatuh cinta, aku pernah mengukur cinta. 

Ah, berlebihan menyebutnya cinta karena itu masih dalam tahap ke cinta, jatuh. Tepatnya dua tahun yang lalu, aku membuat parameter tentang itu. Sekali lagi, ini bukan sebuah cinta. Hanya tolak ukur untuk mengetahui apakah aku benar-benar jatuh cinta atau hanya jatuh saja. 

Parameter itu tak bernama. Hanya sebuah utas tak jelas seperti biasanya. Untaian angka-angka dengan aksara latin menggunakan bahasa Indonesia. Dimulai dari 'satu' karena dengan aku membuat utas itu adalah sebuah usaha jika aku telah menghapus dia. Setidaknya dari jejak digital yang seringnya membuat dadaku sesak sampai meledak. Jika orang itu lewat di pikiran, maka aku akan menulis ia lewat angka.

Saat itu aku mulai meyakinkan diri, jika aku tak sedang jatuh cinta. Hanya ketertarikan sesaat seperti biasanya. Sejak dulu kan begitu. Orang terakhir ditemui, adalah orang yang terberkas. Nah, konsepnya seperti itu. Meski tidak valid karena kami tidak bertemu seintens itu dan dia juga bukan orang terakhir, aku tetap menggunakan teori cacat itu. 

Selanjutnya, setelah angka 'satu' tercatat sebagai dasar, aku kembali ditarik ke kelaman. Magnetnya begitu kuat. Aku ada pada angka 'nol'. Angka yang harusnya netral itu jadi bernilai. Bernilai satu sebagai langkah mundur yang menunjukkan jika aku lengah. Ada dia di pikiranku. Singkat memang, tapu efeknya tak hanya sesaat. Sampai aku terus-terusan memikirkannya. Dan masih di hari yang sama, parameter itu telah menunjukkan angka dua. Tidak, bukan naik. Melainkan turun. Terus turun sampai ke 'negatif dua'. Aku kalah lagi. 

Keesokannya semakin parah. Negatifnya bertambah. Kini, 'negatif tiga'. Kemudian, untaian itu berubah aneh. Aku tak tahu pola matematika apa yang kugunakan. Tapi, aku menulsikan 'akar pangkat satu'. Tidak jelas. Maksudnya tetap satu? Ya karena misal aku lupa membubuhkan kata negatif, hasilnya ya tetap positif. Apakah ini alibiku untuk menyangkal perasaanku. Dengan memaksanya lompat ke daratan padahal harusnya aku harus menyelam? Nah kan, benar. Selanjutnya saja kuadrat. Ya apa bedanya kan?

Beberapa hari kemudian saat diriku sudah bernegosiasi dengan sebagian diriku yang lain hasilnya tiba-tiba jadi 'negatif tiga koma lima'. Pertanyaannya, memang gapnya sebanyak itu atau aku saja yang tak teliti membubuhkan negatif di keterangan angka yang sebelumnya. Entah. Yang jelas hari itu keterpurukan semakin menjadi dengan beralih ke 'negatif empat'.

Hari berikutnya seperti yang diduga, turun satu tingkat lagi jadi 'negatif lima'. Ini sangat mengkhawatirkan karena rasanya sulit untuk memberi rasionalisasi pada apa-apa yang kulakukan saat itu. Jadi, poin itu bisa saja bentuk kepasrahanku pada keadaan. 

Aku bisa sedikit mengendalikan diri keesokannya. Hasilnya bertambah satu. Poin sebelumnya, berubah jadi poin sebelumnya lagi, 'negatif empat'. Sayangnya, selang satu hari, poin kembali ke 'negatif lima' lagi. Menyebalkan. Dan alangkah menyebalkan huruf 'negatif' jadi diikuti angka 'tujuh' kala sampai tanggal tujuh di bulan favoritku, gila. Ya, aku semakin menggila. 

Huruf -huruf bertuliskan 'negatif delapan' tertera di utas selanjutnya. Setelah lewat dua hari, di hari yang sama angkanya turun lagi. Yap, di tanggal sembilan itu pula, nilainya jadi 'negatif sembilan'. Menyedihkan. Akhirnya aku mengakhiri utas itu di tanggal ke sepuluh dengan nilai 'negatif sepuluh'.

Tak kutulis alasan jelasku menghentikan utas itu karena tak kutulis juga alasanku memulainya. Namun, penjelasan yang kuungkap berhari-hari kemudian berkata jika kuteruskan hasilnya tetap akan terus menerus negatif. Aku menyerah dan pasrah. Memilih berjalan beriringan bersama. Seperti kisah yang kutulis sebelumnya. Life on, alih-alih move on. Jadi, sepertinya aku sudah sepemikiran dengan diriku di saat itu. 

Dan, hey! Ngomong-ngomong, jika utas itu diteruskan sampai sekarang berapa ya hasilnya? Utas dari dua tahun yang lalu.

Minggu, 06 Februari 2022

Our Beloved Winter: Moving On

Setiap orang punya cara tersendiri untuk lari dari masa lalu, melupakan. 

Our Beloved Winter: Moving On, judul yang cukup sulit untuk kudapatkan. Mengacu pada judul, harusnya tulisan ini membahas lagu Kyuhyun--idol K-pop favoritku, Moving On yang setingnya ada di musim dingin. Apalagi, aku lagi nonton Our Beloved Summer. Nah, pas banget buat ngetriger karena inti ceritanya tentang move on. Yah, meski endingnya beda sama MV Moving On Kyu.

Sayangnya, aku terlalu malas merangkai kata berdasarkan data. Aku kehabisan semangat menulis--apapun itu. Mungkin karena lagi langganan Netflix serta gencar ngejar film dan series sejarah. Tapi, mungkin juga karena pikiranku yang kalut. Lain kali, aku mau bahas skripsi yang jadi salah satu faktor beban. Sekarang, aku mau bahas tentang perasaan. Iya, bahasan yang biasa dan sering aku curahkan di sini. 

Di usiaku yang udah hampir setengah abad ini, aku nggak sedang suka seseorang atau mendambakan sebuah hubungan. Mencoba berpikir apa alasannya. Aku pernah yakin jika self love adalah alasan utama. Ingin mencintai diri sendiri sebelum membuka diri untuk dicintai. Pernah juga berpikir kalau K-pop, K-drama, film, novel, mimpi--literally, tulisan-tulisan, dan segala imajinasi sudah lebih dari cukup menemani. Sudah bisa bikin aku bahagia. Namun, rasanya masih ada yang mengganjal. 

Biasanya hubungannya dengan masa lalu. Seperti hal yang lazim ditemui di banyak orang; move on. Sialnya, hal yang mengganjal itu adalah perkara gagal, perkara yang dapat predikat kalah. Namun, aku menampis itu. Sangat. Katai saja aku denial, karena aku sadar jika ini bukan bentuk gagal move on. Aku hanya sering terseret ke masa itu. Ke perasaan itu. 

Aku memang orang yang demikian. Alih-alih gagal move on, sepertinya lebih pantas disebut memelihara ingatan. Meski sakit, ada sepercik api yang jadi kembang di sebuah perayaan. Panas, iya. Melukai, mungkin jika tak hati-hati. Terangnya tak seberapa, tapi bakal mencolok di kegelapan. Segelap hidupku saat itu. Berkali aku menangis karenanya. Dalam diam dan ketidaktahuan. Ketidaktahuannya dan ketidaktahuanku. Ada keanehan di dalam perut yang akhirnya teredam oleh logika. Katanya itu kupu-kupu. Tapi, aku tak yakin karena hanya sesaat dan lebih banyak sakitnya. Percikan kembang api lebih cocok untuk penyebutannya.

Mungkin ini fase yang biasa orang alami; sesal. Penyesalan memang selalu datang di akhir, tapi menyesal adalah sebuah pilihan. Perkara rasa, perkara cinta, makhluk-makhluk yang disebut manusia itu bakal menemui fase 'kok aku dulu nangisin orang kayak dia ya' kala mereka mengakhiri hubungan dengan seseorang yang dianggap belahan jiwanya. Meski tak pernah merasakan jatuh cinta secara utuh, aku pernah ada di fase itu. Pernyataan yang perlu disambut oleh pernyataan lain dari diri sendiri, bak tanya jawab. Menonton sebuah film bodoh lewat ingatan. 

Kenapa dulu aku bisa tiba-tiba nangis saat namanya lewat di ingatan? Kenapa pikiranku hanya tertuju padanya padahal aku punya banyak kesibukan? Kenapa aku tak lagi leluasa menatap matanya? Ada sedikit rasa sakit saat degup di dada muncul dengan terlambat. Rasa sakit menahun yang kian lama bekasnya melebar. Tertimbun jadi cerita yang tak jelas akhirnya. Sesak, sesak sekali. Mungkin itu jadi alasanku tidak lekas membuka diri. Mungkin meski aku bilang sudah benar-benar melupakannya, meski aku benar-benar tak selalu memikirkannya, meski aku sudah bisa menatap kedua matanya, aku masih sering menangis. Ya, bukan karena dia tapi karena rasaku yang tak kumengerti. Menyedihkan. 

Menyedihkan. Ya, aku memang menyedihkan. Kapan sih, aku tidak terlihat menyedihkan? Benar, kala merepotkan, haha. Aku pernah sangat menyedihkan saat umur 13. Perkara hidup dan kisah cinta. Kalau kalian tahu series Anne With An E, ya seusia dia lah. Setelah hal menyedihkan yang kualami waktu itu, aku tak lagi percaya diri. Tak berani GeEr sedikit pun, bahkan dalam pikiran sendiri. Selalu menepis kemungkinan baik tentang sebuah cinta yang datang karena tak ingin kecewa. Aku hidup dalam kisah kasih diri sendiri dalam imajinasi. 

Aku tak tahu kapan suka pada seseorang. Pun tak bisa menyimpulkan kapan membenci seseorang. Kesal pernah, tapi logikaku yang lain--yang baik--mewanti-wanti diri untuk memaafkan. Dulu, dulu sekali saat aku pernah dilema antara Black dan Blue. Kala aku mendramatisir kisah hidup dalam pikiranku sendiri. Pada akhirnya, kelak mereka hanya jadi cerita. 

Aku tak tahu kapan kelak itu, karena seluruh ceritaku akhir-akhir ini sedikit ada nama dari masa lalu. Black dan Blue tak pernah sekalipun masuk. Alih-alih, di nama samaran lain yang pernah kusebut di Aku dan Kisahku edisi bahas cinta, mereka-mereka pernah kusebutkan. Pernah, bukan sering. Hanya muncul sesekali kala mereka menyapa lewat mimpi. Dan satu orang yang sering mengganggu pikiran ini selalu jadi tokoh utama dalam banyak cerita, menyebalkan. 

Jujur saja, menulis seperti ini lebih susah daripada menulis prosa fiksi. Namun, aku bisa bebas menulis apa saja mengikuti jari dan hati. Hasilnya pun, sepadan. Aku selalu suka membaca ulang kisah-kisahku. Seperti memelihara ingatan tadi. Entah senang atau sedih, rekapan kisah selalu bisa dinikmati. Seperti halnya saat aku mengulang kisah kami lewat jajak digital. Tak semuanya menyedihkan. Sesekali emot hati muncul dengan syarat dan ketentuan--kesedihan yang makin mendalam. Aku yang selalu menepis kemungkinan baik tentang sebuah cinta, mulai besar hati. Itu memang memalukan, namun kesenangan semu itu bisa jadi obat untuk banyak penat. Tentu saja dengan efek samping yang sangat menampar. Ah, lupakan. Rasanya mulai sesak lagi. 

Menyebalkan dan tidak adil! Kenapa mataku sudah berkaca-kaca?

Entah kapan keganjilan yang kurasakan ini bakal berakhir, karena jika move on adalah satu-satunya cara, aku yakin telah melewatinya. Aku tak lagi besar kepala atau hati--BUKAN PENYAKIT WAHAI ORANG RECEH. Tak berharap apa-apa karena ketidakmungkinan kami semakin nyata. Hanya... rasanya menyedihkan. Aku tidak sedih, tapi ini menyedihkan. Boleh ya aku menangis? 

Ah, mungkin di sini aku bisa mengakhirinya. Tanpa menyebut nama, secara tersurat sekaligus tersirat aku mengawalinya di sini. Merangkai kata secara romantis sambil menatap jendela kereta yang memunculkan grimis. Sudah bertahun-tahun rupanya. 

Aku berhenti sejenak, membaca tulisanku itu. Tak menyangka air mata kembali naik. Malu. Malu sekali. Tak bisa menghentikan batuk? Mencoba pelit air mata? Menyalahkan setan iblis? Hahaha, aku jadi teringat alasanku menulis itu. Karena ada sirat dalam surat yang menghampiri. Saat itu hampir-hampir seperti mimpi karena karenanya, aku dapat pukulan hebat dari orang-orang yang kelak malah meninggalkanku di sana. Mimpi di tengah malam--benar-benar tengah malam--yang bisa jadi nyata. Kalap, aku larut pada hati yang terlanjur gelap gemerlap. 

Rentetan peristiwa itu, kualami sendiri, kulalui sendiri. Bukan bertepuk sebelah tangan, bukan juga bertepuk tangan. Aku merayakan kebahagiaan serta kesengsaraan sekaligus. Malam panjang yang masih kurang panjang karena banyak yang kulewatkan. Di tempat yang jauh dari kampung halaman dan kos-kosan aku merasa bisa terbang. Di tempat yang dinginnya malam sebanding dengan panasnya siang, aku terbakar oleh rembulan. Sok puitis. Biar, aku hanya tak punya saksi selain langit malam dan tembok-tembok ruang yang asing. Tanda media dan jejak digital yang lahir hari itu kulenyapkan. Aku tak mau terlihat semakin menyedihkan.

Ya, mungkin ini jawabannya. Mungkin mengakhirinya di sini adalah pilihan terbaik. Jujur saja, pilihan itu muncul beberapa menit yang lalu. Keputusan untuk memilihnya menyertai begitu saja. Jadi, maklum saja kalau tulisan ini bisa tiga sampai lima kali lipat lebih panjang dari 'pengakuan' yang kubuat di kereta itu. 

Sudah ya, sudah. Sudahi kepenatan hati. Mungkin benar kata bedebah-bedebah di SMP dulu, jika kamu sangat pandai menyembunyikan perasaan. Buktinya, seluruh teman yang pernah kau ceritai kisah-kisah ini tak pernah bisa menebak siapa dia. Hahaha, sebuah kebanggaan tersendiri. Aku berterimakasih pada bedebah yang mengingatkanku pada hal itu. Tapi, aku tak bermaksud menyembunyikan. Golku saja yang beda. Golku, bukan menyembunyikan perasaan tentu saja. Kadang ingin menyampaikan juga. Namun... ah waktu yang salah, kata Fiersa Besari. Ya, kadang Tuhan maha membolak-balikkan. Aku yang masih belum menemukan gol untuk waktu yang salah ini menyerah. Sepenuhnya menyerah. Memaksa hati yang sudah terbiasa berdegup untuk mati. Tak apa, agar tak semakin sakit nantinya. Agar waras jiwa dan raga. 

Sudahhhh. Yok sudah yok. Kamu sudah naik ke tingkatan yang lebih eksrim dari move on, life on. Semangat! Sungguh. Semangat!!!

  

Kamis, 30 Desember 2021

Annual Story: December, I Hope I Can Fall In Love With You Again

Mr. Bones, hujan, dan basah.

Semakin dekat tahun berganti, mataku sering basah. Kukira karena tahun ini berjalan lebih tragis karena aku sama sekali tak melakukan kewajibanku sebagai mahasiswa. Namun setelah kuingat, ya memang tahun baruku selalu basah. Entah hujan atau air mata. 

Mr. Bones film komedi. Kami menontonnya karena saluran lain hanya menampilkan konser-konser pergantian tahun. Beberapa berita terkini yang juga membahasas pergantian tahun. Aku lupa tahun berapa, seingatku aku sudah cukup paham untuk tak merengek mengajak bapak keluar. Hanya menikmati malam di depan layar kaca. Dengan lampu yang sudah padam dan remang cahaya televisi, bapak dan ibu rebahan di kasur depan TV. Aku bolak-balik dari kamar ke ruang tengah. Ikut menonton film yang aku sudah hapal alurnya itu. Kalau sedang iklan, kembali ke kamar. Menulis di kertas putih bergaris. Berceloteh tentang setahun terakhir. 

Adegan seperti itu, tak hanya berjalan sekali. Tahun berikutnya berulang. Kami menonton Mr. Bones lagi. Saat itu, sepertinya juga sedang tayang The Gods Must Be Crazy. Film yang bisa membuat bapak terbahak-bahak. Kakakku tidak pernah ada di rumah pada malam tahun baru. Aku lupa apakah saat itu dia sudah menikah dan meninggalkan rumah, atau hanya keluar nongkrong dengan teman-temannya. Malam tahun baru memang seringnya hanya kami bertiga. 

Hujan di luar rumah harusnya tak mengganggu. Setidaknya, karena tak ada petir karena bapak pasti langsung mematikan TV jika demikian. Namun, bocor di sana sini membuat kamarku yang bahkan di bagian atasnya dilindungi plastik lebar turut basah. Bukan, plastiknya tidak bocor. Aku menangis. Selalu menangis. Tetes air mata yang jatuh ke buku tebal berisi banyak tulisan, tak pernah terberkas. Aku memberi jarak pada tangis agar saat Mr. Bones terputar kembali mataku tak sembab. Menaruh handuk di kamar agar mukaku bisa kering seketika. 

Kami kembali tertawa. Di daerah timur Indonesia, sudah berganti tahun. Begitu pun sebagian negara lain. Mataku mengantuk, tapi rasanya hal ini sakral untuk dilewatkan. Kami mengobrol. Tentang hal-hal yang telah berlalu, dan tahun baru yang identik dengan hujan. Perihal bencana adalah hal tabu yang jadi obrolan tersirat. 

Di kota tempat tinggalku ada tempat wisata bernama AIL (Alam Indah Lestari). Sebuah resort? Waterpark? Hotel? Taman? Aku dulu tak paham dan sekarang sudah hampir lupa dengan nama itu. Saat masih bekerja penuh menjadi sopir elf di KUD dekat rumah, bapak dapat ajakan menghadiri acara pembukaan tempat wisata itu. Ya, meski bapak berperan jadi sopir rombongan dari KUD. Aku diajak, sedangkan ibuk tak mau. Kakak sibuk dengan acaranya sendiri. 

Biasanya acara-acara besar korporasi bakal mewah. Dan menurut obrolan yang kudengar di dalam elf, acara itu bakal mewah. Apalagi ini acara pembukaan tempat wisata yang kelak cukup terkenal. Namun, rasanya seperti mimpi buruk. Perjalanan ke tempat itu sangat buruk. Hujan lebat dan petir yang tak ada habisnya menemani. Jalan raya macet, sedangkan jalan kecil hampir tak bisa di lewati. Pohon tumbang di banyak tempat. Ibuk menelpon dari rumah untuk mengingatkan kami agar berhati-hati. Aku menjawab telepon dari hape nokia berwarna milik bapak. Menenangkan ibuk dengan panik. Bodoh. 

Sepanjang perjalanan, tak ada cahaya karena lampu padam. Pun, AIL. Ya meski tidak gelap total, tapi harusnya bisa lebih terang. Sebagian besar acara dibatalkan. Tak ada penampilan artis kabupaten yang hadir, seingatku. Makanan-makanan menjadi dingin. Minuman tak lagi segar. Dan aku hanya bisa ingat detail tempat itu dari cerita. Aku lupa. Aku lupa bagaimana wujud tempat itu karena selain gelap, aku masih sangat kecil. Namun, fakta jika aku pernah ada di sana dan menjadi saksi peliknya malam tahun baru kala itu, nyata. Malam tahun baru termengerikan yang pernah kulewati. Pergantian tahun baru satu-satunya yang kulewati di luar rumah. Bersama bapak.

Kisah yang selalu lucu adalah saat bapak akan menggigit sate, tiba-tiba lampu menyala. Entah bagian mana yang lucu, tapi saat mengobrol tentang kejadian itu, kisah bapak dan sate selalu muncul. Aku sepertinya juga menceritakan kisah ini di buku harian, saat aku menangis di kamar itu. Sayangnya, aku telah menulis banyak hal yang aku sendiri lupa di buku yang mana aku menuliskannya. Mencoba mencari satu per satu adalah hal mengerikan karena ingatanku akan sedikit sakit dan senang sekaligus. Ya, senang dalam kenangan. Karena banyak orang-orang yang ada dalam buku-buku itu sudah tak ada lagi. Sialan. 

Akhirnya aku menangis. Lagi. Meski sampai sekarang masih ada bocor di rumah maupun di kos, untungnya laptopku tak pernah sedikit pun tertetes air hujan. Alih-alih, aku sering panik saat air mataku tak tahu diri dan jatuh tanpa izin. Sial. Kenapa aku selalu takhluk pada tulisan? Kenapa aku selalu larut pada kenangan? Kenapa aku selalu menyedihkan?

Aku tak mau jauh-jauh mengingat bagaimana kesal ataupun sial yang menumpuk di pikiran, utamanya untuk Desember. Tapi, aku sangat berharap jika Desember tak lagi membuatku sedih, sakit. Tahun ini cukup berat. Aku dan kuliahku. Aku dan teman-temanku. Aku dan keluargaku. Aku dan diriku. Aku dan mimpiku. Berat. Semuanya sangat berat. Tak perlu kehilangan lagi, ini sudah sangat menyakitkan. Hal-hal yang bahkan tak mampu kuceritakan ke siapapun, bahkan lewat tulisan. Aku sadar itu akan jadi bom suatu saat. Tapi, aku belum siap untuk menerima sakit akibat mengingat. Tahun ini, itu terjadi tahun ini. Sial! Aku hampir lupa, dan sekarang teringat lagi. Sialan!

Ketakutan dan rasa bersalah. Aku berharap Desember tak lagi menyakitkan, meski itu sepertinya sulit. Setidaknya, aku mencoba untuk kembali menyukai bulan ini. Saat-saat dimana film apik ditayangkan. Home Alone, film legendaris yang tak pernah ketinggalan kutonton. Ya, meski waktu itu aku nonton sendiri, tapi rumahku tak pernah sepi. Sedangkan sekarang, aku di kos sendiri. Ibuk pun di rumah sendiri. Sendirian. 

Meh! Aku menulis ini pada pagi hari di tanggal terakhir bulan ini. Tidak memilih malam bukannya untuk meminimalisir aliran tangis. Aku ada acara. Hahahaha, bukan perayaan tahun baru tentunya. Sebuah kewajiban--kewajiban?--yang tak kusadari aku masih ada di titik itu saja. Aku dengan segala ketidakmampuanku masih meletakkan diriku di pusaran itu. Merasa tak berguna dan bodoh, namun sangat mencintainya. Ya, namanya cinta kadang benci. Aku benci, kadang. Tapi, entahlah. Selalu membingungkan. 

Intinya, aku bodoh. Aku bodoh dengan sok bertanggungjawab dengan mananggalkan kewajiban sebagai mahasiswa. Ya, meski itu bukan sepenuhnya terjadi karena keinginanku, aku tetap melanjutkan pilihan pilu itu. Menyedihkan dan selalu bodoh. Padahal aku tak dapat apa-apa selain kesal. Sok, bertanggungjawab padahal tak ada yang peduli selain diriku sendiri. Kamu harusnya menyerah. Kamu menyia-nyiakan waktumu, setahun ini. 

Gila kan? Aku mulai berbicara pada diri sendiri. Tolol. Sudah. Cukup aku berdepat dengan diriku tentang cerita baru. Fiksi-fiksi yang kuperjuangkan selama ini. Sudah ya. Memang sesal ada di akhir. Jadi, jangan pernah bilang nggak akan menyesal kala akan melakukan suatu hal, karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Dari banyak kemungkinan, ada lebih banyak ketidakmungkinan yang bisa jadi kemungkinan itu dan pyung... terjadi. Tentang sesal atau kelegaan yang terjadi setelahnya, kita tak pernah tahu. 

Ah, 2021. Aku memang benci, tapi aku juga pernah cinta pada Desember. Ah, iyaya. Sudah lama aku tak merasakan ada gejolak di dada. Lama sekali tak merasa ada kupu-kupu di perut. Aku tak berharap banyak tentang cinta yang itu karena aku ingin jatuh cinta pada diriku sendiri. Setidaknya, aku tidak hanya mengasihani diriku tapi juga mencintainya. Cinta yang benar-benar cinta. Memulai dan masih terus belajar. Seperti kata teman yang kutemui tempo hari, peluk kupu-kupu. Aku ada untuk diriku. Aku harus ada untuk diriku. Kramadangsa.


Minggu, 21 November 2021

Aku dan Satu Nama

Putra.

Nama itu, adalah nama seorang laki-laki yang amat sangat kusayang kukenal. Laki-laki yang tumbuh bersamaku dan menjadi cinta nomer dua setelah bapak. Yash, my old brother. Tapi aku gak lagi mau bahas dia. Hanya nama sesosok orang yang sama dengan dia, Putra. 

Aku punya teman sekolah bernama sama dengan kakakku itu. Putra. Nama panjangnya lebih keren dari sekedar Putra. Tapi, aku tak bisa menuliskannya di sini. Putra, kukenal sejak TK. Dia... aku lupa kesan seperti apa yang kupikirkan tentang dia waktu TK, yang jelas rumah Putra tak jauh dari sekolah TK kami. 

Tahun terakhir SMP, aku bertemu Putra lagi. Ya, memang kami berada di SMP yang sama, tapi di kelas 9 itu kali pertama kami satu kelas. Aku sempat mengobrol dengan dia. Tidak sering, tapi lebih sering ke dia daripada teman laki-laki lainnya. Alasannya beragam. Pertama, karena dia duduk di seberang bangkuku. Kedua, karena kami teman TK, jadi aku sok kenal. Ketiga, karena dia sosok unik tapi 'tidak terlihat'.

Maksud alasan ketigaku adalah dia berbeda dan hampir-hampir tak masuk lingkar pertemanan manapun. Dia duduk bersama salah satu teman yang sekarang baru kutahu sebutannya--wibu. Dan yang duduk di bagian belakang bangkunya adalah dua orang teman dengan nama kembar--anggap saja Riko dan Riki, yang tak punya hubungan darah. Kebetulan mereka juga temanku di kelas 7--tahun sebelum aku menghindar berinteraksi dengan sosok laki-laki. 

Nah, kondisi Putra yang hampir-hampir tak nampak itu, membuatku bisa berinteraksi dengan dia. Tapi, tentu tak semudah berinteraksi dengan si wibu, Riki atau Riko. Aku tak tahu apa yang dialami Putra, tapi dia sering diam dan menunduk. Bukan, bukan dengan ekspresi sedih, melainkan seperti kebingungan. Tapi, itu terjadi setiap saat. 

Ya, saat mukanya datar, aku akan memanggil namanya. "Putra, kata Pak Ini tadi, tugasnya di kumpulin di mana?" Dia akan menjawab gelagapan. Mungkin dia berpikir keras mencari jawaban. Padahal kalo tak tahu, jawab saja tak tahu kan? Atau sebenarnya dia tahu dan lupa.

Kadang jika sedang bosan dan hanya ingin sekedar mengobrol dengannya, dia juga menjawab dengan tergesa. Padahal aku masih dalam tahap melempar topik sebelum mengobrol tentang masa lalu. Sering sapaku tak terbalas. Tapi, aku yakin bukan karena dia tak mau membalas.

Aku tak tahu apa yang terjadi dengan Putra. Sebenarnya, aku tak merasa ada yang salah dengannya. Tapi, orang-orang sekitar kami yang menganggap dia 'berbeda' membuat pikiranku berlarian kesana dan kemari. Bertanya-tanya pada diri sendiri, Putra ini kenapa?

Di pelajaran, Putra bukan underground. Tapi dia juga tak sampai bisa berada di atasku. Ouch, sombong. Tidak aktif tapi selalu menyimak saat guru menjelaskan. Aku tak sering memperhatikan dia karena tentu aku lebih memperhatikan guru, tapi serius, jika bukan karena pelajaran atau karena kami sama-sama duduk di depan--yang artinya semua mata tertuju ke kami--aku akan mengingat detail pergerakan dia. 

Selentingan yang mengatakan jika Putra aneh, sering kudengar. Mungkin Putra juga mendengar itu jadi dia minder. Tapi, aku tak habis pikir, apa yang membuatnya insecure? Muka? Well, aku tak bisa menilai paras, apalagi kami sudah lama tak bertemu, yang jelas kulitnya putih. Yap, syarat cakep yang jadi pandangan masyarakat pada umumnya. 

Materi? Hm, saat aku TK sampai SMP itu, kupikir keluarga dia sederhana. Dia punya rumah yang cukup bagus--yang jauh lebih bagus dari rumahku. Aku tak tahu pekerjaan orang tuanya, yang jelas aku sering melihat ibu Putra lewat di depan rumah menaiki sepeda ontel dengan berbagai bawaan. Ya, kadang tidak membawa apa-apa juga. Tak hanya di depan rumah sih, sering juga aku bertemu beliau di tempat-tempat tertentu. 

Pada masa itu, menaiki sepeda ontel adalah hal yang jarang ditemui. Apalagi, untuk orang-orang dewasa. Ibu Putra, konsisten menaiki sepeda mini biru berkarat itu sejak dia TK. Kadang Putra naik sepeda itu juga ke sekolah. Kadang pula, saat-saat dia tak membawa sepeda itu, ibunya menjemput dengan sepeda ontel itu. Entah, sih. Aku ingat ibunya menunggu di perempatan jalan SMP, tapi ingatanku tentang Putra menaiki sepeda itu tak begitu jelas.  

Time flies, kami SMA. Kali pertama dan terakhirku melihat dia pasca lulus SMP adalah saat aku akan berangkat sekolah SMA. Saat itu aku ada bimbingan pagi, jadi berangkat lebih awal. Dan holla, aku melihat Putra berangkat sekolah juga. Pakaiannya putih-putih, tak seperti aku yang putih-abu-abu. Entah dengar darimana, sepertinya Putra sekolah di tempat jauh. Akhhh, sial. Aku lupa. Bukan SMA, tapi aku tak yakin jika itu SMK, yang jelas sekolahnya bagus. 

Itu kali terakhir aku melihat dia. Jika si ibu, bahkan sampai saat ini masih sering lewat dengan sepeda biru berkaratnya. Sering aku berpapasan kala mengantar dua keponakanku sekolah di sekolahan yang jadi satu dengan TK-ku dulu. Tapi, aku tak pernah melihat sosok Putra. Pun, tak penasaran juga. 

Ah, satu hal yang musti kalian tahu, rumah Putra mengalami renovasi. Awalnya rumahnya sendiri dipercantik. Lalu, halaman di sebelahnya dibangun rumah lagi. Katanya untuk kakak perempuannya. Rumah yang luasnya dua kali lipat dari rumah Putra yang sudah besar, dan terdiri dari dua lantai. Pada saat dibangun, rumah itu sepertinya masuk ke 4 besar rumah mewah di daerah kami. Tapi, tetap saja, ibu Putra berkeliaran dengan sepeda ontelnya. 

Melenceng dari kisah Putra yang aku tak tahu apa yang terjadi padanya, aku sungguh salut dengan ibunya. Ibuku tentu mengenal ibunya, tapi aku tak penasaran untuk mencari tahu apa yang terjadi pada keluarga mereka. Respect ke si ibu yang konsisten. Hm, ini tidak valid, tapi katanya kakak perempuan Putra kuliah atau kerja di Australia. Jadi, wajar jika bisa bikin rumah besar. 

Hahaha, yang awalnya teringat Putra dengan segala keunikannya, malah melebar ke keluarganya. Ingin sih, berkabar dengan teman-teman lama. Tapi, ke mereka yang cara mengontaknya saja aku tahu dan bisa, malas. Apalagi ke Putra yang aku tak tahu sama sekali. Aku tak yakin dia punya sosmed dan tak juga ingin mencari tahu. 

Kembali ke Aku dan Satu Nama, Putra. Nama Putra, agaknya telah pasaran. Selain dia, aku baru ingat di SMP punya teman bernama Putra selain dia. Panggilannya PP--singkatan nama lengkapnya. Karena aku yakin tak ada teman SMP-ku yang membaca ini, tapi ada sedikit kemungkinan teman SMA-ku membaca ini jika kubagikan tautannya nanti. Ya, PP ini PP yang tak hanya tenar di SMP, juga di SMA. 

Aku lupa apa saja pencapaian PP di SMA, karena dia aktif di berbagai bidang. Osis, Pramuka, berbagai aliran musik dari modern sampai tradisional, dan entah banyak lainnya. Kami beda jurusan dan tentu beda kelas, jadi tak begitu akrab. Tapi, di SMP kami pernah satu kelas.

Dia ketua kelas saat aku kelas 8--tahun termenyebalkan. Dari lima bocah laki-laki di kelas unggulan kami, dia cenderung yang paling menonjol. Tak hanya di pelajaran juga di organisasi SMP yang hampir sama dengan organsisasi SMA yang aku sebutkan tadi. Entah di SMP atau SMA, yang jelas PP pernah menjadi ketua Osis. Halah, sudah deh bahas Osis. Nggak seru karena aku buta hal begitu, hehe. 

Hmm, apalagi ya? PP orang yang ramah. Ya, kadang menjengkelkannya dia, terbalut sama guyon. Kali terakhir interaksi, lupa. Aku tak berteman di semua sosmed, tapi beberapa saja. Baru-baru ini di daerah Banyuwangi sedang gencar jaranan ngamen. Pertunjukkan seni jaranan yang biasanya ditanggap untuk hajatan mengamen karena pandemi. Dia salah satu penggeraknya. Hal yang bikin aku salut juga.

Sepertinya, tulisan kali ini nggak bahas borok sama sekali ya? Seperti manusia lainnya, mereka yang kutulis tentu punya cela. Tapi, aku tak tahu dan tak mau tahu. Setidaknya, aku tak terusik saat ini, jadi ya sudahlah, hehe. Ga tau ya maksudku? Gpp deh, hehe

Nama Putra lain di daerah rumahku, ada. Dulu kuhitung-hitung, ada 4 termasuk kakakku dan Putra teman TK. Tapi, aku lupa mereka siapa saja dan sekarang dimana, hehe. Sudah deh, cukup. Nama Putra bagus dan keren. Satu-satunya nama Putra yang menyebalkan adalah Mas Put. Hahaha, udah deh. Bye~