Minggu, 31 Juli 2022

Mimpi Tipu-Tipu

Tidur sepuluh jam. Awalnya mimpi hantu-hantuan. Aku dan teman-teman yang entah siapa aja lagi jalan-jalan--ngapain--entah di mana, pokoknya di kos-kosan atau apa gitu. Kami lagi nyari tempat nginep kayaknya. Tapi, salah satu tempat yang kami sewa nyeremin. Kata orang-orang emang berhantu dan kami nggak apa-apa karena di mimpi itu udah biasa dan sering berurusan sama hal kayak gitu. Tapi, di tempat itu tuh nyereminnya banget-banget karena kami lihat secara langsung sepatu obrok (Boots) jalan-jalan sendiri. Behh, takut ga karuan. Tapi, pas aku kebangun dan sadar kalo itu mimpi, nggak kebawa takut di kehidupan nyata ini. Malah bersyukur dan bisa lanjut tidur.

Pas lanjut tidur nih ada mimpi lagi, tapi aku lupa mimpi apa aja. Pokoknya panjang juga. Seingetku langsung ke yang sama ibuk ya. Aku tinggal berdua sama ibuk di rumah kayak rumah Mak e jaman dulu. Di mimpi itu, kami sering cek cok. Suatu hari aku kesel sama ibuk. Hari itu juga ada tamu, temennya bapak. Mereka turun dari mobil dan ternyata di sambut langsung sama sosok laki-laki yg dari belakang kayak Bapak. Aku tercengang lihat itu. Tapi, si tamu tadi nggak menghiraukan sosok itu seakan nggak ngelihat. Alih-alih ibuk keluar dan nemuin mereka. Jadi posisinya itu kayak bapak sama ibuk ngobrol sama tamu di pelataran. Aku dari tempatku berdiri nangis nyaksiin hal itu. Setelah ngobrol bentar si tamu langsung pergi. Ibuk juga langsung masuk karena nggak bisa lihat sosok yg kulihat tadi.

Setelah tamunya pergi aku langsung lari ke sosok itu. Bener aja, itu bapak. aku langsung meluk beliau. Wajahnya seger kayak masih muda. Bapak pake baju warna putih yg biasa kupake dan celana abu-abu. Rasanya nyata banget. Aku nangis misek-misek. Bapak nggak nangis sama sekali. Malah ngasih tahu aku banyak hal. Rasanya kayak pas ketemu bapak di mimpi saat 40 harinya beliau itu. Bapak ngomong sesuatu yg kali ini kuinget, nggak kayak 40 hari itu. Bapak bilang… duh apa ya? Bapak bilang, intinya aku nggak boleh terlalu kangen sama beliau. Kayak negesin, kalo beliau sekarang udah ga ada. Kalo aku terus mikirin beliau, beliau jadi nggak tenang di sana. Aku nggak jawab apa-apa cuma nangis. Nangis aja sambil muas-muasin meluk beliau. Bapak juga bilang kalo selama ini dia ada di sebelahku karena aku belum bisa lepas beliau. Padahal harusnya nggak gitu kan? Aku sadar kalo ini cuma imajinasiku karena sering nonton fantasi. Tapi, rasanya tetep sedih. Aku merasa bersalah. Tapi, aku juga nggak bisa gitu aja ikhlas. Aku kelihatan bisa hidup dan bertahan tanpa bapak, tapi… dalam hati yang terdalam selalu ada sesal. Di tengah lelucon tentang bapak, selalu ada harap kalo ini cuma mimpi. Kalo aku akan segera bangun dari mimpi buruk ini.

Aku nggak inget akhir dari pertemuanku dengan bapak itu. Entah bapak yang tiba-tiba hilang atau aku yang udah ikhlas saja ninggalin beliau. Tapi, aku udah mengerti dan janji nggak akan memberatkan Bapak. Tapi, aku tetep nggak bisa ngelepas beliau, setidaknya di waktu itu. Aku masih mau pertemuan yang lebih panjang sama Bapak. Aku masih mau ngomong banyak hal sama bapak. Tapi, di kesempatan itu, aku cuma dengerin beliau tanpa ngomong sepatah kata pun. Seakan menerapkan prinsip beliau kalo lagi ngomelin kami dulu, bener salah meneng. Aku cuma nangis aja kayak sekarang ini. Sampai pas bapak udah nggak ada lagi, aku ngomong ke ibuk. Aku cerita ke ibuk kalo baru aja ketemu bapak. Kukira cuma bayangan, tapi bisa kupeluk dan kupegang. Aku cerita detail pakaian dan apa aja yang disampakan bapak ke aku. Aku lupa gimana reaksi ibuk. Tapi, pas kebangun, aku nggak nangis sama sekali. Aku inget mimpi apa, tapi nggak misek-misek kayak sekarang ini.

Mimpi Tipu-Tipu. Aku selalu suka bermimpi, dan hidup di dalam mimpi. Tapi, itu semua tipuan. Sepercaya apapun aku pada mimpiku, impianku, dan perkara di luar nalar yang tak bisa dinalar, aku nggak boleh terus-terusan ada di sana. Nggak tahu apa yang harus kulakukan di hidupku yang udah gersang ini, nggak lantas jadiin hidup di mimpi sebagai solusi. Aku nggak tahu bakal ngapain dan bakal kayak apa hidupku. Aku juga nggak tahu pengennya kayak apa. Tapi, ya sudahlah. Mau gimanapun, bapak udah nggak ada dan hidupku harus tetep lanjut. Kun fayakun kan?

Kamis, 23 Juni 2022

Kisah Cinta Orang-Orang Manis-Manis Ya?

Sudah sekian hari draf ini sampai pada judul saja. Dan keinginan malam ini untuk menjadi Bandung Bondowoso akan kulaimpiaskan di sini. 

Kisah cinta orang-orang manis-manis. Ya, begitulah pandangan dari seseorang yang belum begitu ingin menjalani hubungan--pun tak ada kesempatan. Kelihatannya manis, aslinya pasti lebih manis. Pahit dan kegoblokan yang ada lebur dengan sebuah rasa. Harusnya sih namanya cinta, tapi akhir-akhir ini diksi itu tampaknya tabu. 

Cinta? Aku hampir-hampir tak pernah mendengar teman-teman yang sedang kasmaran menyebut itu. Alih-alih, aku selalu menegaskan ke mereka, "Tapi, kamu cinta kan?" kebanyakan dari mereka enggan menjawab. Tidak mengiyakan dan hanya tersenyum kebingungan. 

Mungkin bahasa lain dari 'cinta' terdengar lebih romantis. Love. I love you whatever it is. Salah satu kalimat manis yang terngiang. Aku menertawakan diriku yang lebur pada kisah cinta orang-orang. Si perempuan merasa senang karena dicinta dan si laki-laki lega karena terlah mengatakannya. Sangat manis, sangat. Kutipan berbahasa Inggris itu hanya secuil yang kuingat. Lainnya jauh lebih membikin hati buncah. Dan tentu saja bukan hatiku. 

Kisah manis, kupu-kupu di perut yang bikin mual, atau kembang api yang meledakkan pikiran, kesemua itu muncul bergantian. Namun, kebingungan yang muncul itu menjadikan hatimu penuh. Hangat sekaligus dingin. Tak menentu. Yang jelas ada 'rasa' di sana. Tinggal menunggu, bagaimana kelanjutannya? Apa degup akan terus muncul bersamaan dengan kebahagiaan? Atau justru kecemasan yang menimbulkan luka tak kasat mata? Kenapa lirik 'rasa yang tepat di waktu yang salah' selalu muncul di kepalaku? Padahal ini juga bukan kisah tentangku.

Orang-orang punya lagu temanya sendiri untuk kisah mereka. Aku juga. Punya lagu tema untuk kisahku. Dan karena ini hanya ada di kepalaku, aku juga memilihkan lagu tema untuk mereka. Meski mereka pun sudah memilih. Iya, lagu berlirik 'rasa yang tepat di waktu yang salah' itu akan kutitipkan ke temanku itu. Mungkin rasa mereka tepat, namun waktunya salah. Sangat salah.

Sebenarnya, meski waktu mereka tepat pun aku tak mendukung hubungan mereka. Tidak juga mendukung, jangan salah paham. Namun, setidaknya teman perempuanku itu bisa merasakan cinta yang sesungguhnya. Ungkapan-ungkapan dan afeksi yang tak semua laki-laki bisa melakukannya. Setidaknya, dia bahagia. Setidaknya, mereka bahagia. Dan ketika rasa itu tiba di waktu yang salah sehingga menanggalkan ujung mereka, apa kabar hati? Pasti dia luka. Pasti keduanya terluka. 

Tak benar-benar pernah, tapi sepertinya aku bisa memahami apa yang dirasakan si laki-laki. Betapa ia mencintai dan betapa ia menanti waktu yang tepat itu... namun lantas, waktu yang ia anggap tepat adalah sesalah-salahnya waktu. Ia terlambat, ia menyesal. Laki-laki itu terlihat tegar. Namun, aku yakin. Sesalnya akan terlegenda dalam kisah hidupnya. Ah, kenapa aku selalu terlibat pada kisah orang-orang? Oh iya, aku yang secara tidak sengaja mengenalkan mereka. Aku yang membuat lelucon bodoh atas keduanya. Aku yang haha hihi menertawai kedekatan mereka. Sampai aku sendiri yang ikut patah hati atas ketidakbersamaan mereka. Teman-teman. 

Merupakan sebuah rasa, manis pun beragam bentuknya. Manis yang identik dengan romantis itu, hanya ada di hati masing-masing orang. Bagaimana tahu gula itu manis jika tidak dirasakan? Bagaimana tahu kisah mereka manis jika aku tak pernah merasakannya? Pengetahuan. Tanpa pernah makan buah maja, aku tahu buah maja pahit. Begitupun hubungan. Namun, ini bukan pembenaran untuk segala presumsiku. Aku sadar, kita tak akan pernah benar-benar paham tanpa merasakan. Dalam hal percintaan, aku mungkin pernah jatuh cinta, dan aku pernah pula patah hati, namun aku tak pernah merasakan manis itu. Jadi sepertinya, manis yang kutaksir pada mereka ini, semacam pengetahuan yang kudapat selayaknya buah maja. Maja. Tahu kan?

Ah, perpisahan termanis. Pertanyaanku, "Tapi kamu cinta kan?" konteksnya tidak untuk kedua teman laki-laki dan perempuan tadi. Tapi, untuk mereka-mereka yang hubungannya sudah benar-benar serius. Setidaknya komitmen manjadi pasangan. Bagaimana mereka yakin untuk melangkah ke hal-hal sakral jika tak mampu mengaku kepadaku? Iya, cinta dan pernikahan adalah dua hal yang berbeda. Jika bisa menikahi orang yang dicinta adalah keberuntungan, maka kenapa tidak mengusahakan itu dulu? Maksudku, ya kenapa kalian melibatkan aku pada kisah kalian jika kalian saja tak yakin kutanyai begitu? 

Aku tak meragukan ketulusan kalian, hanya saja.. aku takut saja orang-orang tersayangku melabuh ke hati yang salah. Bahkan saat aku juga mengenal pasangan-pasangan mereka. Entah kenapa, duniaku sesempit daun kelor. Dan karena itulah, aku benci siklus ini. Mau berandai lagi. Andai bapak masih ada, aku bisa menerbangkan egoku bersama keberadaan beliau yang kujadikan sayap. Sayangnya, aku masih terlibat di dunia sempit ini. Di sesak ini. Mengubur mimpi yang sesekali bangkit dan menyisakan sakit. Tak apa, tak apa. Masih banyak yang bisa disyukuri. 

Jadi, apa poinnya? Tidak ada. Aku hanya menuliskan sedikit kisah yang kuanggap manis. Hanya satu dari beberapa temanku. Padahal, teman yang tak seberapa itu, yang entah sedang kasmaran, atau berjuang itu, punya kisah manisnya masing-masing, aku yakin. Aku pun punya, in my dream. Serius.

Mimpi kan adalah jalan pintasku menuju bahagia. Sedikit banyak yang kutulis jadi cerita itu, sepertinya sebagian lainnya akan menjadi kenyataan. Ah, aku sulit menjelaskan. Tak berharap, pun tak ingin membuat skenario macam-macam karena itu sudah pernah kulakukan di lembar kerja office word. Hanya melepaskan diri dari jerat pikiran dan bayang-bayang rasa sedih yang tak jelas. Aku tak boleh lama-lama menyakiti hatiku sendiri. Ingin bersenang-senang bersama setumpuk beban di kepala ini. Tuhan, semoga semua berjalan lancar. Semoga, kita senantiasa berumur panjang. Amin.


Senin, 20 Juni 2022

WALK WITH ME OR TALK TO ME?

Beberapa teman yang bukan pedestrian dan kebetulan sempat menemaniku berjalan kebanyakan mengatakan hal yang sama. 

"Enak ya jalan kaki." Atau, "Uh, pengen deh jalan kaki." Ya silakan teman-teman. Nggak ada yang melarang, pun nggak ada yang memaksa kalian buat begitu. 

Sebagai pedestrian yang menggunakan kaki sebagai transportasi utama saat di perantauan ini, aku mengiyakan segala rasionalisasi yang mereka sampaikan. Benar, nggak macet. Benar, nggak bingung parkir. Benar, bisa memaksimalkan fungsi mata buat melihat hal-hal asing. Tapi, itu berlaku cuma ketika tujuan kalian jalan bukan ke suatu tempat atau hal tertentu.

Selama ini, aku memikirkan itu semua. Privilege-privilege kecil yang sebenarnya hanya elakan dari fakta jika aku tidak berdaya. Aku tak punya pilihan sehingga mencari validasi atas pikiran positif yang tentu tak luput dari bayang-bayang pikiran negatif. Pikiranku bekerja terlalu keras hingga hatiku kosong. Terabaikan oleh paham yang kian hari kian melebar dan melupakan tujuan awal. 

Aku lelah menghadapi segala hal yang tak ada habisnya ini. Lelah tercebur urusan orang lain. Lelah peduli dengan orang lain. Lelah terlibat pada hal-hal yang hanya berakhir omong kosong. Aku mengakui diriku memang patut disuka. Membuat orang lain nyaman bercerita. Pun, aku yang melempar cerita. Aku suka. Namun, sampai kapan aku berkutat pada hal-hal ini? Aku lelah.

Lima tahun sudah aku ada di tempat asing. Sering aku kesepian, namun lebih sering aku ingin sepi. Aku rindu bertukar pikiran dengan diriku sendiri. Rindu mengomentari mimpi yang terjadi di tiap malam. Rindu mencari jalan keluar untuk masalah yang ditimbulkan seseorang di pikiranku. Rindu mengorganisir data pribadi yang bisa jadi referensi suatu saat nanti. Suatu saat nanti itu kapan?

Kurasa, aku terlalu peduli, meski bersikap tidak demikian. Kurasa, sulit bagiku untuk mementingkan diriku sendiri. Ribuan kali aku berniat egois dengan tak larut selain pada diriku sendiri. Tak terhitung kali aku menyesali pilihanku yang berakhir tidak untuk diriku. Selalu mendapati pilihan tanpa bisa memilih. Setiap saat aku meratapi waktu-waktuku yang hilang tanpa diriku bersamanya. Entah apa sebutannya, meski kesal dan penuh sesal, kurasa aku tetap pada pilihan yang sama jika dihadapkan pada pilihan-pilihan itu. Aku, si paling tak suka diganggu, menyayangi teman-temanku melebihi diriku sendiri. Bodoh. Kami orang-orang terluka yang sama-sama bodoh.

Menjelang maghrib suasana hatiku turut meredup. Pasangan suami istri depan kosan yang biasanya menggelar lapak Jumat berkah, sepertinya baru membongkar dagangannya. Aku baru tahu kalau mereka juga jualan rujak dan asinan dari papan tulisan yang mereka bawa. Seorang bapak-bapak di rumah sampingnya berusaha mengeluarkan motor. Gerbang rumahnya tak sesempit gerbang rumah kosku, namun sepertinya tidak mudah. Ah, semua orang punya kesulitannya masing-masing. Semua orang punya tujuannya masing-masing. Bahkan bapak-bapak pemotor yang baru masuk gang itu, pasti punya masalah. Mas-mas gojek di warung kopi sudut gang, dan seluruh orang yang berlalu lalang di jalan raya, pasti juga punya masalah.

Saat berjalan, tak biasanya aku mengmati sekeliling. Selain karena bukan tujuan, rasanya tak etis menatap manusia lain atau tempat-tempat asing milik orang lain. Aku bahkan hampir tak pernah benar mengamati ruang tamu bukos karena merasa tidak etis. Tapi, sepertinya kali ini aku melanggar prinsip itu. Sedikit. 

Mbak-mbak penjual Teh Poci yang duduk di atas trotoar depan gerai aksesoris ponsel terlihat lesu. Biasanya nggak ceria juga sih. Atau mungkin pikiranku saja yang keruh sehingga berpikir begitu? Tukang parkir paruh baya di depan Roti O sudah pulang. Orang-orang di gerai ponsel, kosmetik, dan warung-warung makan sibuk dengan urusannya. Aku melempar pandang lebih jauh. Tak ada tanda-tanda bakul keripik di depan Bursa Mahasiswa. Apa mungkin karena masih menjelang Maghrib? 

Aku terus berjalan.Tak habis kesalku pada fasilitas publik yang macam tai. Syukurnya, lubang dalam sebelum bakul keripik alias seberang Jawa Tresna, sudah ditambal. Setidaknya tak membuatku was-was jatuh ke lubang menyeramkan. Setidaknya, tak menambah skenario buruk tentang kesialan yang selalu menghantuiku. Aku terus berjalan. Satu-satunya makhluk yang terlihat santai di depan mataku hanya kucing liar di atas trotoar bekas lubang tadi. Awalnya, kukira dia tidak punya mata. Sampai dua tiga meter lebih melewatinya, pandanganku tak lepas dari kucing itu. Dia tidur. Ya Tuhan, andai aku kucing. 

Leherku sakit dan akan terlihat aneh jika aku tak melepaskan pandang dari kucing itu. Apalagi trotoar akan melewati area pujas yang membuatku harus turun ke bahu jalan yang itupun dipakai untuk parkir. Dan hey, aku baru menyadari jika mobil-mobil yang kulewati hampir kesemuanya berwarna putih. Di depan toko aksesoris dan sparepart ponsel--setelah Bursa Mahasiswa--dua mobil Innova putih dengan P berjajar rapi di halaman toko. Aku bahkan ingat jika plat kedua mobil itu berawalan angka 13-- dan 19-- yang seperti tahun. Tumben. Dua mobil putih lain di depan gym. Mobil Jazz di bahu jalan, dan Yaris di halaman gym. Ya Tuhan, tumben sekali aku ingat dan membaca tipe mobil itu. Dan hey, mobil di bahu jalan depan bursa tadi juga putih, Dan oh, mobil yang lewat juga putih. Hmm menarik. 

Hatiku sedikit hangat. Manusia, manusia, dan manusia. Parkir pujas ramai seperti biasanya. Dengan sabar aku menunggu mbak-mbak yang akan masuk dan keluar di depanku. Ada beberapa dan ngawur. Tapi, ya sudahlah. Mas-mas gojek di depan stand kebab (yang ada di trotoar) tidak begitu banyak. Tapi, motor-motor mereka di bahu jalan membuat aku was-was tertabrak motor dan mobil yang semakin padat. Aku tak ingin berakhir di UGD meski mungkin ada sosok macam Kim Sabu yang mengobati. Aku tak mau. Tiba-tiba saja aku kesal pada motor dan mobil yang membuat aku was-was. Tapi setelah kupikir lagi, harusnya aku kesal ke motor-motor yang parkir di bahu jalan. Eh, kesal ke warung dan stan-stan makanan di trotoar juga ga sih? Atau pemerintah?

Aku berdoa semoga baik-baik saja dan melanjutkan perjalanan melewati trotoar depan KPPN yang sangat-sangat ramai ojol. Dalam hati aku bersyukur karena memutuskan mencari makan saat matahati masih sedikit memancarkan cahayanya. Kalau malam aku tak akan bisa jalan selambat ini. Setelah kantor KPPN yang memiliki ATM BRI, aku bisa naik ke trotoar. Tak ada penghalang sampai nanti di depan kantor cabang partai atau apa ya? Lupa. Masih terhitung sore. Pedagang kaki lima yang biasa mangkal di sana belum ada. Namun, beberapa langkah kemudian aku harus turun. Pedagang molen mini dan ayam goreng sudah menggelar lapak. Rombong mereka masih kosong, tapi wajan sudah penuh. Aku yakin saat kembali lewat sini nanti, jualan mereka ada yang sudah matang. 

Aku kembali berjalan. Pedagang mie lidi di sebelahnya lagi tidak banyak seperti biasa. Pernah ketika aku lewat sana dengan salah satu temanku, ada oknum yang melempar cat calling. Menjijikkan. Aku berjalan. Melewati salah satu gerbang gedung Sutarjo yang sangat fenomenal itu. Melewati pedagang tisu yang baru kutahu jika jualan barang receh seperti itu juga didata dan punya atasan. Ada mas-mas berpakaian agak rapi yang mengecek barang satu-satu dengan membawa map berisi kolom-kolom entah apa. Sedang mas-mas satunya di belakang tempat ia biasa berjualan. Bakaran Sutarjo sudah kelihatan. Untung kali ini tidak tutup. Tapi, sepertinya akan sangat ramai. Seperti biasa.

Semakin dekat dengan tujuan, aku menyadari ada mas-mas berpakaian nyentrik serba putih--yang ada sedikit campuran merah--dengan celana pendek selutut berjalan searah denganku di seberang jalan. Tadi, entah di titik mana, sepertinya dia masih jauh di belakang. Mas-mas berbadan gempal itu berjalan cepat--eh, aku saja yang lambat. Karena tak ada lagi yang bisa kuperhatikan selain gedung Sutarjo yang tiba-tiba menyebalkan, mataku mengikuti langkah mas-mas itu. Dia berhenti di tempat yang tak kuduga, namun kusuka. Cilok. Andai tak menyeberang, aku bakal sering jajan ke sana. 

Akhirnya aku mengantri. Jauh dan banyak. Di belakang mas-mas berbadan besar. Saat-saat seperti itu, harusnya aku bisa mencuri tempat karena badanku lebih kecil. Namun, aku memilih untuk tidak. Menunggu dan mengamati orang-orang yang bergerak. Namun, gerak itu hanya di jalan dan tempat-tempat lain selain orang-orang dalam tenda. Mas-mas di depanku tak ada yang gerak, padahal di dalam ada sedikit ruang. Pada tahap ini aku berpikir. Inikah privelege-ku sebagai perempuan? Bisa mencari celah tanpa takut dituduh melakukan pelecehan jika tak sengaja besinggungan dengan orang lain. 

Satu dua langkah membawaku pada baris kedua. Mas-mas di depanku ada jauh di belakang. Tanganku yang sedari tadi di kantung jaket dan akan kukeluarkan untuk mengecek uang, tak sengaja menyentuh mbak-mbak di depanku. Nah ini, kalau aku tadi cowo mungkin ekspresi mbaknya bakal lebih garang. Sepersekian detik kemudian, pikiran lain muncul. Lupakan gender, sebagai manusia, kalau aku nanti dituduh mencuri bagaimana? Mengingat tasnya tepat di depanku dan penampilan gembelku. Ah, mana mbaknya lama lagi pesennya. Nggak profesional banget.

Sampai mas-mas di depanku tadi--dan mas-mas lain yang kulihat baru turun dari motor saat aku mengnatri--telah mendapatkan makanannya aku belum. Suaraku yang sebenarnya nggak lemah gemulai ini tetap kalah dengan para laki-laki itu. Pun masker yang sekarang beralih fungsi jadi pelindung muka buruk rupa menghalangi. Sial. Privilege jadi perempuan cuma sesaat doang. 

Tumis ati, tumis labu siam, dan dua tusuk tahu pentol kudapat dengan membayang Rp.6000,00 saja. Iya, murah. Aku pun sudah yakin dan percaya dengan rasanya. Jadi, kesabaran ini setimpal dengan harga dan rasa yang kudapat. Adzan Maghrib berkumandang saat aku mengantri. Dan sekarang aku harus berjalan cepat jika tak ingin kehabisan waktu solat karena belum mandi sore juga. Namun, pikiranku masih berkecamuk. Aku lelah. Namun, baliho toko kaos polos sedikit menghiburku. Aku tak ingat kapan terakhir membaca baliho dan memaknai artinya. Biasanya sekedar baca. Sekedar.

Aku meneruskan langkah. Dugaanku benar. Rombong ayam goreng dan molen sudah terisi. Aku membeli molen isi pisang Rp. 3000,00 untuk teman menikmati kesendirian nanti malam. Bakul kripik tak bisa di-jagakne. Berjalan dan terus berjalan. Kantor bea cukai di sebelah KPPN selalu mengingatkanku pada dua temanku yang sudah bekerja di sana. Bukan kantor itu, tapi kantor-kantor di kota lain. Menyebalkan. Kami dulu sama, sekarang... ah. Memuakkan. Dan oh, para gojek tak lagi menjamur--meski masih ada banyak motor di depan kebab tadi.

Berjalan dan berjalan lagi. Aku berpapasan dengan ibuk-ibuk berjilbab besar. Ah, ibuk-ibuk yang bisa disebut nenek dengan punuk besar sekali di kepalanya. Aku ingat bertemu dia di warung soto depan PKM. Waktu itu beliau melemparkan permisi padaku dan teman-teman yang duduk lesehan. Entah apa yang dibicarakannya terhadap akul lampu lentera sebelumnya. Namun, setelah mereka mengobrol dan si ibuk memesan ayam goreng paha ke penjual soto, bapak-bapak penjual lampu lentera pergi. Si ibuk berpunuk besar tadi duduk di kursi plastik depan kami. Masih melempar permisi dan berkata jika memesan ayam goreng bagian paha. Kami mengiyakan. Aku ganti melempar tanya asal si ibu. Beliau menjawab dari sana, menyebutkan nama toko yang aku tak tahu. Tapi, sepertinya jauh. Aku tak mencoba memperpanjang obrolan karena beliau seperti terburu. Berbanyak kali si ibu meminta pesanannya. Tumben sekali aku mengingat kejadian itu? Bagaimana bisa?

Di pertemuan kedua itu, aku tak sempat menyapanya. Sudah terlewat saat aku menyadari itu beliau. Pun, maghrib. Aku berjalan lebih cepat. Cepat, cepat, cepat. Menatap jauh ke depan ke ruko yang salah satunya terpampang logo pakaian bermerk. Satu tahun setengah tinggal di lingkungan ini, aku baru sadar ada patung di atas ruko tengah beberapa waktu belakangan saat berjalan bersama seorang teman. Memang aku kurang menikmati keseruan dunia luar. Bagaimana aku bisa jadi penulis jika menutup mata pada hal-hal sosial. Hal-hal nyata yang benar ada, bukan cuma mimpi.

Memang, melakukan tak semudah mengatakan. Aku. Misalpun memang berjalan untuk menikmati perjalanan, tak akan bisa kulakukan jika aku tak sendiri. Aku akan terus menimpali setiap omong kosong dengan omong kosong. Tak akan habis topik di kepala ini. Pun, misal pun habis, sepanjang jalan, sepanjang mata memandang, aku bisa menjadikannya obrolan. Setidaknya, aku bisa menjadikannya jokes receh pemecah hening. 

Kucing yang tadi tidur di trotoar kusadari keberadaanya yang berjalan masuk ke toko pakaian adat. Meski demikian aku yakin dia kucing liar. Mbak-mbak teh poci tak terlihat di tempatnya. Alih-alih aku mendapati pemandangan yang jarang terjadi. Seorang mbak-mbak makan mie bebek sendirian. Ia memilih meja terdepan yang menghadap jalan. Ah, aku jadi ingat pernah melihat banyak mas-mas makan di tempat umum bertemankan Youtube. Menurutku, mbak ini jauh lebih keren. 

Gang kosanku sudah terlhat. Pun bundaran DPR juga terlihat lenggang. Bundaran yang menyimpan banyak cerita. Bukan, aku tak begitu mengabadikan momen aksi di sana. Ingatan yang terkunci di kepala adalah saat pertama kali naik Lin D dan ngetem di dekat tukang tambal ban saat tes SBM, serta teriakan-teriakan bodoh di atas sana. Ya, sekitar jam yang sama. Senja-senja tai kucing. Difrosir untuk melakukan hal bodoh yang benar-benar tak berguna. Berteriak seperti orang gila. Bernyanyi seakan besok kami tak punya suara. Berjoget macam manusia tak tahu agama. Maghrib goblok! Aku tak alim, tapi aku tak akan menggiring teman-temanku untuk sesat. Ingatan menyakitkan. Semenyakitkan gedung Sutarjo. 

Dua tukang gojek di warung pojokan, sempat-sempatnya melempar obrolan menganggu telinga. Aku yakin jika aku tak fokus pada bundaran DPR dan sedikit saja menoleh ke arah mereka, obrolan menyebalkan itu bisa lebih frontal. Rumah kosku sudah terlihat. Televisi kecil di atas pintu bagian dalam menyala. Sepertinya masih ada orang di sana. Sandal Pak Kos terlihat. Ah, beliau belum naik atau sudah turun? Mau beli koyok sih. Punggungku manja. Setelah nyuci langsung sakit. Tapi, nanti saja ah. Saat ada Bu Kos saja, lebih sat set.

Aku menaiki lantai dengan lemah. Tak ada tanda-tanda suara Mas Kos yang sedang solat di ruang tengah. Jadi, aku tak perlu mengatur suara supaya tidak menganggu--meski demikian juga aku nggak mengeluarkan suara. Setelah melepas jaket dan atribut nyari makan lainnya, aku langsung ke kamar mandi menyalakan air. Tumben, tidak macet. Sambil menunggu, aku mengecek chatku ke ibuk yang kukirim sebelumnya. Bocil menjawab, ibuk sedang solat sedangkan dia sudah, dengan vn. Vn kedua, dia menuduhku bermain hape mentang-mentang ia membaca chatku saat maghrib. Padahal chat itu sudah lama. 

Aku mandi dan melakukan ritual biasa. Masih murung dan ragu. Setelah memastikan ibuk baik-baik saja di sana harusnya aku bisa leluasa menonaktifkan wasap. Namun, tetap saja was-was. Nanti kalo si A chat, nanti kalo si B chat, nanti kalo C butuh sesuatu, nanti kalo D mau nanya sesuatu, nanti kalo E perlu, nanti... ah aku menanggalkan pikiran itu. Melanjutkan nonton drama sambil menunggu nasiku dingin. Setengah jam kemudian, aku merubah posisi dari rebahan di kasur ke meja kecil dekat karpet. Lauk pauk dari Sutarjo belum pernah mengecewakan--eh, pernah tapi karena besoknya sakit aja sih. Berniat melanjutkan separuh episode lanjutan sambil makan. Namun, sial. Kenapa selalu pas adegan bedah-bedah perut? Beberapa hari ini aku makan ditemani gamabr mengerikan. Akhirnya kuputuskan menonton Stand Up yang sudah beberapa hari ini kulewatkan. 

Belum selesai seorang komedian kawakan bercerocos, aku selesai makan. Perutku kenyang karena sampai nambah nasi saking banyaknya lauk. Mau digado pun bumbunya kerasa banget. Kudu pake nasi. Haha. Baru saja piring kusisihkan dari depan mataku, ponsel berdering. Padahal aku sudah off. Aku mengangkat panggilan biasa itu dan telah menduga apa yang ingin dia sampaikan. Sudah kuduga begini. Padahal tadi sore aku sudah bertanya apa dia akan kemari dan jawabannya besok. Kenapa... kenapa sekarang? Aku ingin sendirian. Aku ingin bertemu diriku. Aku ingin mengatakan banyak hal padanya. Di waktu yang baik, di laku yang tak menyakitkan begini.

Katakanlah sekarang aku aleman. Katakanlah aku memanjakan diri dengan memberi toleransi berlebih pada tiap tindakan keliruku. Misal mengerjakan skripsi alih-alih begadang berjam-jam untuk menulis narasi tak penting begini. Namun, ini semua terjadi karena aku ingin lepas dari beban itu. Pikiran-pikiran yang berkecamuk tentang ini dan itu. Mataku terbuka dari subuh hingga akan subuh. Namun, aku tetap saja jadi orang yang kurang. Kasihan diri ini. Kasihan kisah ini. 

Jadi, aku mau memberi judul tulisan ini apa? AH... WALKING WITH ALIT? WALKING WITH ME? Aku ingat pernah berceletuk, "Kalo di Youtube ada konten #NEBENGBOY atau talk show yang muter-muter pake mobil, aku mau bikin acara sendiri aja. Walking with Alit. Walking with me. Kita bisa bikin obrolan bagus sepanjang jalan yang jelek ini."



 

 

Selasa, 07 Juni 2022

Tentang Wakktu dan Menulis, Mari Menghemat Agar Bisa Membuang-buangnya

18.49

17 hari di kos, tak ada progres yang signifikan. Hanya menonton beberapa video referensi dan niatan mengganti outline. Bahkan, aku belum memutuskan apa saja yang akan kumuat di outline terbaru nanti. Aku sudah sangat mentolerir diri ini yang manja prihal mengerjakan skripsi. Benar, alasan utama di Jember ya agar bisa konsentrasi mengerjakan skripsi. Dan aku belum sama sekali. 

Jangankan mengerjakan skripsi yang butuh berpikir, mengerjakan pekerjaan otot seperti mencuci dan berberes lainnya, tak bisa kukerjakan secara maksimal jika ada teman di kosan. Tidak, ini bukan pembelaan. Aku memang begini. Aku rasa kerjaku bisa optimal jika sendiri, apapun itu. Dulu saja, aku hanya bisa membersihkan kamarku jika bapak sedang di luar kota. Jadi, beliau tak pernah tahu kerja kerasku selain mengomel.

Selama di Jember, aku hanya dua hari memiliki waktu seorang diri. Sepuluh hari pertama bersama seorang teman. Jeda satu hari, seorang teman menginap. Keesokan harinya lagi, ada lagi. Tak apa, aku senang. Malam-malamku hanya tangis tanpa mereka. Baru hari ini aku punya waktu sendiri lagi. Namun begitu, tak ada progres. Tidur seusai sarapan, dan menamatkan timeline twitter sepanjang siang. Sorenya, menikmati wajah tampan idola-idolaku dalam MV. Benar-benar tak berguna. Bahkan, sekedar menulis blog saja, aku menunda. Next time, ya. Begitu.

Sampai akhirnya aku menulis. Ya sekarang ini. Berusaha menulis semaksimal mungkin dengan waktu yang terbatas. Aku akan keluar dengan teman. Tidak ada hal penting. Aku rasa, aku perlu menghirup udara luar lagi dari balik maskerku. Selama di Jember, hampir-hampir aku tak pernah keluar. Hanya menonton pameran yang itupun diajak teman, menghadiri sidang, dan sekali ke kampus--diajak teman juga. Entahlah, aku sudah berusaha untuk menahan diri. Tapi, memang ya, aku manja. Istilah lebih cocoknya aleman. 

Ya, bagaimana pun definisi aslinya, aleman lebih cocok. Menyebalkan ya? Iya. Aku juga kesal dengan diriku yang begitu. Sedang aku sendiri, tak tahu bagaimana cara untuk berhenti mentoleransi diriku yang begitu. Kalian tahu? Bahkan ibuk yang selama ini tak pernah menekanku prihal skripsi, dengan jelas memintaku untuk segera menyelesaikannya. Hahaha, ini sungguh tidak biasa. Buk, anakmu ini aneh. 

Cukup, tentang skripsi. Tak akan ada habisnya jika dibahas sekarang. Dialog tentang itu, ingin sekali kusampaikan secara langsung. Tapi, tak ada tempat yang tepat. Aku sendiri. Secara akademik, fisikal, psikologis, dan batin, aku sendiri. Batinku yang harusnya bisa diajak diskusi saja, malah kebelinger topik lain. Pengaruh lingkungan memang kuat, apalagi karena tekadku sebatas taruhan dengan diri. Jadi ya tertabrak dan tersingkir. Lemah. 

Mudah terpengaruh dan pasrah. Harusnya aku tak begitu. Namun, akhir-akhir ini ya begitu. Jelek sekali. Buruk sekali. Menyedihkan. Tentang segala ketetapan yang kubuat, sedikit demi sedikit kulanggar. Tidak dengan sengaja, namun sadar. Aku tak bisa menahannya karena itu terjadi begitu saja. Di sisi lain, ragaku tetap berdiri tegak di lingkar yang kubuat. Hatiku terpendam di bawah tanah yang terinjak. Alih-alih, pikiranku kabur. Pergi ke tempat-tempat yang tak seharusnya--menurut logika. Lantas, yang terpendam itu merasa menang. Padahal, itu hanyalah awal sebuah pesakitan.

Ah... tak ada cerita bagus yang kubuat. Hanya ide kisah fantasi yang berhenti di dua lembar awal dengan outline tak jelas, serta alur yang belum matang. Tapi karena kisah awalnya kudapat dari mimpi, aku senantiasa bersabar menunggu mimpi-mipi lain merangkainya. Tidur pagiku tadi salah satu contohnya. Mimpi manis yang menjijikkan itu bisa menutup lubang yang kubuat sebelumnya. Seperti melanjutkan kisah yang kutaktahu mau dibawa kemana. Yap, benar-benar cocok dengan karakterku yang suka tidur saat-saat menyedihkan begini. Setidaknya, masih ada harap jika mimpi selanjutnya bisa lebih menyenagkan dan menghasilkan. 

19.17 

Sudah lewat target waktu menulis, tapi tak apa. Oh ya, tentang mimpi pagi yang manis sekaligus menjijikkan itu, ah sudahlah. Tidak jadi. Mimpi itu, biar jadi mimpi. Mimpi yang nantinya kugubah menjadi kisah fiksi. Seperti halnya aturan sebuah prosa, yang sekian persen nyata dan sekian persen mimpi, aku juga memberi takaran kisah-kisahku. Sekian persen mimpi, sekian persen fiksi. Alias tidak nyata. Jadi, kalau-kalau menemui kisah yang kubuat mirip dengan kisah hidupku, berarti aku hidup di mimpi. 

Ah, rindu Orakel. Alasanku ingin mengerjakan skripsi juga karena ingin fokus menulis fiksi. Menyelesaikan buanyakkk tulisan yang kubuat. Banyak sekali. Aku tak ingin mereka berakhir sia atau terpaksa karena otakku tak fokus. Pun, aku lelah dan rindu mereka. Mungkin itu penyebabnya justru muncul titik-titik kisah baru lewat mimpi. Sayang tak ditulis. Ah.... entah. Aku lelah. Aku lemah. Aku lengah. Aku menyerah. Aku... goyah. Aku yang selalu rindu sosok ayah.

Menangis. 

19.27

Temanku off. 

Bahas apa lagi ya? 

19. 30

Temanku masih off. 

Hmm...

Apa lagi ya?

Ah, udah deh. 

19.36 

Menyebalkan. Mengkhawatirkan.  

19.44

Dia yang tetap off dan aku yang mengantuk.

Rabu, 25 Mei 2022

Ini Sangat Panjang dan Sepenuh Hati. Serius!

Pernahkan sakit sampai merasa akan mati?

Beberapa hari ini, kepalaku sering pusing. Awalnya hari Sabtu kemarin. Ibu ke luar kota bersama keponakan yang biasanya tidur di rumah, serta beberapa kerabat dekat lain. Aku di rumah sendiri. Harusnya tidak apa-apa. Dulu, dulu sekali saat rumah kami masih terasa menyenangkan, aku sering bermalam di rumah sendirian--sepertinya. Dulu, saat usiaku belasan dan atmosfer lingkungan yang harusnya sedikit lebih mengerikan.

Tidak ingin begadang karena hari Minggu-nya berencana ke Jember, aku tidur lebih awal. Sekitar jam setengah sepuluh, setelah kenyang makan, ngemil, menonton drama, dan bercuit di media sosial. Mas juga datang sebentar. Ada perlu dengan Lek di sebelah rumah. Tapi, karena tahu aku sendiri, ia menawariku ikut ke rumahnya. Aku enggan, selain karena sangat jauh, malas sekali di sana. Aku kan suka sendirian. Lagi mendambakan privasi.

Dini hari jam satu lewat, kepalaku sakit sekali. Seperti ada jarum yang menusuk entah di sebelah mana. Sangat sangat sakit. Aku tidak habis mengonsumsi sesuatu yang membuat darah rendahku kumat. Beberapa hari ke belakang, aku tidak juga begadang (Ah aku baru ingat malam sebelumnya begadang. Tidak terlalu malam dan malam-malam sebelumnya selalu tidur dengan jam normal). Ya, aku anggap begadang itu bukan masalah. Alih-alih, aku menyalahkan cuaca yang membuatku menyalakan kipas non stop. Apalagi karena sendirian, tak ada yang mengingatkan untuk mengurangi kencangnya agar tak masuk angin. Ya, mungkin karena itu. 

Aku tak tahan dengan rasa sakit itu. Ponsel yang ku-charge sebelumnya sudah penuh. Butuh usaha lebih untuk melepasnya dari catu daya. Sangat. Padahal tanganku sangat bisa menjangkau. Ibuk dan teman yang akan berangkat ke Jember keesokan harinya yang kuhubungi pertama kali. Tentu tak ada jawaban dari keduanya, mengingat waktu yang demikian. Aku bingung harus bagaimana. Kepalaku semakin sakit. Aku mencoba memampatkan pening dengan menekan kepala dengan bantal. Meringkuk lebih lingkar. Menggenggam bantal lain lebih erat. Kipas sudah kumatikan dengan kesusahan. Aku kebingungan mencari kata-kata yang tepat untuk mengirim pesan pada Mas. Takut mengganggu jika dia panik dan langsung ke rumahku, namun di lain sisi aku perlu seseorang untuk menetralisir sakit itu. 

Sebuah pesan lugas tentang sakitnya kepalaku terkirim. Lagi-lagi tak ada jawaban. Mas sudah tidur. Aku mulai menghubungi teman-temanku lain yang mungkin masih bangun. Kali itu, aku ingin menguatkan diri ke kamar mandi. Berharap kencing atau berak bisa meredakan sakit yang entah kenapa tiba-tiba begitu. Sialnya, dari sekian banyak pesan yang kusebar, tak satu pun terjawab. Iya, ada rasa takut juga sama setan atau manusia jahat. Aku beralih ke media sosial yang lebih mirip diary, Twitter. Berkeluh tentang sakit yang tak tahu sebab dan penangkalnya. 

Sambil masih menahan pening, seorang teman membalas pesan. Syukurlah. Aku sangat senang sampai-sampai ingin menangis. Kebiasaannya begadang benar-benar menjadi harapanku malam itu. Entah, padahal hanya keberadaannya di dunia maya. Namun, aku merasa tak sendiri. Alih-alih membalas pertanyaannya, aku segera menuntaskan keperluanku di kamar mandi. Rasanya agak lega, namun pusing di kepala tak serta merta pergi. Masih merasa berputar dan ada sesuatu yang mengganjal di perut. Namun, setidaknya tak semenusuk tadi. Ya, sesekali masih muncul. Sesekali. Lainnya hanya pening yang membuatku tetap harus menggenggam sesuatu dan menekan kepala dengan sekuat tenaga. Sakit. 

Dengan lemah, aku membalas pesan temanku tadi. Membalas beberapa hal dan sesekali mendiamkannya karena pening menusuk yang lagi-lagi muncul. Sesekali pula, aku kembali membuka beranda Twitter yang sering menampilkan muka-muka Korea. Masih pusing. Namun, setidaknya ada senyum di wajah melihat penampakan mereka. 

Aku mulai berpikir lagii tentang alasanku tiba-tiba sakit begitu. Apa karena spaneng mengerjakan skripsi? Ah, enggak. Aku bahkan tak berprogres apa-apa selama kembali ke rumah. Atau jangan-jangan karena tidak progres itu ya? Mungkin karena parno pada hal-hal ganjil yang mungkin terjadi saat di rumah sendiri. Atau mungkin juga karena merasa nggak biasanya balik ke kosan tanpa berpamitan langsung dengan Ibuk. Mungkin juga kangen Bapak, seperti biasanya. Ah, Bapak. Belio yang menurunkan penyakit ini pasti. Suka tiba-tiba sakit kepala.

Dulu aku benci sekali jika Bapak sambat ngelu. Serius. Apalagi saat-saat beliau ada job ke luar kota. Itu nyebelin banget. Bapak sudah kuanggap malas gara-gara pekerjaannya sebagai sopir travel yang suka melek malam dan membayar tidur-tidurnya di pagi hari, alih-alih olahraga atau membantu kerjaan rumah. Dan saat tidak mau bekerja begitu (apapun alasannya), aku masih saja menganggap Bapak tidak baik. Penyakit ngelu-nya itu juga sering kumat kala aku minta uang untuk keperluan sekolah. Obrolan tentang uang, benar-benar efektif membuat bapak mengikat kepalanya dengan handuk dan bersarang di kamarnya untuk beberapa waktu. Aku juga benci itu. Bukannya memang kewajiban orang tua mencukupi kebutuhan anaknya ya?

Sejak sebal melihat Bapak yang demikian, aku mengubah caraku meminta uang. Saat kami sedang ceria, cerita, dan mereceh bersama menertawakan patung polisi yang tak mau berteduh saat panas dan hujan, aku berseloroh tentang buku-buku paket yang mahalnya minta ampun. Saat sedang diminta bikin sambel terasi beserta lauk-lauknya, dan beliau membantu sekedar mencucikan beras dan menanaknya di magic com, lalu berlanjut menyenandungkan lagu kendang kempul favoritnya sambil sesekali mereceh, aku mengutarakan hal yang kutahan seperti, "Pak, bulan depan, DSB tampil di Madiun. Seragamnya baru lagi. Ganti baru. Ada dua setel. Satunya dari sekolah, satunya beli sendiri." Di tengah bernyanyi, bagaimana Bapak menginterupsi kan? Apalagi aku lagi tandang gawe. "Seragam yang sekarang nih lebih murah dari yang merah dulu. Nggak suruh kudu buru-buru bayar sih. Tapi, karena nantinya dimiliki pribadi, nggak dibalikin ke sekolah, jadi akhir-akhirnya ya ganti." Selalu ada pembanding yang seakan berkata, 'uang segitu tuh nggak ada apa-apanya'. 

Aku masih sering membumbui dengan, "Biaya makan yang ke Madiun besok separuh aja yang ditanggung sekolah, nggak kayak dulu di Probolinggo yang full sama transport. Ya untung sih, transport masih gratis. Gara-gara sampean sih, nyuruh doa biar Pak R (kenalan Bapak) jadi kepsek di sekolahku. Jadi dana buat marching seret." Kalau sudah disalahkan begitu, Bapak pasti menjawab, "Ya, setidaknya kan Pak R tahu kondisi keluarga kita." Aku tak mau kalah. "Kalau tahu, terus kenapa?" (FYI, belio, Pak R, meninggal setahun setelah Bapak, saat jadi kepsek SMANSA alias sekolah terfavorit sekabupaten. Terakhir kabar yang kudapat saat belio menjabat di sekolahku, adalah fotonya di koran yang terlibat korupsi.)

Aku masih terus memberikan serangan seperti, "Tenang, kalau sampean nggak punya uang, aku masih ada simpenan kok. Buat transport, makan, dan jajan masih bisa aja. Tapi, nggak ada jaga-jaga buat SPP bulan-bulan depan." Dengan begitu, kalau kubilang jauh sebelum-sebelumnya, Bapak jadi giat kerja. Menyisihkan uangnya. Bapak sangat boros, asal tahu saja. Kalau habis dapat uang, aku selalu merampoknya dengan berbagai muslihat. Jadi, di hari-hari tertentu, uangku lebih banyak dari Bapak. Jika orderan sepi dan tak memegang uang, aku tak lantas tak bisa jajan. Bisa, selalu bisa. Hanya kadang memilih tidak atau membatasi diri. Selain itu, aku sangat perincian. Jika tak dapat saku di hari-hari Bapak tak ada uang, aku menagihnya saat Bapak banyak uang. Itulah sumber danaku saat memiliki Bapak yang boros. 

Aku sering bercerita hal-hal tak penting untuk Bapak seperti, "Harga trompet ini mahal loh Pak." Menyebutkan nominal sambil menunjukkan trompet berwarna kuning emas yang kukeluarkan dari case saat harus berlatih sendiri di rumah. Menerangkan betapa mahal ekstra yang kuikuti dan bagaimana kami bertahan di saat-saat sulit. Aku juga memamerkan kemampuanku meniup alat musik itu, seperti halnya saat aku memamerkan kemampuan bermain pit (marching bell/cellophone mini) yang juga kubawa pulang untuk berlatih sendiri saat SD. Saat punya piano kecil yang kubeli diam-diam dari uang THR lebaran, bapak diam-diam pula mendengarkanku memainkannya. Kalau sedang iseng lagu asing, bapak hanya diam. Tapi kalau sudah lagu banyuwangen atau lagu lain yang bapak tahu, beliau pasti berteriak menyahut. Entah request atau ikut nyanyi. Ah, kenapa jadi ngomongin Bapak?

Ya, Bapak memang bukan orang yang sempurna. Bahkan sangat punya banyak cacat sebagai seorang Bapak. Namun, aku tidak sedang menjelekkan beliau, karena aku sangat yakin beliau tahu dan sangat tahu itu. Bapak juga pasti akan berkata hal yang sama untuk dunia jika disuruh mengenalkan dirinya sebagai seorang bapak. Aku merasa sangat tidak adil jika selama ini, di blog ini, hanya bercerita tentang baik-baik beliau. Meski ya dia benar-benar baik. Selain emosional dan sakit kepala ini, sakit kepala yang tanpa sebab--pun ada sebab juga nggak masuk akal, semoga aku bisa berumur panjang. Setidaknya, aku tidak ingin buru-buru mati. Serius.

Sebenarnya, aku enggan menulis. Alasannya sekedar takut ini jadi tulisan terakhir kalau aku mati. (Fak! Kenapa playlistnya nyetel Sampai Menutup Mata? Sebelumnya malah Perpisahan Termanis lagi.) Ya, aku takut mati. Setelah pening di kepala dini hari itu, kepalaku tak benar-benar bisa leluasa melakukan fungsinya. Aku tak sempat bertemu Ibuk karena berangkat pagi dan Ibuk menambah hari di tempatnya menginap. Rumah lenggang kosong. Perutku mual. Awalnya aku sudah memutuskan untuk tidak berangkat. Tapi, Mas yang menelpon pagi-pagi sekali menyarankanku meminum salah satu merk obat yang belum pernah kucoba. Dengan penuh keyakinan aku beli dan minum obat itu. Berkata pada teman yang akan berangkat bersama jika aku siap. Meski tidak lanjut tidur setelah terbangun di malam itu, aku seperti baik-baik saja. Seperti. 

Ini sudah jadi hal yang sangat aku tahu. Aku selalu terlihat baik-baik saja saat bersama orang lain. Tetap melemparkan banyak guyon yang terkadang bisa membuat temanku terbahak atau sekedar mengerutkan dahi. Dan saat itu, sepanjang perjalanan berangkat itu aku tetap melakukannya. Dengan badan yang jujur saja belum fit, kami dan puluhan orang di sana mendapat tiket berdiri. Pertama kali di kondisi tubuh yang begitu? Padahal kami sudah datang sangat-sangat-sangat pagi. Aku ingin mengumpat. Tapi sayang ucapanku kan. Mending effort itu untuk mereceh saja. 

Di perjalanan, syukur aku dapat kursi kosong. Banyak yang lain berdiri di tengah jalan dan di pinggir gerbong. Pemandangan itu, baru pertama kutemui di kereta. Kalau di bis, aku sudah biasa. Banyak kali aku berdiri dari Jember ke Banyuwangi. Ya, tulisan pertamaku di sini tentang itu juga kan? Sepertinya. Seorang perempuan di seberang dudukku, membaca sebuah buku yang judulnya familiar. Filosofi Teras. Saat itu, aku lupa dimana mendengar judul itu. Kukira itu novel. Tapi, ternyata kemarin saat kucoba cari di internet, itu buku filsafat. Ah, aku ingat dimana mendengar judul itu. Pikiran-pikiran yang kutanamkan ke perempuan yang membaca buku itu, tiba-tiba berganti. Kukira novel loh, ternyata buku filsafat. Bukannya apa-apa. Aku hanya kagum betapa tinggi niat baca perempuan itu bahkan saat kondisi kereta tidak nyaman begitu. 

Kembali ke kos, hari-hari berjalan seperti biasa. Aku masih minum obat saran dari Mas. Tapi, tak terlihat efeknya. Aku masih sering pusing. Padahal sudah makan banyak, bergizi (harusnya), dan teratur. Jadilah aku berganti ke merk yanag biasanya sangat manjur untukku. Namun, itu juga tak berefek sekali. Aku tak melanjutkan minum obat lagi karena takut ketergantungan seperti Bapak yang selalu menyetok banyak obat-obatan di rumah yang cepat habis dan selalu mengganggu waktuku dengan menyuruh membelinya lagi dan lagi. Aku tak mau begitu. Kuputuskan berhenti. (Oh ya, sempet minum Tolak Angin juga sih, tujuannya biar pinter aja, hehe.) Melakukan hal-hal yang kusukai dan berakhir sama. Meringkuk di kasur dan menyaksikan hiruk pikuk manusia-manusia melalui media. Melakukan hal menyenangkan yang malah jadi menyesakkan, Aku menolak ajakan keluar beberapa teman. Bukan karena sakit kepala sebenarnya, karena aku akan senang hati meredakan kesakitan itu dengan bertemu mereka. Hanya, aku malas. Malas dengan diriku.

Aku menahan diri sekuat mungkin. Menahan sakit yang kadang membuatku sambat di dunia maya serta pada satu-satunya teman yang sedang bersamaku. Sebenarnya aku muak dengan diriku sendiri yang saat tak kuasa, melenguh, "Uh, ngelu!" Sumpah, aku kesal dengan diriku yang itu. Aku tahu rasanya mendengar keluh yang tak ada habisnya itu dari Bapak, dan temanku itu sangat sial mendengar keluh-keluh itu.

Hari ini temanku itu sidang, ujian akhir. Aku masih harus ikut pusing perkara teknis dan tetek bengeknya. Tapi, tak apa. Aku senang-senang saja. Sayangnya kepalaku menganggu. Ingin aku meletakkan saja di suatu tempat. Tapi, bagaimana? Bagaimana bisa? Bagaimana kelanjutannya? Sepertinya berlebihan jika mendramatisir sakit kepala ini jadi alasan mati, tapi serius, aku takut mati.

Lirik Sampai Menutup Mata, seperti mengingatkanku jika aku harus berdoa dan memohon. Aku jauh dari-Nya dan tak pantas meminta. Terakhir aku ingin mati, bapakku yang meninggal. Kali ini aku tak ingin mati, aku tak ingin kehilangan siapapun. Diri sendiri, keluarga, teman-teman, kenalan, dan bahkan orang-orang yang kubenci. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Aku tak ingin duka kehilangan Bapak, kakak, dan teman, muncul lagi. Pun, tak ingin orang lain merasakan perasaan serupa jika aku mati. Aku masih sangat pecundang untuk benar-benar pulang. Gol-golku masih sangat-sangat banyak. Aku bahkan kesulitan mengorganisir hal-hal sederhana yang sayangnya kuantitasnya banyak. Apalagi, aku masih punya keluarga yang harus kutemani. Aku tak bisa janji atau melemparkan pernyataan untuk hidup sampai kapan atau sampai apa, tapi aku ingin hidup. 

Obrolanku akhir-akhir ini benar-benar menakutkan. Benar, aku sering berceletuk tentang kematian dengan banyak orang. Tapi, serius. Ada rasa aneh akhir-akhir ini saat aku berceletuk hal jelek itu. Rezeki, jodoh, dan mati. Tak ada yang tahu itu kan, selain yang di sana? 'Kata-kata adalah doa' adalah kata-kata yang sangat menakutkan. Ya Tuhan, Ya Allah, aku tak ingin kata-kataku yang 'itu' terkabul. Itu guyon Tuhan. Agar orang-orang di sekitarku tertawa. Menertawakan diriku, bukan kematianku. Aku ingin hidup. Pikiran-pikiran buruk dan reka adegan tak baik ini, mohon jauhkan dari hamba. Dulu, dulu saat skenario terburuk hamba reka, engkau memberi hamba skenario yang jauh lebih buruk. Mohon untuk tidak demikian lagi. Hamba lelah. Sangat lelah. Namun, demikian, hamba tak ingin mati pasrah. Jangan cabut nyawa ini. Hamba mohon, jangan.

Oh ya. Nggak apa-apa aku masih harus berbagi tempat privat untuk lebih lama. Semoga, aku baik-baik saja. Semoga kalian baik-baik saja. Semoga mereka-mereka yang tersayang baik-baik saja. Semoga dan selalu. Selamat berganti hari.

Senin, 23 Mei 2022

Bukan Jam Setengan Enam Pagi

Bosan. Capek. Dua kata yang menggambarkan hari ini, sekaligus mengingatkanku pada sebuah puisi yang diteaterkan bertahun-tahun lalu.

Aku baru saja membaca ulang tulisan sebelumnya, OSPEK. Tak ada alasan tertentu. Hanya bosan dan capek. Ingin menulis tak tahu menulis apa. Mengerjakan skripsi pun pada tahap bosan dan capek. Kebetulan aku sedang mencari-cari kata bosan hari ini, jadinya capek. Begitu kira-kira penjelasan tentang bosan dan capek hari ini. 

Sebelumnya aku menonton drama My Liberation Notes. Aku nggak akan membahas drama itu dalam-dalam karena terlampau banyak yang musti kujelaskan. Nanti saja di kesempatan lain. Di waktu lain yang khusus drama itu. 

Awalnya aku berpikir jika tulisan OSPEK dan My Liberation Notes memiliki sebuah hubungan yang baru kusadar. Mimpi yang terjadi di OSPEK seakan wujud dari imajiku atas My Liberation Notes. Di sana, mereka-mereka tinggal sampai dewasa bersama orang tuanya. Kukira demikian. Kukira mimpi itu muncul dari sana. Namun ternyata tidak. Aku jatuh pada drama itu mungkin saja karena mimpi itu. Mimpi yang berupa andai. Pengandaian yang hanya bisa muncul pada cerita; drama Korea. Ah, drama ini nggak hanya relate, alih-alih jadi dunia kedua seperti layaknya mimpi. 

My Liberation Notes episode yang kutonton hari ini benar-benar bikin mata bengkak. Sudah lama isakan di depan sebuah film tak kualami. Terakhir drama tentang seorang sahabat yang meninggal di usia muda. Nangis di sana berlangsung di seluruh episode. Ada bagian-bagian yang sangat sakit sampai-sampai kenanganku bersama Ristin turut memukul tengkukku. Memang drama itu bergenre air mata. Aku sudah sangat mempersiapkan diri. Namun, drama yang kutonton kali ini benar-benar berbeda. Aku tidak siap dengan lompatan cerita yang sayangnya bukan sebuah lompatan. Itu sebuah alur yang mau tak mau harus dilewati. Benar-benar memukul. 

Aku hampir-hampir tak berhenti menangis di episode berikutnya. Sepuluh menit pertama air mata tak mau berhenti. Aku capek sesenggukkan. Berhenti, aku mencoba melakukan beberapa  aktivitas lain yang sama tak bergunanya. Kemudian lanjut. Kukira di titik berikutnya, aku jadi biasa. Ternyata tidak. Perihnya makin menjadi. Alurnya yang lambat membuat kesengsaraan terlihat semakin jelas. Pelan, sangat pelan. Luka-luka mereka terlihat semua. Menyesakkan. Di tiga puluh menit kemudian, aku berhenti. Keluar dari jendela Nteflix. 

Temanku pulang. Keluarga Ibu Kos sedang melakukan entah apa itu pokoknya ramai sekali. Perutku lapar. Tak ada makanan, pun malas keluar.  Tidak bisa berpikir untuk melanjutkan yang bosan dan capek tadi. Akhirnya aku menulis. Harusnya, beberapa hari belakangan ini banyak yang kusalurkan. Namun, urung. Aku memilih tidak. Akan memakan waktu lama. Besok saja, saat itu semakin  jelas.

Eh, saat itu kapan? Hari ini ada pesan dari hal yang ingin kusampaikan itu. Namun, aku malah mengabaikannya. Bersyukur karena read WhatsApp mati. Tidak jahat. Aku juga berpikir apa jawabannya. Aku bingung harus menjawab apa. Aku takut tak bisa berkomitmen jika mencoba-coba saja. Dan yang lebih membuatku seakan enggan membalas, keegoisan seorang teman yang membuatku tetap begini-gini saja. Sayangnya, dia tak sadar. Tak pernah sadar.


Sabtu, 14 Mei 2022

OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kehidupan)

Mungkin tiga bulan yang lalu, obrolan biasa sebelum tidur bersama Ibuk, berujung pada pembahasan panjang yang menyesakkan. Hal-hal tentang mereka yang telah meninggalkan kami dibahas. Aku harus menyalakan rekaman di ponsel karena takut lupa apa saja yang kami obrolkan. Berjam-jam lamanya. Untuk kesekian kalinya, ada hal-hal yang baru kutahui. Tapi, yasudahlah. Tak boleh ada kata andai muncul.

Belum hilang quote tentang, "mending yasudahlah, daripada andai," merasuki otakku, aku kembali berandai. Tak sedang sesak atau menderita atas rasa rindu yang tak akan pernah terbalas selain pada mimpi. Namun, mimpi itu menjadi bahaya dengan tidak mempertemukanku dengannya secara imaji saja. Melainkan, membawa pada cerita lain yang membuatku berandai. 

Aku ada bersama mereka. Mereka yang sudah pergi meninggalkan dunia, dan mereka yang pergi meninggalkan kehidupannya bersamaku. Aku kembali tinggal dengan keluarga kecilku. Bapak, Ibuk, Mas, dan aku. Tidak, ini bukan kisah tentang masa lalu, melainkan tentang andai. Andai Bapak masih hidup, andai Masku belum menikah dan masih seperti ia yang dahulu. 

Kami tinggal di rumah sederhana yang jauh lebih baik dengan rumahku saat ini. Poin pentingnya, di sana bapak terlihat bahagia. Aku dan yang lainnya pun demikian. Apalagi, kami tidak tinggal di kota kami sekarang. Melainkan di kampung halaman bapak. Meski demikian, kami tidak serta merta mapan secara ekonomi. Bapak tetap bekerja setiap harinya. Aku dan Mas berbisnis bersama di pasar. Berjualan entah apa, yang jelas kami punya truck modern yang digemari banyak orang. Mas tetap menjadi dirinya yang bekerja keras dan enggan meninggikan ilmunya secara akademik. Dan aku, tetap menjadi aku yang tengah berjuang di tugas akhir. Bagiku, di mimpi itu juga berat. Namun, ada keluargaku di sana. 

Mimpi semakin melebar ke hal-hal acak. Pernikahan sepupu, aku yang masuk tim detektif dan kemudian disandra penjahat lalu diperlakukan seperti sedang ospek, jalan-jalan bersama Mas di aspal pesawahan yang berlandskap indah, makan-makanan enak khas perayaan, bertemu keluarga besar, berlarian di kota kabur dari penjahat, punya banyak teman kompak di tim entah apa yang kesemuanya sudah sangat kukenal di mimpi itu. Ah, pengandaian yang berbahaya. Andai, mimpiku hanya sebatas Bapak yang memarahi atau menyemangatiku perkara skripsi, aku tak larut dalam kisah yang tak mungkin terjadi itu. 

Hal-hal terkait Bapak, sudah tak mungkin bisa kuwujudkan. Bahkan menjadi satu-satunya anaknya yang sarjana, seakan tak berguna tanpa senyum Bapak. Omong kosongku bersama Bapak, menjadi bohong semata. Dari kecil, hidup Bapak tak mudah. Meski dia selalu tertawa di depan orang-orang, suka melawak, mengabaikan masalah yang sebenarnya ia alami, kehidupannya cukup sulit. Hanya Bapak yang berperilaku demikian. Tawa dan segala macam dirinya. Fase-fase tertentu yang membuat pikirannya kaku, menjadikan dirinya tak mau gerak dan meratapi nasib dalam mimpi. Ya, seperti aku. Tidur. Itulah persamaan kami, gampang drop jika kebanyakan pikiran. 

Obrolanku bersama Ibuk tiga bulan yang lalu lebih kompleks dari obrolan kami mengenai Bapak atau hal-hal lain biasanya. Aku mulai mengandai dan menyalahkan takdir kenapa membawa kisah kami pada hal buruk begini. Aku punya banyak janji pada Bapak yang satupun belum kuwujudkan. Aku tak pernah bersikap baik pada Bapak, seperti membelikan hadiah pada Ibuk dengan gaji pertamaku dulu. Aku meminta Bapak mengerti aku sedangkan aku yang berkata selalu mengerti Bapak hanya ada di pikiranku saja. Bapak orang baik. Bapak selalu jadi hebat di mataku, meski tak semua yang dilakukannya dinilai baik di mata orang lain. Bapak orang baik, meski hidupnya buruk.

Pengandaian tentang aku yang menginginkan hidup bapak pun baik, hanya akan jadi bunga tidur untuk selamanya. Andai diriku menjadi lebih baik dari saat ini pun, hanya aku seorang yang mengecap rasa yang harusnya manis itu. Bagaimana pun kelak, pahit akan selalu menemani aku yang menyesali kehidupan ini, meski bukan aku yang membuat begini, meski bukan aku yang ingin begini. Ibuk? Ibuk pasti akan bangga padaku. Tentu saja. Namun, Ibuk ya Ibuk, Bapak ya Bapak. Mereka punya indikatornya sendiri. Ibuk, hanya ingin hidup seperti saat ini. Kami tak pernah berandai punya ini itu, dan ketika kutanyai Ibuk tak pernah ingin. Ibuk ingin aku sukses meraih apapun yang kuinginkan, namun Ibuk tak ingin apapun selain itu. Beliau sudah merasa sangat kecukupan di titik ini. Aku ya aku, Ibuk ya Ibuk. 

Ah... Lagi-lagi menghabiskan waktu untuk berceloteh. Lelah karena tidak melakukan apa-apa, benar adanya. Aku lelah sekali. Berlari ke manapun, akhirnya ya ke sini lagi. Melompat ke manapun, jatuhnya ke sini lagi. Ke titik yang masih tak seberapa ini, aku sudah sangat lelah. Menjadi pribadi yang bisa dibilang lebih baik dari sebelumnya di beberapa hal. Pun, menjadi pribadi yang sangat bisa dibilang lebih buruk dari sebelumnya di beberapa hal lainnya. Aku benci diriku, tapi aku juga sangat menyayanginya. Mungkin sekarang, rasa sayangku kepada diriku lebih besar dari rasa sayangku kepada diriku dahulu. Namun sepertinya, rasa sayang itu belum sebesar rasa sayang bapak terhadapku. Masih ada benci di sebagian yang lain. Ah, mungkinkah kebencian selalu mengiringi rasa sayang? Cinta? 

Aku sedikit bisa bernapas. Entahlah. Aku tidak sedang kesal atau kenapa-kenapa. Hanya tiba-tiba air mata tak mau berhenti dari balik kaca mata. Padahal layar monitor laptop hanya menunjukan lagu Super Junior jedag jedug. Hahaha, sudah deh ya. Terima kasih telah menampung keluh kali ini. Sampai jumpa!