Selasa, 05 Mei 2020

05052020



Selamat Ulang Tahun!

Masih hari ke lima, tapi ide sudah ngadat. Kemauan menulis turun. Kalo pas nggak mood dan banyak pikiran jatuhnya ya nulis pas-pasan. Kacel. Kali ini aku mau ngucapin selamat ulang tahun saja.

Halo Epen alias Rusdan Efendi bin Imam Sumadi, selamat menetas, Nak. Sudah berapa tahun ya? Sebentar kuhitung dulu... 18 atau 19? Kayaknya kita cuma beda tiga tingkat deh.

Aku hampir tidak ingat sekarang ulang tahun keponakan yang punya bakat fakboi dari kecil itu. Hmm, aku nggak begitu ingat sih sebenernya ulang tahun-ulang tahun keponakan dan sepupu, cuma Epen nih ultahnya deketan sama kakak jadi ya inget. Iya kan, Taurus kan? Haha~

Kata orang-orang rumah, selagi Epen belum ada aku yang kemana-mana dibawa oleh orang tua Epen. Yap, dia anak pertama. Suka bersajak, tapi sepertinya lebih suka gambar. Inget banget dah, tembok kamar dan ruang tamu rumahnya pebuh sama coretan.

Selain ulang tahun si Epen, kayaknya hari ini bakal dikenang dengan hal lain. Seorang seniman, penyanyi, legend, meninggal dunia. Lord sembahan masyarakat ambyar yang akrab dikenal Didi Kempot telah meninggal dunia. Indonesia berduka. Kaum ambyar semaki ambyar. Terakhir membaca update berita, belum diketahui pasti penyebab beliau meninggal. Dari berita itu, aku baru tahu jika umur Lord hanya berjarak satu tahun lebih muda dari almarum bapak, salah satu penikmat lagunya.

Aku tidak begitu mengikuti pergerakan karir Om Didi. Seingatku, sedari kecil, ketika ada beliau di televisi aku langsung memanggil bapak, berkata ada idolanya di sana. Tentu saat itu aku tidak tahu tentang makna lagu atau keambyaran lirik dan melodinya. Apapun lagu yang disetel bapak, aku suka. Mulai dari penyanyi jawa seperti Lord, Soni Jos, Mathos, dan yang tidak kuhafal namanya, sampai lagu Using kendang kempulan. Catur Arum, Candra Banyu, Adistya dan penyanyi kawakan lainnya, juga tidak lupa Ebit GAD, jadi teman.

Kemarin, baru kemarin ini, saat iseng bermain Candy Crush, aku menonton video iklan untuk menambah nyawa. Sebenarnya, hanya perlu lima detik awal untuk bisa lanjut bermain. Tapi, entah mengapa aku menonton video tersebut sampai habis. Ada Lord di sana. Sedang menyanyikan lirik iklan dengan lagu andalan. Aku amati wajahnya. Dalam batin, beliau awet muda ya. Tapi di video itu, sepertinya beliau terlihat pucat. Atau aku saja yang tidak memperhatikannya selama ini. Setelah itu, aku berniat mendengarkan lagu-lagunya.

Tidak dinyana, semalam lagu dan lirik yang diplesetkan dengan istilah jawa lainnya, lewat di timeline Twiter. Aku tambah suka saja. Ah, klise. Tapi memang benar, yang sudah hilang, akan semakin disayang~

Selasa, 5 Mei 2020

Senin, 04 Mei 2020

Tentang Beauty and The Beast


Bicara soal Mei, aku punya cerita. Tahukah SBMPTN tahun 2017 diadakan bulan Mei? Beauty and The Beast lahir bulan itu, tepatnya beberapa hari sebelum hari H SBMPTN.

Aku ingat betul bahwa suatu malam aku bermimpi, lalu kutulis mimpi itu menjadi 7 halaman dengan 3 halaman adalah konsep cerita yang telah dibumbui imajinasi.

Nah, siangnya mulai ngetik dan baru selesai tengah malem. Nggak sia-sia, saat itu dapat 5 bab sekaligus. Sedikit lupa dengan SBM, besoknya aku nulis lagi dan bertambahlah ceritaku. Saat itu menulis adalah pekerjaan utama, bahkan saat aku berstatus 'buruh'. Di tempat kerja pun sebisa mungkin waktu istirahat kugunakan menulis.
Saat itu si notebook masih pro, gak pernah rewel. Hingga aku menunda menulis untuk fokus SBM yg tinggal menghitung jam.

SBMPTN usai. Nafsu nonton drakor yang kutunda selama mendekati SBM kubayar esok malamnya. Dan tahu, tidak sekedar membayar dengan waktu, tapi dengan hal yg tak terkira.

Euforia gila menonton membuatku histeris dan tak sadar menerjunkan si notebook dari singgasananya. "Brak!" Seperti mimpi malam yg tak pernah nyata. Dia baik-baik saja. Namun sayang, ada banyak luka yg tak kasat mata. Sial Rabu kedua kalinya, jatuh di bulan itu.

Sesalnya ada sampai sekarang. Keinginan untuk jauh dari rumah dan mengabdikan diri  menjadi 'pekerja teks komersial' seakan runtuh ketika memahami betapa rapuhnya senjataku itu. Setelah itu tak ada niatan menulis selain paksaan dari cerita yg harus segera kelar. Namun, bukannya selesai, imajinasi melebar dan semakin luas saja jangkauannya.

Semakin rumit cerita itu, semakin menarik bagiku. Dan semakin banyak tepuk tangan untuk cerita itu, maka semakin sulit pula mengakhirinya.

Ya, harus kuakui aku malas menulis. Tugas kampus, berita, cerpen, bon pulsa teman-teman, sampai catatan harian (seperti sekarang ini).
Tapi, ada hal lain yang menjadi alasan terkuatku. Ending, adalah kesan terakhir yg ditunggu dan akan terus diingat. Jadi, aku tak mau merusaknya dengan gegabah menulis.

즴븰 1 Mei 2018

Yap, seperti yang tertera di atas, tulisan itu lahir tanggal 1 Mei 2018. Saat itu, aku masih tidak familiar dengan maksud hari buruh. Waktu itu, aku hanya rindu saat-saat masa lalu.

Tentang kisah Beauty and The Beast, sekarang sudah tamat. Aku menyelesaikannya awal tahun lalu. Saat mengikuti sayembara novel salah satu penerbit. Ending yang muncul seadanya. Yang jelas, apa yang ingin kusampaikan sudah tersurat di dalamnya. Namun sayang, berita selanjutnya tidak begitu baik. 

Ingat betul, saat itu sehari setelah pulang dari PKL (Praktik Kerja Lapangan?), saat tengah mengadakan sekolah jurnalistik hari kedua, saat salah satu berita kami naik, aku mendapat email jika naskahku ditolak, tidak lolos. Tidak apa, aku tidak sedih, toh, banyak hal yang lebih menyedihkan saat itu.

Aku hanya berpikir, kenapa aku lalai dengan tujuan awalku kuliah? Menyelesaikan cerita-ceritaku. Kebelinger dengan kesibukan, aku menomersekiankan menulis. Seperti yang kutulis di atas, padahal dulu semalam bisa menulis sampai lima bab sekaligus. Sedangkan saat aku menulis itu, sehari separagraf pun susah--sekarang juga sih.

Mengenai saat ini, cerita Beauty and The Beast-ku sudah berubah nama. Beast Mate. Dia ekspor dari Wattpad ke salah satu aplikasi daring berbayar. Namun sayang, nasib Beast Mate tidak lebih baik dengab Beauty and The Beast. Pasarku harusnya bukan penikmat aplikasi daring itu. Karena sudah terlanjur, ya sudahlah tidak apa. Toh, aku juga sudah mendapat profit dari sana--meski lama, hiks.

Beauty and The Beast, salah satu anak yang kulahirkan ketika baru meninggalkan pabrik. Awal ceritanya dari mimpi, yang seperti kuceritakan tadi. Dari kisah tentang remaja SMA yang ingin berkuliah (just like my self wkwk), hingga kisah mistis tentang Beast. Silakan berpikir jika Beast di sini seperti pada kisah Beauty and The Beast yang sesungguhnya. Tapi tahu, aku mengisahkan cerita versiku dengan mencampurkan kepercayaan yang kubuat sendiri. Ah, apa namanya ya? Aku membuat mitos pada cerita itu. Tentang pamali-pamali yang berakhir kutukan.

Di sana juga ada MIC. Mak Ijah College. Tempat semacam Hogwarts versi lokal. Ada pembagian kelas-kelas tentang pengendalian diri. Ah, ilmu-ilmu kebatinan, indigo, kerasukan, setan dan hal-hal sejenisnya ada di sana. Haha, lucu jika mengingat aku menulis itu dengan sadar. Kenapa aku suka berkhayal? Wkwk.

Ya sudah segitu saja. Hari ini sedang tidak ada ide menulis. Pun, melanjutkan kisah tentang pabrik harus mengorek masa lalu dengan sejelas-jelasnya. Apalagi, ketika mengingat aku punya draft tentang cerita Beauty and The Beast yang bertransformasi menjadi Beast Mate, ingin sekali meletakannya di media inj. Jadi ya begitulah, sekian.

Selamat membaca.
Eh~
Ya sudah ini kukasih link cerita tadi, hehe
https://m.dreame.com/novel/j0ua+AWeTvQksxyxI/DWDQ==.html

Minggu, 03 Mei 2020

Mbak dan Mbak


Tok tok, hai!

Sudah hari ke tiga challenge Bang Wiro ya? Hmm, kacel. Tulisan pertama tentang pabrik roti itu terjeda sama maling bangsat. Menarik ingatan masa lalu itu buatku sulit sekali. Tapi tetap sih, aku suka. Hehe. Hanya, ketika menyadari banyak hal lain yang terus menerus terjadi di kehidupan sekarang, ya gimana ya, pikiran jadi nggrambyang.
Terlepas dari segala hal yang terjadi akhir-akhir ini, kebetulan aku baru saja melihat suatu hal yang sedikit jadi pikiran. Masih ada sedikit hubungan dengan kisah di pabrik roti sih. Cuma ya ini versi present-nya gitu loh.

Inget ada tokoh bernama Mbak Nana? Mbak-mbak yang waktu wawancara dan panggilan kerjanya bareng aku. Setelah dia menikah kami lost contact. Aku masih menyimpan nomer what's app-nya sih, tapi sepertinya suaminya yang make nomer itu. Akun medsosnya juga. Oh iya, aku dan mbak Nana sama-sama bertahan lama (wah spoiler kisah past-nya ini), cuma karena Mbak Nana menikah dia undur diri dulu. Nggak lama aku keluar juga, hehe.
Mbak Nana ini salah satu tempat curhatku. Kondisi pabrik yang banyak memunculkan gibah sesama karyawan, membuat teman yang tidak termasuk ulo weling sangat susah. Aku tidak tahu pasti sih gimana  Mbak Nana dihadapan orang lain, cuma menurutku dia salah satu orang yang bisa dipercaya. Diajak diskusi, sambat, dan saling curhat. Umur yang terpaut enam tahun bukan penghalang. Aku belajar banyak dari ketekunan dan kesabarannya. Tidak seperti wajahnya yang masih terlihat muda, lebih dari itu dia sangat dewasa. Ah, aku jadi teringat teman kampus yang seperti mbak Nana ini.

Hmm ada nggak sih diksi lain selain sahabat buat ngegambarin teman yang bener-bener teman? Agak gimana gitu, ehe.

Ya gitu sih, Mbak Nana seperti halnya dia. Ah, halo Eon--nama temenku tadi--meski mungkin kamu tidak segabut itu untuk baca ini, tapi mungkin penyebutan namamu di sini bisa sampe deh. Hehe~

Mbak Nana sering ngasih solusi dan semangat. Dia bisa mengerti keadaanku saat itu. Kenapa aku memilih menjadi potato daripada sweet potato, tentang kejombloanku, tentang keinginan dan cerita-ceritaku, perihal keluarga dan ekonomi, dia mendengarkan. Ah, kali itu tak ada teman selain orang-orang pabrik. Spam chat di grup Line bersama empat sahabat karibku berakhir dengan chatku sendiri. Teman lainnya? Ya, tahu sendirilah. Silakan baca kisah-kisah sebelumnya.

Lain Mbak Nana, lain juga Mbak Ningrum. Dia perempuan sebayaku. Masuk pabrik seminggu atau dua minggu setelahku. Saat itu, aku sudah di mesin suntik (sebutan untuk mesin raksasa pengisi roti krim). Aku sedikit membantunya beradaptasi dengan pekerjaan kami. Memberi tahu cara menumpuk loyang dengan sabar. Kebanyakan anak magang kesusahan melakukannya. Mbak Ningrum salah satunya yang cepat beradaptasi. Menurut ibu-ibu di tim suntik kami, jarang ada anak magang seperti aku dan mbak Ningrum. 

Bicara pendidikan, Mbak Ningrum alumni SMA tetangga. Dia berteman dengan beberapa teman SD-ku. Kami menjadi dekat begitu saja. Dia orang yang ramah. Sama-sama pekerja keras seperti Mbak Nana. Tapi, ambisi kami berbeda. Jika aku ingin kuliah, dia ingin menikah.

Ah, rindu mereka bedua. Pagi tadi, iseng aku menengok timeline Facebook. Mbak Ningrum sudah melahirkan. Anaknya lucu, ya seperti bayi baru lahir pada umumnya. Ya, dia telah menikah. Sepertinya setahun setelah aku keluar dari pabrik itu dia menikah. Suaminya adalah laki-laki yang sering diceritakannya dahulu. Ah, senang mengingat kisah cinta mereka. Dia tidak mengundangku, juga orang-orang pabrik lain sepertinya. Waktu itu juga aku di rantau. Mbak Ningrum sepertinya tidak lagi menyimpan nomerku. Kami berhubungan lewat kolom komentar Facebook. Dulu di pabrik, komunikasi kami lewat grup BBM dan Line. Setelah berhenti dari pabrik, aku tidak pakai itu.

Untuk Mbak Nana, tadi aku iseng bertanya kabar setelah menonton story What's App yang memaparkan gambar dia dan anak perempuannya yang sudah besar. Setelah sekali dibalas, aku tak membalas lagi. Dugaanku, nomor itu dipakai suaminya. Tahu, kenapa aku tahu? Lif. Dia menyebut namaku Lif, bukan Lit. Oke, mungkin ada kemungkinan typo. Tapi, melihat balasannya sesingkat itu, kemungkinan besar dugaanku benar.

Ah, itu dulu kisah hari ini. Aku terlalu lelah untuk berpikir. Hatiku sedang sakit karena suatu hal yang baru saja terjadi. Masih banyak hal lain yang mengejar. Masalah dan masalah, ya ada. Aku berusaha tertawa. Tersenyum dan berusaha terus menulis.

Selamat berisitirahat, semoga bertemu mereka berdua di kisah lainnya :)
3 Mei 2020

Sabtu, 02 Mei 2020

Maling Oh Maling


2 Mei, 2020.

Lagi-lagi, selamat malam. Bertemu lagi dengan waktu untuk melegakan batin; menulis. Haha, baiklah mari lanjutkan.

Tepat hari ini, timeline-timeline media sosial penuh dengan ucapan untuk Hari Pendidikan Nasional. Sebenarnya, jika dikaitkan dengan lanjutan kisah tentang pabrik roti kemarin sangat cocok. I thought, I used to do everything for pendidikan. But, I have another story to tell.

Kemarin, ah dini hari tadi, selepas mengunggah tulisan di blog, aku iseng bikin roti panggang pake durian. Aroma durian yang hebat mengingatkanku pada bertong-tong krim durian di pabrik dulu.
Hampir pukul satu aku berjalan ke dapur. Menyiapkan perkakas dan bahan-bahannya. Tiba-tiba aku ingin menjadikan eksperimen itu konten. Kuambil ponsel dan merekamnya. Beberapa kali aku mengulangi pengambilan gambar.

Malu sama mata kuliah jika jelek jadinya hehe.

Merekam dengan satu tangan cukup sulit sulit. Sedikit-sedikit, berhenti. Mulai dari membelah sampai memisahkan daging dengan bijinya, aku lakukan di tengah jalan antara ruang tengah dan dapur. Setelah selesai baru aku membawa semua tetek mbengek itu ke dapur, dekat kompor di pojok ruang.

Proses penggorengan tidak kalah lama. Berulang kali aku cetak-cetel mematikan dan menyalakan api cuma untuk dapat komposisi gambar yang bagus. Empat lembar roti kupanggang di atas teflon. Bodoh, aku membolak-balikkan roti-roti itu dengan tangan. Jadi, sekarang ini, mengetik ini, jari-jariku masih perih.

Saat semua roti telah terpanggang, aku mendengar suara-suara aneh di luar. Dari pintu dapur sebelah barat, kananku berdiri saat itu. Kupikir, itu pamah. Pintu itu berhadapan juga dengan pintu dapur rumah paman. Ya sudah sih, paling ngapain gotu beliau. Tapi, lama kelamaan, suara aneh itu tak kunjung pergi. Jika memang paman sedang ada urusan di luar rumah, seharusnya dia langsung masuk lagi kan setelah selesai. Suara langkahnya juga aneh.

Ada pikiran maling terlintas, tapi aku menampik. Mau ambil apa coba? Kemungkinan lain sih, setan atau kucing. Aku beranjak. Membereskan roti dan membawanya ke depan TV. Ibu yang tertidur di kasur depan tv kubangunkan. Aku bilang jika ada suara aneh di belakang. Ibu bangun. Lampu dan tv sudah mati sejak aku ke belakang tadi. Sedangkan lampu tengah dan dapur menyala.

"Matikan lampu dapur, dan bawa lauk sahur ke depan." Perintah ibu. Aku menurut dan kembali ke dapur.

Sebelum sampai sana aku menyadari suara langkah kaki itu semakin cepat, seperti lari yang grusa-grusu. Pikirku saat itu, si terduga maling mencoba masuk rumah paman. Ah, aku kembali ke depan, menyampaikan lagi pikiranku ke ibu dengan berbisik. Beliau menenangkan. "Mungkin kucing," kata ibu.

Kemudian aku mengajak sahur dan ibu minta diambilkan nasi sekalian. Aku mengambil piring dengan pelan. Tapi, sepinya pagi membuat suara dua piring yang beradu masih terdengar. Sosok yang kuduga maling itu sepertinya lari ke depan. Aku menyimak pergerakan suara dari bagian samping belakang rumah ke samping ruang tengah itu.

Aku terkejut ketika kusen yang ditutup gedek di bagian luar dan triplek di bagian dalam serta disandari pintu bergerak-gerak. Bangsat, itu pasti maling! Mudah sekali membobonya jika saja tidak ada lemari tepat di depannya. Adanya kusen tanpa pintu di situ sebenarnya karena akan dibuat kamar, tapi entahlah sampai sekarang masih dibiarkan begitu saja.

Aku ke depan lagi dan bersuara sangat-sangat pelan. Ibu bangkit, aku meraih ponsel di dekatnya. Berpikir untuk menghubungi seseorang. Ketika suara glodak berpindah dari pintu palsu tadi ke pintu asli di sebelahnya, tepat di depanku dan ibu berdiri saat itu, jantungku berdegup kencang. Aku seakan bisa melihat bayangan dirinya dari celah bawah pintu.

Bapak, bagaimana ini?

Aku mengirim pesan ke grup beranggotakan dua keponakan bujang yang tadi bilang mau begadang, serta dua sepupu perempuanku, anak-anak paman. Tak ada balasan, mereka semua offline. Semakin gugup, aku masuk ke kamar. Aku mengirim pesan ke grup keluarga yang kebanyakan tinggal jauh dari rumah, juga di luar kota dan luar negeri. Saat itu, Mas kakak Put laki-lakiku yang sudah berkeluarga dan tinggal di rumah dekat mertuanya merespon. Juga, seorang sepupu yang berada di luar negeri. Ibu masih di luar menyimak pergerakannya.

Mas Put sepertinya juga kebingungan di sana. Ia menelpon berkali-kali dan tidak kuangkat. Mana berani aku, di situasi mencekam begitu. Aku sudah mematikan suara ponsel saat menyadari ada maling.

Aku keluar kamar. Melihat sampai mana si bangsat itu beraksi. Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki semakin banyak. Orang-orang yang cangkruk di seberang jalan mendekat. Aku dan ibu berjalan ke depan. Dari jendela ibu berkata, "Ke utara." Aku ikut mengintip dan bertanya, "Itu, bener orang-orang kita, Buk?" maksudnya, apakah mereka orang-orang sini. Kami masih mengintip. "Kalo iya, aku mau keluar." Sambungku

"Itu ada Lek Yat," jawab ibu. Aku juga mendengar ada suara keponakanku juga sana. Dengan hati-hati aku keluar. Rumahku sudah ramai saja. Orang-orang menyisir pekarangan samping dan belakang rumah.

"Nggak ada siapa-siapa," kata seseorang. "Sudah kabur." Kata yang lainnya.
Dari jalanan depan aku mendengar celetukan, "Setan mungkin." Ah, mungkin saja. Jangan-jangan aku halu. Rumah sebelah barat sudah bertahun-tahun kosong. Dan ya, bahkan dulu saat ada penghuninya, sudah terkenal dengan keangkeran. Apakah demikian?

"Lha ini bekasnya." Aku mendongak kebelakang. Mencari arah lampu senter bapak-bapak yang bersuara tadi. Bangsat! Maling beneran. Sebelumnya tidak begini, ada bekas congkelan di sana. Ya Tuhan.

Para warga bergegas mencari maling itu lagi. Ah, aku jadi ingat. Saat sedang menulis blog kemarin, aku mendengar kabar jika di daerah masjid dekat rumah ada aksi kejar-kejaran maling. Hmm bangsad, ke sini juga rupanya.

Di luar masih gaduh. Beberapa kali suara lari-larian di aspal jalan terdengar. Juga, suara kambing tetangga yang 'mungkin' kedatangan malingnya. Aku dan ibu kembali masuk ke rumah. Masih tak habis pikir dengan apa yang barusan terjadi. Untung Mas Put segera menghubungi salah satu saudara yang sedang ikut cangkruk.
Tidak ada acara makan roti panggang tadi. Tidak selera. Aku masih memantau pergerakan maling lewat pesan chat dengan keponakan serta waspada suara-suara yang mungkin saja si maling masih bersembunyi di sekitar rumah.

Sudah hampir jam tiga saat aku dan ibu berniat makan sahur lagi. Ketika ibu ke belakang, beliau menemukan pintu dapur samping kunciannya telah longgar. Pangklangnya juga. Ah, rumah kami rumah lama yang dipugar, jadi bagian belakang menggunakan kuncian seperti itu. Bangsat, bangsat, jadi sebelum mencoba masuk ke rumah paman ketika aku di dapur tadi, si maling sudah berusaha masuk rumah kami. Bodohnya aku yang tidak sadar padahal sedari tadi di dapur.

Setelah itu, kami berdua makan sahur sambil ngobrol banyak hal. Leluconku mengenai mendiang bapak, membuat cerita-cerita tentang masa lalu bapak muncul dari ibu. "Buk, harusnya tadi pas ada malinh aku teriak, Pak Pak e, enek maling Pak. Gitu, nanti kalo bapak datang beneran biar kapok." Haha, miris sih. Iya, tidak lucu. Tapi itu yang aku pikirkan saat itu. Dasar, maling bangsat!

Besok paginya ibu bercerita jika semalam, saat terjadi aksi di dekat masjid, beliau berkelakar dengan orang-orang di warung. Setelah ibu diberi tahu jika ada maling kepergok, beliau buru-buru pulang karena tidak mengunci pintu saat keluat tadi. "Jangan-jangan malingnya pindah ke rumah. Duh, tadi enggak dikunci dan Alit di kamar." Waktu itu, aku sudah mengunci pintu terlebih dahulu.

Karena kata-kata ibu itu, aku agak kesal dan takjub. Ibu sering sekali berkata sesuatu yang jadi kenyataan.

Siang tadi, Mas Put ke rumah. Dia memberi pangklang, atau apa gitu, sesuatu yang bisa menghadang agar pintu samping dapur itu tak bisa dibobol lagi. Kami juga memasang grendel tambahan di pintu samping. Untuk pintu palsu tadi, belum diapa-apakan. Semoga nggak ada maling goblok lagi. Nih, aku sudah sedia banyak kukit duren besar-besar buat ngelempar kalo-kalo datang lagi!

Ah, sudah. Sekian.

Jumat, 01 Mei 2020

May Day My Day


May Day, My Day.

Halo, selamat malam. Ah, iya, aku nulisnya malam. Hm, mulai dari mana ya?

Baiklah, jadi ini hari pertama tantangan 31 hari menulis blog. Kebetulan, banyak unek-unek yang rencananya pengen aku bongkar di sini. Salah satunya ya melanjutkan hutang-hutang cerita sebelumnya. Tentang cinta, hehe. Tapi, enggak deh untuk tantangan pertama, masa iya mau umbar aib lagi. Baik, sudah dulu basa basinya, mari ke kisah sesungguhnya.

Terakhir kali nulis di Aku dan Kisahku part 3 tentang cinta, aku menyinggung tentang Malapetaka kan? Teman kerja di pabrik yang banyak menyita perhatianku. Baik, sebelum lanjut membayar kisah cinta part 4, mari berkisah tentang pabrik, roti, dan impian.

Sebenarnya aku sedikit penasaran, kenapa challenge yang diadakan Bang Wiro ini dimulai tanggal 1 Mei. Aku tidak cukup waktu untuk menemukan jawabannya lewat stalking (mungkin setelah ini bakal tahu). Berkat seorang teman yang me-mention diriku di Twitter, aku bertemu Bang Wiro. Ah, anak bawang sepertiku agaknya perlu banyak belajar dan mengenal lebih lagi perihal literasi. Nah, momen pembuka tantangan ini tepat dengan rencanaku meneruskan babak baru dari kisah sebelumnya selain cinta, buruh pabrik. 

Mengacu pada pandangan duniaku, drama Korea, Bread, Love and Dream boleh jadi judul yang tepat untuk kisah kali ini. Tidak ada part tentang perselingkuhan atau saling tundung kekuasaan, hanya tentang mimpi, dan cinta yang berkembang di pabrik roti. Oleh seorang buruh yang mengejar mimpi. Mari, berjelajah waktu ke kisah masa lalu. 

Agustus 2016, entah kapan tepatnya, aku dan seorang teman yang baru kukenal beberapa hari, pergi bersama ke Bali. Mengendarai motor metiknya, kami bergantian menyetir dari Banyuwangi selatan menuju Denpasar, dan berakhir di Tanah Lot. Awal kisah, aku yang gagal masuk PTN, dikira frustrasi. Bapak dan ibu mengira demikian setelah aku batal ikut seorang teman untuk bekerja di rumah makan di Bali.  Singkat cerita, aku batal bekerja di Polo mengikuti jejak kakak sepupu sebagai guide turis Korea--just like my dream. Masalahnya sepele, aku takut dengan kisah mistis di sana. Bagian itu, aku ingin bercerita di hari berikutnya.

Akhirnya aku pulang. Kangen notebook nggak ketulungan. Selanjutnya, aku hanya mengisi hari-hari dengan menghadap notebook, menulis dan menonton, kadang bikin video dari kameranya. Lama-lama jadi mikir, kenapa aku enggak kerja?

Lalu, para tetangga yang usil sibuk ngasih lowongan kerja. Ya, ini, ya itu. Aku tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja waktu itu sudah daftar dan wawancara di sebuah pabrik roti yang lumayan besar di daerahku. Produknya sudah terkenal. Aku sempat takjub kala menyadari jika roti-roti yang aku lihat di warung-warung atau swalayan, diproduksi di sana. Tapi, lagi-lagi aku ingat judul drama tadi.

 Aku ke sini kerja buat mengisi waktu luang, mencari pengalaman untuk bahan tulisan. Menunggu SBMPTN tahun depan, sambil mengumpulkan rupiah. 

Sadar, aku bukan orang berada dengan mimpi yang muluk. Bahkan ponsel pintar yang kala itu adalah pesawat sederhana yang benar-benar sederhana untuk sebagian orang, adalah hal mewah bagiku. Mimpiku kala itu, mengumpulkan uang untuk membeli ponsel, membayar UKT awal dengan perkiraan UKT terendah, serta sisanya untuk membayar kos, transport dan kebutuhan lain. Mendiang bapak tidak pernah melarang atau menyuruh kuliah. Beliau hanya tidak bisa menjanjikan yang satu itu. Tapi dengan segala tekad dan keinginan, aku malah yang berjanji pada beliau untuk bisa mengurus diri, juga tetek mbengek perduitan. Untuk itu, aku bekerja.

Hari pertama bekerja adalah hari terberat. Sungguh, benar-benar berat. Aku yang cuma punya mimpi, tahu apa tentang banting tulang? Pekerjaan pertamaku pitil. Ya, istilah disana pitil. PitIl, begitu fonetisnya. Sepanjang hari, rasanya ingin berbicara kotor—kala itu aku tidak pandai mengumpat. Padahal, saat itu belum juga setengah hari terlewat. Tapi, jari-jari sudah keram memitil roti-roti coklat dari loyang ke mesin korin (mesin untuk membungkus roti). Punggung juga serasa mau copot. Serius, dari yang tegak ke agak bungkuk ketika melempar, dan begitu seterusnya. Belum lagi Mbok (panggilan untuk atasan, semacam mandor) yang cerewet. Tidak tahu apa, aku masih belum pakai seragam? Masih magang! Masih butuh waktu! Tapi, sudah kena marah terus. Yang ada di pikiranku saat itu, “Sudah, cuma sehari aja. Besok enggak mau lagi. Pokoknya harus berhenti! Peduli amat dengan gaji!”

Dari tempatku berdiri, aku memandang salah seorang tetangga yang telah beberapa bulan bekerja di tempat itu. Tanpa senyum di balik maskernya, tanpa sapa di sudut matanya, dan tak ramah raut mukanya, terlihat antusias membungkus roti satu per satu di mesin klep. Setelahnya baru aku tahu dia kerja borongan. 

Setengah hari terlewat. Saat istirahat makan siang, tangan kaku, bgsd! Bahkan, untuk menyendok nasi sakit sekali. Lalu, ibu-ibu yang tadi bekerja denganku menjalankan mesin korin, berkata jika aku bukan satu-satunya yang demikian. Setiap harinya, pabrik membawa orang-orang baru, anak magang. Paking tidak tiga orang. Ketika kutanya dimana keberadaan mereka sekarang, ibu itu menjawab jika kebanyakan dari mereka tidak sampai sehari sudah mundur. Ah, begitu rupanya. Ibu itu bercerita dengan sedikit mengejek, seakan berkata, “Anak muda bisa apa?” 

Setelah perbincangan itu, aku malah sayang sama beliau. Ya, kata-katanya memang sedikit menusuk, tapi serius, itu pecutan bagiku. Hari itu selesai. Bertroli-troli loyang berisi roti telah kupitil. Meski mesin sering berhenti dan bahkan sampai Mbok turun tangan membantuku pitil untuk mengejar target, hari itu benar-benar selesai.

Tentu saja saat sampai rumah aku bercerita panjang lebar. Mengeluh dan menceritakan setiap detail kejadian di pabrik, serta seluruh rasa takjubku. Ibu hanya bilang, “Orang bekerja ya gitu, capek.” Aku masih terus mengeluh. Berkata tak mau lagi bekerja. Mending nulis, titik. Padahal kalo aku baca lagi tulisanku dulu, aww malu bgt~

Besok paginya, subuh, ibu membangunkanku. Ibu menyiapkan air hangat dan sarapan. Bapak ngeler nasi untuk bekal. Duh, tiba-tiba semendal rasanya. Aku bangun dengan kesakitan. Seluruh badan rasanya pegal. Sakit. Njarem. Aku urung. Tapi, mengingat hari itu hari Kamis, dan kudengar bayaran setiap minggunya diberi pada hari Sabtu, aku berniat kerja tiga hari saja. Setelah hari Jumat, berhenti, pikirku. 

Setengan enam pagi, aku berangkat. Dengan helm dan jaket tebal aku menuju pabrik yang jaraknya dua kali lebih jauh dari SMA-ku, tiga kali lebih jauh dari SMP-ku, dan enam kali lebih jauh dari SD-ku. Tidak ada cerita tidak kedinginan kala itu. Sampai di sana, aroma roti menyambut. Seriously, that’s what I like. Ya, meski sebenarnya aku tidak begitu suka roti. Waktu itu, kali pertama masuk pagi (hari pertama masuk jam delapan). Aku bekerja serabutan. Disuruh ini, suruh itu tapi endingnya tetep pitil. 

Agak siang sekitar jam delapan, beberapa orang tanpa seragam memasuki pabrik. Menggunakan masker, penutup rambut, serta celemek, mereka digiring ke bagian depan pabrik (pintu masuk pabrik di belakang). Lalu, Bu Warda, ibu-ibu yang pitil bersamaku menyahut, “Itu pasti ditaruh di bagian forming.”

Aku menyahut, menanyakan apa maksdunya dengan krama bahasa jawa. Beliau menjelaskan jika itu bagian membuat adonan roti. Di sana jam kerjanya lebih lama dan seringnya tidak sesuai sif kerja pada umumnya, bergantung pada adonan roti. Ah, begitu rupanya. Aku jadi ingat Nanda, remaja sebaya yang berkenalan denganku saat wawancara dan mendapat panggilan bersama. Seingatku, dia dibawa ke arah sana, forming itu. Ah, jika di bagian packing saja sudah semelelahkan ini, lantas bagaimana di sana?

Aku menengok ke depan, setelah dua mesin korin di depanku, ada Mbak Nana, dan Mbak Asri. Mereka sama-sama masuk kemarin bersamaku. Mereka berdua seumuran. Mbak Nana, baru berhenti dari tempat kerjanya di rumah makan. Sedang Mbak Asri seorang single parent. Aku lupa riwayat kerjanya, cuma dia bilang pernah kerja di Bali. Ah, aku melihat dua orang itu sangat semangat. Ya mau bagaimana, teman-teman magang yang sama-sama masuk kemarin, ternyata tinggal mereka bertiga. 

Lalu besoknya, aku bekerja. Lagi dan lagi. Gaji pertama yang harusnya 129 ribu rupiah dalam tiga hari, dipotong untuk membeli celemek dan dua seragam. Tapi karena rasa uang yang begitu menagihkan, serta kata-kata pedas yang muncul tidak hanya dari Bu Warda, aku terus bekerja. Lagi, dan lagi. Sampai aku akrab dengan beberapa orang di sana. Karyawan lama dan karyawan baru. Perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Ibu-ibu dan para gadis. Janda, eks luar negeri dan ibu-ibu borjuis. Bermacam-macam orang aku kenal. Antagonis dan protagonis juga. Nanti, selanjutnya, akan kuceritakan ya. 

Untuk hari ini, cukuplah. May Day-ku kali ini, cuma lewat cerita. Ah, curhat! 

Sebentar, apa aku belum menyebutkan jika tahun lalu, saat aku juga mengenang kisah-kisah di pabrik, aku tengah menyaksikan teatrikal bertema buruh di bundaran DPR di tempat rantauku? Ah, iya belum. Saat itu sih, sedang liputan. Bukan aku, temanku. Aku menemani. Kami saling menemani. Liputan, dan bertukar pikiran. Ah, romantisme yang sudah tak bisa ditemui. Sudah ah, sudah. Besok lagi. Masih ada 30 hari lagi. 

Selamat hari buruh, Buruh.  
1 Mei 2020

Sabtu, 18 April 2020

Aku dan Kisahku


Aku dan Kisahku part 3

Hai. Hai. Hai.

Beberapa hari ini, diriku, yang kupikir telah baik-baik saja, menjadi tidak begitu baik. Sangat. Aku dan kabar-kabar buruk yang silih berganti muncul, saling sikut hingga akhirnya kami sama-sama berjabatan. Ah, menggila. Semua biasa saja. Hanya rindu. Titik.

Sebenarnya sehari setelah part sebelumnya tertulis, masalah lain terjadi. Ya memang, asal muasal niat menulis itu adalah pengalih perhatian dari kisah melulu tentang ayah. Tapi tidak dinyana, beberapa hal buruk lain terjadi. Ya, meskipun pada saat ini belum hilang semua, paling tidak beberapa yang lain teratasi, dan beberapa yang lain meredam--aku mencoba meredamnya.

Baiklah, motivasi menulis kali ini adalah keinginan. Karena overthinking yang begitu menyebalkan, aku sangat ingin menulis dari kemarin-kemarin. Tapi, karena tidak bertemu waktu, ya sampailah sekarang. Sampai pada waktu di mana jawaban atas kegelisahan awal tentang kisah melulu tentang ayah yang melahirkan tulisan part 2 sebelumnya terjawab.

Tidak janji, tapi aku harap kisah yang satu itu akan kutuliskan di lain waktu. Di tempat ini pasti. Tapi, jika sampai waktu tertentu tidak juga ketemu, maka akan kalian saksikan di lain lahan. Ah, semoga. Baik, mari mulai kisah A dan B lainnya.

Tentang A, B lain dan si R ya? Hmm dimulai dari mana ya?

Jadi jangan kira jika A dan B selanjutnya ada di masa kuliah. Ya memang sih di masa itu kubuat juga, tapi tidak secepat itu aku melompat ke sana. Butuh setahun untuk menempati waktu tersebut. Yep, aku pernah kerja. Menjadi buruh di pabrik roti. Hahaha, kisah yang sangat panjang di waktu yang singkat. Untuk kisah masuk, keluar dan keseluruhan perjalanan di pabrik itu akan kuceritakan lain waktu.

Langsung saja, di pabrik, hampir seluruh karyawannya perempuan. Wait, karena nantinya akan kuinisialkan A dan B, jangan kira dia perempuan juga ya.

Jika kuingat-ingat, awal masuk kerja di pabrik, persebaran kaum adam hanya ada di bagian oven dan forming (adonan) atau obat--kurang  paham kenapa disebut obat tapi kerjanya semacam mengatur resep gitu-gitu. Nah, di kedua bagian itu masing-masing ada dua laki-laki dengan sif kerja yang berbeda. Si A ada di salah satu dari mereka, oven lebih tepatnya.

Keberanianku menyebut si A di bagian oven pada lingkup sekecil itu karena lagi-lagi kemungkinan terbaca sedikit. Dan jikalau dia membaca, tidak masalah. Sebelum bercerita ke A, kuperkenalkan dulu dengan B. Ia muncul dari komponen lain di pabrik. Selain karyawan yang memproduksi roti, di pabrik juga ada mekanik, bagian itu (hmm aku lupa istilahnya yang jelas job desk mereka berhubungan dengan pengiriman barang), serta beberapa lainnya seperti sales dan lain sebagainya. Si B muncul dari salah satu mekanik, pekerjaan yang sering berinteraksi dengan para karyawan yang bekerja menggunakan mesin.

Aku akan bercerita tentang si B dulu. Jika dibilang tertarik tidak juga, hanya saja manusia itu sering mengirim sinyal-sinyal aneh. Ah malu, agak gimana gitu menjelaskan, hm apa ya, kayak menurutku aneh saja, cuma lama-lama aku juga penasaran. Yap, aku dengan sifatku, mudah berpikir ke hal tidak penting ini hehe.
Karena wajahnya yang terlihat masih muda, kukira umurnya tidak jauh-jauh denganku. Tapi ternyata, dia sudah bekerja cukup lama yang artinya umur kami jauh, ah bahkan lebih tua dari kakakku. Kisah-kisah tentang dia mudah kuketahui dari ibu-ibu pekerja di sana. Tapi, mas itu, si B, satu-satunya mekanik yang masih lajang. Lainnya, yang tampan atau yang menyebalkan--B juga menyebalkan sih, sudah ada pemilik.

Aku dan B tidak begitu kenal. Hanya saling tahu satu sama lain. Sif kami beda. Jika aku sif pagi maka aku akan bertemu dia saat akan pulang, dan jika aku sif malam maka akan berpapasan saja ketika baru datang. Dia ada di sif siang, sif yang tidak ganti-ganti. Sesekali sebelum pergantian sif, di akhir minggu ada salah satu sif yang harus tetap bekerja dengan didampingi salah satu mekanik yang berbeda-beda. Sesekali juga, salah satu karyawan dari sif A atau B (penyebutan untuk sif siang dan malam) ditaruh di sif siang (sebutannya sif bayangan), untuk menggantikan karyawan yang dapat jatah libur minggu itu. Nah, di saat-saat itu aku bertemu si B. Aku yang masih pemula dan sudah dipegangi mesin packing yang begitu njlimet cara kerjanya dan sering eror membuat aku banyak bekerja dengan mekanik. Ketika bertemu si B, tentu tak ada obrolan apa-apa selain pekerjaan. Jam kerja kami sangat ketat--ya setidaknya aku mencoba patuh menjadi pegawai yang baik, serta kami yang sama-sama pendiam.

Pernah sesekali ketika kami ada di sif malam bersama--kebijakan pabrik tentang sif berubah di waktu-waktu akhir aku bekerja, sinyal-sinyal yang kumaksudkan tadi semakin terlihat. Tapi, sebisa mungkin aku menghilangkan segala perasangka, perasaan atau pikiran lain selama bekerja di pabrik. Selain rupiah dan pengalaman kerja, aku tak mau apa-apa. Kalian tahu betapa susahnya lepas dari sebuah pekerjaan untuk kembali ke kesepakatan awal dengan diri prihal masuk kuliah? Aku yang menebalkan iman saja kesusahan, apalagi jika waktu itu neko-neko.

Ah, belibet sekali kisah kali ini. Dunia kerja memang berbeda-beda. Dan menjadi karyawan pabrik roti bukan hal yang bisa dibangga-banggakan. Namun, kisah yang kudapat dari sana cukup memuaskan. Prihal kehilangan uang dan benda berharga tidak ada apa-apanya dengan aku yang mengenal banyak orang dengan banyak cerita. Mungkin, nantinya pekerjaan menjual kisah bisa menggantikan apa yang pernah hilang di tempat itu.

Ah, semakin rumit saja. Cukup. B cukup saja. Mari ke A yang rupawan. Setidaknya dari ke empat temannya tadi. Di mataku tentunya. Aku, waktu itu masih berada di suntik, sebutan untuk proses pengisian roti cream sebelum di-packing. Tempat mengoven berdekatan dengan mesin suntik. Hari-hari di mesin suntik kuhabiskan dengan kesabapan uap panas dari roti-roti yang baru matang. Dari celah-celah rak-rak oven dan troli-troli yang bertumpukan loyang roti, aku bisa melihat dia bekerja.

Aku ingin menyebut namanya saja. Iya, namanya cantik, bagus menurutku. Entah, aku sering suka pada nama-nama tertentu.

Sebenarnya, aku sedikit kebingungan menceritakan kisah si A ini. Sebutlah aku sebagai secret admirer atau apa, tapi aku rasa saat itu aku menjadi semacamnya. Aku hampir-hampir tak pernah berinteraksi dengan dia. Hanya dia yang sesekali mengobrol dengan partner kerjaku. Mereka sama-sama karyawan lama, dan aku yang kala itu masih magang hanya bisa menyimak.

Di pabrik, aku sering diminta membantu bagian-bagian lain. Salah satunya saat oven kekurangan orang. Aku di oven hanya membantu sebatas meletakkan dan mengambil roti dari troli ke rak atau sebaliknya. Atau mengambil roti-roti dari dalam ruang fermentasi yang pengap. Belum lagi daerah sekitar oven yang menguras keringat karena suhunya. Ah, di sana sebenarnya sangat melelahkan. Untuk mendorong rak raksasa ke dalam oven yang tidak kalah besar, membutuhkan skill dan teknik tersendiri--meskipun kelak setelahnya aku juga bisa. Namun sebagaimanapun lelahnya, aku suka di sana. Haha.

Berkebalikan dengan B, awal aku bekerja A selalu satu sif denganku. Tapi lama-lama perbedaan jam kerja antara tiap departemen membuat jadwal kami tidak lagi sama. Jadi, ketika aku sering ikut di oven, jarang sekali--sangat jarang bisa bertemu dia.

Ah, lama sekali penjelasannya. Padahal yang ingin kuceritakan adalah tentang si A, si C (teman si A di forming), Malapetaka (seorang karyawan seumuran di bagian roti Cok, alias coklat), dan Miss Fortune, teman sedepartemen sekaligus bestie Malapetaka.

Kayaknya ini lebih ke kisah mereka, bukan aku hiks :(

Jadi, beberapa bulan setelah bekerja, aku ditempatkan sementara bersama Malapetaka dan kawanannya, termasuk Miss Fortune. Obrolan mereka sangat bar-bar. Aku yang masih polos dan berusaha tetap polos sangat tersiksa berada di antara mereka. Nah, suatu saat aku dengar jika Malapetaka suka dengan C dan Miss Fortune suka dengan si A. Wtf! Yah, aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak ikut campur atau sakit hati karena seperti yang kubilang tadi, aku punya misi tersendiri di sana. Akhirnya, Malapetaka berkencan dengan C dan Miss Fortune masih digantung.

Kenapa aku bisa tahu kisah mereka? Ya karena itu jadi obrolan di sana. Mereka sendiri yang berkoar jika suka pada pria-pria itu. Ah, di pabrik dulu aku sangat-sangat insecure dengan segala hal yang kumiliki selain otak dan almamater wkwk. I let it all happened. Tapi, saat itu aku sudah tahu cara stalking. Kutelusuri siapa itu Malapetaka, Miss Fortune dan barang tentu A dan B. Dan see, I know them very well from socmed.

Aku tahu jika ternyata A setahun lebih tua dari aku. Dia kakak kelas SMP temanku dan melanjutkan sekolah di luar kota. Sedangkan Malapetaka seangkatan denganku dan bersekolah di SMK sekitar sana. Bahkan, dia ternyata teman SMP almarhumah R. So closed. Sebenarnya, aku mencoba tidak terlalu peduli. Cukup tahu. Tapi lama-lama geng mereka mengganggu pikiran. Terlebih Malapetaka.

Pernah saat tengah malam (seminggu sebelum ponsel baruku hilang), ada yang kehilangan ponsel. Saat itu, aku berada di bagian roti kering, tidak bersama para Cok. Lalu ketika aku berjalan ke kamar mandi aku dengar suara ponsel. Aku tidak berani mencari sumber itu sendiri karena berasal dari salah satu lorong gelap. Kupanggil salah seorang mekanik--bukan B, dan tara itu ponsel Malapetaka. Setelahnya, aku mencoba basa-basi bertanya, tapi apa yang kudapat hanya jawaban sinis yang sangat menyebalkan. Aku tidak butuh terimakasih, tapi paling tidak tunjukkanlah rasa prihatinmu pada dirimu sendiri. Ya dia happy-happy saja saat hapenya hilang, apalagi pas ketemu. Hm, aku sirik mungkin, tapi sebuah ponsel, smartphone adalah hal berharga bagiku, apalagi saat itu.

Beberapa waktu setelahnya, aku dengar hubungan Malapetaka dan C berakhir. Sedang Miss Fortune mulai menjalin hubungan dengan A. Hiks. Dan lama-lama aku dengar Malapetaka keluar dari pabrik. Kisah tentang Malapetaka sebenarnya tidak berhenti sampai dia keluar, ada dan lebih panjang. Noted. Lain kali saja.

Aku tidak tahu kapan rasa penasaranku ke A hilang. Apakah ketika aku meyakinkan diriku sendiri tentang tujuan awal, atau ketika dia telah luluh oleh kehadiran Miss Fortune, mungkin rasa sukaku sebatas kagum (hampir seperti yang terjadi nanti di masa kuliah hehe).

Lama-lama pekerjaan itu semakin memberatkan. Peraturan pabrik yang semakin ketat dan orang-orang yang semakin menyebalkan membuat aku tak kuat. Belum lagi kesialan yang bertubi-tubi datang. Satu bulan sebelum tes SBMPTN, aku resign. Meninggalkan teman-teman--ah aku tidak cerita tentang teman-teman, dan ibu-ibu yang banyak memberiku pengalaman hidup, juga Black dan Blue.

Sebenernya kedua orang itu, A dan B, punya sebutan lain. A kusebut Blue karena celemek yang digunakan dia dan tiga laki-laki lainnya berwarna biru sedang B kusebut Black karena seragam mekanik berwarna hitam. Lagu untuk mereka tidak lain dan tidak bukan, black black black and blue, alias Grenade milik Bruno Mars.
Hahaha lucu sekali. Kisah di pabrik tidak sesingkat itu. Tentang apa saja, masih banyak rupanya. Tapi untuk kali ini ya begitu.

Eh, ada lagi sih. Januari 2018 saat aku sudah berstatus mahasiswa aku mencoba peruntunganku di pabrik lagi. A sudah naik pangkat menjadi semacam mandor dan Malapetaka yang kembali masuk sebelum aku keluar di tahun sebelumnya, juga telah naik jabatan. Saat itu, hubungan A dan Miss Fortune sangat baik. Sedangkan B, aku tidak begitu peduli. Suasana pabrik yang baru membuat aku harus beradaptasi. Dengan kebangsatan takdir kala itu, tidak sampai seminggu aku bertahan lalu hengkang. Banyak mata menyorot kepergianku yang tiba-tiba. Dan banyak dugaan yang muncul adalah aku menikah atau jadi TKW.

Sudah itu dulu saja. Untuk R, semenjak lulus SMA hanya beberapa kali aku melihat sosok dia. Dan cerita tentang R, tentang bagaimana aku tahu nama panjang dari inisial itu, kutemukan saat kuliah, jadi sekalian di part selanjutnya saja.

Ah, iya agak melenceng dari janji sebelumnya tapi gimana dong, sudah banyak juga. Dan aku mengantuk. Dua hari ini tidur siang yang masing-masing selama tiga jam juga tidak membantu.

Selamat pagi.

18-19 April 2020
00.00

Ah baru inget, kayaknya aku pernah nulis tentang kisah di pabrik dan ternyata ada di Wattpad. Juga kisah-kisah lain semacamnya. Hehe :)

Oiya, A dan Fortune sudah menikah. Aku lupa kapan tepatnya tapi itu sudah lama. Hehe~

Rabu, 08 April 2020

Aku dan Kisahku

Aku dan kisahku part 2

Halo April. 

Setelah yang lalu, berat hidup tanpa mengeluh. Sesak, terbelenggu kenangan. Ya pastinya tentang masa ter-unpredictable itu haha. Kadang, obatnya menulis. Meredam rindu yang enggak bisa diterkam, lewat teks agar dapat dijangkau mata. Ya tapi, mau sampe kapan? Aku ingin mencoba sejenak menahan komedi itu. Sama-sama mengenang, mungkin kisah asmara lebih menarik.

Mari berkelana ke masa lalu. Jika kuingat, pertama aku menulis di AKU DAN KISAHKU, adalah tentang cinta. Aku berjanji akan melanjutkannya. Jadi, baiklah, mari mulai.

Sebenernya tidak ada yang menarik dari kisah asmaraku. Jika tadi kubilang menarik, itu pemanis saja. Sok manis. Sok. Kupikir kisah cintaku tidak uwu, hanya keren. Ah, kayak punya kisah cinta saja. Apasihh???

Enggak tahu, sebenernya apa definisi cinta. Apa sih cinta? 

Tai dah. 

Oh, tidak. Padahal aku sering menganalisis. Ya pake teoriku. Pandangan dunia yang sebatas drama Korea ini jadi parameter kisah-kisah halu di pikiran. Tapi entah mengapa, aku merasa belum benar-benar merasakannya. Kadang berpikir, apa aku tidak normal? Atau hanya tidak sadar. Ah, mencoba tidak peduli mungkin.

Jika ditarik ke masa lalu, mungkin ada beberapa nama yang pernah terlintas di pikiran. Tapi mungkin hal yang kumaksudkan itu sebatas kisah cinta monyet. Atau persahabatan bocah yang bertemu hampir setiap waktu. Selama hampir enam tahun, pagi bertemu di sekolah, siang main bersama, sore mengaji bersama, malam les bersama, apalagi ketika Ramadhan. Serta ketika kami sama-sama akan lulus TPQ. Uh, malah nginep masjid juga. Kisah-kisah itu kini tinggal kenangan. Tanya saja, mungkin sebagian dari mereka telah lupa hukum ghorib atau cara membaca tajwid. 

Lupakan kisah itu, lanjut ke masa transisi lain. Di sekolah menengah pertama, benar-benar menjadi masa ter-----apa ya? Aku sudah kehabisan kata untuk itu. Awal yang manis ketika punya banyak teman. Ah, hampir semua temanku laki-laki saat itu. Para perempuan sibuk dengan sesuatu yang aku tidak mau tahu. Selama mereka mengajak bicara, aku iya-iya. Toh di kelas satu, aku banyak ilmu. Upss.

Waktu itu teman perempuanku hanya satu. Dia yang tanggal ulang tahunnya hanya berjarak sehari denganku. Selanjutnya, kami bersama-sama masuk ke kelas unggulan. Temanku yang lain, tidak. Kembali lagi berbicara cinta, temanku itu juaranya. Dia bercerita masa-masa pacarannya ketika sekolah dasar. Ah, bangsat! Bisa-bisanya ya. Tapi dia bilang, ketika masuk SMP dia ingin tobat. Baiklah, jadi dia bertemu teman yang tepat. Aku. 

Seperti yang pernah aku ceritakan di kisah sebelum-sebelumnya, kelas dua SMP adalah masa termenyebalkan selama itu. Ya, teman perempuanku itu juga menyebalkan. Aku tidak ingin membahas lagi masalah apa, yang jelas dunia sekolahan tak lagi menarik. Langsung saja di kelas tiga, yang di sana, tak ada apa-apa. Haha. 

Kelas tiga hanya penuh tekad untuk segera hengkang dari sekolah. Cinta? Tak ada. Mungkin ketulusanku menghormati guru kala itu, jadi imbal balik hasil yang lumayan memuaskan. Cintaku pada masa depan tersusun lewat setitik impian. 

Mungkin jika dibilang pernah tertarik, iya. Tapi, cinta? Ah sama sekali bukan. Biar kurangkum. Di masa itu, hanya ada dua nama. Mari ibaratkan A dan B. 

Aku dan A tidak saling mengenal. Yang kutahu tentang dia adalah sebatas nama lengkapnya, siapa teman-temannya dan di mana dia tinggal. Kala itu kelas satu. Kelasnya ada di sebelah kelasku. Tidak, aku tidak stalking. Bagiku, tak ada media untuk mengakses hal itu dulu. Hanya tahu. 

Si B? Ah, seorang teman yang selalu muncul di pikiran. Teman yang tidak dekat sama sekali. Mengobrol pun jarang. Tapi serius, tak ada hal lain selain tertarik. Biar kuberi tahu satu hal unik--atau aneh. Setiap pukul 3 sore, aku selalu menyempatkan berdiri di depan pintu rumah dan menunggu sesorang lewat. Si B, lewat mengendarai motornya dengan cepat. Ya, setiap jam 3 sore. Setahuku jalan ke rumahnya berlawanan arah dan tidak lewat depan rumah. Pun, rumah pacarnya--ya dia punya pacar--juga bukan ke arah itu. 

Tak ada kelanjutan. Ketertarikan sebatas rasa penasaran. Ya meski sampai sekarang pun aku tidak tahu ke mana dia--dan tidak penting, tapi sebuah konflik yang terjadi di kelas dua membuatku hilang respect dan benar-benar tidak peduli. Mungkin pernah sekali dua kali aku penasaran, di mana dia sekarang, dan bagaimana kabarnya. Namun, B seperti hilang ditelan masa. Tidak ada jejak. Bahkan aku tidak tahu di mana dia meneruskan sekolahnya. Pernah juga mencari medsosnya, ya hitung-hitung mempraktekkan kemampuan stalking. Tapi, nama uniknya tidak pernah ketemu.

Baiklah mari berlanjut ke kisah SMA. Suatu masa yang aku tunggu-tunggu kehadirannya. Namun jika membandingkan, kisahnya tak jauh-jauh dari hitam gelap kehidupan. Ah, berlebihan! Hahaha~

Di SMA, aku lebih berhati-hati mengambil sikap. Maksudnya, aku tidak mau ada tafsir aneh-aneh yang menjadikan trauma kelas dua SMP itu terulang. Meski aku masih jadi sosok yang fleksibel dengan kerecehanku, aku lebih membatasi diri. Maaf sebelumnya jika mungkin ada teman SMA yang membaca ini, tapi bukannya aku--atau kami--tidak mau masuk ke lingkup kalian--ah sekarang kata yang populer circle, tapi lebih ke pilihan saja. Frekuensi obrolan kita tidak sama. Maksudnya aku tidak bisa mengikuti arus gibahan kalian yang tidak ada gunanya bagiku. Ya mungkin--pasti sih--aku ada di list kalian. Tapi, biar sudah. Kalian juga ada di list gibah kami.

Ya kami. Satu hal yang kusyukuri ketika masuk SMA adalah RYFAR. Hahaha, aku ingin bercerita tentang mereka di lain kesempatan. Tapi kupikir-pikir lagi, cerita cintaku di SMA ya mereka--dan marching. 

RYFAR adalah gabungan inisal kami. Tiga tahun kelas bersama membuat kami semakin seperti keluarga--kebetulan salah satu dari mereka juga kerabat. Kami datang dari latar belakang yang berbeda. Jika dikotak-kotakkan, maka satu kelas kami hanya datang dari SMP-SMP negeri besar. Salah satunya, SMP-ku, SMP R, dan SMP Y. Tempat tinggal mereka kebanyakan dari lingkungan rumah F dan satu lagi dari tempat jauh di pucuk sana. Jadi intinya, kami (mungkin) berasal dari kumpulan terbuang. Haha. Atau menyeleksi diri. 

Obrolan kami tak jauh-jauh dari tugas sekolah, estrakulikuler masing-masing, gibah, sambat, dan hal-hal lain yang membuat kami senang. R yang pertama dengan kelolaannya, Y yang seperti Google berjalan, F dengan welas asih dan mudah terintervensi, R terakhir yang paling cemerlang dan polos, serta aku yang... seperti ini. Sayangnya, saat ini kami tak lagi berlima. R yang terakhir--dan memang paling muda, telah lebih dulu ke surga. 

Kalo masa SMA ini kalian menuntut kisah asmara, aku tidak yakin ada. Tiga tahun bersama orang-orang yang sama membuat kami sama-sama saling tahu dan biasa saja. Ya meski ada lambe-lambe julid seorang teman laki-laki yang membuat spekulasi masif, hal itu tidak menjadi benar. Hmm istilah lainnya sih, ciye-ciye. Selain itu, beberapa teman dekat laki-laki yang sikapnya kasar--saling kasar sih, membuat sebuah rasa susah muncul. Apalagi aku yang sering kena buli--ada yg serius ada yang bercanda, yang serius sih gak mau kubahas di sini, itu sensitif sekali, kalo yang bercanda, bahkan ada yang bikin aku nangis kejer anjirr. 

Gara-gara aku ikut marching, teman-teman meledeki. Tahu, aku dianggap maniak dan semacamnya. Padahal itu ga lebih dari tanggung jawab. Misal saja aku memang tidak tahu batas dan cara menggugurkan tanggung jawab, tapi bagiku waktu itu sulit untuk melepas. Apalagi aku sudah kadung cinta. Bahkan, saat efek marching membuat nilaiku jeblok--dan endingnya grafik rapot turun, aku tetap suka. That's enough.

Hm, apa mungkin menunggu kisah A dan B yang lain? Ah, mari aku buat seakan kisah itu ada. Jadi, aku harus mengkisahkannya seambigu mungkin. Ya mau bagaimana lagi, lingkup pertemanan SMA-ku sedikit. Dan mungkin orang yang akan kukisahkan sangat dekat. Ciri, tanda dan semua hal tentang dia yang berhubungan denganku harus sangat detail. Jika ingin mengutarakan kisah sesungguhnya, maka akan susah. 

Here we go. Aku sampe mengobrak-abrik pikiran, berharap ada tokoh lain yang membuat aku tertarik. Bahkan, saat kuubrek manusia-manusia di tim marching, masih nihil. Paling-paling senior yang bikin dag-dig-dug karena ilmu yang mereka tularkan. Ya sudah A dan B yang tadi saja. 

Mari, memulai dengan A. Dia, teman. Saling kenal. Lumayan dekat, tapi jarang mengobrol karena dia pendiam. Terus, ah aku takut kebaca siapa orangnya deh :(

 eh, ini blog apa sih kok jadi kek buka aib. 

Haduh, balik lagi dah. Hm gimana ya. Sebentar. Hm. Jadi si A. Hm. Ah, bgst! Hm jadi si A. Em, terlalu complecated ah. Dari awal sampe akhir masa SMA ada terus keknya. Yodah, intinya yang bikin aku mungkin tertarik adalah karena sering ada serendipity gitu loh. Apa-apa dia, dia lagi dia lagi. And that's make me always thinking about him. And I think maybe I, ah enggak. Ada ending lain yang bikin ngakak sambil nangis. Kalo aku sudah punya nyali bakal aku ceritakan deh.

Oke, si B. Aku nggak kenal dari awal banget sih. Cuma tahu. Dia temannya temanku. Lalu, karena pas kelas dua sekolahan bikin majalah, aku ikut gabung. Nah, mulai sana aku kenal. 

Hiks keknya cuma beberapa temen cowok deh yang gabung. Elah, plis kalo ada temen SMA yang kejebak di tulisan gabut gegara corona ini, plis pergi. Atau engga pura-pura ga tahu ya. And this is just a little bit of memories. Just memories!

Oke, kenapa aku tertarik sama B? Mungkin, karena ga banyak cowo yang tertarik ngurusin majalah. Juga, pribadinya yang kalem dan pendiam bikin aku penasaran. Apalagi, waktu itu hampir kelas tiga yang artinya, hidup gue kok gini-gini amat. Majalah pertama selesai. Karena orang baru, di majalah kedua baru aku berkontribusi lebih banyak. Ya liputan dan nulis berita--saat itu cuma jadi jurnalis abal-abal, ga ada yg ngarahin. Ya ngisi rubrik teka-teki, bikin cerpen, ngasih ide rubrik-rubrik baru dan editing. Lainnya, prihal layout, softnews dan lain-lain dikerjain doi, dan seorang temen lagi. Gak tahu sih gimana susunan organisasi itu, kayaknya yg jalan kami bertiga aja. Aku sebagai kuli tinta udah seneng aja gitu ambil bagian. Kayak di marching pun aku ga pernah masuk susunan pengurus. Cuma player cadangan, player, dan pro player hehe. Dan tahu, apa yang bikin aku nyesek di majalah itu? Namaku ga masuk susunan redaksi! Di penulis beritanya juga ga ada! Satu-satunya cuma ada di sebuah cerpen yang ternyata temen editor lain salah sangka jika kisah di dalamnya antara cewek dan cowok. Padahal itu tentang persahabatan, cowok semua. Jadi illustrasinya nyeleneh dari mauku. Mana ga ada editing bersama. Ah, saat itu aku masih kurang peduli dan bodoh. 

Ya balik lagi ke si B. Setelah majalah kedua terbit responnya tidak begitu buruk. Ga seburuk sebelumnya sih. Terkesan bagus. Tapi itu untuk orang-orang yang cuma lihat coverannya sih. Lalu? Hubungan sama si B masih sekedarnya. Sekedar menyapa, saling bertanya dan ke BK bersama. Ehe, bertanya seputar kampus. Tapi, dasar ya aku yang membatasi diri, setelah tidak ada kepentingan, ya sudah. Interaksi sosmed pun nol. Ya gimana ya, mau ngapain juga, hehe. Aku menutup kemungkinan untuk dia membaca tulisan ini karena lingkup kami yang berbeda. Dia ada di kampus yang sama tapi dengan fakultas yang berlainan--fakultas yg kami ingin ambil dulu. Apalagi aku masuk kuliah setahun setelah dia. Pernah sekali kami bertemu di warung mie ayam tersohor di daerah kampus--wah spesifik sekali--dan biasa saja. Sekali lagi aku menutup kemungkinan dia membaca ini. Hidupnya mungkin dipenuhi aksi wqwq. Dan satu hal lagi, kesadaran tentang aku yang tertarik itu, datangnya sangat terlambat.

Wah, ini kisah terpanjang di blog ini. Padahal ada satu lagi. Satu orang. Tidak bisa diinisialkan A atau B karena dia satu-satunya dan selama ini pun hanya inisial. Kupanggil R, karena seningatku namanya diawali huruf R. Tidak kenal dan tidak saling kenal. Hanya, ah mari bikin janji. Di bagian selanjutnya akan kuteruskan tentang dia serta kisah A dan B lainnya. Present. 

Ini sudah lebih dari sepuluh ribu karakter, cerpen kompas saja masih kalah panjang. Eh, satu lagi. Kalo misal dibalik, apa ada yang cinta atau tertarik sama aku? Ah, itu lain cerita.

Selasa 7 April 2020