Minggu, 31 Mei 2020
Tok Tok Tok, Blog!
Selamat jam sebelas lewat sebelas malam. Seperti biasanya, aku nulis di waktu-waktu mepet. Ya gimana ya, susah nulis sebelum jam 10 malam. Kalo engga tengah malam ya subuh. Tapi, karena lagi engga aktif nulis selain di challenge ini, ya waktu-waktu terakhir ini jadi pilihan. Kenapa? Ah, masih nanya kenapa lagi. Hm, selain karena fokus bisa ngumpul cuma di tengah malam--kalo engga ngantuk, nulis di akhir hari tuh enak. Kayak merangkum dan mengambil suatu hal dari kisah sehari itu. Hmm ya lebih ke ranah pribadi sih kalo harus dijadikan cerita tapi karena blog ini dari awal emang membahas tentang aku dan kisahku ya aku pikir sah-sah saja. Hehe.
Karena itu juga, beberapa daftar topik yang kukumpulkan engga kunjung aku jadikan tulisan di sini. Emang sih, bakal lebih universal dan mungkin lebih menarik, tapi kayak engga sesuai sama konsep awal hehe. Untuk cerita hari ini saja, aku berpikir keras apa sih yang bisa aku tulis untuk challenge terakhir ini? Masa sekalipun aku engga nulis tulisan yang agak bermanfaat buat pembaca gitu? Tapi ya kalo mau gitu bakal gimana gitu rasanya. Apa ya, kayak bukan tempatnya di sini.
For your information aja, ikutan challenge cuma ingin ada yang baca tulisan random ini. Tapi, karena kebanyakan kisah-kisah di sini menyangkut orang-orang di sekitarku, bingung cari pembaca. Lalu, ada temen yang ngetag akun twiter aku buat ngajakin nulis. Assssaa, I did it hehe. Dua atau tiga kali aku lewat batas pengiriman link karena ketiduran. Enggak menang enggak apa-apa, yang penting nulis. Tapi, karena pengaturan jam di blog ini engga sesuai WIB, WITA atau WIT, yang tertulis di blog masih sesuai. Tanggal 1 sampai 31 ini, urut berjajar hehe. Yah, meski beberapa kali karena kehabisan waktu nulis jadi ngirim draft cerita. Yep, Just About Love series wkwk. Cerita singkat yang berdasarkan kenyataanku. Kisahku yang terfiksikan hehe.
Balik lagi tentang blog ini, waktu itu iseng bikin sub blog--apasih namanya aku kurang paham. Aku ada blog lain selain ini. Bahas tulisan-tulisan lama. Ada cerpen, makalah, esay, lirik lagu, translate lagu, yah pokoknya tulisan lama pas masih SMA. Karena ingin membingkai kisah pribadi ya aku bikin blog lagi deh. Hm, kadang khawatir tentang privasiku dan mungkin orang lain yang kebetulan aku ceritakan di sini. Tapi, karena sebisa mungkin aku mengambigukan setiap cerita tanpa menghilangkan substansi dan keinginanku untuk meluapkannya, kukira akan baik-baik saja. Toh, nama dan beberapa hal lain juga kusamarkan. Yah, jikalau ada yang menyadari apa, siapa, kenapa, palingan juga yang bersangkutan. Aku bakal manggil dia duluan sih, kalo merasa kisah itu kemungkinan bisa bikin dia tersinggung hehe.
Hmm, tentang apalagi ya? Banyak sih kalo mau bahas bagian lain dari segmen kisah-kisah di sini. Ya karena aku suka cerita juga karena aku perlu mengabadikan ingatanku. Hehe, ingatanku lemah. Tapi, apa pentingnya ya buat pembaca? Hm mungkin bisa ambil hikmah? Haha. Atau, buat inspirasi cerita fiksi wkwk. Inspirasi lo ya, inspirasi! Hm, setelah habisnya challenge ini mungkin aku masih bakal terus nulis. Yang biasanya sebulan sekali jadi sehari sekali ya bikin susah memfilter mana yang jelek mana yang jelek banget. Apalagi masalah edit mengedit. Karena nulis ini cuma lewat hape, jadi revisi-revisi gitu agak susah brou. Kayaknya banyak typo baik penulisan atau gramatikal kalimat. Yang penting posting, gitu. Ya sudah sih, setelah ini--kalo ada waktu, bakal aku cek-cek lagi tulisan yang udah-udah. Soalnya sadar banget kalo sekecil apapun typo itu ganggu banget.
Ini bentar lagi tanggal 31 lewat, jadi udah dulu ya. Semoga aku dan kisahku bisa menghibur pembaca--paling tidak bisa maki-maki gitu. Untuk temen-temen yang kenal aku secara langsung, thanks for your attention to read this shit. Dan buat yang nggak sengaja klik link atau temen-temen di dunia maya, terima kasih banyak. Semoga ada kesempatan buat sharing berbagai hal selain lewat tulisan. Hm, and last but not least--hmm apasi, makasih untuk Bang Wiro dan Endah yang ngetweet-ngetweet. Baru kali ini merasakan manfaat Twitter secara baik-baik saja. Ah, udah ya. Mepet ini waktu. Semoga terus ada waktu. Bye.
31 Maret 23.53 WIB
Sabtu, 30 Mei 2020
Temu
Ini kali ketiga aku menginjakkan kaki di pulau yang penuh manusia-manusia berkulit putih pucat dan rambut warna-warni. Aku sempat takjub ketika kali pertama dulu, sedang yang kedua mulai biasa dan sekarang biasa saja.
Bukan rencanaku kemari. Jika Sonya tidak mengirim tiket gratis minggu lalu, aku tak akan mau repot-repot mengeruk kantong hanya untuk sebuah liburan.
"Sudah berapa tahun kita nggak ketemu?" Sonya yang masih sumringah atas kedatanganku bertanya dengan antusias. Koper mungil yang tadi ada di tanganku kini ia rebut saat gerbang kosnya berhasil terbuka.
Meski Sonya bilang ibu kosnya muslim, nuansa Bali tak luntur di rumah kosnya. Hanya saja tak ada tempat sembahyang di halaman seperti rumah-rumah lain yang aku amati sepanjang perjalanan melewati gang-gang sempit itu.
"Hampir dua tahun, kan?" Sonya menjawab pertannyaannya sendiri. Aku mengangguk membenarkan. Mengikuti langkah lebarnya yang terlihat tak sabar. Saat pintu kamarnya terbuka, masuklah kami. Tapi, hal ganjil terjadi. Seorang pria sebaya kami terlihat keluar dari kamar sebelah dan pergi begitu saja dengan motor matik yang terparkir di depan tadi.
"Ini Pulau Bali, jangan samain sama Pulau Jawa, Beb!" Seru Sonya seraya meletakkan beberapa makanan ringan dari kulkas kecil di sudut kamar.
"Aku tahu, Sonya. Aku sudah tahu tentang hal itu. Tapi, kamu nggak pernah cerita kalau kos kamu juga begitu." Sungutku. Aku bukan seorang muslimah yang akan menentang segala hal ganjil semacam itu. Tapi, mengingat kejadian seorang teman dekatku di kampus yang kehilangan mahkota tertingginya, membuatku semakin cemas, takut hal buruk itu menimpa orang-orang terdekatku lagi. Sonya tahu itu.
"Tenang, nggak ada yang lebih aman dari kos ini. Ibu kosnya kan muslim, jadi pengamanannya ketat. Kamu tahu, kos khusus putri maupun putra tak terjamin lagi keamanannya." Jelas Sonya membuatku sedikit tenang.
Malam harinya kami memasak nasi goreng sederhana di kamar mungil Sonya dan paginya ia mengajakku berkeliling gang untuk sekedar menghirup udara segar. Semangkuk bubur ayam langganan Sonya yang telah terjamin kehalalannya kami lahap habis. Setelahnya, kampus Sonya menjadi tujuan kami. Aku menemaninya mengikuti kelas terakhirnya minggu ini.
"Makasi ya, tiketnya," kataku saat kami berada di salah satu tempat perbelanjaan yang tak begitu besar.
"Makasi sama takdir sana." Jawabnya sambil tertawa. Sonya mendapat give away tiket gratis dari agen travel langganannya, tapi ia tidak menggunakannya dan malah memberikan tiket mahal itu padaku. Katanya, liburnya terlalu singkat. Apalagi kegiatan yang padat membuatnya mengurungkan niat pulang kampung semester ini. Sedang jadwalku sendiri terlalu longgar. Dua bulan libur bukan hal yang mengasyikkan. Kebosanan pasti menyerang.
"Eh, dompetku mana ya?" seruku panik sambil mengobrak-abrik tas tangan kumalku. Sonya ikut panik dan melihat sekeliling. Tak ada tanda-tanda seorang penjahat disana.
"Ibu-ibu yang ngepel tadi-" kataku asal. Sebelumnya kami sempat ke kamar mandi dan ada seorang wanita separuh baya sedang mengepel lantai, yang sesekali menatapku. Ah, tidak, dengan intens dia menatapku, tapi saat ku balas pandangannya, ia menunduk dan buru-buru enyah.
Setengah jam kemudian, setelah kami melapor, ibu itu duduk di kursi sebelahku, di hadapan seorang satpam tanpa seragam.
"Saya tidak mengambilnya, Pak, sungguh!" keluh wanita itu berkali-kali.
"Kalo Ibu tidak mengambilnya, kenapa Ibu tidak bisa menjelaskan alasan Ibu menatap gadis ini?" seru satpam itu dengan nada tinggi. Jujur, aku kasihan melihat hal ini. Tapi, ibu itu sungguh aneh. Ketika keluar dari kamar mandi, ia terekam cctv tengah berlari ketakutan seakan berbuat salah, bahkan sempat jatuh saking paniknya.
"Bu, dompet itu sangat penting. Uangnya tidak seberapa, tapi kartu-kartu dan tiket pulang saya ada disana." Kataku pelan kepada si ibu yang tiba-tiba menunduk. "Saya bukan orang berada, Bu. Saya hidup dan berkuliah mengandalkan tabungan saya sendiri. Ya, memang orang tua saya sesekali mengirim uang, tapi ibu tahu, pekerjaan ibu menghasilkan lebih banyak rupiah daripada mereka." Kataku panjang lebar tak tahan. Gelagat ibu itu semakin aneh. Ia mendengarkan segala ceritaku dengan tertunduk. Tak lama kemudian datang seorang gadis sebayaku dengan wajah angkuh.
"Ini!" gertaknya sambil meletakkan sesuatu yang kami cari-cari dengan tangan kirinya. Aku tertegun melihat tangan kanannya yang sebatas siku. Sedang tangan kirinya tadi tak benar-benar sempurna. Untuk pertama kalinya aku melihat seorang difabel secara langsung. Tapi, kenapa terjadi di situasi yang salah begini?
"Kamu siapa?" Si satpam angkat bicara. Nadanya kaku. Ingin membentak tapi terdengar tak kuasa.
"Ayo, Bu." Gadis itu mengabaikan ujaran satpam dan berusaha menarik lengan baju ibunya dengan tangan kirinya. Ibunya berdiri tapi masih terus tertunduk.
"Tunggu!" cegah Sonya. "Kamu harus jelasin dulu apa yang terjadi!" tandasnya.
Gadis difabel itu berbalik dan dengan santainya berkata, "Aku berniat mencurinya. Tapi, tak jadi karena tak ada yang bisa diambil." Baik aku, Sonya, Pak satpam, bahkan ibunya tertegun.
"Apa kamu tidak salah bicara, Nak?" tanya Si satpam pelan.
Gadis itu menjawab dengan gelengan mantap tanpa mengubah wajah angkuhnya.
Pak satpam tak merasa perlu mengurus masalahku lebih dalam karena aku melarangnya. Aku kasihan sekaligus penasaran. Sepertinya gadis itu berbohong. Hal aneh sangat nyata terlihat dari gelagat sang ibu. Apa yang sebenarnya terjadi?
Bukan rencanaku kemari. Jika Sonya tidak mengirim tiket gratis minggu lalu, aku tak akan mau repot-repot mengeruk kantong hanya untuk sebuah liburan.
"Sudah berapa tahun kita nggak ketemu?" Sonya yang masih sumringah atas kedatanganku bertanya dengan antusias. Koper mungil yang tadi ada di tanganku kini ia rebut saat gerbang kosnya berhasil terbuka.
Meski Sonya bilang ibu kosnya muslim, nuansa Bali tak luntur di rumah kosnya. Hanya saja tak ada tempat sembahyang di halaman seperti rumah-rumah lain yang aku amati sepanjang perjalanan melewati gang-gang sempit itu.
"Hampir dua tahun, kan?" Sonya menjawab pertannyaannya sendiri. Aku mengangguk membenarkan. Mengikuti langkah lebarnya yang terlihat tak sabar. Saat pintu kamarnya terbuka, masuklah kami. Tapi, hal ganjil terjadi. Seorang pria sebaya kami terlihat keluar dari kamar sebelah dan pergi begitu saja dengan motor matik yang terparkir di depan tadi.
"Ini Pulau Bali, jangan samain sama Pulau Jawa, Beb!" Seru Sonya seraya meletakkan beberapa makanan ringan dari kulkas kecil di sudut kamar.
"Aku tahu, Sonya. Aku sudah tahu tentang hal itu. Tapi, kamu nggak pernah cerita kalau kos kamu juga begitu." Sungutku. Aku bukan seorang muslimah yang akan menentang segala hal ganjil semacam itu. Tapi, mengingat kejadian seorang teman dekatku di kampus yang kehilangan mahkota tertingginya, membuatku semakin cemas, takut hal buruk itu menimpa orang-orang terdekatku lagi. Sonya tahu itu.
"Tenang, nggak ada yang lebih aman dari kos ini. Ibu kosnya kan muslim, jadi pengamanannya ketat. Kamu tahu, kos khusus putri maupun putra tak terjamin lagi keamanannya." Jelas Sonya membuatku sedikit tenang.
Malam harinya kami memasak nasi goreng sederhana di kamar mungil Sonya dan paginya ia mengajakku berkeliling gang untuk sekedar menghirup udara segar. Semangkuk bubur ayam langganan Sonya yang telah terjamin kehalalannya kami lahap habis. Setelahnya, kampus Sonya menjadi tujuan kami. Aku menemaninya mengikuti kelas terakhirnya minggu ini.
"Makasi ya, tiketnya," kataku saat kami berada di salah satu tempat perbelanjaan yang tak begitu besar.
"Makasi sama takdir sana." Jawabnya sambil tertawa. Sonya mendapat give away tiket gratis dari agen travel langganannya, tapi ia tidak menggunakannya dan malah memberikan tiket mahal itu padaku. Katanya, liburnya terlalu singkat. Apalagi kegiatan yang padat membuatnya mengurungkan niat pulang kampung semester ini. Sedang jadwalku sendiri terlalu longgar. Dua bulan libur bukan hal yang mengasyikkan. Kebosanan pasti menyerang.
"Eh, dompetku mana ya?" seruku panik sambil mengobrak-abrik tas tangan kumalku. Sonya ikut panik dan melihat sekeliling. Tak ada tanda-tanda seorang penjahat disana.
"Ibu-ibu yang ngepel tadi-" kataku asal. Sebelumnya kami sempat ke kamar mandi dan ada seorang wanita separuh baya sedang mengepel lantai, yang sesekali menatapku. Ah, tidak, dengan intens dia menatapku, tapi saat ku balas pandangannya, ia menunduk dan buru-buru enyah.
Setengah jam kemudian, setelah kami melapor, ibu itu duduk di kursi sebelahku, di hadapan seorang satpam tanpa seragam.
"Saya tidak mengambilnya, Pak, sungguh!" keluh wanita itu berkali-kali.
"Kalo Ibu tidak mengambilnya, kenapa Ibu tidak bisa menjelaskan alasan Ibu menatap gadis ini?" seru satpam itu dengan nada tinggi. Jujur, aku kasihan melihat hal ini. Tapi, ibu itu sungguh aneh. Ketika keluar dari kamar mandi, ia terekam cctv tengah berlari ketakutan seakan berbuat salah, bahkan sempat jatuh saking paniknya.
"Bu, dompet itu sangat penting. Uangnya tidak seberapa, tapi kartu-kartu dan tiket pulang saya ada disana." Kataku pelan kepada si ibu yang tiba-tiba menunduk. "Saya bukan orang berada, Bu. Saya hidup dan berkuliah mengandalkan tabungan saya sendiri. Ya, memang orang tua saya sesekali mengirim uang, tapi ibu tahu, pekerjaan ibu menghasilkan lebih banyak rupiah daripada mereka." Kataku panjang lebar tak tahan. Gelagat ibu itu semakin aneh. Ia mendengarkan segala ceritaku dengan tertunduk. Tak lama kemudian datang seorang gadis sebayaku dengan wajah angkuh.
"Ini!" gertaknya sambil meletakkan sesuatu yang kami cari-cari dengan tangan kirinya. Aku tertegun melihat tangan kanannya yang sebatas siku. Sedang tangan kirinya tadi tak benar-benar sempurna. Untuk pertama kalinya aku melihat seorang difabel secara langsung. Tapi, kenapa terjadi di situasi yang salah begini?
"Kamu siapa?" Si satpam angkat bicara. Nadanya kaku. Ingin membentak tapi terdengar tak kuasa.
"Ayo, Bu." Gadis itu mengabaikan ujaran satpam dan berusaha menarik lengan baju ibunya dengan tangan kirinya. Ibunya berdiri tapi masih terus tertunduk.
"Tunggu!" cegah Sonya. "Kamu harus jelasin dulu apa yang terjadi!" tandasnya.
Gadis difabel itu berbalik dan dengan santainya berkata, "Aku berniat mencurinya. Tapi, tak jadi karena tak ada yang bisa diambil." Baik aku, Sonya, Pak satpam, bahkan ibunya tertegun.
"Apa kamu tidak salah bicara, Nak?" tanya Si satpam pelan.
Gadis itu menjawab dengan gelengan mantap tanpa mengubah wajah angkuhnya.
Pak satpam tak merasa perlu mengurus masalahku lebih dalam karena aku melarangnya. Aku kasihan sekaligus penasaran. Sepertinya gadis itu berbohong. Hal aneh sangat nyata terlihat dari gelagat sang ibu. Apa yang sebenarnya terjadi?
Jumat, 29 Mei 2020
Sabtu yang Manis
Halo selamat malam. Kembali aku menyapa dari tempat sepi yang penuh batas. Haha, tinggal dua hari lagi challenge ini berakhir. Banyak list topik kusiapkan. Tapi, sayang. Aku hanya menulis curhatan-curhatan yang terjadi tiap harinya.
Hari ini, aku juga ingin curhat haha. Tentang Sabtu manis. Sabtu yang sangat manis. Dan kalian tahu? Apa-apa yang berlebih tidak baik. Manis itu bisa jadi pahit. Pahit sekali.
Pagi tadi, aku diminta bulek nganter sepupu ke kantor pos. Karena lama tidak keluar, kami sekalian belanja. Ya, kebutuhan pribadi kami. Di jalan, sepupuku tadi cerita kalau semalam dia iseng baca cerpenku yang ada di laptopnya. Aku tidak apa-apa. Toh, selama ini aku berharap ada yang baca cerita-ceritaku secara sukarela, bahkan cerita novel garapanku yang berada di laptopnya.
Dia melanjutkan cerita. Katanya, dia hanya scroll-scroll tanpa membaca detail cerpen itu. Tapi lama kelamaan dia masuk ke cerita itu. Kebetulan di sebelahnya ada adiknya--yang tentu adik sepupuku, ikutan baca. Pada bagian tertentu di akhir cerita, dia menengok ke adiknya. Mereka saling pandang. Si adik sudah menangis sesenggukan. Dan ya, si kakak yang jarak umurnya setahun lebih muda dariku itu juga menangis. Ahaha, aku bahkan tidak pernah melihat dia menangis. Bagaimana bisa mereka menangis seperti itu? Hahaha.
Perjalanan berlanjut. Setelah naik turun dan berputar-putar swalayan, aku dan sepupu yang seumuran denganku itu tidak menemukan barang yang kami cari. Akhirnya, kami masuk pasar. Kebetulan, ibu juga nitip belanjaan dan obat. Ketika masuk jalan kecil menuju pasar, warung-warung masih berjajar ramai seperti biasanya. Wah, wah! Bahkan aku melihat warung bakso langganan ibu yang dulunya sepi malah ramai. Setelah melewati beberapa toko dan warung-warung bakso lain, aku menemui warung bakso langganan bapak yang dulunya ramai malah sepi. Ah, lama sekali aku tidak main-main ke daerah itu. Padahal, jaraknya tidak begitu jauh dari SMA-ku. Dulu, Mie Ayam jadi andalan kami,
RYFAR, ketika makan di luar. Mana sempat mengunjungi warung-warung bakso dekat pasar begitu.
RYFAR, ketika makan di luar. Mana sempat mengunjungi warung-warung bakso dekat pasar begitu.
Kenangan untuk warung bakso langganan ibu tidak banyak. Beberapa kali kami mengunjungi tempat itu berdua. Seperti ketika menonton karnaval, belanja di pasar atau ketika mencabut gigi di puskesmas yang juga dekat dengan tempat itu. Hanya beberapa kali. Lain itu, kami datang lengkap dengan bapak dan abang. Kalo warung langganan bapak satunya, lebih sering lagi kami kunjungi. Yang terhebat buatku ketika bapak mengajak para keponakan dan sepupu makan di sana saat ulang tahunku. Yep, if u read my blog early, may u know it, hehe. Juga, es buahnya yang menawan. Dulu sekali, aku mengenal rumput laut ala-ala es buah ya di tempat itu. Bapak sendiri seringan pesen balungan di tempat itu. Minumnya, temulawak. Ahaha. Kalo abang, tempat makan favoritnya ya nasi goreng seberang jalan di antara dua warung bakso tadi. Hmm, ingatan buruk ini tidak detail memunculkan memori masa kecilku. Yang jelas, waktu itu aku bahagia.
Setelah bebelanja di pasar, kami memutuskan mampir di warung bakso langganan bapak. Padahal kami sama-sama makan sebelum berangkat. Sampai di sana, kami di sambut bapak-bapak yang wajahnya sangat tidak asing. Dia sedikit bercanda. Ah, andai bapakku bisa ikut bercanda. Sudah lama sekali kami tidak ke sini. Mungkin, terakhir kali ya saat SD dulu itu. Dan oh, ketika sesosok ibu-ibu sepuh datang mengantarkan minuman, aku ingat betul wajahnya. Dia ibu dari bapak-bapak tadi. Ah, senangnya bertemu orang-orang lama. Karena makan di tempat, aku harus menahan aroma hand sanitizer yang menyengat selama makan. Hehe, aku pake beulang-ulang.
Setelahnya, kami pergi ke konter hape. Membeli beberapa keperluan lain. Ironisnya, sampai di sana aku teringat bapak lagi. Dua mbak-mbak berwajah judes menyambut dengan ramah. Aku tahu salah satu yang melayaniku itu semacam pemilik. Ah, aku nggak tahu pemilik konter yang berangsur-angsur besar itu siapa, yang jelas kalau ada sesuatu, karyawan lain selalu tanya ke mbak itu. Ah, dulu, aku sering sekali ke sini. Dari semenjak SMA sampai kuliah. Karena konternya dekat sekolahku, jadi bapak selalu nitip belikan saldo. Kadang aku menolak ketika ada latihan marching. Biasanya sampai malam, hehe. Selanjutnya, saat aku kerja. Aku dan bapak sama-sama berjualan pulsa. Itu berlanjut sampai aku kuliah. Ah, aku tidak sebegitu detail menghitung untung rugi. Saldo-saldo pulsa masuk sebagai uang jajanku di rantau. Juga, sebagai bahan obrolan dengan bapak untuk mengalihkan teks atau obrolan template.
"Pak, pulsaku habis. Pak saldoku habis. Pak, kalo nanti sampean SMS aku nggak bales, berarti masa aktifku habis. Pak, Pak, Pak Pak..."
Buruk sekali. Aku hanya mengabari ketika butuh uang. Sedang bapak selalu menghubungiku untuk menanyakan kabar. Sedang apa, di mana, sudah makan belum, jaga diri dan meminta untuk belajar sungguh-sungguh. Ah, aku hampir lupa hal itu.
Biasanya aku mendatangi konter itu bersama bapak. Ah, jalan-jalan ke sana adalah sebuah kesenangan. Bersama bapak, rasa senang dan percaya diriku naik berkali-kali lipat. Aku sering merecoki bapak. Bahkan, ketika sudah banyak umur begini, aku akan ngintil kemana pun bapak pergi. Hehe.
Ah, rasanya seluruh tempat, mengingatkanku pada bapak. Meski tidak sesakit dulu, rasanya ada setitik lubang yang bisa menarikku dari dunia ini ke mimpi buruk yang nyata. Dalam setiap kerinduanku, ada sebersit keinginan untuk segera bertemu dengannya. Ah, bapak. Tega sekali bapak meninggalkanku seperti itu. Betapa aku sangat menyayangimu.
Oh, Sabtu manis. Saat ini, malam Sabtu legi penanggalan Jawa. Hari di mana bapak pergi. Saat di mana dengan bodohnya aku diberi kabar kalau bapak meninggal. Ah, Tuhan. Bukan maksud abang mengabariku langsung di tengah-tengah latihan teater yang memuakkan itu. Hanya, kepanikannya membawa pada kekeliruan. Dikiria nomerku nomer istrinya. Bagaimana aku tidak terkejut? Aku dan kakak bahkan baru berolok di chat sebelumnya karena aku memamerkan potongan baru rambut pendekku. Ah, bapak belum tahu itu. Mungkin dia akan mengomel. Ah, iya tidak bisa.
Kenapa-kenapa bisa begitu? Ibu, bagaimana dengan ibu? Ah, aku baru saja mengeluh tentang saldo pulsa yang habis padanya. Dengan bapak, aku lupa obrolan terakhir kami yang mana. Tentang keluhan serupa masalah saldo? Ah, tidak. Sepertinya hanya panggilan di waktu subuh yang menanyakan bagaimana kabarku dan bertanya kenapa aku tidak pernah bertanya kabar beliau. Oh Tuhan, benar. Aku tidak pernah punya waktu untuk bapak bahkan sekedar sapaan online. Pantas saja, bapak tidak mengijinkan ibu dan kakak untuk menghubungiku saat selang-selang oksigen terpasang di tubuhnya. Duh, Gusti katanya aku sibuk dan beliau tidak ingin belajarku terganggu...ah...
Sabtu legi, setelah maghrib. Saat duniaku runtuh. Hatiku remuk. Hantaman terbesar sepanjang masa hidupku. Bapak. Asa di setiap laku dan tingkahku. Harapan semu yang kubuat harusnya tak hanya sekedar halu. Tempat sambat yang berakhir dengan debat. Bapak, aku tahu bapak tidak pernah membeda-bedakan kami anak-anaknya. Tapi, aku hanya merasa aku berbeda. Bapak lebih sayang padaku.
Kamis, 28 Mei 2020
Just About Love
Hoho. Sangat terlambat ya.
Let's talk about Just About Love real version. Yap, jika mengikuti beberapa tulisanku sebelumnya mengenai Just About Love 1 sampai 5 serta Catatan Akhir Tahun, itu nggak lebih dari kisahku dan teman-teman yang kufiksikan. Awalnya iseng cuma buat salah satu temen yang nggak demen baca cerita fiksi. Bahkan, saat dia ngambil jurusan Sastra Indonesia yang normalnya suka sastra, dia sama sekali belum pernah nuntasin satu novel pun. Sebagai teman yang baik, ehem, mungkin bikin cerita fiksi dari kisah kami bakal bikin dia tertarik. Eh, nggak tahunya, bahkan sampe aku download-in aplikasi baca novel online dan kirim-kirim link tulisan itu nggak begitu pengaruh buat dia.
Setelah POV (point of view) pertama temen yang nggak suka baca fiksi itu aku lanjut ke temen-temen lain. Di kisah itu ada Ame, Aryn, Hana, Vera dan Mala. Aku juga ada di salah satu tokoh itu hehe. Bisa tebak aku yang mana? Hm, Mala. Aku memutuskan menggunakan nama seseorang yang mungkin aku benci untuk diriku sendiri, hehe. Iya, Mala-petaka wkwk. Sayang, cerita itu stuck. Banyak alasan yang bikin nggak lanjut. Padahal, aku ingin banget bercerita tentang kelima teman masa SMA-ku itu. Kalo kalian mengikuti blog ini sebelum challenge, mungkin ingat tentang RYFAR. Ya, merekalah RYFAR. Salah satu hal yang membuat aku bersyukur pernah sekolah di sana.
Sudah lama kami saling mengenal. Awal masuk SMA, tahun 2013. Aku, kebetulan duduk di sebelah Aryn--wkwk aku gunain nama fiksinya juga. Aryn ini lucu-lucu ngeselin gitu--kayaknya hampir semua gitu deh. Obrolan pertama kami ya tentang asal. Ketika dia mengatakan alamat rumahnya, aku bilang aku punya banyak saudara di sekitar situ. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Kami semakin akrab saja. Lalu, suatu hari aku curiga jika rumah yang dimaksud saudaraku adalah rumah Aryn karena clue-clue-nya sama. Dan, ternyata benar. Saat hari raya galungan, kami bertemu di rumahnya. Dia saudara yang kumaksud. Ah, ingatanku sangat buruk. Sedang Aryn, dia lola. Jika pun dia ingat tentang aku, pasti nggak akan mudeng tahu di mana. Wkwk.
Aryn Hindu. Teman-teman dekatku di SMP dulu juga Hindu. Tiap naik kelas, ada saja teman Hindu baru, jadi mudah saja aku bergaul dengan Aryn. Btw, ayah Aryn Islam. Seorang Islam yang rajin. Sedang ibunya Aryn juga rajin ke Pura. Aku selalu takjub ketika mendengar Aryn bercerita tentang keluarganya. Ah, bahasan agama kadang jadi isu sensitif. Tapi, tinggal dari mana dan bagaimana kita memandang kan? Aku yang dari kecil tidak mendapat ilmu agama langsung dari orang tua melainkan dari TPQ, mudah menerima dan--mungkin--bertoleransi. Aku juga punya saudara jauh lainnya yang malah punya tiga agama. Ini bukan karena meme yang baru-baru ini naik ya, itu beneran dan sudah lama sekali.
Lanjut, ah cerita tentang Aryn masih banyak padahal.
Ame. Dia teman yang jadi tujuan pembacaku sebelumnya. Dia yang satu jurusan denganku, Sastra Indonesia. Teman-teman RL pasti tahu siapa wkwk. Ame, tentu jadi satu-satunya teman yang masih dekat selama kuliah sampai sekarang--jika tidak sedang ada masalah atau pandemi, hehe. Aku dan Ame masuk ke kampus setelah melewati satu tahun penantian. Jika aku bekerja, maka Ame lain. Dia ke Pare untuk belajar bahasa Inggris.
Cerita tentang Ame, sama banyaknya dengan yang lain. Tapi, karena di kampus kami juga bersama--sebelumnya, maka akan rancu jika kutulis segala emosiku juga. Hehe. Jika Aryn lola alias loading lama, maka Ame lemot. Hm, apa ya istilahnya? Oh iya, kurang peka. Jadi, Ame kalo engga ditujukin berkali-kali suatau hal, dia nggak mudeng. Ya karena nggak peduli mungkin. Kalo Aryn kan gampang peka, cuma kayak pura-pura nggak tahu dan endingnya nggak tahu beneran. Bisa bayangin ketika aku dihadapkan sama mereka berdua. Sering nggak nyambung anjir.
Kayak kemarin. hari kedua lebaran, pagi-pagi Ame sudah ke rumah. Yaya, physical distancing. Tapi serius aku nggak open house. Cuma mereka aja yang datang lewat bawah tanah wkwk. Kami ngobrol lama di rumahku. Tapi, lanjutan obrolan di rumah Ame lebih lama. Yep, di sana aku bisa curhat tanpa takut kedengeran ibu hehe. Dan oh, aku sangat berharap teman-temanku lainnya juga bisa bergabung. Menyambungkan obrolan mereka susah sekali.
Aku berharap ada Vera saat itu. Teman yang mirip Google itu sangat pendiam. Tapi, sekalinya bicara pasti didengar. Kebalikanku deh pokoknya. Selain karena dia paling tua di antara kami, sikap Vera juga sangat dewasa. Ah, aku suka mengobrol dengan dia--padalah jarang bicara wkwk. Ketika masa setahun menunggu itu, Vera satu-satunya teman yang bisa kudatangi. Tentu aku lebih banyak bicara. Apapun topik yang kubahas dia bisa mengimbangi--dengan diam. Mau pake bahasa Using, Inggris, Korea bahkan bahasa Isyarat dia paham. Ah, Vera.
Vera tidak melanjutkan kuliah. Setelah gagal test yang kedua kalinya, dia kembali bekerja. Aku lebih dahulu bekerja. Tapi, Vera lebih lama--bahkan, sampai sekarang. Respect dengan ketahanan dia. Aku tahu bagaimana rasanya bekerja. Ada rasa jenuh dan kesal. Dan untuk tempat kerja Vera, ketika aku mendengar tentang tempat itu, itu tidak lebih baik dari pabrik. Entahlah, mungkin sekarang aturan yang berlaku di tempat kerjanya berbeda. Sudah lama kami tidak mengobrol. Terakhir saat di rumah Ame itu, aku tidak tahan dengan mereka berdua dan menelpon Vera. Ya, dia menghilang sedari pagi jadi kami tidak bisa menghubungi. Katanya, dia nggak boleh keluar sama ayahnya. Ya, sudah tidak apa.
Selain Vera, ada Hana yang bisa dengan sabar menghadapi kami. Ah, bahkan Hana bisa menyambungkan kami dengan anak-anak kelas kami lainnya. Dari semenjak teman-teman lain menyebut kami Vera CS, Hana memulai hubungan dengan teman-teman lainnya. Dengan otak cemerlang dan kepolosannya, dia bisa tertawa bersama--semoga--dengan teman-teman lain. Aku dan Hana sering jadi bahan bercanda teman-teman bangsat itu. Tapi, Hana lebih sering karena dia selalu merespon balik ejekan mereka. Kalo RYFAR lagi ngumpul dan engga ada Hana, rasanya juga nggak seru. Nggak ada bahan buli. Hehe. Meski aku gampang kena buli aku juga gampang ngebuli hehehe. Btw, ejekan atau bulian yang dimaksud ini yang versi guyon ya.
Sepandai-pandainya Hana, test SNMPTN cuma meloloskan mereka yang beruntung dan tepat sasaran. Dari kami berlima, hanya Aryn yang lolos. Ia terbang ke Malang. Aku yang nekad mempertaruhkan keberuntungan dengan bersikap bodoh dan bunuh diri, ya mati. Lalu, setelah test SBMPTN, hanya Hana yang keterima. Sayang, Hana tidak mengambilnya. Aku lupa, diterima di mana. Entah pendidikan matematika atau matematika murni, yang jelas dia malah memilih kuliah jurusan agama di kampus swasta dekat rumah dengan jaminan dari saudaranya jika lulus dari sana bisa langsung mengajar--jauh juga sih sebenernya.
Ame, aku dan Vera masih test SBMPTN lagi di tahun selanjutnya. Vera gagal dan mundur. Ame, juga gagal. Tapi, dia ikut test mandiri lagi. Dan wouw, aku terkejut ketika tahu tiba-tiba ada nama dia di daftar teman seangkatan di jurusanku. Ame banting setir dari jurusan kesehatan ke bahasa. Awalnya kupikir karena ikut-ikut aku saja, tapi dia mengelak dengan berbagai alasan. Ya, sudah iya.
Aku meminta Ame untuk segera membikin akun WhatsApp karena segala info maba dari sana. Obrolan di grup Line kami beralih ke WhatsApp. Teman-temanku itu, tidak ada yang kecanduan sosmed. Hanya aku dan Hana yang aktif di Facebook dan Instagram. Ame, baru membuat Facebook dan Instagram ketika kami minta. Vera, dia punya. Tentu, tanpa intervensi kami. Ouw, Vera kebalikan dari Ame yang mudah terpengaruh. Tapi, Vera jarang aktif. Sejarang dia berbicara wkwk. Dan Aryn, dia tidak punya sosmed. Ah, akun Facebook yang dulu sering kami tag adalah akunnya ketika SMP yang sudah mati. Instagram? Apalagi! Seingatku selama menyimpan kontak WhatsApp-nya, dia hanya sekali bikin story emot pohon. Ah Aryn.
Ketika mengenal istilah introvert dan ekstrovert lebih dalam, aku berpikir jika definisi introvert ada pada mereka. Kecuali Hana yang lebih ambivert. Ya, keaktifan Hana bersama teman-teman lainnya pun ada di saat-saat tertentu. Sedangkan aku? Hm, mungkin aku dulu cenderung introvert--atau kuper. Pada orang-orang baru atau orang-orang tertentu, aku memilih diam alih-alih berbicara. Pun, hal sebaliknya, juga kulakukan pada orang-orang tertentu. Ya, aku mengaku introvert dulu. Terlepas itu karena kurang pergaulan atau apa, yang jelas sekarang tidak. Ah, bukan maksudku aku sekarang gaul, bukan. Tidak! Hanya saja, membuka diri pada orang-orang baru itu perlu. Proses itu sulit, tapi terkurung pada masa lalu atau hal baru sungguh menyakitkan. Sampai detik ini, aku juga masih nyaman mengobrol dengan orang yang itu-itu saja. Tapi, tidak menutup kemungkinan untuk berbaur dengan yang lain. Jika dulu aku menghindar tiap teman-teman lainnya mengobrol hal tidak penting, sekarang juga iya wkwk. Ah, apasih ngelantur.
Jadi, ya kalau di Cerita Akhir Tahun itu aku terkesan menyedihkan, yaiya. Saat itu Aryn kuliah di Malang. Ame, di Kediri. Hana, sibuk sekali kuliah, mengajar dan berorganisasi. Sedang Vera terikat dengan tempat kerjanya. Ah jadi rindu berkumpul bersama. Beli kentaki di kantin tengah sambil gibah, makan bakso di Pak Lan pake kuah banyak, jajan es krim dan pedes-pedes di kantin depan sekolah, ah!
Sekarang, meski kami punya waktu dan tidak ada pandemi begini, rasanya kumpul berlima adalah mustahil. Hana, sudah di surga. September 2018, Hana meninggalkan kami. Dia kecelakaan ketika buru-buru berangkat ke kampus. Ah, aku ingat bagaimana bar-bar Hana dulu menyetir. Karena mengejar waktu sebuah acara pelantikan, dia kehilangan nyawa. Astaga, organisasi kuning Hana. Ah, semoga doa-doa dari sana juga menemani kepergian Hana. Temanmu ini, tidak begitu yakin doa-doanya akan terkabul hehe.
Ah, kalo ngomongin mereka nggak ada habisnya. Sudah dulu. Bye~
Let's talk about Just About Love real version. Yap, jika mengikuti beberapa tulisanku sebelumnya mengenai Just About Love 1 sampai 5 serta Catatan Akhir Tahun, itu nggak lebih dari kisahku dan teman-teman yang kufiksikan. Awalnya iseng cuma buat salah satu temen yang nggak demen baca cerita fiksi. Bahkan, saat dia ngambil jurusan Sastra Indonesia yang normalnya suka sastra, dia sama sekali belum pernah nuntasin satu novel pun. Sebagai teman yang baik, ehem, mungkin bikin cerita fiksi dari kisah kami bakal bikin dia tertarik. Eh, nggak tahunya, bahkan sampe aku download-in aplikasi baca novel online dan kirim-kirim link tulisan itu nggak begitu pengaruh buat dia.
Setelah POV (point of view) pertama temen yang nggak suka baca fiksi itu aku lanjut ke temen-temen lain. Di kisah itu ada Ame, Aryn, Hana, Vera dan Mala. Aku juga ada di salah satu tokoh itu hehe. Bisa tebak aku yang mana? Hm, Mala. Aku memutuskan menggunakan nama seseorang yang mungkin aku benci untuk diriku sendiri, hehe. Iya, Mala-petaka wkwk. Sayang, cerita itu stuck. Banyak alasan yang bikin nggak lanjut. Padahal, aku ingin banget bercerita tentang kelima teman masa SMA-ku itu. Kalo kalian mengikuti blog ini sebelum challenge, mungkin ingat tentang RYFAR. Ya, merekalah RYFAR. Salah satu hal yang membuat aku bersyukur pernah sekolah di sana.
Sudah lama kami saling mengenal. Awal masuk SMA, tahun 2013. Aku, kebetulan duduk di sebelah Aryn--wkwk aku gunain nama fiksinya juga. Aryn ini lucu-lucu ngeselin gitu--kayaknya hampir semua gitu deh. Obrolan pertama kami ya tentang asal. Ketika dia mengatakan alamat rumahnya, aku bilang aku punya banyak saudara di sekitar situ. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Kami semakin akrab saja. Lalu, suatu hari aku curiga jika rumah yang dimaksud saudaraku adalah rumah Aryn karena clue-clue-nya sama. Dan, ternyata benar. Saat hari raya galungan, kami bertemu di rumahnya. Dia saudara yang kumaksud. Ah, ingatanku sangat buruk. Sedang Aryn, dia lola. Jika pun dia ingat tentang aku, pasti nggak akan mudeng tahu di mana. Wkwk.
Aryn Hindu. Teman-teman dekatku di SMP dulu juga Hindu. Tiap naik kelas, ada saja teman Hindu baru, jadi mudah saja aku bergaul dengan Aryn. Btw, ayah Aryn Islam. Seorang Islam yang rajin. Sedang ibunya Aryn juga rajin ke Pura. Aku selalu takjub ketika mendengar Aryn bercerita tentang keluarganya. Ah, bahasan agama kadang jadi isu sensitif. Tapi, tinggal dari mana dan bagaimana kita memandang kan? Aku yang dari kecil tidak mendapat ilmu agama langsung dari orang tua melainkan dari TPQ, mudah menerima dan--mungkin--bertoleransi. Aku juga punya saudara jauh lainnya yang malah punya tiga agama. Ini bukan karena meme yang baru-baru ini naik ya, itu beneran dan sudah lama sekali.
Lanjut, ah cerita tentang Aryn masih banyak padahal.
Ame. Dia teman yang jadi tujuan pembacaku sebelumnya. Dia yang satu jurusan denganku, Sastra Indonesia. Teman-teman RL pasti tahu siapa wkwk. Ame, tentu jadi satu-satunya teman yang masih dekat selama kuliah sampai sekarang--jika tidak sedang ada masalah atau pandemi, hehe. Aku dan Ame masuk ke kampus setelah melewati satu tahun penantian. Jika aku bekerja, maka Ame lain. Dia ke Pare untuk belajar bahasa Inggris.
Cerita tentang Ame, sama banyaknya dengan yang lain. Tapi, karena di kampus kami juga bersama--sebelumnya, maka akan rancu jika kutulis segala emosiku juga. Hehe. Jika Aryn lola alias loading lama, maka Ame lemot. Hm, apa ya istilahnya? Oh iya, kurang peka. Jadi, Ame kalo engga ditujukin berkali-kali suatau hal, dia nggak mudeng. Ya karena nggak peduli mungkin. Kalo Aryn kan gampang peka, cuma kayak pura-pura nggak tahu dan endingnya nggak tahu beneran. Bisa bayangin ketika aku dihadapkan sama mereka berdua. Sering nggak nyambung anjir.
Kayak kemarin. hari kedua lebaran, pagi-pagi Ame sudah ke rumah. Yaya, physical distancing. Tapi serius aku nggak open house. Cuma mereka aja yang datang lewat bawah tanah wkwk. Kami ngobrol lama di rumahku. Tapi, lanjutan obrolan di rumah Ame lebih lama. Yep, di sana aku bisa curhat tanpa takut kedengeran ibu hehe. Dan oh, aku sangat berharap teman-temanku lainnya juga bisa bergabung. Menyambungkan obrolan mereka susah sekali.
Aku berharap ada Vera saat itu. Teman yang mirip Google itu sangat pendiam. Tapi, sekalinya bicara pasti didengar. Kebalikanku deh pokoknya. Selain karena dia paling tua di antara kami, sikap Vera juga sangat dewasa. Ah, aku suka mengobrol dengan dia--padalah jarang bicara wkwk. Ketika masa setahun menunggu itu, Vera satu-satunya teman yang bisa kudatangi. Tentu aku lebih banyak bicara. Apapun topik yang kubahas dia bisa mengimbangi--dengan diam. Mau pake bahasa Using, Inggris, Korea bahkan bahasa Isyarat dia paham. Ah, Vera.
Vera tidak melanjutkan kuliah. Setelah gagal test yang kedua kalinya, dia kembali bekerja. Aku lebih dahulu bekerja. Tapi, Vera lebih lama--bahkan, sampai sekarang. Respect dengan ketahanan dia. Aku tahu bagaimana rasanya bekerja. Ada rasa jenuh dan kesal. Dan untuk tempat kerja Vera, ketika aku mendengar tentang tempat itu, itu tidak lebih baik dari pabrik. Entahlah, mungkin sekarang aturan yang berlaku di tempat kerjanya berbeda. Sudah lama kami tidak mengobrol. Terakhir saat di rumah Ame itu, aku tidak tahan dengan mereka berdua dan menelpon Vera. Ya, dia menghilang sedari pagi jadi kami tidak bisa menghubungi. Katanya, dia nggak boleh keluar sama ayahnya. Ya, sudah tidak apa.
Selain Vera, ada Hana yang bisa dengan sabar menghadapi kami. Ah, bahkan Hana bisa menyambungkan kami dengan anak-anak kelas kami lainnya. Dari semenjak teman-teman lain menyebut kami Vera CS, Hana memulai hubungan dengan teman-teman lainnya. Dengan otak cemerlang dan kepolosannya, dia bisa tertawa bersama--semoga--dengan teman-teman lain. Aku dan Hana sering jadi bahan bercanda teman-teman bangsat itu. Tapi, Hana lebih sering karena dia selalu merespon balik ejekan mereka. Kalo RYFAR lagi ngumpul dan engga ada Hana, rasanya juga nggak seru. Nggak ada bahan buli. Hehe. Meski aku gampang kena buli aku juga gampang ngebuli hehehe. Btw, ejekan atau bulian yang dimaksud ini yang versi guyon ya.
Sepandai-pandainya Hana, test SNMPTN cuma meloloskan mereka yang beruntung dan tepat sasaran. Dari kami berlima, hanya Aryn yang lolos. Ia terbang ke Malang. Aku yang nekad mempertaruhkan keberuntungan dengan bersikap bodoh dan bunuh diri, ya mati. Lalu, setelah test SBMPTN, hanya Hana yang keterima. Sayang, Hana tidak mengambilnya. Aku lupa, diterima di mana. Entah pendidikan matematika atau matematika murni, yang jelas dia malah memilih kuliah jurusan agama di kampus swasta dekat rumah dengan jaminan dari saudaranya jika lulus dari sana bisa langsung mengajar--jauh juga sih sebenernya.
Ame, aku dan Vera masih test SBMPTN lagi di tahun selanjutnya. Vera gagal dan mundur. Ame, juga gagal. Tapi, dia ikut test mandiri lagi. Dan wouw, aku terkejut ketika tahu tiba-tiba ada nama dia di daftar teman seangkatan di jurusanku. Ame banting setir dari jurusan kesehatan ke bahasa. Awalnya kupikir karena ikut-ikut aku saja, tapi dia mengelak dengan berbagai alasan. Ya, sudah iya.
Aku meminta Ame untuk segera membikin akun WhatsApp karena segala info maba dari sana. Obrolan di grup Line kami beralih ke WhatsApp. Teman-temanku itu, tidak ada yang kecanduan sosmed. Hanya aku dan Hana yang aktif di Facebook dan Instagram. Ame, baru membuat Facebook dan Instagram ketika kami minta. Vera, dia punya. Tentu, tanpa intervensi kami. Ouw, Vera kebalikan dari Ame yang mudah terpengaruh. Tapi, Vera jarang aktif. Sejarang dia berbicara wkwk. Dan Aryn, dia tidak punya sosmed. Ah, akun Facebook yang dulu sering kami tag adalah akunnya ketika SMP yang sudah mati. Instagram? Apalagi! Seingatku selama menyimpan kontak WhatsApp-nya, dia hanya sekali bikin story emot pohon. Ah Aryn.
Ketika mengenal istilah introvert dan ekstrovert lebih dalam, aku berpikir jika definisi introvert ada pada mereka. Kecuali Hana yang lebih ambivert. Ya, keaktifan Hana bersama teman-teman lainnya pun ada di saat-saat tertentu. Sedangkan aku? Hm, mungkin aku dulu cenderung introvert--atau kuper. Pada orang-orang baru atau orang-orang tertentu, aku memilih diam alih-alih berbicara. Pun, hal sebaliknya, juga kulakukan pada orang-orang tertentu. Ya, aku mengaku introvert dulu. Terlepas itu karena kurang pergaulan atau apa, yang jelas sekarang tidak. Ah, bukan maksudku aku sekarang gaul, bukan. Tidak! Hanya saja, membuka diri pada orang-orang baru itu perlu. Proses itu sulit, tapi terkurung pada masa lalu atau hal baru sungguh menyakitkan. Sampai detik ini, aku juga masih nyaman mengobrol dengan orang yang itu-itu saja. Tapi, tidak menutup kemungkinan untuk berbaur dengan yang lain. Jika dulu aku menghindar tiap teman-teman lainnya mengobrol hal tidak penting, sekarang juga iya wkwk. Ah, apasih ngelantur.
Jadi, ya kalau di Cerita Akhir Tahun itu aku terkesan menyedihkan, yaiya. Saat itu Aryn kuliah di Malang. Ame, di Kediri. Hana, sibuk sekali kuliah, mengajar dan berorganisasi. Sedang Vera terikat dengan tempat kerjanya. Ah jadi rindu berkumpul bersama. Beli kentaki di kantin tengah sambil gibah, makan bakso di Pak Lan pake kuah banyak, jajan es krim dan pedes-pedes di kantin depan sekolah, ah!
Sekarang, meski kami punya waktu dan tidak ada pandemi begini, rasanya kumpul berlima adalah mustahil. Hana, sudah di surga. September 2018, Hana meninggalkan kami. Dia kecelakaan ketika buru-buru berangkat ke kampus. Ah, aku ingat bagaimana bar-bar Hana dulu menyetir. Karena mengejar waktu sebuah acara pelantikan, dia kehilangan nyawa. Astaga, organisasi kuning Hana. Ah, semoga doa-doa dari sana juga menemani kepergian Hana. Temanmu ini, tidak begitu yakin doa-doanya akan terkabul hehe.
Ah, kalo ngomongin mereka nggak ada habisnya. Sudah dulu. Bye~
Rabu, 27 Mei 2020
Blok!!!
Halo selamat malam.
Ah, kenyang habis bikin mie instan tengah malam begini. Malam ini aku mau cerita tentang insiden pengeblokan baru-baru ini.
Hm, pernah kena ngeblokir atau diblokir? Awalnya aku pikir aku nggak pernah diblok atau ngeblok. Eh, ternyata pernah.
Kalau yang baru-baru ini terjadi masih ambigu. Galau berat pas foto profil RF--sebut saja begitu, menghilang. Ya, emang dia jarang aktif di sosmed. Bikin story juga jarang banget. Lebih sering di Instagram daripada WhatsApp. Dia jarang atau bahkan nggak pernah nonton story jadi nggak tahu dia masih hidup atau enggak. Jadi, pas foto profil WhatsAppnya hilang, pikiran udah ke mana-mana. Last seen dan online-nya nggak kebaca. Apa dia cuma ngehapus kontak? Ah, mau chat buat mastiin ada berapa centang yang muncul nggak berani. Sudah cukup deh kayaknya keisengan untuk chat dia duluan. Ah, saking jarang bertemu sih.
Akhirnya dengan pikiran penuh kecemasan coba minta bantuan orang lain buat nge-save nomer RF. Dan bam! Ada. Ada fotonya. Astaga! Wow sekali. Dan setelah pikiran jadi kelam, aktivitas keganggu--iya, rebahan doang. Galau seharian dan ga balas chat atau buka-buka sosmed. Sambat ke orang terpercaya dan juga sosial media. Ah, kasihan.
RF bangsad! Ya, meski mungkin nggak sebangsad temen-temen atau orang-orang kenalanku lainnya. Jika tanya RF siapa? RF yang mana? Atau tentang tentang lanjutan kisah A, B dan R, tenang RF bukan salah satu dari mereka. Tentu saja, RF bukan orang yang kukenal secara langsung. Dia seseorang yang disukai oleh seorang gadis kenalanku. Sebenernya RF, mengingatkanku dengan si A dan si B yang ingin aku ceritakan tempo hari. Beruntung gadis itu tertarik dengan orang yang benar-benar disukainya. Haha, logika dan perasaannya berjalan beriringan. Tidak seperti aku. Kata teman-temanku, aku terlalu pake logika. Makanya nggak pernah nemu orang yang tepat buat jatuh cinta. Ah, geli bangsad.
Iya, mixing si A dan si B cocok menjadi karakter RF. Yang satu bisa bikin kepikiran, yang satu bikin berdebar. Ah, andai ada sosok semacam RF di sekitarku.
Ah, aku lupa. Mungkin aku saja yang terlalu kuper dan pemalas. Bahkan untuk menengok lebih luas. Adakah orang-orang baik yang mungkin saja bisa jadi semacam RF? Hahaha, kalo sudah di titik itu, baru logikaku terturup perasaan. Ya, dia minta jatah. Dan aku diblok oleh pikiranku sendiri. Terbelenggu kemungkinan yang beragam. Ambigu yang pilu. Menyedihkan. Aku tidak seberani--atau seiseng--kenalanku sehingga menghubungi langsung laki-laki yang menarik hatinya. Dan mujur, dia dapat respon baik sebelum insiden blokir itu. Ya, mereka saling kenal. Karena ingin lebih mengenal, kenalanku tadi berkenalan dengan mengenalkan diri terlebih dahulu. Haha, apasih.
Aku? Aku juga pernah berusaha melakukan sesuatu ketika tertarik dengan seseorang. Bukan-bukan, bukan si A atau si B. Cheosarang, chaksarang. Cinta pertama, cinta sepihak. Ah, ngeri bicara cinta wkwk. Hmm saat itu, aku melakukan beberapa hal agar dekat sehingga bisa mengenalkan diri. Motivasiku pertama kali liputan ketika magang di UKM kampus adalah agar bisa mengobrol dengan dia. Ah, aku bakal sangat malu sih jika ada yang bisa menebak siapa orangnya hanya dari kisah ini--tentu bukan termasuk teman-teman dekatku karena mereka sudah pasti tahu dan kecil kemungkinan membaca blog ini. Belum puas, aku ikut kepanitiaan yang melibatkan dia. Dan sialnya aku ada di departemen yang selalu berhubungan dengan dia. Selalu. Padahal aku memilih departemen itu secara random. Endingnya? Berakhirnya kepanitiaan, berkuranglah rasa tertarikku. Sakit hati karena sikap dan pikiranku sendiri membuat aku kebal dengan rasa abai dari dia. Meskipun begiti, aku masih suka sampai aku tahu dia sudah punya kekasih. Ya, teman perempuan yang dekat dengannya dari lama, sepertinya baru mengganti statusnya sebagai pacar. Ah, tidak apa. Aku ikut bahagia.
Setelahnya aku tidak tertarik lagi. Semua yang ingin kutahu sudah kudapat. Masalah blokir, ya aku pernah memblokirnya tanpa alasan di salah satu sosmed. Ya kali, aku tidak difollback setelah empat kali follow-unfollow. Sedang teman-teman maba hampir semuanya difollback. Tapi, akhirnya kubuka juga sih. Cuma bentar doang kok blokirnya. Dia juga nggak notice kayaknya.
WhatsApp? Aku memilih menghapus kontaknya saat dia telah memasang foto profil berdua dengan pacarnya. Dan sepertinya dia juga tidak menyimpan kontakku. Ah, jika kupikir-pikir lagi, lucu sekali kisah itu. Usahaku tidak sekedar DM untuk membeli tiket atau meminta follback. Tapi, sebuah hal yang bahkan aku sendiri tidak duga. Sekarang kami sudah saling follow setelah aku mengunfoll-nya lebih dari satu semester. Dia kenal aku saja sudah cukup. Entah sebagai reporter yang pernah mewawancarainya, anggota konyol di kepanitiaan itu, atau mahasiswa dengan jurusan yang sama, itu cukup.
Loh, kok bahasannya jadi ke mana-mana. Hm, intinya sih blokir memblokir pilihan. Juga, alasannya beragam. Bisa pake logika bisa pake perasaan. Aku sendiri ketika tanpa ba bi bu memblok orang itu, tak ada alasan rasional di pikiran. Dia tidak salah apa-apa. Hanya aku yang kesal dan terganggu dengan pikiranku sendiri. Mungkin kenalanku yang diblokir teman laki-lakinya itu, bisa saja berada di posisi seperti orang sejurusanku tadi. Tapi, tentu pemikiran logika dibutuhkan. Introspeksi diri diperlukan jika ada di posisi terblokir. Lalu berpikir, di mana semua bermula dan bagaimana mengakhiri. Mungkin aku bukan orang yang memiliki pikiran yang berlogika atau perasaan yang tulus. Tapi, keseimbangan diperlukan. Ah, ngantuk. Selamat malam~
27 Mei 2020
Ya, gimana dong?
Selasa, 26 Mei 2020
First Time? Menjadi yang Pertama.
Oh halo.
Hari ini aku akan berkisah tentang drakor lagi. Masih dengan aliran yang sama, Reply 1997. Di tulisan sebelumnya tentang Reply itu, sepertinya aku bahkan nggak bahas Reply 1997 sama sekali ya. Padahal itu adalah series pertama dari dua drama sekuelnya.
Ah, lanjut. Sebenarnya drama Reply 1997 udah bersemayam di PC sejak aku masih SMA. Tapi karena ketika meng-copy dari temanku berantakan, jadi males nonton. Apalagi kan alur yang dibawa Reply 1997 berantakan juga. Ah, maksudnya alur campuran. Tapi, ya keruwetan alur lebih parah di 1997 sih. Ya emang masalah teka teki atau plot twist ada di semua series Reply, cuma kayak detail tiap adegan atau mix antara zaman sekarang yang tersegmen-segmen sampai masa lalu yang nggak hanya masa SMA main lead, juga Masa muda para orang tua mereka. Mana ada semacam perbandingan--susah nyari istilah lain--yang meng-compare masalah satu dengan masalah lain karena ya emang sebanding. And that's good. Meski udah tahu endingnya bakal sama siapa, aku masih deg-degan gitu. Takut ada plot twist yang nyakitin atau kenyataan dalam film yang nggak sesuai sama ingatanku (apasih kenyataan kok film???). Ya, dulu udah pernah klik-klik ini drama dan tahu kalo bakal sama siapa endingnya. Toh, di asianwiki atau poster sudah jelas kok.
Tapi ternyata ingatanku bener. Ending masih sesuai pemikiran. Ya meski tiap scene terus dibikin deg-degan. Paling nggak, nggak seperti Reply 1994 yang udah bikin segala ekspektasi ke Chilbong ambyar. Btw, aku nonton 1994 dulu karena lihat spoiler Chilbong confess ke si Go Ara--lupa nama perannya. Kalo di Reply 1988, duh, emang bener-bener sih. Kan di awal sama si Sun Woo ya saingannya. Eh, pas end sama Taek. Ya enggak kenapa-kenapa sih toh sesuai sama dugaanku dari awal--hampir seluruh alur udah ketebak sama aku. Ya rada nyesek. Tapi, semua kembali ke penulisnya dong.
Balik lagi ke Reply 1997. Karena nggak begitu banyak artis terkenal yang jadi role, kukira bakal ngebosenin. Ternyata engga. Apalagi karena jadi yang pertama kayak lebih banyak pemakluman, meskipun nggak ada yang kumaklumi juga sih. Kayak lebih original gitu. Dan ya, couple paling kusuka ada di Reply 1997 ini. Selain karena sudah tahu mereka bakal jadian, ke-uwu-an mereka natural banget. Ini maksudnya natural pengkisahan, bukan akting. Ya meski aktingnya nggak mengecewakan juga sih. Jadi ikut merasa gimana rasanya suka, cinta, sayang dan perasaan-perasaan lain yang muncul tanpa bisa ditolak. Ah, padahal cuma perkara cinta tapi bisa dalam gitu. Eits, kata 'padahal' bukan karena aku ngeremehin cinta ya, tapi karena biasanya di drakor aku nggak begitu nyorot prihal cintanya. Yoon Jae dan Si Won bener-bener bikin iri dari kisah cinta di Reply lainnya. Ya gimana, ya semacam goalku sebagai penonton gitu.
Selain keuwuan mereka--aku nggak nyebut romance karena emang nggak ada romantis-romantisnya, kisah bromance dalem banget anjir. Di series Reply lain pertemanan mereka ya sama-sama romantis gitu. Baik sesama cowo, atau ke cewe. Kalo di Reply 1994 dekat karena memang tinggal serumah dan di Reply 1988 karena tetanggaan, di Reply 1997 beda. Ya temen biasa gitu. Temen SMA yang sering main bareng dan langgeng sampai sukses. Terlepas dari main lead couple yang dari kecil bareng. And the boom is, when love come in bromance relation. Ahaha, iya cinta. Awalnya aku nggak ngeh. Eh, lama-lama paham. Ya Tuhan tulus banget itu temen cowonya si cowo. Tapi aku jelas nggak mendukung mereka berlayar. Bukan karena sesama jenis, tapi karena goalku tadi. Ya kali male lead jadian sama orang lain bukan female leadnya. Ambyar dong imajinasiku.
Hmm, apalagi ya tentang Reply 1997?
Ah iya, tentang ayah Yoo Jung yang meninggal. Seperti di series Reply lainnya, Yoo Jung ini another female lead gitu. Nah, pas udah dewasa dia kerja di ibu kota--setting Reply 1997 di Busan semacam Surabaya-nya Korea. Temen-temen yang lainnya juga di Seoul. Satu di Busan dan satunya--the best friend alias namja chinggu, kuliah di luar negeri. Saat dia sibuk-sibuknya kerja dan jarang pulang ayahnya meninggal. Ketika ayahnya diselang dengan oksigen, tidak ada yang memberitahu dia dan bahkan ayahnya memintanya untuk tetap bekerja. Ketika ditelpon, dia bilang sibuk dan berkata akan menghubungi lagi. Terus saja begitu. Dan ya, akhirnya ayahnya meninggal
Aku mencoba untuk tidak ikut menangis. Dan memang aku tidak menangis. Padahal di Reply 1988 pas kakeknya si female lead meninggal, aku sesenggukan. Tapi di situ enggak. Why? Cause I know very well how it was. Hmmm I try to not comparing but it's just alike. Haha, it's okay. I keep it on my mind that something hurt there is.
Hmm apalagi ya? Tentang dialog yang selalu bikin mikir, deg-degan dan akhirnya jadi quote aku kira sudah biasa sih ada di drama atau film Korea. Cuma ya emang mungkin karena aku pikir relate, aku tadi banyak take screenshoots hehehe.
Udah dulu, deh kepalaku pusing banget ini astaga. Gerak-gerak sendiri. Bye~
26 Mei 2020
26 Mei 2020
Senin, 25 Mei 2020
Catatan Akhir Tahun
Satu tahun yang lalu.
It's been a long day without you, my friend
And I'll tell you all about it when I see you again
We've come a long way from where we began
I'll tell you all about it when I see you again
When I see you again
And I'll tell you all about it when I see you again
We've come a long way from where we began
I'll tell you all about it when I see you again
When I see you again
Lagu milik Wiz Khalifa itu sukses membuat mata Mala basah. Kini nafasnya mulai tersengal akibat menahan isakan. Sering kali dirinya terbuai oleh lagu-lagu yang ia putar, namun tidak untuk lagu ini. Ia lebih suka lagu-lagu ballad ala Korea. Meski tidak tahu betul artinya ia menyukainya. Tapi, mengapa lagu ini membuatnya kebanjiran air mata?
So let the light guide your way
Hold every memory as you go
And every road you take will always lead you home, home
Hold every memory as you go
And every road you take will always lead you home, home
Air matanya menetes lagi. Kini ia mencoba membuka mulut dan bergeming mengikuti lirik lagu.
It's been a long day without you, my friend
And I'll tell you all about it when I see you again
We've come a long way from where we began
I'll tell you all about it when I see you again
And I'll tell you all about it when I see you again
We've come a long way from where we began
I'll tell you all about it when I see you again
"When I see you again. When I see you again. When I see you again" Suara Mala lirih hampir tak terdengar bahkan oleh telinganya sendiri. Namun, hatinya menjeritkan lirik penghujung itu. Hatinya berharap seseorang di luar sana, jauh disana mendengar apa yang ia rintihkan.
Mala meraih ponsel jadulnya dan mematikan pemutaran musik. Sunyi mengelilinginya lagi. Benar saja, waktu menunjukkan hampir tengah malam. Ia melepas earphone hitam yang ia pakai. Matanya sudah sembab.
"Tik... Tik... Tik..." Suara jam yang berdetik terdengar stabil. Ia melihat kembali ponselnya dan menemukan angka 23 dan 55 di sudut layar 3 Inc itu.
Mala mulai sesengukan lagi mengingat apa yang pernah ia lakukan. Menyesali setiap hal yang pernah ia lakukan dulu. Sesak. Hanya sesak yang ia rasakan saat ini. Bagaimana ia bisa memutar waktu? Bagaimana ia bisa kembali ke masa yang sangat ia rindukan dan sesali dulu?
"Apa yang aku lakukan selama ini adalah sia-sia." pikirnya. Ia memejamkan mata. Butiran air mulai muncul lagi dan lagi. Pikirannya tengah bertarung dengan hatinya.
Saat kalutnya sembunyi di balik tidur, sorak-sorai kebahagiaan terjadi di luar sana. Kembang api menghiasi langit di tengah malam. Tidak hanya di luar rumahnya. Namun, di seluruh muka bumi.
"Happy new year Mala... " Sapa Mala pada dirinya sendiri. Ia membuka matanya yang masih berat. Ia harus bergegas mandi dan sholat subuh. Ia tidak ingin terlambat berangkat kerja lagi. Namun, ketika kakinya baru menginjak ubin untuk segera bangkit, ia ingat sesuatu.
"Ah... Tahun baru ya!!!" desahnya. Mala kembali membaringkan tubuhnya dan mengingat apa yang ia impikan semalam. Ia lupa.
Mala menggapai sebuah ponsel putih yang masih mulus dari meja belajar yang berada di sebelah tempat tidurnya dengan mudah. Ponsel baru yang ia dapat setelah bekerja siang dan malam.
Ia membuka sandi dan menyalakan data. Sela beberapa detik bunyi notifikasi pemberitahuan muncul terus menerus. Hatinya senang hingga melupakan kesedihan yang semalam. Namun, kesenangan itu hilang seketika ketika kotak berwarna hijau itu bukan dari yang ia inginkan.
"Sebanyak ini hanya spam?" gumamnya.
"Happy new year VAHAM! Selamat tahun baru! Semoga kita menjadi lebih baik di esok dan memperbaiki seluruh hal buruk yang pernah kita lakukan. Meniti setiap mimpi yang bisa membawa kita ke titik yang kita inginkan, berjuang bersama dalam jarak dan waktu..." Memutar rekaman suara yang ia kirimkan semalam sebelum larut dalam lagu yang ia putar.
"Ver.... Tahun ini kita bisa kok. Insyaallah kalau berusaha kita bisa. Jangan diem aja. Say what you want to say..." Kini ia memutar rekaman keduanya. Ia menghembuskan nafas sebaliknya karena tidak ada yang membaca pesannya.
"Kak Ryn... Belajar yang sungguh-sungguh di kota orang. Jangan ngecewain siapapun karena tahun-tahun Kakak masih panjang disana.
"Ame... How are you??? Udah lancar kan inggrisnya. So, it's make you better easy to get what you want... And it's make me happy to." Ia mendengarkan rekamannya satu persatu sampai di rekaman terakhirnya.
"Hana... Sekolah yang rajin... Ups... Kamu kan udah rajin ya... Apa ya?? Perkokoh hati kamu. Kami selalu disini kok. Entah dimanapun kamu dan hatimu aku sama VAHAM akan selalu ada. Entah dulu atau esok kita akan sama... Dalam setia. "
"Hana..." Katanya lirih.
"Mala!!!" teriak ibu dari luar kamar sambil menggedor-gedor pintu kamarnya. "Sudah jam berapa ini???" kata ibunya dari luar. Ara terperanjat melihat jam yang menunjukkan pukul lima lebih.
"Aish..." Keluhnya tidak ingin di tahun barunya kehilangan subuh. Ia keluar dan mengucek-ngucek matanya agar tidak terlihat sembab di depan ibunya.
Langganan:
Postingan (Atom)