Sabtu, 16 April 2022

Saat Terik Masih Jadi Milikku

Hari-hari di awal masuk sekolah menengah pertama, kuhabiskan dengan mendengungkan lagu Aishiteru milik Zivilia. Buku harian polos bersampul kuning yang kuberikan ke temanku, serta buku harian milik temanku yang sama-sama masih terisi sedikit, selalu terbayang. Kami pernah menukarkan buku harian kami sebelum hari perpisahan tiba. Aku menemukan lagu lirik lagu Aishiteru di salah satu lembar buku harian temanku. Lantas, kala buku kuningku kembali, kusalin lirik tersebut. 

Perlahan, harmoni lagu terdengar. Pelan, suara Zul sang vokalis terdengar. Aku tak pernah melewatkan acara musik yang menampilkan Zivilia. Bahkan, meski hanya sepintas saja, kutunggui lagu itu sampai habis. Aku sedikit hapal liriknya. Ya, kecuali lirik bahasa Jepang yang dilantunkan seorang perempuan di bagian akhir. 

Aku yang tak bersemangat hanya mencorat-coret meja. Kelas sangat gaduh. Wajar saja, aku masuk kelas A, kelas VIIA. Kelas ini isinya anak-anak badung. Murid-murid dengan nilai danem paling jelek. Murid-murid yang ada di garis terakhir daftar masuk SMP. Murid-murid yang hampir tak bisa sekolah di SMP Negeri. Ya, aku ada di kelas itu. Aku adalah salah satu dari mereka. 

Bodoh. Kebodohan yang kulakukan di UN-ku berimbas sangat berat. Jangankan masuk ke SMP favorit, bisa masuk ke SMP Negeri terdekat dari rumah saja susah. Aku ada di atas dua garis merah. Nyaris sekolah di sekolah swasta. Seperti kakakku. Untung saja nilai rapor dapat menolong.

Candra, dan Riska, teman SD yang saling berkejaran rangking 3 denganku, masuk ke kelas E. Kelas yang katanya berisi anak-anak pintar. E kadang diplesetkan menjadi eksklusif. Persetan dengan kelas E. Aku benci pengelompokkan itu. Bahkan, Angga, temanku yang agak bangor, masih bisa bersama Candra dan Riska. Devi, teman yang tidak begitu menonjol di pelajaran masuk kelas C. Mereka semua berada di atasku, jauh. Jujur saja, keirianku terhadap nilai mereka tak sebanding dengan rasa inginku bersama mereka. Aku ingin bersama-sama mereka. Berada di kelas manapun, asal bersama mereka. Aku rindu teman-teman SD-ku. Aku rindu mereka. Aku rindu Pita. Aku rindu Ellen, Nisma, dan semuanya. Apakah mereka juga demikian?

Pita. Kini, aku mengukir namanya di meja. Teman jangkung yang selalu mengepang dua rambutnya dengan pita. Aturan di SMP yang mengharuskan rambut dikuncir dua selalu mengingatkanku padanya. Style itu, bisa jadi zona nyaman Pita di SMP-nya sekarang. Ah, nomor Pita di ponsel ibuk sudah tidak aktif. Harusnya kalau mengganti nomor, bilang-bilang dong. Aku kan jadi sedih. Pita adalah teman yang mengenalkanku pada lagu Zivilia. 

Suara bel terdengar. Aku tak tahu jam ke berapa sekarang, yang jelas pelajaran Matematika selalu menyenangkan. Beberapa menit kemudian, gerombolan anak laki-laki masuk. Tumben sekali mereka masuk sebelum guru. Kelas semakin bertambah bising. Kawanan anak laki-laki itu kusebut bocah selatan. Rumah mereka berada di daerah selatan. Si yang paling gendut namanya Geri, si yang paling tinggi namanya Dedi, si yang paling nakal namanya Heri. Aku menyebut Heri paling nakal bukan karena dua lainnya tidak, hanya saja Heri sangat-sangat nakal. Dari 1-100, jika peringkat nakal Geri 78 dan Dedi 95, maka Heri bisa sampai 300. Sebegitu nakalnya dia. 

Dari Trio I (Heri, Dedi, Geri), yang sangat kuingat adalah Dedi. Saat itu, dia masuk dengan menyerotkan sepatu kotornya di kursiku. Aku berteriak kepadanya. Dia membalas dengan bentakan sambil berlalu. Duduk di depan menyebalkan. Apalagi di sisi jalan menuju bangku anak nakal-nakal itu. Lumpur tanah mengotori kursiku. Ah, lagi-lagi kelas ini menyebalkan. Meski tidak hujan, karena kelasku berada di paling ujung dan dekat gumuk, tanahnya selalu basah. Belum lagi jika hujan sampah di pojok gumuk turun dan aromanya sangat mengganggu. 

Eka, teman sebangkuku mengomentari kelakuan Dedi. Ya, hanya mengomel sendiri. Sedari tadi dia asyik mengobrol dengan teman-teman yang duduk di belakang. Stefani, Luky, atau siapa ya? Entahlah, yang jelas di sisi kananku, seberang jalan yang dilewati bocah selatan tadi ada Tansa dan Eldie. Belakangnya lagi ada Faan, Dwiki, Wildan, dan siapa lagi ya? Yang jelas belakangnya lagi ya para bocah selatan. Ah, ingatanku tentang perbangkuan lumayan ya. Kesemua yang kusebutkan tadi, laki-laki. Bangku deret kanan, dipenuhi laki-laki. 

Suatu saat, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja Kholif memintaku beralih duduk denganku. Aku diminta duduk di deret nomer tiga dari kanan. Tepatnya di bangku baris ketiga, bersama Eka. Bukan, Eka yang ini, Eka Briyani. Nama depannya Briyani, tapi katanya biasa dipanggil Eka juga. Aku sendiri lebih sering memanggilnya Bri atau Brin. Brin bukan karena rambutnya yang brintik ya, hanya lebih singkat dari Briyani. Dan entah karena apa, mau-mau saja aku pindah. Padahal di tempat sebelumnya, tak begitu buruk. Ada Tansa yang bisa sedikit banyak kutanyai perkara pelajaran. Otaknya lebih encer dari teman-teman yang lain di sana. Dan sepertinya, alasan Kholif memintaku pindah karena ia ingin duduk di tempatku, tempat yang bersebelahan dengan Tansa. 

Aku menyayangkan Eka yang tidak menahan kepindahanku. Bagaimanapun, dia satu-satunya orang yang kukenal di sini. Eka, anak teman bapak. Aku ingat pernah bertemu dia saat Galungan ke rumahnya. Jadi, karena itu aku memutuskan duduk bersamanya. Setelahnya, saat sudah pindah tempat duduk, mau tak mau aku berkenalan dengan Eka satunya, Briyani Eka. Awalnya aku tak begitu suka dengan dia. Pasti ada alasan kan, kenapa sampai seseorang yang duduk bersamanya pindah? Namun, lama kelamaan, aku cocok-cocok saja berteman dengan dia. Kholif saja yang gatel (Astaga!). Briyani adalah teman yang cukup pintar. Aku bisa bilang, dia mungkin sedikit lebih di atasku. Dan satu hal yang sangat membuatku selalu menjadikannya spesial, dia lahir tepat sehari sebelum aku. Kami, sama-sama Aries. 

Hari-hari berjalan dengan menyenangkan. Aku tak begitu memikirkan Pita. Masalah ekonomi yang diderita keluargarku saat itu, tak lagi mengganggu. Aku sudah bisa beli buku tulis baru saat duduk bersama Briyani. Guru Matematika yang ternyata tetangga suami kakak sepupuku, sudah sangat mengenalku. Tak memalukan, ajaran dari kakak sepupuku yang lain perlara aljabar dan sebagainya, membuat aku semakin menonjol di Matematika. Aku dan Briyani bagai rival. Selalu menjadi yang maju ke depan untuk mengerjakan. Namun, kami tak pernah bertengkar. Ya, kalau ketika Briyani sedang tidak mood dan tiba-tiba kesal kepadaku sih, sering. Silent treatment yang baru kusadari itu. Dulu aku biasa saja karena sudah biasa menghadapi bapak yang tempramental. Jadi, Briyani bukan apa-apa. 

Lain deret kanan, lain deret kiri. Di bangku seberangku ada Arif dan Kadek. Di depannya Yoga dan Riky. Keempat laki-laki itu, selanjutnya akan menjadi teman dekatku. Aku sering mengobrol bersama mereka, terlebih bersama Arif. Bocah laki-laki itu tingginya tak lebih dariku. Dia, tak senakal yang lain. Namun jika sudah perang dasi, dia akan mengejar sampai terbalaskan pecutan. Kadek, teman yang lucu. Dia berbadan kurus. Tak begitu tinggi, namun lebih tinggi dari Arif dan Riky. Dia agak pendiam. Namun, sekalinya berbicara, asal sekali. Tipikal yang ceplas-ceplos. Yoga biasa kami panggil Ndas Pacul. Tingginya sepertinya sedikit lebih dari Kadek. Namun, itu mungkin berkat rambut jabriknya. Rambut lurus yang mengembang. Ternyata panggilan Ndas Pacul itu bertahan sampai kuliah kelak. Sebenarnya ada julukan untuk tiap orang. Namun, yang sangat kuingat hanya Ndas Pacul. Dan Riky adalah sumber sebutan-sebutan itu. Julukan untukku, banyak dan beragam. Tentu saja jelek dan menjijikkan. Untung saja aku sudah lupa. 

Keempat laki-laki itu, selain suka mengajak ngobrol, juga suka menyontek. Ya, kadang aku juga menyontek mereka sih. Simbiosislah. Paling benci kalau teman-teman di belakang mereka ikut-ikutan. Saiful dan Setyadi, semacam bocah selatan versi Tampo (sebuah desa di kecamatan sebelah). Belakangnya lagi, tempat duduk yang sering kosong. Andis dan harusnya Heri. Andis teman yang rumahnya ternyata tak jauh dari rumahku. Dan Heri, si anak paling nakal yang hampir tak pernah masuk sekolah. Aku bahkan tak ingat di mana tempat duduknya sebenarnya. Kalau anak-anak nakal di belakang itu sudah mendekati Arif, dia mau tak mau menyerahkan bukunya. Saat-saat itulah saat yang menyebalkan. Tak mau ikut mikir sama sekali. Boro-boro sih, aku yakin mereka tak mendengarkan penjelasan dari guru. 

Selain mereka, aku punya teman dekat lain. Perempuan. Namanya Lucita. Dia anak polisi. Kalau di kelasku ada Vita yang terkenal di seantero sekolah (bahkan sekolah lain), kepopuleran Lucita ini kira-kira ada di bawah Vita. Dia duduk di seberang Briyani bersama Vita. Entah kenapa kami dekat. Sepertinya karena kami sering ke kantin bareng, bersama Briyani juga. Aku tak ingat jajan mereka, tapi tentu ingat jajanku. Minumnya, kalau tak teh hijau, ya frenta. Jajannya apa ya? Pokoknya, total tak lebih dari dua ribu. Kalau pas ada lebih ya beli pentol. Ah, benar-benar finansialku jeblok sekali. Uang jajan SD-ku bahkan dua-tiga kali lebih banyak dari saat SMP. 

Lucita ini yang mengenalkanku dengan dunia K-pop. Setelah menerima hadiah ranking 2 berupa ponsel bekas dari suami atasan bapak (kelak jadi kepsek SMA-ku yang problematik), Lucita mengirimkan berbagai lagu K-pop lewat bluetooth. Saat-saat itulah, aku baru tahu kalau sinema Asia yang selalu kutonton di TV setiap sore berasal dari Korea. Serius, aku sudah sangat menggilai drama-drama itu sebelum tahu asal muasalnya. Karena sering bergaul denganku, Lucita juga lumayan dekat dengan Arif cs. Dan tentu saja dia mendapat julukan juga dari Riky, meski aku lupa apa itu. Lucita juga sering kena pecut dasi anak-anak, namun ia tak bisa membalas pecutan seperti diriku. Ya, bagaimana ya? Sebagai adik yang sering dipecut sarung Mas, aku tentu bisa melawan. Mungkin kakak Lucita tak senakal kakakku. (Oh ya, kakak Lucita kelak jadi seniorku di marching SMA).

Selain kebersamaan dengan teman-teman, ada satu hal yang sedikit membuatku bahagia. Pada waktu itu, SMS jadi alat komunikasi alternatif yang bisa diakses semua anak. Sering ada satu broadcast kata-kata mutiara atau template tertentu. Di salah satu template yang berisi semacam, "Meski kamu tak sepintar A, tak setampan B, tak sekaya C, tak sebaik D,..." Dan kalian tahu namaku ada di mana? Ada di 'tak secanti Alit'. Jujur saja, saat itu rasanya lebih seperti ejekan. Bagaimana bisa aku disebut cantik, alih-alih pintar? Ya Tuhan, aku dulu sangat amat jelek. Jauh lebih jelek dari saat SMA. Dan, jika kuingat hanya cemooh yang kudapat dari teman-teman sebelumnya. Si pengide template itu sepertinya terlalu baik. Atau tak tahu saja menempatkanku di bagian mana. Jadi, pikiran semacam, 'semua perempuan kan cantik' pasti muncul. Meski sampai saat ini aku tak tahu orangnya. 

Hal menyenangkan lain di kelas itu? Keberadaan Tansa? Hahaha tidak. Aku si denial ini pernah mengira Tansa suka aku. Tapi, logikaku sudah berani menolak. Aku sudah tahu diri rupanya. Tansa, meski tak sepopuler Faan, dia tak kalah keren. Hanya tinggi badannya saja yang jauh. Nyatanya kelak akan ada masa dimana dia diperebutkan oleh perempuan-perempuan termasuk Kholif. Oh dan tentang Tansa, alasanku berpikir demikian adalah karena ketika aku pindah dia juga ikut pindah. Tansa sering mengambil tempat Kadek. Jadi, dia mengalah pindah ke tempatnya bersama Eldie. Tak jarang juga Eldie yang tiba-tiba mengambil tempat Kadek. Namun, sulit untuk dipungkuri kalau aku jadi lebih sering memperhatikan Tansa. Tak hanya di tempat Kadek, kadang dia duduk di tempat Uut atau Risky, dua baris di belakangku. Entah kenapa, aku pernah sedikit berpikir demikian. Hanya sekilas dan semua berlalu bergitu saja. Kegeeranku sebatas pada pikiran yang baru kutelurkan sekarang. Baik Tansa dan Eldie, keduanya tak lepas dari permainan pecut dasi. Mereka juga koloni dalam bermain, meski tak serutin empat laki-laki lainnya. 

Aku tak menyangka masa menyenagkanku di SMP hanya sebatas itu. Selanjutnya, hal yang dalam hati kudengungkan, menjadi nyata. Sebersit keinginan untuk bisa sekelas dengan teman-teman SD, terjawab dengan masuknya aku ke kelas E. Lebih tepatnya VIIIE. Kelas eksklusif yang benar-benar eksklusif. Kelas berisi anak-anak pilihan yang benar-benar pintar. Dan aku membenci kelas itu. Tak ada Candra atau Angga, alih-alih Riska. Aku tak begitu dekat dengan dia. Dan lingkar pertemanan di kelas eksklusif itu semakin membuat renggang hubunganku dan Riska. Padahal dia duduk tepat di depanku. Aku yakin Candra dan Angga pun sudah berbeda--ya jika tidak harusnya mereka juga bisa masuk kelas E juga dong.

Ah, masa-masa di kelas delapan itu sudah banyak kuceritakan di kisah-kisah sebelumnya. Saat itu, saat yang redup. Duniaku saat keluar menuju sekolah hanyalah gelap. Terikku sudah hilang. Teman-teman yang menyenangkan tak lagi ada. Briyani, satu-satunya yang bersamaku di kelas itu, tak jarang melukai. Aku bertumpu pada duniaku sendiri. Buku, dan obrolan tentang Korea sedikit menghibur. Namun, tetap saja itu semu. Aku kehilangan dunia yang sesungguhnya. Terik tak lagi milikku.

Sabtu, 09 April 2022

I don't know

Aku nggak tahu mau nulis apa. Padahal, kemarin-kemarin banyak banget yang pengen kusampaikan. Beberapa udah kupost langsung. Beberapa yang lain mengendap di kepala. Sampai-sampai, draft Tiga-Tigaku, juga tersisih. Padahal part 2 telah selesai, dan part 3 sudah hampir selesai.

Omong kosong. Ini pembahasan yang tidak penting. Tadi, tadi saat aku mencuci baju, banyak ide dan topik yang bermunculan. Niat menceritakannya juga ada. Namun, saat sekarang ini aku mulai menuliskannya, semua itu hilang. Sebenarnya, aku ingat salah satu judul. Tapi, percuma. Aku tak tahu apa yang akan kutulis.

Hari ini kosong. Tidak sangat kosong, namun membuat diriku lelah. Progres skripsiku tak berjalan baik. Waktu seminar yang semakin dekat, sedikit membuat takut. Padahal sebelum-sebelumnya ingin cepat-cepat. Kesal. Kenapa hari merahku adalah hari ini? Harusnya besok atau lusa, agar ketika sempro tak begitu ngos-ngosan. 

Oh ya, aku akan sempro. Hmm, tidak mengejutkan harusnya. Bukan juga hal yang spesial. Tapi, ini benar-benar memerlukan persiapan lama. Jika waktu yang kuhabiskan untuk menganggurkan skripsi dihilangkan, maka waktu yang kugunakan untuk mengerjakan skripsi tak selama menunggu proses seminar. Paham kan? Ya, coba mulai. Semampunya. Sedikit dipaksa dari pada enggak ngapa-ngapain. Jadi ya... begini. 

Aku masih agak cemas sama dua dosen pengujiku. Selain memang dosen-dosen sastra terkenal tidak objektif, kedua yang kudapat kebetulan sangat.... spesial. Aku harus menginjak diriku lebih keras agar sakit yang kurasa kelak dapat kukendalikan. Jika kalian merasa aku berlebihan menanggapi kedua dosenku itu, kalian salah. Aku pernah ada di situasi yang selalu sial di hadapan mereka. Ini mengerikan. Urusannya bukan lagi kemampuan, manner, atau apapun tentang diriku, namun tentang mereka dan keadaan. Bagaimana mereka menanggapi orang-orang yang serius dan benar-benar berjuang serta bagaimana Tuhan memploting jalan kami agar kebersinggungan yang terjadi tak menghasilkan hal negatif. 

Sudah pernah kusampaikankah jika usaha untuk mengerjakan skripsi ini adalah langkah awal aku untuk sedikit berubah menjadi lebih baik? Menjadi aku yang setidaknya meski tidak baik-baik amat, namun bukan golongan orang jahat? Aku masih tetap berjuang di titik itu. Tidak sekedar dari apa yang kubaca, namun juga apa yang kurasakan. Mulai mengilhami diri dengan semakin melihat ke sudut-sudut lain. Aku tak ingin orang-orang di sekitarku merasakan kesedihan yang kurasakan. 

Sedikit kesenangan di sore ini, paketku tiba. Sebenarnya sudah sampai dari siang. Tapi karena perut yang sakitnya aneh, aku tidur lama sekali. Menanggalkan tanggung jawabku yang akhir-akhir ini jadi pikiran. Aku banyak pikiran tapi malas berpikir. Hanya mengendapkan diri pada kemuraman. Harusnya aku membuka laptop ini sedari pagi, sedari tadi. Harusnya aku melepaskan beban pikiran dari awal. Ah sudahlah. 

Baik, sepertinya cukup. Ada banyak yang masih ingin kusampaikan. Mungkin setelah ini akan kulanjut di tulisan lain. Aku mau makan atau mandi dulu. Semoga setelah ini aku ingiat apa yang sebenarnya ingin kusampaikan. Sekian ya, semoga bahagia.

 

Selasa, 05 April 2022

Pernah Nggak Sih Dikado Kenangan?

Aku pernah dikado kenangan. Hadiah ulang tahun yang nggak akan pernah kulupa. Seumur hidup, untuk pertama kalinya diberi kejutan oleh teman-teman. Iya, teman. Teman rasa keluarga.

Sepertinya aku pernah berkisah tentang ini, di salah satu cerita yang kutulis untuk merayakan ulang tahunku. Saat itu, aku cukup senang dengan kenangan yang kupunya. Momen membahagiakan menginjak umur 20.

Berawal di hari Senin, hari ulang tahunku. Seperti biasa aku membuat jejak digital yang harusnya kupahami sendiri. Membuat beragam kata-kata ambigu yang kusebar di berbagai mediaku. Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Jujur saja, aku ingin ada teman yang mengucapkan selamat padaku. Namun, aku tak berharap besar. Teman-teman tak ada yang tahu aku ulang tahun hari itu.

Senin terasa semakin berat. Setelah malamnya aku dan beberapa teman pulang pelatihan jurnalistik, beberapa matkul hari itu sangat menguras emosi. Bukan, bukan dosen yang bermasalah. Saat itu teman kelompok yang dari sirkel sosialita berulah. Aku dibuat geram olehnya. Hariku terasa menyedihkan. Ya, meski tanda mediaku masih penuh dengan tawa.

Keesokan harinya seperti biasa. Selepas jam ketiga kuliah, teman-teman bilang akan mampir ke tempatku. Kosan hijauku itu memang biasa jadi tempat kami melepas penat di jam-jam sela kuliah, base camp. Tapi, tumben sekali mereka kompak mau ke sana. Padahal biasanya aku yang menawari terlebih dahulu. Siang yang terik membuat mereka kewalahan. Salah satu teman berkata jika ingin beli es batu di dekat kosan dan berencana membuat es teh. Ide bagus.

Personil kami tak lengkap saat itu. Seingatku Fikoh dan seorang lain yang pamit beli es batu. Lalu, aku, Vera, dan entah siapa satu orang lainnya duluan ke kos. Tak ada yang aneh, tak ada yang ganjil. Biasanya ya begini. Sampai tiba-tiba mataku menangkap ramai di depan gerbang. Aku menduga-duga itu mereka yang beli es batu tadi. Tapi, sepatu biru yang kelihatan dari bawah gerbang, sepertinya itu Rosie. Dia tak ikut kami hari ini. Suara-suara gaduh semakin muncul. Aku... Sial, aku lupa bagaimana kelanjutannya.

Yang ada di ingatanku selanjutnya adalah gambaran Defi membawa sepiring besar tumpukan pisang goreng. Di atasnya, ada lilin putih polos berapi. Untuk sesaat aku tak paham apa yang sedang terjadi. Hingga lagu Selamat Ulang Tahun dinyanyikan. Ya Tuhan, ini kejutan? Aku mungkin tertawa saat itu, mungkin tersenyum, atau mungkin menangis. Yang jelas terharu. Mereka tahu tanggal lahirku yang jauh beda dengan di KTP saja, adalah sebuah hal membahagiakan.

Defi bilang ia tak mendapatkan lilin ukuran normal, jadi seadanya. Lantas aku mengeluarkan segepok lilin kecil dari lemari. Kalau mereka bilang kan bisa kukasih, wkwk. Semua temanku ada di sana. Seingatku begitu. Mungkin, hanya Anisa yang tak hadir. Aku lupa detailnya, tapi tak teringat ada sosoknya di adegan manapun.

Acara selanjutnya, dengan pisang goreng yang masih utuh, tentu berfoto. Aku yang masih mengenakan kaos oblong dan celana boxer hijau dipaksa buru-buru ganti. Tapi, namanya juga alit, hanya bajuku saja yang berganti. Bawahan tidak. Mereka yang menyarankanku untuk memakai jilbab juga kuturuti. Awalnya kupikir foto setengah badan. Setelah melihat hasilnya, kebanyakan adalah fotoku dengan baju panjang, jilbab, dan celana pendek. Menyebalkan--juga menyenangkan.

Sudah terlanjur malas ganti, aku hanya menutupi celana itu dengan rok. Teman-teman senang melihatku demikian. Mengenakan rok layaknya perempuan pada standar tertentu. Sebagai rasa terima kasih, aku berjanji pada mereka akan mengenakan rok di kelas Sosiologi malam nanti. Rasa maluku mungkin akan sedikit berkurang karena intensitas bertemu orang di malam hari semakin kecil. Dan tentu saja gelap. Lagi pula di kelas itu kami akan bertemu lagi. Dari kami berdelapan, hanya Fikoh satu-satunya yang tak ada kelas nanti malam. Aku agak sedih sih. Dia teman dekatku dari SMA. Dan menurut teman-teman, Fikoh yang mengatakan jika aku ulang tahun bulan ini. Karena dia sendiri tak yakin, teman-teman yang lain mencari tahu lewat jejak mediaku. Namanya juga anak sastra, keambiguitasku dianalisis. Jadilah, mereka menemukan makna tersembunyi yang kuselubungkan.

Malam harinya di kampus, aku menepati janji, mengenakan rok. Itu kali pertamaku selain ospek tentu saja. Sayangnya Fikoh tak menyaksikannya. Meski dia telah melihatku memakai rok selama 3 tahun di SMA momen seperti itu akan sangat langka di kampus. Kelas selesai dengan canda teman-teman tentang rokku. Tumben, tumben, dan tumben. Tak hanya dari mereka-mereka yang dekat, beberapa yang lain juga berkomentar. Aku hanya haha hihi seperti biasa.

Tiba-tiba salah satu teman mengajakku ke belakang, ke sekretariat. Dia ada perlu dengan anak-anak di belakang. Dua dari sirkelku akan diklat mapala, seperti aku dan tiga lainnya yang ikut pelatihan jurnalistik kemarin. Kalo dipikir-pikir, kami aktif juga ya. Dua yang lain, sisanya, ikut UKM seni univ dan UKM Reog univ. 

Aku berjalan ke bagian belakang kampus yang gelap. Saat itu, kami masih tak paham dengan seluk beluk kampus. Meski jalanan di daerah kantin gelap gulita, teras ruang-ruang sekretariat ramai. Anak-anak UKM seni sedang latihan teater di depan ruangnya. Lainnya, entah apa kegiatan mereka, juga sibuk. Dari salah satu sudut kantin yang gelap, pendar kecil terlihat. Bulatan-bulatan cahaya serupa lilin--yang memang lilin, terlihat. Seseorang di kegelapan muncul dengan sekotak roti warna-warni. Di titik itu, aku menangis.

Sesosok perempuan yang kata orang mirip denganku, Fikoh. Dia dan entah bagaimana bisa, memperisapkan hal yang akan kukenang seumur hidup. Mungkin kalian-kalian yang tidak tahu seperti apa temanku itu, akan berpikir jika aku berlebihan. Kurang perhatian dan apalah-apalah. Tapi, aku tahu betul karakter temanku itu. Dia tahu dan INGAT bulan lahirku saja sudah merupakan hal mengejutkan. Jadi, wajar sekali jika aku akan merayakan kejutan yang dibuatnya seumur hidup. Serius, Fikoh bukan orang yang biasa berbuat demikian.

Agaknya tak ada yang abadi selain kenangan. Meski demikian, kenangan itu tak selamanya baik untuk dikenang. Maksudku begini, cukupkah kita mengingat masa itu tanpa ada di masa sekarang? Masa dimana semua sudah berubah? Mereka sekarang dimana? Mereka sekarang apa kabar? Mereka apakah juga rindu? Apakah, apakah masalah di antara kami, satu dan satu yang lain, sudah tuntas? Apakah berkas kebahagiaan masa lalu mengikis luka yang seiring berjalannya waktu terus tumbuh sudah sembuh? Tanpa sadar saling melukai. Maaf yang bahkan terlambat, sepertinya tak akan terjadi. Aku yakin kami baik-baik saja. Sayangnya, kami tak lagi bersama-sama.

Kami terluka. Luka yang membuat kenangan indah itu mulai memudar. Berganti ingatan-ingatan lain yang menyesakkan. Dinamika pertemanan memang jangan datar-datar saja. Tapi, terlalu naik turun juga berakibat jatuh ke jurang juga. Aku, dengan kecacatan ingatanku, mungkin bisa memaklumi, alih-alih memaafkan. Namun, sebagian yang lain, yang punya kekelaman tersendiri antara satu sama lain mungkin masih menyimpan duka. Andai kami hanya jadi kupu-kupu kampus, apakah kenangan itu bisa tertuai jadi bunga?

Senin, 04 April 2022

De Javu: Sesuatu yang Nggak Enak Untuk Diulang

04/04/22

Pagi tadi, aku menulis catatan untuk Ramadan di Medium. Awalnya tidak berniat menggunakan bahasa Inggris. Namun, urung dan ya catatan singkat berisi kisah hari kemarin yang berjalan lancar selesai dalam waktu satu setengah jam. Tak ada yang spesial memang. Tapi, poin pada kisah itu adalah lancar. Satu hari berjalan dengan tanpa kesialan atau hal menyesakkan apapun. 

Setelah menuntaskannya, aku mulai melakukan aktivitas yang sudah lama tertunda. Skripsi. Menghubungi beberapa teman yang katanya mau ke kampus hari ini. Tak lupa, aku menghubungi dosen juga--hal yang sangat membuatku frustrasi. Aku juga mengirim DM ke Twitter Acer Indonesia. Sudah sebulan baterai laptopku bermasalah. Lampu indikator dan notif persentase-nya eror.Sambil menunggu balasan-balasan itu, aku mulai membaca-baca draft-ku. Tidak sedang berlagak rajin, tapi aku sudah di titik tak tahu harus melakukan apa. 

Satu dosen membalas. Menjawab panjang lebar menjelasanku dengan, "OK", seperti sebelumnya. Satunya lagi hanya membaca. MEMBACA! Harusnya aku tidak terkejut ya. Sudah pernah diperlakukan demikian, dan memang dosen itu terkenal begitu. Tapi, rasanya menakutkan. Sampai beberapa kali balasan dari Acer Indonesia muncul, dosen itu belum membalas. Aku yakin jika tak kuchat lagi, lagi, lagi, dan lagi, tak akan ada balasan. 

Selanjutnya, aku melakukan instruksi untuk berusaha memperbaiki indikator bateraiku. Hasilnya tak begitu bagus, namun lebih baik. Persentase baterai bisa turun meski lampu masih berkedip. Aku melanjutkan tulisanku sebelumnya. Namun, karena baterai semakin menipis, ketakutan muncul lagi. Dulu, di notebook lamaku, kejadian laptop tiba-tiba mati dan membuat garapanku hilang pernah terjadi. Aku takut hal demikian terulang. Lantas, sambil menunggu sore untuk bersiap masak, aku menonton variety show. 

Tak sampai dua jam aku menonton. Baterai laptop belum habis betul. Masih sekitar 30 lebih. Aku menyalakan Spotity sambil memilah seladah. Pai tadi, aku beli separuh yang ternyata masih banyak. Namun, warnanya sudah menguning. Sambil mengirim pesan ke tetangga-tetangga kos untuk iuran gas dan meminjam ayakan, lagu masih berputar. Hebat betul masih lebih dari 30 persen. Sampai ketika aku mencuci ayakan, laptop mati. Oh, segitu. 

Aku menyalakan laptopku lagi. Mendengarkan musik sambil mengayak tepung yang meski tak banyak namun karena ayakannya jebol, aku harus berhati-hati agar kotorannya tak ikut tersaring. Hampir satu jam aku mengayak tepung. Sambil sedikit kesal melihat semut-semut lewat di depan mata. Kesal karena tak menemukan kapur ajaibku. Kesal karena sebelumnya aku menumpahkan minyak. Kesal karena aku lupa dimana menaruh plastik-plastik kecil. Kesal karena menumpahkan teh di kasur. Kesal karena menyempar gelas berisi air yang ditinggalkan temanku. Kesal-kesal yang tak kuperlihatkan secara berlebih seperti biasa. Aku puasa. Aku sedang menahan.

Kekhawatiran yang menghantui berangsur berubah menjadi ketakutan telak. Saat tepung-tepung telah kuadon, ubi-ubi kupotong untuk siap dimasak kompor gas habis. Belum lagi, baterai laptop yang sudah satu jam kucharge tak menunjukkan kenaikan yang significant. Hanya 11 persen. Bahkan, setelah kucharge dengan keadaan mati selama satu jam lagi,hanya naik 2 persen. Sungguh membuatku gila. 

Aku punya banyak trauma dan ketakutan. Laptop yang tiba-tiba mati, dan hal-hal sial yang tak bisa dihindar. Aku mulai memikirkan kesialan yang kutimpa tahun lalu. Sama-sama saat puasa. Aku semakin takut. Kepalaku pusing. Badanku lemas. Pikiranku rancu ke mana-mana. Pekerjaan belum selesai. Minyak habis. Uang kubuat iuran. Sisa tepung masih berserak. Nasi masih jadi beras. Sampah-sampah belum kubuang. Belum mandi dan solat ashar. Aku haus sekali. Tapi, aku tak mau memecahkan uang 20k terakhirku. Aku segan beli es di tempat langganan dengan uang receh lagi. Aku juga takut mau ambil uang di ATM. Bagaimana... bagaimana jika kesialan itu muncul lagi? Kartu tertelan mesin ATM misal. 

Awalnya aku bingung dengan kesuraman yang kurasa. Kekesalan-kekesalan itu, mungkin benar adalah bentuk ketakutan. Aku tak yakin masakanku hari ini enak. Semua gagal. Ubi masih sisa, dan yang matang gosong dan keras. Aku tak menakar berapa banyak garam yang kutuang di sayur bening. Tak mempedulikan komposisi tomat, bawang, dan cabai untuk sambelku. Hingga kejutan lain muncul. Sabun cuci piring yang baru kubeli, yang tadinya ingin kubawa ke kamar tak jadi, tumpah ruang di lantai tempat cuci piring. Ini benar-benar menakutkan. De javu. Dulu, ceritanya mirip seperti ini.  

Persetan! Aku harus menghapus pikiran itu. Harus! Aku tak ingin berpikir negatif lagi. Tidak boleh. Dulu, dulu saat kejadian itu mendatangiku, awalnya ya begini. Aku cemas karena kakakku tak mengirim kabar. Tak ada kemungkinan positif yang kupikir sama sekali. Jangan-jangan... jangan-jangan... sampai akhirnya kesialan itu benar-benar menimpa. Lebih buruk dari apa yang kuperkirakan. Satu yang sangat kusyukuri, kakakku muncul dengan sehat walafiat--setidaknya fisiknya. Aku yakin mentalnya ikut bobrok. Hari itu, mimpi buruk terjadi lagi. Setelah kematian bapak, aku bisa meletakkan kejadian itu tepat di peringkat bawahnya. 

Sial. Aku tak boleh berpikir negatif. Tidak. Seperti kata ibu, semua baik-baik saja. Tak ada yang terulang. Ini hanya tanda jika aku bisa melewati masa itu--pun masa ini. Di tengah-tengan mencurahkan kepiluanku di sini tadi, ibu menelpon. Aku menceritakan segalanya. Semua ketakutan dan apa yang kualami hari ini. Hal-hal yang ingin kusampikan di sini, kuceritakan ke Ibuk terlebih dahulu. Tak kuasa, aku menangis. Ibuk sepertinya menahan juga. Untungnya, setelah itu aku tenang.

Aku mengurungkan niat membeli es atau kerupuk. Berpikir jika ini hanya kebetulan. Tak ada pengulangan kesialan, tidak. Dulu, karena takut sabun cuci piringku habis percuma dipakai orang-orang tak bertanggung jawab, maka kubawa ke kamar. Sialnya, aku tak sadar jika beberapa waktu kemudian ambruk dan membuat sebagian lantai kamarku penuh sabun. Jika dibandingkan saat ini, bukannya keterbalikan? Aku tidak membawa balik sabun itu. Mau dipakai silakan, tidak juga tidak apa-apa. Namun, saat kulihat itu tumpah ruah sedang orang lain yang terakhir menggunakannya rasanya impas. Maksudku, iya aku rugi. Namun, ini bukan salahku. Misal disebut sial, ya mau bagaimana lagi? Mungkin orang itu ceroboh, tapi aku yakin dia tidak sengaja. 

Adzan bunyi. Tapi, itu dari ponsel bapak kos. Masjid belum 

Aku melanjutkan pekerjaanku memasak selada. Memutar-mutar sayuran hijau itu di dalam panci. Aromanya khasnya amat kusuka. Namun, hatiku masih kelabu. Aku lelah. Aku ingin pulang. Namun, apakah di rumah semua akan berbeda? Apakah bateraiku tiba-tiba normal? Apakah kejadian gas habis di waktu sahur, seperti kejadian tahun lalu di sini tak terulang di rumah? Apakah magic com yang tiba-tiba rusak bisa hidup lagi? Apakah aku akan menjadi kaya jika di rumah? Tidak. 

Mungkin aku akan merasa sedikit tenang dengan keberadaan ibuk dan keluarga lain. Namun, bagaimana dengan privasiku? Pribadiku? Keperluanku? Aku tak bisa bebas melakukan kerja-kerjaku di rumah. Tidak dengan tulisan-tulisan maupun skripsi. 

Aku berpikir untuk mereset baterai laptop lagi. Kalau sampai masih seperti tadi, aku menyerah. Tak berencana membawa ke tukang servis karena tak ada pegangan uang. Hanya akan menggunakan seadanya. Itu saja. Akhirnya, kutemui laptop ini tak lagi kekurangan baterai. Meski aku tak yakin sudah normal atau sekedar bisa, setidaknya aku kembali tenang. Baterai penuh dengan bar notifikasi yang berangsur turun. 

Semut-semut semakin banyak bermunculan. Kini mengerubungi magic com milik temanku yang kupinjam untuk jangka panjang. Memang kapur ajaib belum ketemu, tapi aku memindahkan magic com itu ke luar. Aku yakin nanti akan hilang juga, Sisa sabun cuci piringku sudah kuamankan. Aku tak jadi menegur tetangga kos yang tadi menumpahkannya. Tak apa minyak habis, toh itu hadiah dan sudah dari lama kusimpan. Aku sudah minum air putih--minuman favoritku, dan ini cukup. Kalau-kalau nanti pengen banget jajan, ya nggak apa-apa ambil uang. Selama ini nggak pernah bermasalah di mesin ATM terdekat itu. Pun, jika kejadian mengerikan itu terjadi, aku masih punya kontak teman-teman yang bisa dimintai tolong. Entah seperti apa nanti. 

Aku tak jadi ingin pulang. Bukan karena takut kesialan di jalan seperti yang dulu. Lebih karena ingin menuntaskan sesuatu terlebih dahulu. Ah, panjang sekali. Sekarang aku sedikit lega. Pikiran terpositifku hari ini sekedar, "Mungkin aku lapar," dan yah, meski sekarang belum makan, aku sudah jauh lebih tenang.

Seperti menulis di buku diary. Kisah hari ini, tak ada yang harus kututupi. Namun, sepertinya terlalu 'diary' untuk dibagi. Entahlah, aku lama tidak bermain intim dengan tulisan. Kebanyakan yang kusalurkan di sini, meski sesuai kehendak hati, tetap kufilter. Kali ini tidak. Namun, justru ini yang membuatku senang. Selamat malam, selamat malam ramadan, dan selamat makan. Terima kasih untuk kalian semua, juga diriku sendiri. 

 Oh, btw barusan kucoba. Masakanku enak semua.

 

Selasa, 29 Maret 2022

Tiga Tiga

Part 2

Sepanjang ingatan yang masih tersisa di kepala, kali pertama aku menyaksikan akad nikah, air mata tak hentinya mengalir. Deras dan penuh isak. Aku yang duduk di pojok ruang belakang KUA, merasa sangat-sangat kehilangan. 

Februari 2017. Mataku sembab behari-hari. Peluh keringat berupa ponsel yang kubeli akhir bulan Desember tahun sebelumnya hilang. Ya, aku ceroboh dan sial. Mengantongkannya begitu saja di saku depan ransel biruku. Melanjutkan perjalanan dari warung bakso langganan saat SMP ke rumah teman yang sedang kubonceng, lalu ke rumahku. Di jalan, saat perjalanan ke rumah, aku meraba saku ranselku. Benda berbentuk kotak tipis dan lebar terasa. Ah, dia baik-baik saja. Sampai ketika aku menyadari jika itu adalah flashdisk mini yang... sudah terlambat. 

Aku dan kakak pertamaku yang kebetulan ada di rumah mencari sepanjang jalan yang kulewati. Aku berusaha menelpon, mengirim SMS, menghubungi lewat WhatsApp, Line, BBM, dan sosial media lain yang tertaut di sana. Namun, sampai petang datang, hasilnya nihil. Keponakanku yang mahfum denan dunia ponsel--dan yang mengantarku membeli ponsel itu, mengatakan jika lokasi terakhir ponsel itu ada di warung bakso tadi. Sial, saat aku ke sana untuk kedua kalinya orang-orang di sana tak ada yang mengaku. Firasatku berkata jika ponsel itu jatuh saat aku memasukkan ponsel ke saku ransel tanpa melepaskannya dari punggung. Sial. Aku juga merutuki kemalasanku pergi ke rumah keponakanku untuk mensetting pola sandi dan segala macam hal yang berhubungan dengan keamanan ponsel. Sial sial. 

Aku menangisinya selama berhari-hari. Menyalahkan kakakku yang menyarankan untuk membeli ponsel mahal itu. Pada tahun itu, harga ponsel itu memang tak lebih mahal dari tipe dan merk lain. Namun, itu hampir setara gaji tiga bulanku. Tujuan utamaku bekerja. Ponsel. Punya smartphone pribadi untuk menunjang wawasan serta jangkauanku ke dunia luar, terutama menulis. Dan yang lebih parah, aku sudah membayangkan mendokumentasi seluruh rangkaian acara pernikahan kakak yang digelar kecil-kecilan. Bayangan itu, hilang seketika. 

Bapak hanya membuka tutup pintu kamar, menenangkanku dengan berbagai kata manisnya yang tetap saja membuatku tak bisa berhenti berkabung. Ikhlas? Nggak bisa! Di sana, sedikit kenangan yang kami buat dua bulan terakhir tersimpan. Tulisan-tulisan pendek dan berbegai draft cerita yang kutulis saat istirahat bekerja terkubur di sana. Aku hampir-hampir gila. 

"Nduk, kalau kamu nangis terus Bapak yang sedih. Kenapa? Karena Bapak kasihan melihat kamu kerja keras buat beli hape terus hilang. Andai hape itu dibeli pakai uang Bapak, Bapak enggak sesedih ini. Karena itu payah kamu, bapak semakin sedih ngelihat kamu galau terus-terusan." 

Kalimat itu, tentu saja disampaikan bapak dengan bahasa Jawa. Suara menggelegarnya, bernada rendah semua. Dia tak mendekat ke diriku yang meringkuk di kasur. Hanya menatap dari balik pintu merah muda yang kululis bunga di sisi dalam. Maaf, Pak. Aku tak mampu menghindar dari rasa kehilangan. Terbelenggu sakit dan penyesalan. 

Keesokan harinya, giliran kakak pertamaku yang angkat bicara. Saat itu, aku sudah beranjak dari kasur ke meja belajar. Menyalakan lampu meja dan membuka notebook yang lama kutinggalkan karena sibuk dengan hape baru. Kutancapkan headphone ke lubang di sisi kanan dan menyetel lagu OST dari playlist. Menahan isak dan tangis yang hanyut pada melodi bahkan tanpa kuketahui artinya. Setidaknya, aku bisa bertatap muka dengan penyebab masalah. Saat kamera menyala, diriku di layar monitor terlihat mengerikan. Rambut acak dengan mata sembab. Saat kutatap mata yang merah itu, aliran air mengalir. Lagu beralih ke melodi lain yang terus menyayat. Sial, bagaimana aku bisa ikut menyanyi kalau sesenggukan begini?

Aku mulai bersuara. Merutuki dia yang sedang menangis di depan kamera. Berceloteh dengan bahasa Inggris campur Indonesia. Tentu aku tak peduli tatanan bahasa yang terucap. Hanya kesedihan yang... shit sakit untuk diingat. Aku berceloteh sambil sesekali mengikuti lirik yang kuhapal di luar kepala. Sial, beberapa lirik lagu yang kuhapal itu, telah kuubah ke bahasa Indonesia. Jadi, kutahu betul apa artinya. Tentang kehilangan. 

Hari demi hari, kulalui di kamar gelap dengan penerangan dari lampu meja saja. Hingga suatu saat, aku lupa mengunci pintu. Kakak pertamaku yang melihatku memegang notebook berkomentar. "Nah itu masih punya laptop. Nggak usah sedih lagi, mainan laptop aja." Aku hanya diam. Tak menjawab hanya memasang wajah dingin. Namun, air mata turun lagi. Aku lelah menangis, tapi kehilangan benar-benar menyengsarakan. 

Aku tak tahu apa yang dilakukan ibuk untuk menenangkanku. Aku tak peduli sekitar. Aku bahkan lupa ada adegan makan di saat-saat berkabung itu. Mungkin, ibuk hanya menyuruh ikhlas. Belum rejeki. Bakal ada gantinya. Cobaan. Mungkin, mungkin saja jika dugaanku tak salah. Hal-hal klise yang justru membuatku semakin marah. Seminggu sebelumnya, aku menemukan ponsel baru yang jauh lebih bagus dari milikku. Aku tak berniat mengambilnya sama sekali. Memanggil orang lain untuk menyaksikan secara bersama-sama jika hape itu sedang disembunyikan oleh si pencuri. Benar, salah seorang yang kehilangan mengklaim jika itu miliknya. Bukannya pamrih, aku hanya kesal dengan pemilik ponsel itu. Setidaknya jika tak bisa bilang terima kasih, jangan berlaku jahat kepadaku. Jadi, apakah kejadian yang menimpaku adalah sebuah cobaan?

"Ya. Ini cobaan." Kata kakak yang baru kulihat batang hidungnya setelah seminggu lebih aku meringkuk di kamar. Saat itu, dia sedang mempersiapkan pernikahannya di rumah calon istrinya. Aku menangis melihat kedatangannya. Ia tak masuk ke kamar dan mengelus kepalaku seperti kakak pertamaku. Hanya berbicara dari dekat pintu. Aku sudah mempersiapkan segala kata-kata kejam untuk membagi rasa sakit akibat ulahnya, karena ia menyarankan membeli yang termahal dari merk itu dulu. "Ini cobaan buat yang nemu hapemu. Kalau dia balikin hape itu, berarti dia bisa melewati cobaannya. Kayak kamu yang nemu hape itu. Kamu ngelewatin cobaan itu." Aku diam. Entah mengapa, orang yang tak pernah bisa serius seperti dia bisa memunculkan kalimat itu. 

Rasanya agak lega. Aku bisa bernapas meski masih ada sedikit sesak. Kembali menggunakan smartphone kakak yang nggak smart-smart amat. Meski masih berharap si penemu mau mengembalikan itu, aku tak berkutat pada nilainya lagi. Sedikit sedih jika ingat salah satu akun Wattpad-ku tertinggal di sana bersama draft-draft di dalamnya. Mencoba menguatkan pundak untuk meneruskan pekerjaan, karena aku harus mengumpukan uang UKT awal kuliah jika lolos SBM nanti. Rencana untuk daftar bimbel hilang. Tak ada waktu, tak ada uang. 

Aku yang duduk di pojok KUA masih menangis. Seluruh keluarga berbahagia. Adik keponakanku tadi, memfoto mempelai dari depan. Keluarga lainnya berduyun-duyun mendekat saat kakakku mulai berikrar. Aku tak minat menyaksikannya. Mendengarnya saja, hatiku sedih. Alibiku, mungkin sekedar tak punya hape yang proper untuk mengabadikan momen itu. Tapi kenyataan jika aku akan kehilangan sosok kakak, semakin dekat. 

Selama dia berpacaran dengan pacarnya itu, aku selalu jadi nomor dua. Kalau hal mendesak lainnya terjadi di keluarga perempuannya itu, aku bakal jadi nomor ke sekian bersama ibuk. Pacar pertama kakakku itu--sekaligus istrinya sekarang, merupakan anak pertama dan punya dua adik perempuan. Adik pertamanya teman SMPku. Dengan riwayat kisah SMP yang tidak menyenagkan, bisa dibayangkan bagaimana kecemburuan yang kurasakan? 

Rasa kehilangan sosok kakak, pendamping, cinta kedua, muncul lewat pernikahan. Saat-saat aku berpikir seperti itu, bapak menenangkan jika aku masih punya beliau. Kakak iparku seorang yatim sejak SD. Ditinggal ibunya kerja di luar negeri dan hanya tinggal bersama nenek yang baru meninggal. Bapak maklum dengan pilihan kakakku. Mau tak mau, aku juga. Saat itu, kakak pertamaku masih di rumah kami. Masih ada yang mengantar jemput kerja kalau aku sif malam dan bapak sedang di luar kota. Kamar kakak, juga dipakai kakak pertamaku. Namun, tetap saja. Kakak pertamaku itu, bukan kakak yang tumbuh bersamaku di sini. Meski aku lebih nyaman jalan-jalan keluar bersama bapak, namun kakakku itu serupa laki-laki yang bisa kuandalkan. Aku tak perlu dekat dengan laki-laki manapun karena aku punya dia. Dan yah... hari itu kebanggaanku pergi.

Panjang ya ceritanya? Hahaha aku tak menduga sepanjang ini. Memang saat berkisah masa lalu, narasi yang muncul selalu panjang. Dan apa hubungannya dengan tiga? Aku rasa tidak ada jika mengacu ke apa yang sudah kutulis. Namun, rencana awalku bukan hanya itu. Tiga. Sepanjang ingatanku tadi, ada tiga akad yang kusaksikan. 

Akad kedua yang kusaksikan berada di rumah, bukan KUA. Mempelai perempuannya kerabatku. Berumur setahun lebih tua--atau lebih, namun aku memanggilnya 'Bik' karena silsilah dalam keluarga kami. Dia seorang yatim sejak balita. Saat bapakku meninggal, dia mencoba menenangkanku dengan membandingkan dirinya dan diriku. Persetan! Aku turut berduka dengan keadaannya. Namun maaf, menandingkan kesengsaraan kami bukan hal yang benar. 

Kesedihanku tak berkurang sedikit pun. Justru tangisku pecah karena turut membanding-bandingkan diriku dan dirinya dalam hati. "Mending kehilangan Bapak saat kecil, saat balita, agar tak ada kenangan yang bisa dikenang." Namun, aku tahu itu salah. Sangat. Aku hanya diam memendam kesal dan sedih yang semakin dalam. 

Saat akad nikah kerabatku itu, tangis pecah di banyak orang, termasuk aku. Aku sendiri sudah berusaha sekuat mungkin menahan lelehan air dari mata. Namun, membayangkan jika diriku kelak sama dengan dirinya, tak ditemani bapak, membuatku tak bisa membendung kesedihan. Benar-benar sesak rasanya. Bikku itu bukan perempuan kalem atau yang dikenal berprilaku bagus. Justru sebaiknya. Sejak kecil dia dilabeli sebaliknya. Banyak orang tak suka dengan tingkahnya. Meski demikian, orang-orang bersimpati.

Peristiwa itu terjadi belum genap dua bulan setelah bapakku meninggal. Saat itu aku tak memikirkan siapa yang akan mendampingiku kelak sebagai wali. Apakah kakak pertamaku, atau kakak yang tinggal dan tumbuh bersamaku sejak kecil? Keduanya dan satu kakak laki-laki lainnya sama-sama anak kandung bapak. Namun, ibu kami berbeda. Ibukku tak sama dengan mereka bertiga. Aku tak tahu dan mencari tahu apakah mereka masih bisa menjadi waliku, dan mana yang lebih utama. Aku tak mampu mengandai saudara laki-laki bapak karena tinggal satu adik laki-lakinya yang masih hidup. 

Ah, aku jadi ingat ada akad lain dari tiga akad yang kuceritakan di sini. Aku tak benar-benar menyaksikan dari awal. Jadi, pantas jika sebelumnya tak terbersit di ingatan. Saat sepupuku menikah, harusnya bapak yang jadi wali karena dia anak tertua. Adiknya, ayah sepupuku itu, meninggal secara mendadak tiga tahun sebelumnya. Saat itu, dia dan aku sama-sama baru lulus SMA. Aku sedang menunggu pengumuman SBMPTN saat bertakziah ke rumahnya, sedangkan dia... berduka. 

Saat pernikahan sepupuku itu, ada kemungkinan bapak sengaja telat agar tak jadi wali. Entah, pikiran koyol yang terlintas begitu saja. Kami bersiap di rumah kakak pertama sejak subuh. Namun, rombongan keluargaku harus antri di satu kamar mandi. Belum lagi perjalanan yang lumayan jauh. Dari Jombang ke Kediri. Sampai di rumah sepupuku itu, adiknya yang masih SMP telah menemani kakaknya sebagai wali. Tangis pecah, namun aku hanya mendengarnya cerita itu dari tempat parkir bersama ketiga kakakku. Aku tidak membayangkan jika ketiga laki-laki itu kelak akan menggantikan posisi bapak. 

Haish, kenapa bercerita tentang itu? Kembali ke akad Bikku tadi. Dia pingsan setelah mempelai prianya berhasil menyuarakan akad. Semua orang berduyun-duyun menopang lalu bubar karena pengantin pindah ke kamarnya. Setengah siuman, ia terisak. Ia rindu bapaknya. Ia ingin bapaknya melihat dia menikah. Ia ingin bapaknya ada di sana. Aku menjauh dari sana. Tak ingin terbelenggu kesedihan yang bagai bom waktu ini. 

Berlanjut ke akad ketiga yang sangat jelas kusaksikan. Berlangsung beberapa hari yang lalu, di kediaman temanku. Rumah yang lebih dari sepuluh tahun tak kukunjungi. Seorang teman dari masa lalu, yang hidup di masa kemarin, dan memanggil di masa sekarang. Kisah lebih lanjutnya, bakal kulanjut di bagian selanjutnya saja ya. Sudah super-super panjang part ini. Sampai jumpa.









Sabtu, 26 Maret 2022

Tiga Tiga

Part 1

Klise jika mengatakan tiga adalah angka yang spesial. Dilihat dari sudut pandang manapun, angka tiga punya ceritanya sendiri, yang sama spesialnya dengan angka lain sehingga tiga tak begitu spesial lagi.

Jika kembali ke masa tanpa beban, tiga telah akrab denganku sebagai peringkat. Ranking. Akrab bukan berarti selalu bersama. Karena itulah, aku tak selalu ranking tiga. Ranking 1 dan dua selalu ditempati orang yang sama, dan angka tiga selalu bervarisai. Aku, Candra, dan Rizka. Karena ini dari sudut pandangku, akan kubilang akulah yang paling banyak menempati ranking tiga.

Tadinya, aku ingin men-skip masa SMP-ku yang rumit karena mencari angka tiga di sana, sama artinya dengan mengingat tiap detail kisahnya. Namun, seberkas ingatan tentang drama Korea siang yg habis di jam tiga sore memberiku sedikit semangat. Setiap jam tiga sore di masa itu, aku bergegas mengerjakan segala kegiatan rumah mumpung Indosiar masih menayangkan berita. Memasang alarm untuk jam setengah lima sore karena di waktu itu drama Korean lain akan tayang. Anehnya, tiap jam tiga sore, tanpa sengaja seseorang yang sangat amat kukenal sekaligus paling kuhindari selalu lewat depan rumah. Masih memakai seragam dan mengendarai motor Vixion hitamnya. Aku tidak ingat kapan tepatnya, tapi jika itu motor Vixion berarti sudah kelas tiga karena dulu saat kami sekelas di kelas dua, motornya belum itu. Dia siapa? Hmm dia alasan kenangan SMP-ku tumbuh menjadi trauma. Dia sesak yang selalu datang meski sekedar menyebut namanya. Aku tak sengaja melihat dia di jam tiga sore itu. Dan keesokan harinya, dia lewat lagi. Kutengok jam di atas pintu masuk rumah. Jam tiga sore! Aku tak bisa bilang dia setiap hari lewat sana, namun ketika sedang ingat, aku sesekali menunggu dia lewat di sekitaran jam tiga. Dan tak sampai lewat lima menit dari dentang jarum di angka tiga tepat, dia lewat.

Di masa SMA kenangan angka tiga sedikit apik--ya setidaknya tak menyakitkan. Saat memegang brass dan masuk section trompet kami diberi nomor diri untuk menandai chart display unjuk gelar. Penjelasan itu cukup panjang, yang jelas saat pelatih menata kami sesuai gambar, dia lebih sering memanggil nomor, alih-alih nama. Hal menyebalkan, adik kelas yang baru beberapa hari gabung dan sudah ditaruh di trompet, selalu memanggilku tiga. Tiap kutegur kalo tidak sopan, dia mengelak jika umurnya lebih tua. Ya memang, tapi itu menyebalkan. Meski aku sering marah, namun itu bukan sesuatu yang serius. Risih, tapi ya sudahlah. Saat itu aku sudah kelas tiga, tak perlulah mempermasalahkan hal seperti itu. Lagi pula, nomor case trompetku kebetulan tiga. Kebetulan sekali!

Angka tiga lainnya akan kulanjut nanti. 

Selasa, 01 Maret 2022

Aku dan Satu Nama

Dia, Orang Sakit.

Pagi ini, selepas mengantar dua bocil berangkat sekolah, aku mencium aroma segar yang sangat familiar. Rasanya menyenangkan. Seperti bernostalgia, tapi aku tak tahu apa yang dikenang. Sepertinya, aroma wangi itu bersumber dari pemotor yang muncul dari jalan setapak di kiri jalan. Jalanan berlumpur dengan batuan menyebalkan yang terhubung ke dusun sebelah.

Pemotor itu sudah berjarak beberapa meter di depanku. Aku tak tahu dia laki-laki atau perempuan karena jaket dan helm yang ia kenakan menjadikanku sulit menebak. Sepertinya dia akan berangkat kerja. Mungkin pekerjaannya berhubungan dengan kerja fisik melihat celana pendek yang dipakai. Ah, iya. Aroma yang tercium tadi berasal dari pabrik roti tempat kerjaku dulu. 

Harusnya aroma roti atau berbagai macam selai yang identik dengan pabrik roti. Bukan parfum dari orang-orang yang tentu beragam dan banyak sekali jumlahnya. Dari seluruh orang-orang di pabrik yang berhubungan denganku, aku tak ingat siapa yang punya parfum serupa si pemotor itu. Namun, ada satu sosok yang mengingatkanku pada atmosfer itu. Laki-laki yang hanya bisa kutemui di siang hari atau saat dia bergeser sif dengan temannya. 

Dia Orang Sakit. Namanya Orang Sakit dalam bahasa Indonesia. Aku tak akan menyebut namanya karena akan terasa aneh. Yang jelas, dulu saat aku mengartikan namanya ke bahasa Indonesia sebagai Orang Sakit, aku akan tertawa sendiri dalam hati. 

Orang Sakit selalu memakai kaos polos berwarna hitam. Celananya juga gelap, tapi aku tak yakin apa itu hitam juga atau tidak. Dia dan orang-orang yang bekerja di bagiannya selalu mengenakan topi. Ya, namanya juga bekerja di pabrik makanan, kehigienisan selalu dijaga (eaa). Jadi, karena mereka tak mengenakan ciput seperti kami, orang-orang dari tim mekanik itu selalu memakai topi. 

Di tiap sif ada dua orang mekanik yang bertugas--seingatku begitu. Mereka membantu para pekerja yang sedang mengalami masalah saat mengoperasikan mesinnya dari bagian forming di depan, sampai packing di belakang. Kadang, aku juga melihat mereka melakukan suatu hal di bagian ekspedisi di bagian belakang luar pabrik. 

Mengingat bayaranku sebagai buruh yang bisa dibilang lebih banyak dari Mas yang kerja di toko pertanian saat itu, aku selalu membayangkan dia bekerja di sana bersamaku, di bagian mekanik. Cocok sekali dengan latar belakang pendidikan Mas. Keuntungan lain selain bisa pulang pergi bersama jika di sif yang sama, aku akan merasa aman bekerja. Dari sekian banyak pekerja yang didominasi perempuan, satu dua orang laki-laki dari tim mekanik dan ekspedisi kadang membuat aku risih, Ya, setidaknyaman itu aku berada di dekat laki-laki dulu. 

Si Orang Sakit ini, agak beda. Ya, sama-sama bikin enggak nyaman sih, tapi setidaknya aku tak menaruh pikiran negatif pada orang itu. Aku melihatnya sejak hari pertama bekerja. Singkat. Saat itu aku yang bekerja mulai jam 8 harus sampai jam 4 sore agar dapat gaji penuh sehari. Dan di siang itu aku bertemu Orang Sakit. Ah, bukan bertemu, melainkan melihat. 

Ia berwajah kecil dan tidak asing. Seperti ramah dan murah senyum. Kadang tidak jelas apa yang sedang disenyuminya. Berbadan lebih kecil dari para mekanik yang lain. Aku memperkirakan umurnya tak jauh beda dariku. Setidaknya, lebih muda dari kakakku. Aku berandai-andai, apakah dia akan cocok jika berteman dengan Mas. Satu hal yang sepertinya sama dari keduanya. Mereka suka senyum alias cengengesan.

Senyum yang selalu terpancar dari wajah Orang Sakit kadang membuat aku sedikit dilema. Dia ini tersenyum kepadaku atas dasar apa? Menyapa? Kami tak cukup akrab untuk itu. Aku baru punya obrolan dengannya saat menjalankan mesin korin sendiri di bulan ke tiga atau empat. Dan senyum aneh itu sudah muncul di kali pertama mata kami bertemu. Saat-saat pergantian sif dari pagi ke siang atau siang ke malam. 

Seperti yang kubilang, dia selalu berada di sif siang yang biasa disebut sif bayangan. Jadwalnya tetap, jam dua siang sampai jam sepuluh malam. Sedangkan aku sif reguler A, seminggu pertama jam 6 pagi sampai jam 2 siang, lalu digilir seminggu selanjutnya jam 10 malam sampai jam 6 pagi. Karena 10 menit sebelum waktu kerja para pekerja harus berbaris dan melafalkan Visi-Misi perusahaan, kami bisa sejenak melihat mereka-mereka yang baru datang atau akan pulang. Di waktu singkat itu, jujur aku kerap curi pandang. 

Iyap, jujur curi pandang. Tapi sebenarnya bukan kepada si Orang Sakit tadi, Bukan juga ke para mekanik lain atau orang-orang ekspedisi karena ekspedisi hanya ada di malam hari. Melainkan ke sesama pekerja yang seragamnya serupa diriku. Hanya beda di warna celemek yang bukan merah muda, malainkan biru. Beda divisi karena hanya dia dan 3 lainnya laki-laki di pabrik ini--selain mekanik dan ekspedisi tentunya. Ah, aku tak bisa terlalu detail karena akan sangat kentara siapa dia. Dan, ini bukan terminnya. 

Saat kegaduhan di kepala semakin santer, aku mencoba menuliskan nama mereka di kolom pencarian Facebook. Awalnya si celemek biru. Nama depan dan belakangnya cenderung feminim, tapi di tengah ada Ahmadnya. Nama yang bagus. Dan entah darimana aku tahu nama lengkapnya. Mungkin dari absensi pagi? Karena divisi kami berbeda tak jarang kami ada di satu sif yang sama. Oh, mungkin dari saran pertemanan karena ada orang-orang yang kami kenal saling bertautan. Untuk si Orang Sakit, aku tak tahu nama lengkapnya. Hanya nama panggilan yang sekaligus jadi nama lengkapnya di Facebook. Dengan mudah aku menemukan akunnya. 

Tentu saja banyak hal mengejutkan yang kuketahui saat melihat profil keduanya dan kemudian menggulir ke bawah. Skip si celemek biru, ingat ini porsi si Orang Sakit. Umur orang sakit itu, jika kuhitung saat itu sudah di atas dua puluh enam tahun Jauh di atas Masku dan tentu sangat jauh di atasku. Ini sangat mengejutkan. Sangat. 

Aku jadi berpikir, apa jangan-jangan ia sudah berkeluarga? Karena di pabrik kebanyakan orang-orang di umur Mas saja sudah menikah. Tapi sependengaranku dari obrolan dan sindiran ibu-ibu di sana, dia satu-satunya mekanik yang masih single. Single? Aku berpikir lagi. Single bukan berarti tidak pernah menikah kan? Dan hey! Jika teringat wajahnya, dia sangat-sangat tidak cocok dengan umur itu. 

Tidak seperti di akun si celemek biru, di akun si Orang Sakit tak banyak kudapatkan hal penting selain foto SMA-nya yang membuatku bisa memperkirakan setidaknya dia berumur dua puluh enam tahun--itu kemungkinan paling muda sih. Dia tak banyak bercuap atau memposting gambar. Akun itu sepertinya juga bukan akun yang terbengkalai. Ya begitulan masalah Facebook. 

Sebelum membeli ponsel di tahun ketiga bekerja, aku tak memakai sosial media selain FB dan Line yang menumpang di akun kakak. Dan orang-orang pabrik kebanyakan bersosial media di FB dan BBM. Saat sudah punya ponsel sendiri, aku menginstall BBM juga. Namun di sana, tak kutemui Orang Sakit. Alih-alih ada celemek biru lain selain si Ahmad. Menyerah, aku tak bakat bersosial baik di media atau di dunia nyata.

Alasanku tertarik dengan kedua orang yang kusebutkan di atas (TERTARIK LOH YA) remeh sekali. Alasannya karena aku kerja di pabrik roti. Itu saja. Lagu Kyuhyun Hope is A Dream That Doesnt Sleep selalu terngingat. Bayang-bayang King Bakery Kim Tak Gu di drama Bread, Love, And Dream, selalu menyemangatiku saat badanku remuk bekerja setiap hari. Jadi, aku selalu berharap mendapatkan sesuatu yang setimpal untuk kerja kerasku selain uang. Di ribuan roti aku memupuk dan menekan mimpiku sekaligus. Aku hanya butuh cinta saat itu. Mimpiku sudah serupa imajinasi yang terus berapi-api. 

Akhirnya? Saat itu aku juga penasaran akhirnya seperti apa. 

Kalau dilihat dari sebelah sini, dari saat ini, jawabannya tentu sudah jelas. Tak ada cinta di sana. Tapi, jika kembali ke saat itu, aku benar-benar penasaran setengah mati. Bahkan, saat aku tiba-tiba berhenti tanpa berpamitan secara langsung ke teman-teman dekatku (kebanyakan ibu-ibu) dengan berbagai alasan, aku masih menduga-duga, apa yang dipikirkan Orang Sakit itu tentangku. Apa dia tertarik atau hanya iseng? Jika kuingat lagi, beberapa kali dia mencoba berinteraksi. Tapi di jam kerja dan aku yang suka sok cuek haha. Saat sudah menjalankan mesin korin sendiri, aku lebih sering memulai interaksi kala mesinku macet. Tapi, jika ada mekanik lain aku memilih memanggil mereka daripada dia. Entahlah. 

Aku keluar dari pabrik saat dipindah ke bagian kiyosi. Bagian tanpa divisi yang kerjanya tak seterikat menjalankan mesin suntik atau mesin korin. Hanya menyeleksi bun roti kering yang layak dan tidak (ini lucu karena aku bukan dari tim roti kering dan hanya menangani roti kering jika roti krimku habis). Pekerjaan yang tidak bisa dilakukan sembarang orang karena butuh ketelitian dan kemampuan tersendiri. Harusnya aku senang karena tak dikejar jerit mesin lagi. Namun, di sana sangat membuatku sedih. Seperti dibuang dan tanpa teman. Memang di sana aku bisa lebih dekat dengan tempat si celemek biru. Si Orang Sakit juga jadi sering muncul dari sela-sela box yang menggunung di atas troli. Tapi, rasanya menyedihkan.

Aku lebih suka bekerja dengan tim. Gila-gilaan menjalankan mesin suntik dengan Mbak Ningrum, Mbak Na, Mbak Asri, Mbak Ririn, Bu Sulis, Bu Yuni dan mbak-mbak suntik di sif lainnya yang tak kuingat semua. Saat Mbak --- (shit, aku lupa namanya dan punya kenangan tidak menyenagkan dengannya), Bu Pah, Bu Warda keteteran menjalankan korin karena roti-roti dari mesin suntik kami sudah menumpuk di bak mereka. Aku suka masa itu. Membayangkan sedang bermain game sambil mempercepat gerak karena loyang-loyang harus sambil ditata menjulang dengan rapi di atas troli yang rodanya harus merah. Ah, derit dan coblosan mesin suntik terdengar. Aroma selai durian yang menyengat mengalahkan roti-roti coklat yang baru matang. Aku rindu. Ini kenapa jadi nostalgia dan lepas dari sosok Orang Sakit sih?

Wah, panjang sekali ya. Sudah hampir satu jam. Tapi, tetap. Akan kulanjut. 

Karena masih penasaran, saat libur semester pertama kuliah aku mendaftar ke pabrik lagi. Kali itu, HRD-nya berganti. Dia tak menanyaiku sedang berkuliah apa tidak. Aku lolos dengan mudah karena sudah berpengalaman. Namun lama kerjaku sebelumnya tak menguntungkan selain tambah kesal. Aku sudah diminta menjalankan mesin korin yang harusnya dapat tunjangan ahli sekitar 10 ribu per harinya. Dan untuk roti coklat, harus ada yang memitilkan (ini pekerjaan pertamaku dan sangat susah). Namun, aku sudah diminta menjalankan mesin korin berisi roti coklat sendiri. Padahal bayaranku kembali ke awal. Tak ada tunjangan ahli, tak ada kenaikan tiap bulan. Menyebalkannya lagi, yang menyuruh-nyuruhku adalah seseorang yang dulunya kuajari cara mengoperasikan mesin-mesin. Yap, mereka sudah naik jabatan. Kalo dulu aku tetap di sana, mungkin aku lebih tinggi dari dia. Tapi, ya sudahlah. 

Saat itu, aku semakin sering meminta Orang Sakit membenahi mesin karena menjadi orang baru artinya berada di sif baru. Tapi, dia seperti orang yang berbeda. Senyumnya masih ada tapi tak seperti sebelumnya. Aku yang sudah tak begitu menutup diri seperti sebelum kuliah tak bisa menerka apa-apa. Dan rasa tertarikku pun seperti tak pernah ada. Aku kembali untuk membuktikan kepada orang-orang jahat jika aku masih hidup dan baik-baik saja. Tapi, orang jahat memang selalu beruntung. Orang-orang yang menjahatiku naik jabatan. Seseorang yang punya hubungan dengan si celemek biru. Dan yeah, si celemek biru tak lagi bercelemek. Dia naik jabatan.

Tak sampai seminggu aku resign. Alasannya lebih kompleks. Tak ada hubungannya dengan orang-orang pabrik atau statusku yang mahasiswa. Tapi, itu alasan jelas yang meski menyedihkan tapi sudah bisa kurelakan. Malam menyesakkan yang diselimuti hujan. Sial, aku rindu bapak.

Oh, ya tentang si Orang Sakit. Nama itu kudapat dari memisalkan namanya sebagai bahasa Inggris lalu diterjemahkn di bahasa Indonesia. Lantas, kalau aku memisalkan namanya sebagai bahasa Korea, aku bisa menerjemahkannya menjadi dua arti. Jika suku kata pertama dan kedua digabung, maka berarti sepuluh ribu. Dan jika suku kata pertama dan kedua dipisah, maka artinya hanya satu. Ah, entah. Suka banget mempersulit diri. Tapi, ya inilah sisi menyenangkannya. Setidaknya, aku menggerakkan jari lagi untuk mengetik--dan kembali menghidupkan perasaan.